
Pagi hari terasa sepi, karena mungkin sebagian orang terlelap kembali setelah subuh. Waktu terasa lambat menuju Maghrib, bahkan terasa membosankan bagi Riana dan kawan-kawan.
Saat ini Riana dan Keisya sedang duduk di kursi dekat pos, sedangkan Deni dan Yusuf duduk di pos. Untuk sementara, Riana membuka tokonya hanya pintunya saja. Jika sudah pukul 10 siang barulah akan di buka semuanya.
"Membosankan sekali," ucap Keisya.
"Sangat, sangat membosankan," timpal Yusuf yang merebahkan tubuhnya di pos.
"Mau gimana lagi, namanya juga libur sekolah, di bulan Ramadhan, pasti kebanyakan membosankan, apalagi pagi-pagi gini banyak orang yang kembali tidur," saut Deni yang duduk di pos sambil mengayunkan kakinya.
"Benar banget, padahal tidur di waktu subuh bisa mempersempit rezeki. Agar tidak bosan, bagaimana jika kita ngurek belut di sawah!" celetuk Riana mengeluarkan ide konyolnya itu.
"Setuju! mumpung masih pukul setengah tujuh, kita ke sawah saja!" saut Keisya yang menyetujui ide Riana.
"Boleh deh, nanti belutnya kamu bikin pepes ya!" kata Yusuf bangun dari rebahannya melirik ke arah Riana.
"Benar, Ri. Pepes belut buatan kamu memang top markotop." Deni menimpali ucapan Yusuf lalu mengacungkan kedua jempol nya memuji pepes belut buatan Riana.
Jika di kampung, setiap selesai menanam padi biasanya di sawah suka banyak yang mancing belut. Kalau istilah bahasa Sunda mah ngurek. Setiap pagi atau sore, anak muda atau orang tua suka ngurek.
Bagi yang belum tahu, ngurek dalam bahasa Indonesia yang artinya memancing. Ngurek atau memancing belut membutuhkan alat pancingannya yaitu urek.
"Ok, siap!" jawab Riana.
Ketika mereka ingin beranjak pergi, Rahmat datang menghampiri.
"Mau pada kemana?" tanya Rahmat yang baru datang.
"Ngurek, maneh arek milu?" tanya Deni.
( Ngurek, kamu mau ikut? )
"Tidak mau ah! kotor, becek, entar banyak kuman," balas Rahmat.
"Ck, sok ogah, padahal dulu paling sering dan yang paling semangat ngajakain kita ngurek," cibir Yusuf.
"Kalau a Rahmat gak mau mah, jangan di paksa atuh!" saut Riana.
Rahmat sudah senyum-senyum mendengar Riana membelanya. Rasanya terasa terbang di awang-awang saat orang yang kita taksir membela.
"Awas irung maneh ngapung, Jang!" ucap Keisya
( awas hidung kamu terbang)
"Baru di bela segitu aja udah senyum-senyum gak jelas," cibir Deni seolah tahu jika Rahmat sedang merasa gembira.
"Ck, bae we, lain urusan maneh!" jawab Rahmat.
( Ck, biarin aja, bukan urusan kamu! )
"Sudah ah, ayo!" ajak Riana.
Mereka melanjutkan langkahnya.
"Teh Riana, kamu ikut juga?" pekik Rahmat.
"Iya, a." Jawab semuanya dengan terus berjalan.
__ADS_1
"Tungguan! urang milu!" teriak Rahmat sambil berlari mengejar mereka.
( Tungguin! saya ikut! )
****
Jakarta
"Mah, Alvin ke supermarket dulu ya! sudah lama aku tidak melihatnya." Alvin berpamitan kepada sang Mama yang sedang menjemur pakaian.
"Iya, sekalian kamu cek stok barang jualannya!" balas Mama Maya.
"Baik, Mah. Aku pamit dulu!" Alvin menyodorkan tangannya lalu mencium tangan sang Mama.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Balas Maya kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.
Alvin mengelola lima supermarket di kotanya, satu milik sang Kaka, tiganya lagi milik dirinya dan yang satu milik sang mama.
Alvin melajukan mobilnya ke tempat yang ia tuju, dan setelah melewati beberapa gedung, beberapa pengkolan dia sampai di supermarket nya.
HEMART, itulah nama supermarket yang ia kelola.
Alvin mendorong pintu masuk menghampiri karyawan yang berada di kasir.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikumsalam, pak Bos! apa kabar?" tanya mereka kompak.
Mereka saling salam ala pria, karena yang menunggu kasir kebetulan seorang lelaki.
"Alhamdulillah, naik pesat. Keuntungan bulan ini mencapai 100%," jawab karyawan Alvin yang bernama Angga.
"Rupanya kinerjamu bagus ya, sampai keuntungan bisa sebesar itu."
"Kau bisa saja, itu semua atas izin Allah, pak bos."
"Kau benar, hanya Allah yang bisa menggerakkan manusia kemanapun dia mau. TanpaNYA kita bukanlah siapa-siapa."
Setelah bertukar sapa, saling bercengkrama, Alvin masuk ke ruangannya. Dia mendudukan tubuhnya di sofa, dan dengan biasa membuka sosmednya.
Dia melihat postingan Riana yang sedang berada di sawah. Alvin mengkerutkan dahinya saat melihat teman-teman Riana sedang berjongkok di sawah seperti mencari sesuatu.
📩 Kamu ngapain di sawah?"
Karena belum ada balasan, Alvin mengecek dulu stok buah dan sayur yang harus ia beli dari supplier.
****
Bandung.
"Ri, mending kamu tunggu saja sama Keisya di sana!" tunjuk Deni ke arah pohon mangga yang rindang.
"Aku mau ikut kalian!" balas Riana kekeh.
"Aku juga! aku ingin melihat kalian ngureknya gimana," timpat Keisya.
__ADS_1
"Ck, terserah kalian sajalah!" saut Yusuf sambil memasangkan umpannya ke kail.
Deni menggelengkan kepalanya, dan Rahmat mengekori mereka.
"Teh Riana yang cantik, mending kita tunggu saja di got situ!" tunjuk Rahmat ke arah got saluran air yang mengaliri area persawahan, disana ada tempat duduk yang terbuat dari bata.
"Tidak mau!" tolak Riana tegas kemudian mengikuti Yusuf, sedangkan Keisya mengikuti Deni.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya mereka mendapatkan sebelas belut dengan masing-masing Yusuf mendapat tujuh dan Deni hanya empat.
"Gara-gara kamu berisik jadi cuman dapet empat," Deni menggerutu dengan kesal karena Keisya terus mengajak ngobrol.
"Kenapa nyalahin aku? salah kamu sendiri yang terus ngengombal!" balas Keisya yang ikut kesal akan ucapan Deni.
"Makanya, kalau mau ngurek jangan bawa pacar! ngerepotin saja," celetuk Rahmat.
"Emangnya situ enggak? a Rahmat juga sama terus ngerepotin aku!" cibir Riana karena ia juga kesal ketika Rahmat terus mengekori Riana, merengek sebab kakinya terkena tanah basah, bahkan terus menjahili Riana dengan menarik-narik ujung kerudung atau ujung bajunya.
"Kaunya saja yang tidak pandai ngurek, Den." saut Yusuf.
Mereka terus berjalan pulang dengan saling meledek saling menyalahkan. Riana sendiri kali ini berada paling belakang, dia sempat membuka dulu messenger masuk.
📨 Ngurek belut, ka.
Tidak lama kemudian balasanpun masuk.
📩 Pasti seru, menang banyak gak?
📨 Lumayan, cukup buat kami bukber bersama.
Tanpa melihat pijakan Riana terus melangkah, matanya hanya fokus ke benda pipihnya.
Hingga tiba-tiba...
Blugg...
Semuanya menoleh ke belakang, dan mereka tertawa ketika melihat Riana kecebur got dengan posisi terduduk, dan tangan sebelah ia angkat keatas memegang handphone.
Untung handphone nya ia cepat angkat ke atas, saat kakinya terpeleset. Jadi, handphone masih aman tidak terkena air.
"Kamu ngapain duduk di situ? ingin berenang?" tanya Yusuf penuh ledekan.
"Bukan berenang, tapi kepeleset, lalu jatuh kecebur got," cebik Riana dengan kesal.
"Hahaha makanya, kalau jalan jangan sambil main hp, kecebur kan!" ledek Keisya dengan tawa puasnya.
"Eh, bantuin atuh! kasian!" saut Rahmat menghampiri Riana.
"Ya sudah sini aku bantu!" ucap Keisya menjulurkan tangannya berniat membantu, Riana menerima uluran tangan itu tapi Keisya malah ikut kecebur karena Riana menariknya.
Kali ini Riana yang tertawa puas karena sudah mengerjai Keisya.
Riana naik lalu menitipkan hpnya ke Yusuf, tanpa aba-aba, Riana kembali menarik Deni hingga Deni pun ikut kecebur.
Mereka bertiga saling lirik saling mengkode, secepat kilat Deni menarik Rahmat agar ikutan kecebur, dan dia di ciprati air oleh Riana dan Keisya.
Alhasil mereka berempat sama-sama kecebur got, dan mereka malah tertawa saling menyirami menikmati kebersamaan masa remaja mereka.
__ADS_1
Semua itu tak lupa Yusuf abadikan, baik foto ataupun video memakai handphone Riana. Karena Yusuf berfikir, tidak akan ada lagi momen seperti ini ketika nanti mereka sudah dewasa, dan sudah memiliki kehidupan masing-masing.