KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Liwetan


__ADS_3

Hari Minggu, hari yang di tunggu bagi anak sekolahan karena hari ini hari libur, bahkan hari Minggu juga sering di gunakan sebagian orang untuk berkumpul bersama para keluarga.


Sebelum ke dapur, Riana sempat mengecek handphone karena notifikasi messenger kembali berbunyi.


Assalamualaikum.


Selamat pagi, Riana.


Jangan lupa makan ya! agar kamu kuat menghadapi kenyataan dunia.


Waalaikumsalam.


Setelah membalas salamnya Riana meluncur ke dapur menghampiri sang Mamah.


"Selamat pagi, Mah." Sapa Riana ketika dia sudah berada di dapur, dan melihat sang Mamah sedang berkutat dengan cucian piringnya.


"Pagi juga, Teh. Mumpung kamu nyanperin bantuin Mamah masak nasi goreng ya! Tanggung, Mamah sedang nyuci."


"Siap, Mamahku tersayang." Riana berkata dengan tegas lalu ia mengambil bahan-bahan nasi gorengnya.


Setelah sekian lama beraksi, akhirnya nasi goreng buatan Riana siap untuk di hidangkan, dan siap untuk di santap secara bersamaan.


"Assalamualaikum, wah harumnya enak banget!" ujar seseorang yang menghampiri Riana, dan Mamah Ani di dapur.


Mereka menoleh, "Kamu, Kei. Kapan pulang, katanya kamu izin sekolah dua hari? berarti, kemungkinan pulangnya besok," kata Riana yang sibuk menuangkan makanan ke piring.


"Aku merasa kesepian, rasanya jiwa ragaku tertinggal di sini deh, makanya aku cepat pulang, kangen kalian," ucap Keisya dengan tangan menarik kursi lalu duduk.


"Bahasamu, Kei. Gaya bener dah." Kata Mamah Ani sambil berjalan ke arah ruang keluarga untuk memanggil suami dan anaknya Latif.


Kemudian mereka melakukan sarapan bersama dengan Keisya yang juga ikut makan.


****


Kediaman Alvin.


Alvin yang tinggal sendiri di kota B melakukan segala aktivitas nya dengan sendiri. Mulai dari bangun ia melaksanakan ibadahnya kemudian melakukan olahraga dan di lanjutkan dengan membersihkan rumah.


Alvin mendudukan tubuhnya secara kasar karena merasa lelah dengan semua aktivitas yang ia laksanakan. Dia mengambil handphone lalu menelpon Iqbal.


"Halo, Bal. Kita cari sarapan yuk! gue lagi males masak."


"Ok, siap. Gue tunggu lo di pos yang semalam."

__ADS_1


"Kenapa harus di situ lagi? kan, banyak tempat yang lain, misalkan Cafe, Restoran atau tempat yang lain." Alvin bertanya karena dia cukup bingung dengan Iqbal yang terus merekomendasikan tempat itu lagi.


"Vin, Cafe sama Restoran mah sudah sering kita tongkrongin, kita cari yang beda lah! salah satunya di pos, itu juga tempat cukup enak buat kita mencari sarapan, di sana juga suka ada tukang lontong sayur lewat, tukang bubur juga ada." Jelas Iqbal yang sudah menyukai tempat tongkrongannya dari dulu.


"Baiklah, terserah kau saja!" kata Alvin. Dia membuang nafasnya secara kasar lalu berdiri, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena tubuhnya sudah tidak enak lagi sebab keringat yang membasahi.


****


Warung pak Yanto.


"Kei, ini kan hari Minggu, kita liwetan yuk!" kata Riana yang duduk di bangku depan warung sambil memakan gorengan pisang yang tersedia di mejanya.


"Ide bagus tuh, kita ajak sepupumu juga, dan kalau bisa ajak yang lain deh! biar tambah seru! itung-itung kita papajar sebelum bulan suci Ramadhan tiba." timpal Keisya yang juga ikutan memakan gorengan pisang.


"Kau benar, aku hubungi dulu mereka." Riana masuk ke dalam mengambil handphonenya, menelpon kedua sepupunya untuk datang ke warung.


Setelah beberapa saat, Deni serta Yusuf datang menghampiri Riana.


"Eh! ada bebeb Keisya, jadi semangat kalau gini mah."


"Jangan di teruskan dulu ngengombal ya!" Riana melerai ucapan Deni. "Masa cuman berempat? ajak yang lain atuh, biar tambah seru!" lanjut Riana.


"Di tambah orang tuamu jadi berenam, ajak orang tua kalian juga, Den, Suf!" timpal Keisya.


"Sama orang tuaku juga lagi sibuk ngurus panen padi," timpal Deni.


Riana manggut-manggut, "Ya sudah, seadanya saja. Aku sama Keisya belanja teman nasinya dulu, kalian beli ikan ya ke pasar!"


"Siap!" ucap kompak Deni dan Yusuf.


Merekapun berpencar ke tempat yang mereka tuju, sedangkan di warung sudah ada Latif yang menunggu.


"Latif, teteh nitip warung ya!" teriak Riana dari luar.


"Iya, Teh!" saut Latif dari dalam.


Liwetan hari ini Riana akan memasak nasi liwet, ikan bakar, tumis kangkung, tempe goreng, tahu goreng, pais ikan peda, sambal tomat, dan tidak ketinggalan kerupuk serta lalapannya.


Kenapa banyak banget, karena mereka memasak untuk banyak orang, siapa tahu nanti akan ada yang ikutan makan biar tambah rame.


****


Iqbal sudah sampai di tempat tongkrongan yang semalam, kali ini dia datang tidak sendiri melainkan dengan adik laki-lakinya, Vino.

__ADS_1


"Kenapa kita ke sini sih, Bang? bukannya mau cari sarapan ya?" tanya Vino sambil turun dari motor meneliti setiap tempat yang baru ia kunjungi.


"Tuh, itu tukang bubur nya. Jadi kita sarapan bubur saja, kamu harus sedikit merubah sifatmu yang sok kaya itu, Vino. Harta yang kita miliki bukan milik kita, jika sewaktu-waktu Allah mengambilnya kembali, kamu tidak akan merasa malu dan tidak sungkan lagi untuk makan di tempat yang sederhana," ucap Iqbal menasehati sang adik.


Bukan tanpa alasan Bambang memindahkan Vino ke Bandung, dia ingin anak bungsunya menjadi orang yang jauh lebih baik dan bisa menghargai orang lain.


Tidak berselang lama Alvin datang berbarengan dengan Deni dan Yusuf lalu berhenti di dekat pos.


"Kalian dari mana?" tanya Iqbal


"Habis dari penjual ikan, a." kata Yusuf yang baru turun dari motor ingin ikut duduk di dekat Iqbal, tapi matanya melotot kaget melihat orang yang pernah bersitegang dengan mereka, begitupun Deni dan Vino yang juga ikut kaget.


"Kau!" ucap mereka bertiga secara bersamaan.


"Ngapain kalian di sini?" tanya Vino sewot.


"Seharusnya kita yang nanya, situ ngapain di mari? ini kampung kami!" balas Deni dengan sewot pula.


"Kalian saling kenal?" tanya Iqbal bingung.


"Tidak!" ucap mereka bersamaan.


Iqbal dan Alvin saling lirik, seolah bertanya ada apa.


"Deni, Yusuf, tolong ikannya kalian bersihkan lalu kalian bakar ya?" tanya Riana yang menghampiri mereka.


Mereka menoleh.


"Kau!" tunjuk Vino pada Riana, dia kembali di kagetkan dengan adanya Riana di sana.


Riana hanya membalasnya dengan senyuman ramah.


"Kenapa kita?" tanya Yusuf.


"Aku, Keisya sama Mamah yang masak, kalian hanya bertugas membakar ikan, jangan lupa bagi tugas! kalian juga boleh ikutan liwetan bersama kami!" kata Riana dengan ramah mengajak Alvin, Iqbal, dan Vino.


"Emangnya boleh?" tanya Alvin yang ingin ikutan, dia berfikir pastinya akan seru.


"Boleh, Pak. Kami sengaja bikin banyak buat siapa saja yang ingin ikutan makan liwet, itung-itung papajar sebelum bulan puasa," jelas Riana.


"Baiklah cantik, kalau gitu kami akan melaksanakan perintahmu!" saut Deni.


"Bagus," ujar Riana terkekeh, kemudian kembali ke dalam toko tanpa melihat kepada mereka yang sedang memperhatikan.

__ADS_1


Alvin, dan Vino, memang memperhatikan Riana dari tadi, mereka memandang Riana dengan pandangan sulit di artikan.


__ADS_2