
"Yusuf, kau dan Vino yang nyalakan api! aku sama pak Alvin membersihkan ikannya." kata Deni karena tidak mau bersama Vino.
"Kenapa harus sama dia?" tanya Yusuf penasaran.
"Kalau aku sama dia, yang ada kita adu jotos, males aku menghadapi cowok kayak dia, ayo, Pak! ikut saya!" cibir Deni lalu mengambil ikan di motornya kemudian berjalan menuju keran yang ada di samping pos.
"maksud lo apa ngomong seperti itu hah?" Vino merasa terpancing dengan ucapan Deni, dia hendak mengejar, tapi di tahan oleh Iqbal.
"Vino, sudah!" hardik Iqbal dengan memegang pundak Vino.
Vino menepisnya secara kasar, "Gue males ikutan, kalian saja yang menyalakan arangnya!" ucap Vino lalu duduk kembali di kursi dekat pohon kersen.
****
Di dapur
"Keisya, kamu potong kangkung nya! Riana, kamu potong tempe dan tahu, sedangkan Mamah mau membersihkan berasnya dulu."
"Iya, Mah."
"Iya, Tante."
Ucap mereka secara bersamaan.
"Kei, di depan ada pak Alvin, sepertinya dia tinggal di dekat sini deh." Kata Riana, akan tetapi matanya terus berfokus kepada tempe yang ia potong.
"Pak Alvin guru MTK yang guanteeeng itu?" tanya Keisya memastikan.
"Iya."
"Yang benar kamu?" Keisya terlonjak kaget dengan sepontan dia berdiri.
"Astaghfirullah, kamu ini ngagetin saja!" kata Riana, dan tangannya mengelus dada karena merasa kaget.
"Yang kamu omongin benar, kan?"
"Benar."
"Tidak bohong?" tanya Keisya memastikan.
"Sumpah demi Allah, ada pak Alvin!" kata Riana penuh dengan penegasan.
"Aduhhh gusti! kok aku jadi dag dig dug gini?" kata Keisya sambil memegang dada.
"Lebay," cibir Riana.
****
"Bapak tidak apa-apa kan, saya suruh kerja?" Kata Deni.
__ADS_1
"Tenang saja, saya sudah biasa kalau soal pekerjaan mah," balas Alvin yang ikut mengekori Yusuf dari belakang.
Sesampainya di dekat keran, mereka berdua mulai membersihkan sisik ikan, di lanjutkan dengan membersihkan insang di bagian kepala ikan, dan terakhir membersihkan jeroan ikan dengan cara membelah ikan di bagian perut lalu mengeluarkan bagian jeroannya menggunakan tangan sampai bersih.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Alvin dengan hati-hati.
"Silahkan saja, Pak! bertanya mah gratis," balas Deni terkekeh.
Alvin pun ikut terkekeh, "Apa benar Riana berpacaran dengan Yusuf? soalnya saya pernah dengar Yusuf bilang sayang sama Riana."
"Hahaha bapak ikut berfikir seperti itu rupanya, tapi sekilas Yusuf dan Riana memang terlihat cocok dan di sangka pacaran, padahal kami bertiga hanya sepupuan." Deni merasa lucu dengan pertanyaan Alvin, dia merasa guru MTK itu sudah menjadi salah satu korban keisengan Yusuf.
Ada kelegaan dalam hati Alvin saat mengetahui jika Mereka sepupu.
"Kenapa? apa Bapak juga tertarik dengan sepupu saya yang cantik itu?" tanya Deni to the points.
"Hah! iya, ehh tidak! saya hanya penasaran saja," balas Alvin dengan gelagapan dan yang pasti Alvin menjadi gugup.
Deni terkekeh, "Asal Bapak tahu, Riana tidak akan di perbolehkan pacaran, prinsip keluarga kami adalah jika cocok langsung melamar atau di lamar." Tanpa Deni sadari dia memberikan isyarat kepada Alvin jika beneran suka langsung lamar.
"Oohh, gitu ya." Alvin manggut-manggut, lalu mereka kembali membersihkan ikan yang sudah mereka belah.
****
"Kenapa arangnya tidak menyala ya?" tanya Yusuf bingung, masih berusaha meniup bara api agar tetap menyala.
"Pakai kertas, atau plastik kek, biar ada apinya!" balas Iqbal yang ikut berusaha untuk membuat arang menyala semuanya.
"Semoga kali ini nyala, Bismillahirrahmanirrahim, puhhh, hurung siah!" Yusuf menyalakan api kembali dan tidak berselang lama arangnya mulai ada apinya.
"Alhamdulillah, nyala juga. Kenapa tidak dari tadi saja, Suf?" kata Iqbal yang merasa jengah dengan tingkah mereka berdua.
"Hahaha benar-benar lemot kita."
"Bener banget," timpal Iqbal.
Vino yang berada tidak jauh dari mereka hanya tersenyum menggelengkan kepala.
"Arangnya sudah nyala belum?" tanya Riana tiba-tiba.
Vino mendongak ke arah suara, dia memperhatikan Riana.
"Sudah, tinggal nunggu ikannya saja," saut Yusuf.
"Ikannya juga sudah selesai di bersihkan." Deni yang sudah selesai segera menghampiri Riana, sedangkan Alvin masih mencuci tangannya.
Rianapun mengambil baskom yang ada ikannya, lalu ia bumbui dengan bumbu ikan bakar kemudia menusuknya pakai tusukan ikan buatan Bapak Yanto. Deni, Yusuf dan Iqbal bahkan ikut membantu.
"Kalian bakar ya! tapi awas! jangan sampai gosong!" ucap Riana penuh peringatan.
__ADS_1
"Iya, kami tahu nona," balas Deni yang sudah mulai membakar ikannya sedangkan Yusuf bagian mengipasi.
"Ok, kerja yang bagus!" Riana kembali masuk lagi dalam toko.
Setelah menunggu beberapa saat, nasi liwet beserta lauk pauknya sudah matang.
"Nak Alvin, tolong ambilkan daun pisang yang itu!" titah Yanto kepada Alvin yang berada di sebelahnya sambil membawa panci berisi nasi liwet.
"Om, ini sambal sama tumis kangkung nya di taruh di mana?" tanya Keisya menghampiri Yanto.
"Taruh di pos dulu semuanya, jika sudah ada daun pisangnya baru kita tuangkan di sini!" kata Yanto yang sudah mempersiapkan tempat untuk mereka makan. Lalu Keisya kembali masuk ke dalam membawa makanan yang lain.
Datanglah Riana dan Keisya membawa sisanya. Dengan begitu Ani menuangkan nasi di atas daun pisang yang sudah di siapkan Yanto, di bantu Riana yang juga menuangkan lauk pauknya di atas nasi.
"Bebeb Keisya duduk di mari saja!" celetuk Deni menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Gak ah, males! mending duduk di sini." Keisya lalu duduk tepat di hadapan Deni.
"Sekarang ku tau kenapa kamu ingin duduk di situ?" kata Deni menarik nurunkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Keisya melirik ke arah Deni.
"Karena kamu ingin selalu memandang aku," celetuk Deni terkekeh.
"Uhuuuyy, pepet teruuuus!" saut Yusuf menggoda
"Jangan kasih kendor, Den!" ucap Iqbal menimpali ucapan Yusuf.
Yang lain hanya tersenyum.
"Asyiiiaappp," balas Deni memberi hormat.
"Aaaaa hati Adek meleleh, bang," ujar Riana sambil tangannya menompang dagu melirik ke Keisya dan menaik turunkan alisnya lalu mengedipkan mata ikut menggoda Keisya
Wajah Keisya memanas dia merasa malu saat Riana menatapnya seperti itu, Riana yang melihatnya langsung tertawa.
"Hahaha si Keisya blushing euy, pipinya merah, ciee malu tapi mau!" ledek Riana memicingkan mata pada Keisya, "Cieeeee babang Deni mulai berhasil hahaha," ledek Riana pada Deni.
Yusuf juga ikut tertawa melihat keduanya jadi salah tingkah, Deni yang niat awal hanya ingin menggoda malah merasa ikutan panas wajah di ledek seperti itu oleh Riana.
Saat sedang asyik tertawa, mulut Riana dan Yusuf di suapi kerupuk oleh Mamah Ani, hingga membuat keduanya terdiam karena penuh.
kali ini semuanya yang ikut tertawa melihat Riana dan Yusuf yang di jejel pakai kerupuk.
"Mingkem! berisik sekali, ayo makan! Bapak yang pimpin Doa."
Riana dan Yusuf cemberut, mereka mengambil kerupuk yang ada di mulutnya lalu mereka gigit dengan kasar, mengunyahnya secara kasar pula karena kesal.
****
__ADS_1
Hurung siah \= semoga menyala