KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Dunia Milik Berdua


__ADS_3

Tiada yang lebih bahagia ketika seseorang yang kita cintai menjadi milik kita. Dunia pun akan terasa menjadi milik kita berdua dan melupakan mereka yang ada.


Setiap perjalanan pulang, Alvin tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya. Mereka berjalan, bersenda gurau, sesekali bercanda sambil menikmati indahnya pagi hari.


"Hmmm hmmm yang udah halal nempel terus. Gandengaaaaan mulu, kayak yang mau nyebrang," celetuk Iqbal yang kebetulan lewat jalan situ.


Iqbal sampai memelankan laju motornya untuk menggoda kedua pengantin baru.


Keduanya menoleh kebelakang dan memberhentikan langkahnya. "Eh, Iqbal. Darimana dan mau kemana?" tanya Alvin.


"Dari rumah mau ke toko kamu, Ri, ketemu Keisya," jawab Iqbal jujur.


Alvin mengerutkan keningnya, "Mau ngapain? tumben main kerumah cewek?"


"Kepooo... aku tinggal dulu, bye bye pengantin baru. Jangan lupa buat keponakan yang lucu-lucu buat ku ya!" pekik Iqbal langsung begitu saja pergi.


"Eehh, dia aneh banget? emangnya sejak kapan Iqbal dekat dengan Keisya?" tanya Alvin pada Riana dan keduanya melanjutkan perjalanan kakinya.


"Aku juga tidak tahu, mungkin mereka ada kerjaan. Setahuku Kak Iqbal memang mengajak kerja sama toko kita untuk di kembangkan ke kota Jakarta," jelas Riana.


"Oh, gitu."


****


"Vin, kita pulang dulu. Kamu tak apa kan kita tinggal di sini?" tanya Maya kepada Alvin.


Maya dan Stella beserta Farhan dan Chika berniat kembali ke Jakarta satu hari setelah pernikahan Alvin.


"Tak perlu mengkhawatirkan ku, Mah. Aku udah gede dan sekarang udah punya istri. Jadi, aku akan baik-baik saja bahkan sekarang tidurku ada yang nemenin." Lirik Alvin kepada Riana dan mengerlingkan matanya menggoda sang suami.


Riana menunduk malu dan tentunya wajahnya sudah bersemu merah.


"Itu sih ke enakkan di kamu, tidak ada yang mengganggu," sindir Farhan.


"Itu Mas tahu," balas Alvin membenarkan.


"Hahaha ketagihan ya?" goda Stella mengerakkan alisnya keatas kebawah.


Alvin hanya sengengesan tampa menjawab.


"Ssssttt, jangan goda mereka lagi! Kalian tidak lihat wajah cantik Riana sudah memerah?" lerai Maya merangkul Riana dari samping.


"Mah," lirih Riana.


Mereka tertawa melihat wajah Riana.


"Tante, kita pulang ya. Nanti Tante yang main ke rumah kita!" ucap Chika.

__ADS_1


"Insyaallah ya, sayang. Kalau Om Alvinnya mau mengajak Tante."


"Pasti mau dong, akan ku pamerkan kamu kepada mereka bahwa kamu adalah istri ku," balas Alvin bangga.


"Sudah, kita pamit dulu takutnya hujan."


"Iya, Mah. Hati-hati di jalannya," pesan Alvin dan Riana.


Maya beserta anak dan cucunya pun mulai melakukan perjalanan.


Setelah mereka pergi, Alvin menutup pintunya kemudian menguncinya.


"Kak, kenapa di kunci? ini siang bukan malam." Riana merasa heran pada tindakan Alvin.


Alvin langsung saja menarik pinggang istrinya sampai menempel tak ada jarak. "Aku tahu ini siang. Namun bagiku akan tetap menjadi malam."


"Kenapa begitu?" Riana menggigit kecil bibirnya saat Alvin mulai menyusuri ceruk leher dia.


"Karena kita akan mengulangi yang semalam, sayang." Langsung saja Alvin menggendong tubuh Riana dan Riana mengalungkan lengannya ke leher sang suami.


Keduanya sudah berada di atas ranjang, dan Alvin mulai menjalankan rencananya penuh kelembutan. Keduanya kembali melakukan hubungan suami istri dan melakukannya sampai mereka benar-benar lelah.


"Terima kasih, sayang."


Alvin akan selalu mengucapkan kata terima kasih setelah selesai beraktivitas.


"Kak, aku malu kalau harus memakai gaun malam ini terus." Riana cemberut merasa malu dan tidak nyaman memakainya.


Riana sedang menyiapkan makan siang karena dari tadi mereka belum makan. Riana sedang memasak soto ayam sebab cuacanya mendadak mendung dan turun hujan.


"Kenapa harus malu? di rumah hanya kita berdua saja, sayang. Dan biar memudahkanku untuk menerkam kamu." Sepasang tangan Alvin sudah memeluk pinggang Riana dari belakang.


"Iiihhh, jangan ganggu aku! Aku lagi masak, sayang," protes Riana sebab tangan Alvin mulai menjalar kemana-mana.


"Aku tidak bisa kalau tidak mengganggumu."


"Kak, aku udah lapar. Tolong lepasin ya! Nanti setelah makan terserah Kakak saja mau menggangguku lagi juga tak apa."


Alvin menyeringai, dia sudah memiliki banyak gaya yang ingin ia praktekan bareng istrinya.


"Baiklah, sayang."


Dan keduanya menikmati makan siang sesekali saling menyuapi.


****


Keisya ngedumel sebab bosnya tidak masuk, lebih tepatnya tidak ada sahabat seperjuangan sepenanggungan seperti Riana

__ADS_1


"Enak ya jadi bos, mau masuk kerja atau tidak terserah dia. Giliran banyak orderan aku yang nyuruh ngehandle. Tapi tidak apa, meski cape yang penting banyak cuan," Keisya terkekeh sendiri membayangkan uang yang banyak di tabungannya.


Keisya terus ngedumel sambil membereskan berbagai macam aneka kue di etalase.


"Ngedumel mulu, nanti cepat tua lho."


Keisya mendongak, ternyata Iqbal yang ada di hadapannya dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Yeeeyy, malah tak di jawab. Kamu kenapa ngedumel mulu? capek? atau apa?" tanya Iqbal menaruh kedua tangannya di atas etalase.


"Maaf bapak Iqbal yang terhormat, mau beli apa?" tanya Keisya cuek.


"Tidak mau beli apapun, mau lihat kamu saja." Iqbal menatap lekat-lekat wajah Keisya penuh arti.


"Apaan sih, gak jelas banget deh. Aku heran deh sama kamu, kenapa semenjak di tolak Riana kamu jadi sering ganggu aku? suka ya?" Keisya memicingkan mata menatap curiga.


"Kalau suka gimana? emangnya kamu mau jadi pacar aku?" Iqbal menggombal dan menaik nurunkan alisnya.


"Diiihhhh, maaf bapak Iqbal yang terhormat, mau beli apa?" tanya Keisya mengalihkan pembicaraan mereka.


"Beli kue lapis legit saja deh, daripada kesini tidak beli apa-apa."


"Gitu atuh, dari tadi kek belinya kan waktu ku jadi tidak terbuang percuma." Keisya mengambilkan pesanan Iqbal dan memberikannya.


"Silahkan, semuanya dua puluh ribu. Terima kasih sudah mampir ke toko CITARASA BAKERY." Keisya langsung pergi begitu saja ke area dapur karena memang masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan.


"Kei, hey, aku belum selesai bicara, Kei...!" pekik Iqbal. "Ck, susah banget sih deketinnya. Dia sama Riana paling susah gue taklukin hatinya. Tak mengapa, masih ada hari- berikutnya dan selama janur kuning belum melengkung masih menjadi milik bersama.


****


"Kak, masa kita di rumah terus? aku bosan, aku ke toko saja ya?" izin Riana dalam pelukan suaminya.


"Kan ada hari esok, sayang. Aku ingin terus bersama kamu." Alvin malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi aku bosan berdiam diri terus. Hmmm bagaimana kalau kita nonton?" usul Riana mendongak.


"Enggak ah, aku inginnya seperti ini."


Riana cemberut, bukan tidak mau menemani Alvin namun ia yang biasanya bekerja di toko sekarang berdiam diri merasa bosan.


Alvin menunduk dan melihat raut wajah istrinya, dia jadi merasa bersalah terus mengurung istrinya di rumah. "Baiklah, kita nonton."


Riana mendongak kembali, "Beneran?" tanya Riana memastikan.


"Iya, sayang," jawab Alvin tersenyum.


"Terima kasih, sayang," sontak saja Riana langsung mengecup seluruh wajah suaminya dan Alvin ikut bahagia kalau istrinya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2