
"Nay, aku mau jelasin tentang postingan itu ke kamu, aku nggak mau ada kesalahpahaman diantara kita," ujar Lee serius.
Tangan Kanaya mendarat di rahang Lee, lalu mengusapnya dengan lembut, mata beningnya menatap mata Lee yang tengah fokus menatap ke arahnya.
"Nggak perlu, Mas. Aku udah tahu semuanya dari Mbak Aisyah. Tadi, sebelum kamu kembali ke kantor aku ngobrol banyak sama Mbak Aisyah, dia menjelaskan tentang postingan itu ke aku."
"Berarti sekarang kamu percaya kan kalau aku udah sepenuhnya move on dari Aisyah?"
Kanaya menyipitkan matanya, pura-pura ragu agar Lee menyatakan cintanya secara langsung. "Jujur, aku masih agak ragu, Mas."
"Naya ... aku mencintai kamu, sekian tahun aku baru menyadari kalau perasaan cintaku ini milik kamu, hanya milik kamu seorang," ungkap Lee dari hati yang terdalam. Kemudian ia meraih kedua tangan Kanaya lalu mencium punggung tangannya dengan penuh perasaan. Kedua matanya tetap fokus menatap wajah Kanaya yang merona.
"Aku juga mencintai kamu, Mas. Sejak hari pernikahan kita, rasa cinta ku terus bertambah seiring berjalannya waktu, tak pernah habis walau terus dikikis luka," balas Kanaya dengan linangan air mata.
Lee memeluk istrinya itu dengan erat, menghangatkannya dengan cinta yang tulus tanpa pamrih.
"Maafkan aku yang sering menyakiti kamu, mulai detik ini aku akan berusaha untuk melindungi kamu dari kejelekan diriku sendiri, aku janji, Naya."
Kanaya mengangguk di bahu Lee sambil meneteskan air mata bahagianya, ia tak menyangka kalau pada akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri yang selama ini tidak pernah menghargainya dan selalu membandingkannya dengan wanita lain.
Kanaya memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah mengabulkan permohonannya. Kanaya semakin percaya bahwa sesungguhnya hanya Allah yang dapat membolak-balikkan hati manusia.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan yang berasal dari pintu ruang kerja Lee, membuat Lee dan Kanaya melepas pelukan mereka.
"Permisi, Pak, Bu, saya mau mengantarkan makanan pesanan Bapak."
"Silahkan masuk," titah Lee yang sudah tahu kalau yang mengetuk pintu ruang kerjanya adalah Khanza.
Khanza masuk ke dalam ruang kerja Lee sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat sepiring nasi putih dengan lauk sosis panggang dan beef teriyaki, lalu ada juga jus mangga dan desert berupa bolu gulung rasa coklat.
"Makasih ya, Za. Sekarang kamu boleh melanjutkan pekerjaan kamu lagi."
__ADS_1
Khanza mengangguk sopan, "Sama-sama Pak. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak, Bu."
"Iya, silahkan," balas Lee dan Kanaya berbarengan.
Setelah Khanza keluar dari ruangannya Lee kembali merangkul Kanaya sambil mulai menyantap menu makan siangnya yang sangat menggiurkan, saking menggiurkannya Kanaya sampai lapar lagi, padahal beberapa menit yang lalu ia baru saja makan dengan Aisyah.
Kanaya memandang makanan yang Lee makan tanpa berkedip. Lee menyadari istrinya itu menginginkan makanannya, ia bisa melihat dan mendengar Kanaya meneguk ludahnya sendiri.
"Mau?" tawar Lee seraya menyodorkan sepotong daging sapi teriyaki yang tadi disantapnya.
Kanaya langsung mengangguk, matanya berbinar senang, Lee mengelus kepala istrinya itu dengan gemas sebelum menyuapi Kanaya dan berakhir ia tak jadi makan lagi karena makanannya habis di lahap istrinya yang terlalu menggemaskan tersebut.
Ia harus merelakan daging sapi teriyaki kesukaannya ludes dan hanya tersisa bumbu dan nasi putihnya saja. Yang penting Kanaya senang dan tidak mendiamkannya lagi seperti kemarin-kemarin.
"Yah, udah habis ya?" tanya Kanaya sembari menatap Lee dengan wajah polos tanpa dosanya. Jika seperti itu bagaimana Lee bisa marah coba? Yang ada pria itu malah gemas.
"Iya sayang, kamu masih kurang? Mau pesan lagi?" tawar Lee yang seketika membuat Kanaya tersadar kalau makanan yang dihabiskannya tadi adalah kepunyaan suaminya.
Lee tersenyum lembut lalu mengusap area di sekitar bibir Kanaya yang terkena saus teriyaki menggunakan jemari kokohnya.
"Bibirnya jangan digigit, nanti berdarah," ucap Lee yang membuat Kanaya mengedipkan matanya dua kali, terkejut melihat Lee sama sekali tidak marah kepadanya.
"Mas, kamu nggak marah sama aku? Aku udah ngabisin makanan kamu, lho?" tanya Kanaya yang masih terbengong melihat Lee yang bersikap santai padanya.
"Marah buat apa, sayang?"
"Toh, soal makanan aku masih bisa pesan lagi, sedangkan kalau wanita seperti kamu cuma satu-satunya, enggak bisa di pesan di tempat mana pun," sahut Lee sedikit menggoda Kanaya.
Ekspresi malu-malu tergambar di wajah Kanaya, "Belajar gombal di mana, pak direktur?" katanya yang dibalas kekehan renyah oleh Lee yang kini sedang makan desert berupa bolu kukus yang masih tersisa setengah.
"Dari kamu, Nay," celetuk Lee yang di balas cibiran oleh Kanaya.
"Mana pernah aku ngajarin kamu buat gombal," timpal Kanaya sambil mencebikkan bibir mungilnya, merasa tak terima.
__ADS_1
Lee tertawa senang melihat wajah sebal istrinya yang menurut dirinya lucu.
Di tengah momen romantis itu tiba-tiba ponsel Kanaya berbunyi, setelah dilihat ternyata ada nomor asing yang mencoba menghubunginya. Suasana hati Kanaya yang semula ceria kini jadi gelisah, ia menatap gusar ke arah layar ponselnya. Kemudian ia beralih menatap Lee yang mulai terlihat mengkhawatirkannya.
"Mas, aku boleh keluar sebentar?" tanya Kanaya yang di balas anggukan ragu oleh Lee.
Setelah mendapat persetujuan dari Lee, Kanaya pun keluar lalu pergi ke toilet wanita dan mengangkat panggilan dari nomor asing tadi.
"Halo," sapa Kanaya terlebih dahulu.
"Halo, ini gue, Azkia," sahut orang di seberang telepon.
"Iya, ada apa?" tanya Kanaya yang bertambah gelisah.
"What? Ada apa lo bilang? Heh, Naya, lo lupa ya sama kesepakatan kita? Atau jangan-jangan lo pura-pura lupa? Ingat ya, gue punya video lo yang lagi curhat soal suami lo yang...."
"Apa? Kamu mau bilang apa? Langsung bilang aja, enggak usah singgung masalah aku lagi," potong Kanaya sembari berusaha menenangkan dirinya.
"Oke, sebenarnya gue mau nyuruh lo buat menghalangi Steffany supaya dia enggak datang ke acara anak-anak futsal nanti malam, karena di sana gue mau kasih suprise buat Nathan, lo bisa kan?"
"Kenapa sih kalau misalnya Steffy datang? Toh, Steffy sama Nathan itu cuma temenan, mereka enggak ada hubungan spesial," sela Kanaya yang membuat Azkia murka.
"Jadi lo nggak mau turutin perintah gue? Oke, gue sebarin video itu dan gue bakal sewa reporter buat jelek-jelekin suami lo yang terkenal berbudi pekerti luhur itu," ancam Azkia yang membuat Kanaya jengah dan ingin segera menyelesaikan urusannya dengan perempuan jahat itu.
"Aku akan menuruti keinginan kamu, asalkan kamu tidak menimbulkan masalah yang bisa menyakiti suami aku dan keluargaku," kata Kanaya yang kemudian mematikan panggilannya secara sepihak karena dia terlampau kesal dengan Azkia yang mulai menerornya.
Setelah merasa tenang Kanaya keluar dari kamar mandi dan ia sangat terkejut melihat Lee berdiri tepat di depan pintu kamar mandinya.
Bersambung....
Penasaran nggak? Penasaran lah, masa enggak. Hehe, makasih banyak ya, atas dukungannya. Insyaallah mulai saat ini aku akan rajin up, doain aja supaya aku tetap sehat.😊☺️🥺💞❤️✨✨
Kalau gitu aku pamit dulu ya, Assalamualaikum.❤️🤍✨
__ADS_1