
sudah dua hari ini bengkel ibra selalu ramai sehingga membuat dirinya tidak bisa menepati janji untuk menemui syakila.
rasa rindu di hati sudah tidak usah di pertanyakan lagi,di sela istirahatnya selalu menatapi foto syakila yang tertidur di pangkuan nya beberapa hari yang lalu.
oh ternyata begini rasanya menjadi seorang ayah,batin nya.
"mas bos kangen ya sama si gembul?".
"gembul siapa?!!".
"itu loo..mau bobo ama ayahh".
riski cengengesan.
"gembul.... gembul, gembul kening mu?!!! enak saja kamu mengubah ubah nama anak saya".
"saya potong leher..eh potong gaji ,baru tau ..!!".
ancam nya pada sang karyawan.
"ya ampun si mas bos sensi amat dah,saya kan tidak merubah.
"itu hanya panggilan sayang saya buat dia mas bos".
"mama nya aja gak protes kok,saya panggil dia gembul".
"lagian mas bos mah ngaku ngaku".
ejek nya.
"ngaku ngaku apa?!!".
"ngaku ngaku ayahnya ,padahal bukan siapa siapa"
riski cekikan sampai sakit perut,sementara teman nya yang satu lagi hanya geleng geleng kepala melihat kenekatan riski mengejek bos mereka.
"kamu lihat ril,ciri ciri karyawan yang gak punya akhlak dan sopan santun sama bos ya gini".
"kamu jangan dekat dekat sama dia,bisa bisa gaji kamu juga habis saya potong!".
kata ibra kepada sang karyawan satu nya yang bernama baril.
"saya kan cuma membicarakan fakta mas bos".
"dimana letak salah dan dosa saya?".
ucapnya pura pura lugu.
"saya hanya mengatakan yang saya lihat dan saya saksikan mas bos...!, kamu tau gak ril? ,ternyata mas bos kita kalau lagi berhadapan sama mba rini, mati gaya".
"masa iya seharian kami tinggalin berdua,megang tangan mba rini pun gak berani".
sambung nya dengan kekehan dan ekspresi mengejek.
"ah saya mah gak ikutan ya ki..sya takut gaji saya kena potong".
kata baril si lugu yang sebenarnya.
"ah kamu sama si mas bos sama aja,sama sama cemen sama cewe,hahahahahha".
ibra berdiri dan menyumpal mulut riski yang tengah tertawa lebar dengan gorengan yang ada di atas meja.
*uhuk uhuk*
"pedaas ..pedas ".
riski terbatuk batuk,dan berlari mencari air untuk minum.
gantian baril dan ibra yang tertawa melihat riski kocar kacir mengambil air.
__ADS_1
karena ternyata ibra menyelipkan beberapa potong cabe rawit di dalam gorengan yang dia masukkan ke mulut riski.
"ah mas bos becanda nya jelek".
rajuknya sembari kembali duduk ke dekat ibra dan baril.
"sukurin,makanya jangan kurang ajar".
kata ibra.
"saya gak kurang ajar mas bos,tapi memang udah gak bisa di ajari".
dia kembali cekikan.
ibra geleng geleng kepala mengahadapi mahluk tuhan yang satu ini.
"ini serius mas bos.. kenapa sih mas bos kaku kayak kanebo kering kalau ketemu mba rini?".
lagi lagi ibra melotot mendengar perumpamaan yang di semat kan riski untuk nya.
baril hanya bisa senyum senyum tertahan,dia tidak seberani riski dalam bercanda dengan bos nya.
meskipun sang bos tidak pernah kasar atau marah.
sang bos selalu menghargai mereka,dan selalu berusaha menyelesaikan persoalan apapun dengan kepala dingin namun tetap dengan ketegasan.
aura dingin terpancar dari wajah nya untuk orang orang yang tidak mengenal dengan baik.
mungkin itu yang membuat baril begitu sopan dan segan kepada ibra.
berbeda dengan riski yang memang dari awal sudah seperti itu watak nya dan di tambah lagi dia begitu dekat dengan sang bos.
"mas bos..sebaiknya mas bos harus lebih ekstra dalam mengungkap kan apa yang ada di hati mas bos terhadap mba rini".
"apa mas bos tidak lihat mantan suami mba rini masih berharap".
"mas bos..mas bos,hany bercerita banyak hal sama saya mas bos,dia bilang mantan mba rini masih suka ngajak balikan".
"malah kadang suka maksa maksa gitu".
"kalau mas bos memang sayang sama mba rini,sebaiknya mas bos gercep,takut nya nanti mba rini gak punya pilihan karena di tekan terus sama mantan nya".
"hany bilang gitu sama kamu?".
"iya mas bos".
"kapan?".
"tadi malam,saya kan lagi berusaha meluluhkan hati nya hany mas bos".
riski tersenyum manis pada ibra.
"wah..wah... tidak bisa di biarkan ini,saya gak rela teman sekaligus orang yang satu kampung saya dekat sama kamu".
"bisa rusak si hany kalau jadian sama kamu".
"gak...!!, ini gak boleh terjadi!!".
ucap ibra dengan sok panik dan khawatir.
"astagfirullah mas bos,nyebut mas bos,nyebut..".
"saya tidak seperti itu,astagfirullah".
gantian ibra yang cekikan karena berhasil mengerjai riski,dia begitu senang karena sekarang memiliki senjata pamungkas untuk membungkam mulut pedas riski.
di saat sedang asik mengejek satu sama lain,terlihat wina tengah berjalan kearah mereka dengan menenteng sesuatu.
"hai... pada lagi ngapain sih,kok kayak nya heboh banget??".
__ADS_1
"ajakin dong".
"eh wina datang.., lagi cerita cerita aja sih win".
"kamu dari mana win?".
tanya ibra ramah.
"dari rumah mau kesini,nganterin makanan mas".
"gak usah repot repot win,kami udah makan kok".
riski menyahut,entah mengapa dia tidak terlalu suka melihat wina terlalu sering mendatangi ibra,menurut nya wina terlalu agresif dan sedikit tidak tau malu.
dan yang lebih membuat riski kesal, sang bos seakan akan tidak tau kalau wina menyukai dirinya.
"isssh....kalau gak mau ya udah,lagian bukan buat kamu kok".
wina menjulur kan lidah mengejek riski.
"riski benar win...gak usah repot repot,kami jadi gak enak kalau hampir tiap hari di anterin makanan".
"gak enak sama orang orang,terutama bapak kamu kalau kami tiap hari di kasih makan gratis".
"saya enak enak aja kok mas bos".
ucap baril malu malu sambil sesekali melirik wina.
"saya mau mau aja kalau tiap hari wina anterin makanan".
"huuu mau nya..".
"emang dasarnya kamu peliitt,jadi pas ada yang gratisan kamu jadi enak".
kini giliran baril yang kena sasaran oleh riski.
"bukan gitu ris,masakan wina tu itu menurut saya enak...jadi saya doyan,bawaan nya pengen nya makan terus".
sambung nya membela diri.
ibra,riski dan wina tertawa melihat wajah baril yang tersipu malu setelah mengungkap kan isi hati nya .
"di makan mas,wina sengaja masakin mas ibra,biar nanti mas ibraa udah terbiasa dengan masakan wina".
"emang kenapa mas bos harus terbiasa sama masakan kamu?".
tanya riski.
"eh... maksud aku,biar nanti mas ibra terbiasa masakan aku jadi makanan nya di habisin deh".
wina sedikit gugup dengan pertanyaan yang di lontarkan riski,dia malu pada ibra.
riski yang melihat perubahan pada air muka wina jadi kesal sendiri,dia kembali menyambung pembahasan yang tertunda.
"mas bos..apa mas bos gak kangen sama si gembul?".
"kalau mas bos kangen,besok mas pergi aja kesana, masalah disini biar kami yang tangani".
"kasihan si gembul kangen ayahh".
ucap nya sambil memperjelas kata ayah.
ibra hanya diam dan terpejam karena hatinya tengah berkecamuk rindu,dia berbisik pada semilir angin, semoga tersampai kepada yang tersayang.
tunggu ayah nak...
bisik nya sendu.
~••~
__ADS_1