
Siang dan malam silih berganti, musim hujan dan panas juga sering bergilir. Roda kehidupanpun terus berputar seperti jam waktu yang terus berjalan tanpa henti.
Hari ini Riana dan kawan-kawan merayakan hari selesainya ujian. Mereka saat ini sedang berada di Cafe, berkumpul menikmati hidangan atas traktiran Vino.
"Ngomong-ngomong kalian mau lanjut kemana?" tanya Riana ketika sudah meminum jus alpukat.
"Kalau aku mah masih di dalam negri, soalnya tidak mau ninggalin orang tua jauh." Jawab Keisya dengan mulut penuh makanan.
"Kalau ngomong, makanannya di habisin dulu! entar keselek loh!" Deni memperingatkan Keisya dan diangguki oleh Riana, sedangkan Keisya hanya cengengesan memperlihatkan giginya.
"Kalau kamu kemana Vin?" tanya Riana kepada Vino
"Sama, aku juga lebih memilih di dalam negri. Lagian universitas di Indonesia juga gak kalah bagus dari yang ada di luar negri, kita sebagai anak bangsa yang baik dan santun harus menjunjung tinggi apa yang bangsa kita miliki," jawab Vino sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.
"Bapak Vino Pratama sedang berdakwa," goda Keisya sambil mengunyah.
"Keisya, aku udah bilang kalau ngomong jangan sambil makan! kalau ngeyel, gue cium baru tau rasa lo," ucap Deni menakuti.
"Uhuk uhukk, apa lo bilang? Uhuk uhukk," Keisya sampai keselek mendengar tutur kata Deni.
"Nih, minum dulu!" Riana menyodorkan air minum dan menepuk punggung Keisya dengan pelan.
"Heh, awas! kalau lo berani nyium gue, gue tonjok nih!" ancam Keisya pada Deni yang menunjukan kepalan tangannya seolah ingin menonjok.
"Sini kalau berani! aku tidak takut," tantang Deni.
"Ishh, lama-lama lo nyebelin ya, Den." Keisya sungguh kesal dengan Deni.
"Jangan suka berantem, entar kalian berjodoh," celetuk Yusuf.
"Gue jodoh sama dia? Iiiihhhhh ogahh!" ujar Keisya bergidig ngeri.
"Jangan terlalu benci, lama-lama jadi bucin," saut Riana.
Keisya semakin kesal saja di ledek oleh Riana dan yang lain.
"Gak terasa ya, ujian selesai juga," kata Riana setelah menghabiskan makanannya. "Hidup terasa lebih cepat berlalu," sambungnya lagi.
"Iya, kemaren kita masih asyik bermain, nongkrong bersama, belajar bersama, kadang masih suka ke sawah bersama, eh taunya sekarang kita sudah mau lulus aja, " timpal Keisya dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Gue juga gak pernah nyangka banget, kalau kita sudah mau melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Gue harap dimanapun kita kuliah, kita akan tetap seperti sekarang," saut Vino ikut serius.
"Kenapa jadi pada melow? hari ini hari kebebasan kita dari pelajaran sekolah yang bikin otak pusing. Mending kita nikmatin hari ini! kapan lagi kita bisa nikmatin kebersamaan kita," ucap yusuf.
"Benar kata Yusuf. mumpung masih ada waktu, Kita gunakan waktu kita sebaik mungkin, kita kan gak tau kedepannya akan bisa seperti ini lagi atau tidak," timpal Deni sambil mengaduk-aduk minumannya.
"Iya, mending kita happy-happy! jarang-jarang loh, Vino traktir kita," ujar Riana dan di iyakan oleh semua orang.
Mereka semua larut dalam kebersamaan bersama, saling bercanda penuh tawa dan bahagia. Sungguh kebersamaan dengan sahabat adalah hal yang paling seru di saat kita remaja.
****
Kediaman Bambang
"Assalamualaikum, Mah, Pah."
"Waalaikumsalam," jawab mereka.
Vino yang baru pulang langsung duduk di bawah dekat kaki sang Mama. Dia menaruh kepalanya di pangkuan Laras, dan Laras mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang.
"Ada apa hhmmm? tumben manja?" Laras bertanya karena bingung akan sikap manja Vino yang tiba-tiba.
"Iya, tidak biasanya kamu seperti ini?" timpal Bambang yang juga ikut bingung.
"Hanya ingin saja," jawab Vino datar.
"Mama tahu sifatmu Vin, jika sudah manja begini pasti ada sesuatu yang membuatmu terganggu."
"Bicaralah! kami akan mendengarkannya!" titah Bambang.
Vino mendongak menatap satu persatu wajah orang tuanya, wajah dia menjadi sedikit murung memikirkan sesuatu yang pasti akan terjadi.
"Pah, Mah, tolong lamarkan Riana untukku!" ucap Vino dengan wajah serius dan penuh permohonan.
"Apa?!" Laras dan Bambang kaget atas permintaan anaknya, mereka saling lirik.
"Kau ada-ada saja, ucapannya ngelantur gitu, becandanya tidak lucu, Vin."
"Aku serius, Mah. Tolong lamarkan Riana untukku! aku mencintainya Pah, Mah." Vino terus berusaha meyakinkan agar orang tuanya percaya dan mau mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Vino, dengerin Papah!" Bambang yang semula duduk menyender kini menegakkan duduknya dan menatap anak bungsunya dengan serius.
"Menikah itu bukan perkara hal yang mudah, kita harus siap dalam segalanya, dan kemungkinan pertengkaran-pertengkaran akan ada dalam rumah tangga. Kamu itu masih terlalu muda untuk menikah, masih butuh waktu untuk mengerti arti sebuah pernikahan."
"Lagian kamu mau ngasih istrimu makan apa? jajan saja masih minta sama kami, fikirkan baik-baik, jangan terlalu gegabah dalam memutuskan suatu hal agar kamu tidak menyesal." Bambang memberikan nasehat panjang lebar kepada Vino, sedangkan Laras menatap anaknya dengan sungguh-sungguh.
Ada rasa ketakutan dalam diri Laras ketika melihat wajah Vino yang terlihat sangat bercahaya.
"Aku tahu, Pah. Makanya hampir setahun ini aku membuka usaha agar kelak aku mampu memberikan nafkah lahir untuk istriku."
"Sejak kapan? kok Mama tidak tahu?" tanya Mama kaget.
"Saat aku ikutan jualan es campur, aku sudah memikirkan masa depanku bersama Riana. Aku diam-diam mengumpulkan uang yang Kalian kasih untuk membuka bengkel motor. Dan aku juga bekerja paruh waktu di Cafe teman Papa untuk mendapatkan uang tambahan." jelas Vino sungguh-sungguh.
"Masya Allah, jadi selama ini kamu bekerja? pantesan kamu sering pulang malam," ucap Laras dan diangguki oleh Vino.
Sungguh, kedua orang tua Vino tidak menyangka anaknya akan mampu melakukan hal yang di luar dugaan. Mereka tahu, seberapa bandel nya Vino, mereka tahu, seberapa manjanya Vino, dan mereka tahu jika Vino orangnya boros suka hura-hura.
Tapi kali ini, anaknya 100% berubah setelah kenal dengan Riana dan kawan-kawan.
"Aku juga sudah siap dalam segalanya, aku ingin di sisa hidupku bisa bersanding dengan Riana. Dia cinta pertamaku Pah, Mah, aku mohon izinkan aku melamar dia menjadi istriku!" Vino menangkupkan kedua tangannya memohon kepada kedua orang tua dia.
"Vino," Laras memegang pundak sang anak, dia memeluk Vino dengan rasa tidak percaya akan perubahan sikap Vino.
"Pah," ucap Laras melihat ke Bambang penuh permohonan.
Bambang menghelakan nafasnya secara kasar.
"Baiklah, kami akan menuruti permintaanmu. Tapi, jika Riana menolakmu, kamu harus berlapang dada!" kata Bambang.
Perkataan Bambang bak angin segar menerpa tubuh Vino, dia tersenyum menampakkan raut wajah bahagia dan Vino memeluk Papahnya.
"Terima kasih, Pah. Vino sangat bahagia."
Bambang mengelus punggung Vino dengan sayang, "Asal kau berjanji tidak akan menyakiti Riana, dia memang menantu pilihan kami."
"Vino janji, Pah." ucap Vino dengan sungguh-sungguh.
****
__ADS_1
Apakah lamaran Vino akan diterima? atau malah sebaliknya?
tunggu saja di episode berikutnya! 😅