
Sembari merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur, Kanaya menekan tombol video call, tak peduli lagi dengan gengsi, ia sungguh merindukan wajah sang suami yang semakin jarang menghubunginya. Selama tiga bulan mereka menjalani Long Distance Marriage, Lee hanya sering mengabarinya lewat chat, jarang sekali pria itu menelpon dan mengobrol dengannya.
Padahal Kanaya berharap Lee peka dan menelponnya setiap hari atau bahkan setiap jam. Oke, bilang saja Kanaya berlebihan. Tapi apa yang dirasakan wanita itu wajar, berjauhan dengan suami memang memang mendatangkan pikiran-pikiran negatif. Apalagi di sana ada mantan kekasih Lee yang bisa saja merayu suaminya untuk kembali mengarungi masa lalu mereka.
Bagaimana Kanaya tidak su'udzhon terus? Dua jam yang lalu ia melihat postingan foto di Stargram Georgina yang memamerkan kalau wanita itu sedang makan malam bersama anaknya yang duduk di pangkuan seorang laki-laki yang Kanaya tahu betul kalau laki-laki itu tidak lain adalah suaminya.
Kanaya tahu sebab ia paham kebiasaan Lee yang selalu menggulung lengan kemeja ketika makan dan selalu menanggalkan jam tangan dan menaruhnya di atas meja di depannya, persis seperti yang dilakukan oleh laki-laki dalam postingan Georgina.
"Kok nggak diangkat-angkat sih?!" geram Kanaya dengan rasa panas yang masih membakar hatinya.
Sekali lagi Kanaya mencoba menghubungi Lee lewat video call dan kali ini panggilannya di jawab. Dengan muka dan rambut setengah basah, Lee menyunggingkan senyuman manis saat Kanaya menatapnya dengan tatapan curiga.
"Habis ngapain kamu, Mas? Kok lama ngangkatnya?" tanya Kanaya penuh konfrontasi.
"Habis berenang, sayang, maaf ya, tadi hp nya aku tinggal di kamar," jawab Lee sambil meringis.
"Sama siapa?" tanya Kanaya penuh selidik.
"Sama siapa apanya? Kamu kenapa sih?"
"Berenang sama siapa kamu?" Kanaya mengulang pertanyaannya dengan nada kesal. Membuat Lee mengerutkan dahinya menyadari kalau sang istri sedang badmood.
"Sendirian, emang sama siapa? Kamu kan nggak ada di sini," jawab Lee mencoba tenang agar Kanaya tak semakin mencurigainya.
"Kamu kenapa sih? Lagi dapet ya?" tanya Lee sambil memakai kaus putih lengan pendek favoritnya.
"Nggak, sekarang kamu jawab aja pertanyaan aku, tadi kamu makan sama siapa?"
"Sayaaang, kamu kenapa sih? Kamu nggak percaya sama aku? Nay, tadi aku makan malam sendiri. Mungkin kalau aku di Daegu aku bakal makan malam bareng Halmoni, tapi sekarang aku lagi Seoul dan aku sendirian di sini."
Kanaya langsung menyembunyikan kesedihannya, ia tahu betul gelagat Lee kalau suaminya itu sedang berbohong seperti sekarang. Pria itu akan banyak bicara namun tak berani menatap matanya.
"Ooh begitu, hm ... di sana pasti udah jam dua belas kan?"
"Iya, kamu belum tidur?" tanya Lee.
__ADS_1
"Di sini masih jam sepuluh, sebenarnya tadi udah mau tidur, cuma mendadak pengen lihat muka kamu," jawab Kanaya diiringi kekehan. Padahal aslinya ia menahan rasa sakit dan juga rindu yang amat sangat menyesakkan di dadanya.
"Kangen ya sama aku?" tanya Lee sambil tersenyum genit.
Kanaya tertawa walau matanya berkaca-kaca, "Nggak tuh," jawabnya berbohong.
Lee cemberut, "Nggak asik ah, masa aku aja yang ngerasain kangen sama kamu," balas Lee terdengar seperti protes.
"Biarin, biar kamu tahu rasanya jauh dari aku tuh gimana, syukur-syukur kamu kapok, supaya kedepannya kamu bakal mikir dua kali buat ninggalin aku."
"Heh, siapa juga yang mau ninggalin kamu!" bantah Lee tak suka dengan cara berpikir Kanaya yang kritis.
"Kita kan nggak bisa memprediksi masa depan, Mas," cetus Kanaya.
"Memang, tapi gimana pun ceritanya aku nggak bakal ninggalin kamu!" balas Lee dengan tegas dan penuh keyakinan.
Kanaya tersenyum samar, "Kamu udah sholat belum?" tanyanya mengganti topik.
"Udah, selama di sini aku selalu pasang alarm adzan supaya kalau udah waktunya sholat aku bisa cari tempat buat sholat."
"Pokoknya kamu tinggal tunggu hasilnya aja ya, aku bakal buktiin ke kamu kalau Hyunki itu bukan darah daging aku," jawab Lee meyakinkan Kanaya, meskipun sebenarnya ia mulai ragu kalau Hyunki itu bukan anak kandungnya sebab rupa anak itu seperti campuran antara dirinya dan Georgina. Tapi bagaimana pun faktanya nanti Lee tidak ingin mengecewakan Kanaya dan membuat istrinya itu terluka untuk kesekian kalinya.
"Yang penting kamu itu bertanggung jawab, Mas. Pesan aku cuma itu," balas Kanaya setengah putus asa.
"Udah dulu ya, aku ngantuk, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, i love you, Naya."
Kanaya hanya menanggapi ungkapan cinta Lee dengan senyuman lemah. Meskipun kecewa karena tak mendapat balasan, Lee tersenyum lebar ke arah layar ponsel yang masih menampilkan wajah sendu istrinya, seketika itu ia merasakan sakit yang luar biasa, hatinya seperti diremas-remas sampai remuk.
"Maafkan aku Naya," gumam Lee sambil memejamkan matanya.
******
Menjelang jam makan siang, Kanaya kehilangan fokusnya saat Dosen masih menerangkan materi di depan kelas. Pikirannya melayang jauh ke arah Lee, tak ada habisnya ia memikirkan suaminya itu.
__ADS_1
Astrid yang duduk di sebelah Kanaya langsung menegurnya dengan cara menepuk pelan pipi wanita itu yang sekarang berubah menjadi semakin tirus.
Akhirnya Kanaya fokus kembali, wanita itu segera mencatat materi apa yang tadi ia lewatkan. Namun saat jemarinya menorehkan tinta pulpen ke permukaan buku, perutnya tiba-tiba bergejolak, pandangannya berkunang-kunang disertai pusing yang semakin membuat Kanaya tak karuan.
Tanpa banyak bicara Kanaya meminta izin ke Dosennya, di temani Astrid kini ia berada di kamar mandi kampus, memuntahkan semua isi perutnya ke dalam kloset. Astrid yang panik langsung menolong Kanaya dengan memijat tekuk sahabatnya itu.
Usai muntah-muntah, Kanaya di bawa oleh Astrid ke ruang kesehatan. Di sana Astrid membantu Kanaya berbaring di atas kasur, lalu ia mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tas selempang yang selalu ia bawa kemana-mana.
Minyak kayu putih itu kini berada di tangan Kanaya, wanita itu menghirup aromanya untuk meredakan rasa mual dan pusing yang masih mendera.
"Kanaya, jujur sama aku, sejak kapan kamu kayak gini?" tanya Astrid dengan nada menuntut, dari sorot matanya wanita itu sangat mengkhawatirkan kondisi Kanaya.
"Sejak minggu lalu, maaf nggak kasih tahu kamu karena aku pikir waktu kemarin-kemarin itu aku cuma masuk angin biasa."
"Kamu hamil?" tebak Astrid.
"Nggak tahu, aku belum berani ngecek. Memang sih, sejak pulang dari Korea aku belum menstruasi, tapi aku ragu karena aku udah biasa telat menstruasinya, kayaknya bukan hamil deh, mungkin maag aku kambuh, jadi mual sama pusing," tepis Kanaya dengan murung.
"Hei, kenapa nggak kita cek aja ke Dokter kandungan, biar jelas kamu hamil atau enggak," saran Astrid yang malah membuat Kanaya menangis terisak-isak di depannya.
"Terus kalau aku hamil, kenapa? Apakah bisa bayi ini menjadi pengikat di antara aku sama Lee? Kenapa dia hadir di saat pernikahan ini tengah berada di ambang perpisahan? Hiks, hiks." Astrid dengan sigap memeluk Kanaya.
"Jangan ngomong kayak gitu, Nay. Kamu harus kuat dalam mempertahankan rumah tangga kamu apapun yang akan terjadi nanti," nasihatnya sebagai orang yang di anggap kakak oleh Kanaya.
"Seandainya nanti aku nggak cerai sama Lee, gimana nasib anak itu? Aku beneran nggak sanggup jadi ibu sambung dari anak yang Lee dapatkan dari mantan kekasihnya. Aku nggak sanggup Mba," curhat Kanaya sambil terus mengusap air matanya, pilu.
"Udah-udah, jangan berpikir yang berat-berat dulu, kamu lagi nggak baik-baik aja. Tubuh dan pikiran kamu perlu istirahat, Naya. Besok, aku temenin kamu ke Dokter kandungan untuk cek kehamilan."
"Iya kak, makasih ya udah selalu ada buat aku," ujar Kanaya seraya menyenderkan kepalanya di bahu Astrid, air matanya mengalir membasahi kerudung syar'i yang sahabatnya itu kenakan.
"Sama-sama, Naya. I'll hug you like this, everytime."
Bersambung....
Maaf ya, updatenya lama terus dikit lagi, aku ngerti kok, kalian pasti kesel sama aku, huhu.
__ADS_1