Karena Aku Tak Sesoleha Itu

Karena Aku Tak Sesoleha Itu
#kerinduan yang menggilakan(pov ibra)


__ADS_3

bekas hujan tadi malam masih menyisakan hawa dingin pagi ini,membuat ku betah bermalas malasan di bawah gulungan selimut.suara kesibukan riski dan baril sudah dari tadi memecah keheningan.


entah apa yang tengah di kerjakan para anak muda yang tengah kasmaran itu.padahal aku sudah mengatakan kalau bengkel hari ini ditutup saja, karena aku sedang tidak mau melakukan apapun.namun sepertinya tidak satupun dari mereka yang mengerti perkataaan ku.


"mas bos..mas bos masih mode off kah".


terdengar suara karyawan kurang aj*r itu menanyai ku.siapa lagi kalau bukan riski.si karyawan yang selalu bisa di andal kan dalam segala hal.


aku hanya diam tidak menjawab atau memberi kode apapun atas pertanyaan nya.


entah mengapa aku selalu memikirkan arini. atau lebih tepat nya jawaban dari tanya ku untuk nya beberapa bulan yang lalu.


sampai saat ini arini masih belum memberi jawaban apapun.dan itu membuat ku merasa resah.makan tak enak,tidur tak nyenyak.


aku takut dia menolak,hingga harapan dan mimpi ku untuk tidur satu kamar dengan nya dalam ikatan sah harus pupus.


ku coba pejam kan mata,aku melihat bayangan arini yang tengah tersenyum malu menari nari.bib*r mungil yang di polesi lipstik tipis itu seakan akan menantang ku.


aku berusaha menyentuhnya pelan dengan ibu jari ku,aku takut dia marah dan memaki sikap kurang ajar ini.namun dugaan ku ternyata salah, dia hanya diam dan semakin menunduk malu.


berlahan aku menunduk kan kepala.kemudian mendekati bib*r nya dengan b*birku,dia tetap tidak melakukan perlawanan,akhirnya aku ******* b*bir indah itu dan dia membalas nya dengan pelan hingga darah ku seakan mengalir begitu deras dari segala arah.


"mas bos...mas bos masih hidup?" terdengar suara di sertai ketukan ber irama tak merdu di depan kamar.


aku terkejut dan langsung terduduk karena takut mereka melihat kelakuan ku pada arini.


aku begitu gugup,degub jantung ku tak karuan.


aku clingak clinguk mencari tempat aman,agar bisa menyembunyikan arini. hingga setelah berapa kali dobrakan pintu kamar membuat aku tersadar.


aku menepuk kening.dan mengerutuki kebodohan ku, kemudian tertawa sendiri.


ternyata begitu besar pengaruh dari rindu ini, hingga aku bisa bermimpi se nyata itu.


oh tuhan..betapa berdosanya aku memimpikan hal yang memalukan, ujar ku dengan cekikan pelan.


setelah mengumpulkan energi kesadaran dengan baik.aku melangkah untuk membuka pintu kamar.


disana sudah berdiri riski dan baril dengan raut wajah terlihat cemas.


"alhamdulillah..mas bos masih napak ril,berarti mas bos masih hidup"


baril tersenyum dan mengangguk kencang tanpa henti seakan kepalanya seperti boneka leher panjang yang sering di pajang di dashbor mobil.

__ADS_1


"alhamdulillah ris...terimakasih ya allah" sambung nya tak mau ketinggalan.


keduanya langsung berhamburan memeluk dengan kencang,hingga tubuhku yang di peluk merasa risih karena sulit bernafas.


toyoran di kepala ke duanya menghentikan drama tanpa judul yang sedang terjadi.


"aduh.." ucap kedua nya serentak.


"beneran masih hidup ril,buktinya masih sadis"


ucap riski sambil mengelus keningnya.


"saya kan sudah bilang,hari ini kita tutup.ngapain kalian gangguin saya"


suara ibra terdengar masih serak,suara khas bangun tidur.


"tutup sih tutup mas bos,tapi bukan berarti mati menahan lapar"


baril sudah mulai berani bersuara menyahuti sang bos.


"kalian terlalu banyak alasan,masa iya masih pagi begini kalian udah gak bisa menahan lapar"


mendengar majikan nya berkata masih pagi,keduanya saling tatap dan geleng geleng kepala bersamaaan.


bisik riski kepda baril namun masih bisa terdengar oleh ibra.


"hei curut..kalian kenapa haa.. dari tadi bikin kesal aja"


"maaf ya mas bos.maaf banget,apa mas bos gak lapar?"


tanya baril.


"ini lagi si curut parit,bukan nya jawab malah balik nanya"


ibra terlihat kesal karena merasa terganggu dengan tingkah para pasukan.


"saya memang lapar..tapi saya tidak sama seperti kalian berdua,pagi pagi sudah buat kehebohan"


"lapar ya tinggal makan,kenapa harus ribut dan ganggu tidur saya"


riski langsung mengangkat tangan untuk memperlihat kan jam yang menempel di lengan nya.


"ngapain kamu pamerin jam kamu ke saya,saya gak bakalan iri dengan jam jelek itu"

__ADS_1


ucap nya dengan nada mengejek.


baril menekan tombol yang ada pinggiran jam,agar layar nya menyala.


awalnya ibra tidak perduli,namun baril dan riski semakin maju dengan mengarahkan jam tepat di depan mata sang bos.


ibra terbelalak melihat angka yang tertulis di jam tangan milik riski,bagaimana tidak,dia yang awalnya mengira hari masih sekitaran jam 7 atau jam 8 harus menelan kenyataan pahit.


jam tangan riski menunjuk kan angka 11:45 dan itu berarti hari sudah jam 12 kurang 15menit.


dia hanya bisa diam tak bergerak dari tempat nya.baril dan riski mengejek dengan menaik kan sudut bibir keduanya .


baril dan riski duduk di kursi dengan berpura pura tidak terjadi apa apa.mereka mengabaikan ibra yang masih shock dan tetap di posisi awalnya.


baril mengunyah cemilan sambik bersantai dan bermain ponsel.


sementara riski, dia terlihat sibuk tertawa cekikan sendiri membaca balasan pesan .ternyata dia tengah bercerita tentang bos kepada sang kekasih.


"ngapain mas bos berdiri di depan pintu,kata ibuk saya itu pamali.orang yang suka berdiri atau duduk di depan pintu katanya susah dapat jodoh"


baril menyempatkan diri menyampai kan petuah ibunya kepada sang bos .


di sambung dengan gelak tawa riski yang tidak mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari hp


nya.


"biarin aja sih ril,lagian mas bos juga belum mau nikah kok,mas bos masih betah melajang di umurnya yang sudah mau kepala empat"


lagi lagi riski mengejek ibra.


ibra masuk kembali kedalam kamar.mereka mengira sang bos hendak tidur lagi.tapi tidak lama kemudian ibra kembali ke depan pintu dengan membawa bantal dan melempari baril dan riski.


keduanya tertawa tanpa henti melihat kelakuan ibra untuk menutupi rasa malu.


"akibat rindu yang mendalam mas ibra jadi kurang sehat yaa..bilangin arini titip salam sama mas ibra"


riski membacakan pesan yang dikirim oleh hany.ternyata riski mengirimkan video dari awal ibra tidak loading hingga akhirnya melempari mereka dengan bantal.


ibra yang mendengar langsung mengejar riski dan berniat merampas ponselnya.tapi dengan sigap riski menghindar dan berlari menjauh.


baril tergelak sambil memukuli sudut kursi tempat mereka biasa bersantai.dia merasa bos nya sangat lucu.


dan sekarang giliran nya yang merekam aksi kejar kejaran si bos dengan teman nya itu menggunakan ponselnya,meski di iringi gelak tawa yang tak terkontrol.

__ADS_1


~~••


__ADS_2