
Riana membantu Laras memasak untuk makan malam, Laras begitu senang mendapatkan mantu seperti Riana. Dari dulu Wanita paruh baya ini memang suka dengan Riana dan berniat menjodohkannya dengan salah satu anaknya.
"Kamu pandai sekali memasak ya," puji Laras melihat Riana mengolah makanan.
Riana menanggapinya dengan senyuman. "Ini tidak seberapa di bandingkan dengan Mama. Mama jauh lebih pandai daripada aku." Jawab Riana sopan dan lembut.
"Kamu salah, Mama tidak sepandai kamu," celetuk Bambang menghampiri mereka lalu mengambil minuman di dalam kulkas.
"Siapa bilang mama tidak pandai masak?" jawab Laras sewot.
"Papa yang bilang, Mama kalau masak suka keasinan, kadang kebanyakan gula." Balas Bambang dengan jujur.
"Papa! Lalu kenapa papa malah mau memakan masakan mama?" sahut Laras kesal.
"Karena papa cinta kamu," pungkasnya menggombali sang istri.
Laras tersipu malu jadinya. "Aaaaa, so sweet," ucap Laras.
"Lebay," giliran Vino yang meledek tingkah Mamanya. Sedangkan Riana tersenyum melihat kehangatan keluarga Vino, lalu dia menuangkan makanan ke wadah yang sudah tersedia.
"Issh, biarin," balas Laras sambil menghidangkan makanan yang sudah di tuangkan oleh Riana ke atas meja.
Vino dan Bambang sudah duduk duluan di meja makan. Keduanya sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan yang berada di depannya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Iqbal bergabung bersama mereka.
Laras melayani Bambang, begitupun Riana ikut melayani suaminya. Sedangkan Iqbal terbengong sendiri ketika tidak ada yang melayaninya, lalu dia menyodorkan piring ke arah Riana.
Vino mengkerutkan dahinya melihat sang Kaka. "Mau ngapain, Bang?" tanya Vino.
"Mau minta di layani sama Riana, gue juga mau di tuangin nasi ke piring gue." Jawabnya santai tanpa menghiraukan jika Vino sudah menatap tajam.
"Gak, gak! Ambil saja sendiri! Dia hanya boleh mengambilkan nasi buat gue doang!" Perintahnya sambil mengambil piring yang di pegang Iqbal lalu menaruhnya kembali.
"Pelit amal loe jadi Adek," cebik Iqbal.
"Sini, biar mama saja yang tuangin! Makanya cari istri biar tidak jadi nyamuk!" Ledek Laras sambil menuangkan makanan ke piring Iqbal.
"Ledek teruuus, derita gue jadi jomblo." Cebiknya sambil memasukan makanan kemulut dengan rakus dan mengunyahnya kesal.
Mereka terkekeh melihat kekesalan Iqbal. Iqbal sendiri memutar bola matanya jengah melihat kedua pasangan berbeda usia itu.
****
Jakarta
Alvin merebahkan tubuhnya di kasur king size milik dia. Matanya terus menatap langit-langit kamar, satu tetes air mata tiba-tiba saja keluar dari sudut mata hazel miliknya.
__ADS_1
"Kenapa mencintaimu sesakit ini? Jika ku tahu kau bukan jodohku, tak akan aku mencintaimu sebesar ini. Kau wanita pertama yang mampu meluluhkan hati ku, kau wanita pertama yang aku inginkan menjadi pendamping ku. Apa aku mampu menjalani hari-hari ku tanpa mu? Apa aku mampu melupakanmu? Dan apakah aku mampu mendapatkan pengganti dirimu?"
Alvin terus bicara pada dirinya sendiri, dia tidak merasakan sakit di perutnya. Sakit di tinggal nikah mengalahkan rasa sakit yang lain. Makan tidak mau, tidur tidak nyenyak, badan terasa lesu, pikiranpun tidak menentu.
"Semoga ku mampu melupakanmu," lirihnya sambil memejamkan mata berusaha untuk tidur.
****
Riana sudah merebahkan tubuhnya di kamar yang Vino tempati. Jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan mengingat ini adalah malam pertama dia setelah menikah. Sekarang dia harus tidur bersama satu tempat tidur dengan seorang lelaki.
Terdengar suara seseorang membuka pintu, dan Riana segera memejamkan mata berusaha untuk tidur.
Vino melihat ke arah ranjang, pemuda itu tersenyum geli melihat istrinya pura-pura tidur. Dia tahu jika Riana sedang gugup dan gelisah karena dia juga merasakan hal yang sama.
Perlahan kakinya melangkah menuju ranjang, Vino duduk di dekat Riana, tangannya terulur mengusap kepala istrinya, matanya terus menatap wajah cantik sang istri. "Aku tahu kamu belum tidur, aku tidak akan melakukan apapun tanpa seizinmu. Aku akan melakukannya jika kamu sendiri yang menyerahkannya padaku."
Vino mengikis jarak antara dia dan Riana, bibir pucatnya mengecup pucuk kepala sang istri penuh perasaan. " Aku mencintaimu karena Allah."
Vino terus saja membisikan kata cinta seolah tidak ada bosannya. Dalam diam Riana terenyuh akan ketulusan Vino. Tapi, hatinya tetap belum bisa menerima Vino. Cukup sulit menggantikan seseorang yang pernah singgah ke hatinya. "𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶."
Perlahan Vino melepaskan kecupannya dan berjalan ke dekat laci, mengambil sesuatu di sana lalu meminumnya dan membuang bekasnya ke sampah. Setelahnya Vino berbaring di samping Riana menatap kembali wajah wanita yang ia cintai. Tangan dia terulur kembali mengusap pipi putih bersih tanpa noda itu. "Selamat tidur my wife." Vinopun memejamkan mata menyusul Riana ke alam mimpi.
Riana membuka matanya menatap lekat-lekat wajah lelaki yang ada di hadapannya. "𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘬𝘶. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘬𝘶."
__ADS_1