KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Bengkel RWH


__ADS_3

"Mah, aku dan Riana izin keluar sebentar ya!" pamit Vino kepada Ani.


"Kalian mau kemana?" tanya Maya.


Vino menoleh asal suara yang berada di sampingnya sebab posisi dia berdiri.


"Tante Maya! Kapan datang? dimana yang lainnya?" tanya Vino lalu menyalami Maya setelahnya celingukan mencari keberadaan keluarga Maya yang lain.


"Baru saja, mereka tidak ikut karena ada urusan. Selamat ya, atas pernikahanmu." Ucap Maya tulus meski hatinya ikut sakit melihat hati anaknya kecewa.


"Terima kasih, Tan."


Tak lama kemudian Riana menghampiri. Dia juga menyalami Maya.


"Mah, Tan, kami pamit dulu."


"Kalian mau kemana sih? Kalian ini baru saja menikah sudah mau pergi aja," tanya Ani kembali.


"Aku mau menunjukan bengkel yang ku jadikan sebagai mas kawin kepada Riana," jawab Vino sopan.


Riana menoleh ke Vino, dan dia jadi tahu kemana Vino akan membawanya.


"Oh, ya sudah, kalian hati-hati. Jangan lama-lama!" balas Ani.


"Iya, Mah. Bapak mana?"


"Bapak ada di depan sedang membereskan kursi."


"Kita berangkat dulu, Mah."

__ADS_1


Vino dan Riana berpamitan kepada mereka dan juga kepada Yanto.


Vino membawa Riana menggunakan mobil hadiah dari Bambang atas pernikahan keduanya. Di dalam Mobil, Riana hanya terdiam bingung.


"Kenapa diam saja? Bicara ke, nyanyi ke, atau apalah biar tidak sepi seperti di kuburan." Sindir Vino, tapi masih menggunakan nada bicara yang halus.


"Hmmm, aku bingung harus berkata apa, makanya aku diam saja." Riana tidak tahu apa yang harus ia bicarakan, hatinya masih belum menerima namun ia berusaha untuk tidak menunjukan ketidak sukaannya.


Vina memegang tangan Riana lalu mengecup punggung tangan halus itu.


"Ri, terima kasih sudah bersedia menerimaku. Aku tahu dalam hatimu masih belum ada namaku. Tapi, aku yakin dengan seiringnya waktu namaku pasti akan tercantum di hatimu."


Riana terdiam, dia membenarkan ucapan Vino karena memang di dalam hatinya masih tertera nama pria yang sering berkomunikasi lewat sosmed.


"Maaf, a. Tanpa sengaja aku menyakitimu, semenjak kamu mengucapkan ijab qobul, aku sudah berjanji akan menerima kamu sebagai suamiku dan akan berusaha mencintaimu." Riana berkata jujur pada Vino, dia tidak mau ada yang di sembunyikan dari suaminya.


Vino berusaha untuk menerima kejujuran Riana, dia tidak memaksakan istrinya. Karena hati tidak bisa di paksakan.


"Tidak apa, kamu mau menerimaku saja aku sudah bahagia." Vina mengelus pucuk kepala Riana penuh sayang.


Tak berselang lama mereka sampai di depan bengkel yang Vino maksud.


"Kita udah sampai, ayo turun!" ajak Vino ketika sudah berada di luar mobil membukakan pintu untuk istrinya.


Rianapun turun, dia meneliti setiap bangunan yang ada di depan.


"Bengkel RWH," gumangnya menatap tulisan di depan bangunan itu. "A, ini?" Riana masih terpaku, dia tidak percaya jika bengkel inilah yang menjadi mas kawin dari Vino.


"Ini mas kawinnya, dan ini milikmu."

__ADS_1


Vino mengambil tangan Riana dan memegangnya. "Aku persembahkan bengkel RWH untukmu." Ucapnya penuh keseriusan.


Saat ijab qobul Vino menyebutkan mas kawin seperangkat alat solat, satu set perhiasan, dan satu bangunan bengkel.


"Tapi ini punya kamu 'kan? Aku yakin ini adalah hasil kerja kerasmu." Riana menatap Vino, dia ikut memegang tangan Vino.


"Ini memang hasil kerja kerasku selama ku bekerja menjadi pelayan cafe. Tapi, ini juga sebagai bukti jika aku benar-benar tulus padamu. Aku mempersembahkan ini untuk masa depan kamu jika nanti aku tiada."


Deg!...


Riana tertegun mendengar perkataan terakhir dari Vino. Kata tiada seolah menjadi ketakutan tersendiri untuknya.


"Kamu ini apaan sih, malah bicara tiada. Kita baru nikah dan aku tidak mau menjadi janda muda!" Riana menatap kesal Vino. Dia belum siap jika harus menjadi janda dan pastinya dia juga belum siap untuk kehilangan suami yang baru menikahinya.


"Siapa yang akan jadi janda muda? Aku juga tidak mau jika harus meninggalkanmu. Aku hanya bicara jika nanti aku tiada, sayang."


Perlahan Vino menarik Riana kedalam pelukannya, dan Riana tidak menolak.


"Jodoh, rezeki, maut, hanya Allah yang tahu. Semoga saja kita akan berjodoh sampai kakek nenek. Namun kita tidak bisa menolak takdir, dan jika nanti aku tiada duluan, kamu harus menikah lagi dengan orang yang kamu cintai. kamu harus bahagia Riana."


Vino terus memeluk tubuh Riana, sesekali mengecup pucuk kepala istrinya. Perlahan Riana mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Vino.


Riana pikir tidak ada salahnya berpelukan bersama suami. Toh, mereka sudah halal.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya dari jarak jauh. Hatinya sakit melihat keduanya berpelukan, dadanya sesak mengingat kembali orang yang ia cintai telah menjadi milik orang lain. "𝘚𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘦𝘴𝘰𝘬, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢."


"Bim, kita pulang ke Jakarta!" titahnya tegas. Dan Bimo menurut saja apaa kata bosnya.


Alvin menyenderkan punggungnya ke jok mobil, mata dia terpejam, dia merasa cemburu melihat dua orang sedang berpelukan. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya kalimat Allah yang terus ia lantunkan dalam hati berharap hatinya tenang dan ikhlas.

__ADS_1


__ADS_2