
"Tunggu....!" pekik seseorang.
Mereka yang ada di dalam menoleh ke asal suara.
"Batalkan pernikahan ini! Riana hanya boleh menikah denganku! Tidak ada yang boleh memiliki Riana selain aku!"
"Apa maksudmu, Rahmat?" tanya pak RW bapaknya Rahmat.
Pak RW bangkit dari duduknya menghampiri Rahmat.
"Pak, Rahmat mencintai Riana. Rahmat tidak terima Riana menikah dengan orang lain! Hanya aku yang boleh menikahinya! Dia milikku, Pak! Batalkan pernikahan ini!" Rahmat menatap tajam Vino, aura permusuhan terlihat dari sorot matanya.
"Siapa kau? Seenaknya saja mengklaim Riana hanya milikmu, dia sekarang akan menikah denganku, hanya aku yang akan memilikinya!" sahut Vino tidak terima Riana di klaim hanya milik dia.
"Aku calon suami yang sebenarnya, mau apa kau?" bentak Rahmat menghampiri Vino lalu menariknya untuk menjauh dari Riana dan Rahmat malah duduk di tempat pengantin pria.
"Nikahkan kami, Pak!" ucap Rahmat pada penghulu.
"Hei, apa-apaan ini?" Vino menarik tangan Rahmat.
Suasana menjadi kacau ketika dua pria saling berebut untuk menjadi pengantin pria. Pak penghulu jadi bingun melihat keduanya.
"Ini, jadi tidak nikahnya?" tanya penghulu.
"Jadi!" jawab keduanya dengan kompak.
Mereka yang ada di sana saling berbisik, Riana sendiri sudah menunduk karena malu.
"Hentikan, Rahmat! Ayo kita pulang!" bentak pak RW, lalu menyeret Rahmat untuk pergi dari sana.
"Tidak, Pak! Rahmat tidak mau pulang sebelum Riana menikah denganku!" Rahmat menolak untuk pulang dia masih kekeh ingin menikah dengan Riana.
"Pak RW, pak RT, tolong bawa dia keluar dari sini!" titah Bambang yang sudah geram dengan Rahmat.
"Benar, pak. Dia hanya membuat keributan saja, bawa dia pergi!" timpal Yanto yang juga merasa malu dan geram.
"Baik, mohon maaf atas kekacauan yang anak saya lakukan," jawab pak RW merasa bersalah dan juga malu.
"Rahmat tidak mau, Pak" Rahmat terus berontak dari seretan bapaknya dan pak RT.
"Riana, aa cinta sama kamu, jangan menikah dengannya!" Rahmat terus berontak dan berteriak untuk mencegah pernikahan ini.
"Ayo pulang! Malu-maluin Bapak saja kamu!" bentaknya sambil terus merangkul Rahmat untuk keluar.
__ADS_1
****
Di jalan, Alvin terus menggerutu.
"Kenapa macet segala, tidak biasanya jalan ke kampung macet?" umpatnya sesekali melirik ke jam tangan.
"Bisa lebih cepat tidak, terus klakson mereka, Bimo!" titah Alvin.
"Aduh, Bos. Ini macetnya parah, susah untuk keluar." Jawab Bimo, dia merasa aneh dengan Alvin yang terus menerus menyuruh cepat.
Karena tidak sabar, Alvin keluar dari mobil berniat untuk mengojek. Hanya membutuhkan waktu 10 menit saja untuk sampai ke rumah Riana jika menggunakan ojek.
"Bos, mau kemana, Bos?" terik Bimo melihat Alvin terus berlari melewati setiap mobil.
"Aduuh, bisa-bisa gue kena semprot bos nyonya ini mah," umpat Bimo panik.
****
"Mohon maaf atas kekacauan yang terjadi, ini di luar kendali kami." Yanto meminta maaf kepada semuanya atas apa yang telah terjadi di acara bahagia ini.
Vino kembali duduk di samping Riana berniat melanjutkan ijab qobul nya. Riana kembali gugup, dia terus meremas gaun pengantin. Hatinya berusaha menerima namun kenyataannya ia belum mampu.
"Silahkan, pak! Lanjutkan acaranya!" ucap Bambang pada pak penghulu.
"𝘒𝘢 𝘝𝘪𝘯𝘰, 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢." 𝘎𝘶𝘮𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.
Satu tetes air mata jatuh di pelupuk mata indahnya bersamaan dengan kata SAH dari orang-orang.
****
SAH.....
Deg!...
Alvin yang baru tiba di depan rumah Riana termangu, langkah yang tadi semangat kini melemah ketika mendengar kata sah dari dalam. Hatinya perih, dadanya terasa sesak, dengan bingung dan perasaan hancur yang mendera, Alvin tetap melangkah memastikan apa yang ia dengar.
Dia tercengang, terdiam di pintu masuk melihat Riana benar-benar sudah menjadi istri orang lain. Dia melihat Riana mencium tangan Vino dan Vino mencium kening Riana penuh perasaan.
"𝗧𝗲𝗿𝗹𝗮𝗺𝗯𝗮𝘁 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢."
Alvin memegang pintu berusaha untuk tegar. Hatinya terluka melihat orang yang kita cintai bersanding dengan orang lain.
Harapan indah berumah tangga dengannya kini telah sirna. Dia tersenyum berusaha untuk menyembunyikan luka di hati serta rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Yusuf yang berada di belakang Riana terus menatap Alvin dengan tatapan penuh tanya. Posisi pintu masuk berada di sebelah kanan mereka, dan Yusuf sempat melihat dari sudut matanya ada orang yang berdiri di pintu.
Dia memperhatikan gerak gerik Alvin. "𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢? 𝘴𝘰𝘳𝘰𝘵 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘴𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢."
Perlahan Alvin memundurkan langkahnya, menjauh dari tempat itu, dia sudah tidak mampu lagi menyaksikan semuanya. Alvin membalikan badannya tak terasa air mata Alvin menetes lalu dia menghapusnya agar tidak ada yang tahu jika dia sedang rapuh.
Yusuf bangkit mengikuti Alvin karena takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
Langkah Alvin terasa gontai, dia tidak tahu tujuannya saat ini kemana, dia hanya mengikuti kemana langkah kaki menuntunnya.
Entah kebetulan atau bagaimana, ada rumah yang memutar lagu ADIPATI berjudul JANUR KUNING. Lagu itu mengiringi setiap langkahnya, setiap kata dari lagu itu sungguh menyesakkan dada Alvin.
Tibalah ia di pinggir danau, dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Punggungnya menyender ke kursi, matanya terpejam menikmati semilir angin segar menerpa wajah.
"Apa bapak baik-baik saja?" tanya seseorang ikut duduk di samping Alvin.
Dia membuka matanya lalu menoleh, rupanya itu Yusuf. Alvin tak menjawab, dia kembali melihat ke arah depan.
"Di paksa bertahan karena perasaan namun di dorong mundur oleh kenyataan," ucap Yusuf ikut menatap ke depan.
"Ada waktu untuk berharap, dan ada waktu untuk berhenti. Ada waktu untuk memperjuangkan dan ada waktu untuk mengikhlaskan," lanjut Yusuf.
Alvin masih saja tidak bergeming, fokusnya hanya ke danau.
"Kau berharap untuk bisa bersanding dengan Riana, dan kau juga harus berhenti dari harapan itu. Kau berusaha memperjuangkan Riana untuk menjadikannya istrimu, namun kau juga harus mengikhlaskan nya karena dia sudah bersanding dengan orang lain." Yusuf masih tetap melanjutkan ucapannya.
Dan kali ini ucapan Yusuf membuat Alvin menoleh, dia mengkerutkan dahinya ketika Yusuf bicara seserius ini. "𝘈𝘱𝘢 𝘠𝘶𝘴𝘶𝘧 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢?" 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘭𝘷𝘪𝘯.
"Pasti bapak berfikir kenapa aku bisa seserius ini? Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa merangkai kata-kata indah bak seorang puitis yang terkenal dan menjadi serius." Yusuf terkekeh akan tingkahnya sendiri.
"Aku tahu bapak juga menyukai sepupuku. Ternyata pesona seorang Riana bisa membuat para lelaki menginginkannya."
"Darimana kamu tahu jika saya menyukai sepupumu?" Alvin bertanya sebab dia merasa jika dia tidak menunjukan perasaannya kepada siapapun kecuali Mama dan Kakanya.
"Dari cara bapak menatap Riana sudah terlihat jika bapak menyukainya. Orang-orang saja yang tidak peka akan perasaan bapak."
"Ck, rupanya kau pandai menebak perasaan seseorang. Saya terlambat, sekarang dia sudah menikah sebelum ku mengutarakan siapa saya yang sebenarnya. Saya dan dia pernah saling janji."
Yusuf menoleh, "Maksud bapak?"
Alvin mengambil handphone di saku lalu mengaktifkan data, matanya membola ketika begitu banyak panggilan masuk dari Riana ke WA nya. Dia semakin terkejut membaca sederetan pesan yang Riana kirimkan.
Namun, semuanya sudah terlambat.
__ADS_1