Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan

Kanaya Istri Yang Tak Diinginkan
Part 2 (Sembilu Yang Melukai Hati Kanaya)


__ADS_3

Kanaya membiarkan kakinya melangkah tanpa tujuan, ia ingin mencari tempat yang bisa menyembuhkan luka di hatinya akibat sembilu yang Lee tancapkan.


"Sampai detik ini aku berusaha memahami perasaan kamu Mas, tidak bisakah sekali aja kamu coba untuk memikirkan perasaanku juga?" gumam Kanaya dengan suara parau. Sungai air mata terbentuk di pipinya yang seputih salju.


Orang-orang yang bersimpangan dengan Kanaya menatapnya dengan iba, namun tak ada seorang pun yang berani menanyakan keadaannya. Mungkin, mereka khawatir akan mengganggu Kanaya.


Saat menginjakkan kakinya di jembatan, Kanaya berhenti lalu berjalan lagi menuju beton pembatas jembatan. Ia menatap sungai yang mengalir deras di bawah jembatan, seketika itu ia merasa sedikit lebih tenang, apalagi ketika merasakan semilir angin menerpa wajah cantiknya yang sembab. Perlahan-lahan bibir Kanaya membentuk lengkungan indah yang dapat membuat orang lain yang melihatnya ikut bahagia.


"Ketika mataku menatap keindahan alam, sejenak aku lupa tangisanku, aku lupa rasa sakit akibat luka yang kau torehkan di hatiku. Bahkan, aku dapat melupakan semua kesalahanmu dalam sekali tarikan nafas." Kanaya berbicara seolah-olah Lee ada dihadapannya.


Ctarrr ... itu suara petir yang menggiring mendung hitam, hujan deras perlahan turun mengguyur bumi yang Kanaya pijak. Kerudung pink Kanaya berubah warna menjadi kemerahan karena dibasahi oleh air hujan.


Meski hujan semakin lebat, Kanaya tak bergeming, ia masih berdiri di pinggir pembatas jembatan sambil memandangi arus sungai yang mengalir deras di bawah sana.


Kanaya merasa miris pada dirinya sendiri, ditengah hujan yang lebat, tak ada seseorang yang datang untuk memayunginya. Bahkan suaminya sendiri mungkin tidak peduli jika melihat dia kehujanan disini.


Isak tangis lolos dari bibir mungil Kanaya yang gemetaran. Dalam kedinginan, ia menunggu Lee datang menjemputnya, ia hanya ingin melihat seberapa besar kepedulian di hati Lee untuknya yang sebenarnya tak terlalu penting di mata suaminya itu.


Kanaya mendongak saat seseorang memayungi kepalanya. Ia mendapati Jaka memandangnya dengan penuh kekhawatiran. Kanaya kecewa karena dalam hatinya ia berharap Lee yang datang memayunginya.


"Kenapa kamu berdiri di sini sambil hujan-hujanan, Nay? Kamu lupa kalau kamu punya asma?"


"Kenapa kamu tau aku di sini?" Kanaya malah balik bertanya.


"Maaf, barusan aku ngikutin kamu pas liat kamu keluar dari ruang meeting sambil nangis," jawab Jaka dengan jujur.


"Kalau gitu kenapa gak mayungin aku dari awal?" tanya Kanaya dengan suara gemetar. Jaka tertawa miris. "Karena aku pikir Lee bakal datang jemput kamu, Nay," jawabnya dengan parau. Sebagai sepupu Kanaya, Jaka bisa merasakan kekecewaan dan sakit hati yang Kanaya rasakan.


"Ternyata bukan aku aja yang berharap lebih," gumam Kanaya lirih.

__ADS_1


"Ayo pergi dari sini, aku anterin kamu pulang," ajak Jaka sambil merangkul bahu mungil Kanaya dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.


"Jaka, gara-gara aku kursi mobil kamu jadi basah, enggak papa nih?"


"Ck, gitu aja dipermasalahin, don't worry Nay," kata Jaka.


*******


Kanaya melihat Lee berdiri di depan pintu rumah mereka sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran, apalagi ketika melihat Kanaya yang basah kuyup dan tampak gemetar kedinginan.


Kanaya memperlambat langkah kakinya, hatinya bergemuruh menyadari Lee yang tak bergeming seraya menatapnya dengan tajam. Tanpa Kanaya duga, Lee berlari mendekatinya lalu memeluk tubuhnya dengan erat.


Akhirnya Kanaya bisa merasakan kehangatan yang selalu ia harapkan setiap kali ia merasa kedinginan. Dan bukan hanya kehangatan, Kanaya juga bisa merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika Lee memeluknya. Luka-luka di hatinya seakan terobati, membuatnya tak lagi mengeluarkan rasa sakit.


Tanpa mengatakan apapun, Lee mengangkat tubuh Kanaya dan membawanya ke dalam rumah, dari dekat Kanaya bisa melihat adanya kekhawatiran dari mimik wajah suaminya itu.


Lee membawa tubuh Kanaya ke kamar mandi lalu meletakkannya di dalam jacuzzi yang sebelumnya sudah ia isi dengan air hangat dan sabun stoberi kesukaan Kanaya.


"Emh, aku mau nyiapin makanan buat kamu," ujar Lee yang kemudian keluar dari kamar mandi meninggalkan Kanaya yang masih belum percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.


"Kamu bagaikan mawar yang berduri, indah dipandang dan selalu ingin ku genggam, meskipun aku sadar tanganku bisa berdarah karena durinya," gumam Kanaya sambil memejamkan mata, menghirup wangi sabun stoberi kesukaannya sambil membayangkan wajah tampan Lee yang setiap detik ia rindukan.


Sementara di dapur, Lee sedang mencoba untuk memasak nasi goreng kambing kesukaan Kanaya. Ia memasak sambil menonton tutorial di YouTube, semoga saja rasanya akan sesuai dengan selera Kanaya.


Ketika nasi goreng kambingnya baru setengah matang, Kanaya datang ke dapur dan menghampiri Lee. "Masak apa?" tanyanya. Dengan refleks Lee membalikkan tubuh Kanaya, tak ingin istrinya itu melihat apa yang sedang ia masak.


"Kamu tunggu di meja makan aja ya," kata Lee sembari menuntun Kanaya ke arah meja makan.


"Jadi penasaran, kamu lagi masak apa sih?" tanya Kanaya yang hanya di balas kedikkan bahu oleh Lee.

__ADS_1


"Okey," gumam Kanaya sambil memperhatikan Lee yang kembali berkutat dengan spatula dan sesuatu yang sedang dimasaknya.


Bibir Kanaya membingkai senyuman saat Lee selesai memasak dan membawa hasil masakannya itu kepadanya.


"Wah! Ternyata nasi goreng kambing toh." Kanaya tampak antusias dan tak sabar ingin melahap makanan kesukaannya yang kali ini dimasak oleh Lee.


"Gimana rasanya?" tanya Lee saat Kanaya sudah memakan satu suap dari hasil masakannya. "Enak kok," jawab Kanaya yang tak ingin Lee mengetahui rasa yang sebenarnya.


"Masa sih?" Rupanya Lee tak percaya dan langsung mencicipi nasi goreng kambing buatannya. "Asin banget!" katanya sambil berusaha untuk tidak memuntahkannya.


"Jangan dimakan!" cegah Lee ketika Kanaya ingin memakan lagi nasi goreng kambingnya.


"Aku tau ini gak enak, tapi aku ingin menghargai usaha kamu, Mas. Aku tahu gak mudah buat kamu masak nasi goreng kambing ini, asal kamu tau, aku ini beda sama kamu Mas," sela Kanaya yang mengingatkan Lee pada kata-katanya tadi pagi yang menyinggung perasaan Kanaya sehingga istrinya itu keluar dari kantornya sambil berlinang air mata.


Rasa bersalah kembali menyelimuti hati Lee, dia sadar bahwa selama ini ia tak pernah menghargai usaha Kanaya untuk memahaminya. Memahami betapa sulitnya ia melupakan cinta masa lalunya. Jika istrinya bukan wanita penyabar seperti Kanaya, mungkin dia akan ditinggalkan.


"Maaf," ucap Lee seraya menatap mata Kanaya yang juga tengah menatap matanya.


"Sudah puluhan kali aku mendengar kamu mengucapkan kata maaf, tapi aku tak pernah merasakan kesungguhan mu, sore ini kamu meminta maaf, paginya mungkin kamu akan menyakitiku lagi," gumam Kanaya seraya mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka. Tak ingin melihat reaksi Lee yang seringkali mengecewakannya.


"Sebaiknya kamu istirahat," ucap Lee mengalihkan pembicaraan. Kanaya menghela nafas panjang, ia sudah paham reaksinya akan seperti itu, inilah alasan mengapa dirinya malas membahas kesalahan yang telah dilakukan oleh suaminya itu.


To be continued....


Gimana reaksi kalian setelah baca part ini?


tunjukkan lewat emoji seperti di bawah ini ya.


๐Ÿ˜orโ˜บ๏ธor๐Ÿ˜ญor๐Ÿ˜ฃor๐Ÿคงor๐Ÿ˜ข

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, vote novel ini, share ke teman-teman kalian, pencet bintang limanya, dan follow profil aku.


Bye, bye, secepatnya aku akan kembali lagi.โ˜บ๏ธ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2