KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Maaf


__ADS_3

Vino berangkat ke sekolah dengan Candra yang datang menjemput. Dia akan melakukan apa yang Papahnya perintahkan untuk meminta maaf kepada Riana di hadapan semua murid bahkan guru sebagai hukuman.


"Kemarin gue juga bilang apa, jangan sembarangan percaya tanpa bukti yang benar-benar akurat." Candra terus mengingatkan Vino tentang ucapannya kemarin.


Vino memang tipekal orang yang suka gegabah dalam bertindak. Tanpa mengetahui yang sebenarnya asalkan ada bukti ia akan langsung bertindak sesuka hatinya.


"Iya gue tahu, tapi ini jauh lebih penting dari pada ocehan lo. Gue harus minta maaf kepada dia di hadapan semua orang." Vino terus mondar-mandir di hadapan Candra.


Saat ini mereka sudah berada di dalam kelas untuk berdiskusi perihal masalah Vino.


"Tinggal minta maaf saja kok repot! kau tinggal datang ke kelasnya lalu bilang, Riana aku minta maaf sama kamu. Udah, beres kan!" jelas Candra.


"Tidak gitu juga, gue ingin yang spesial."


"Martabak telor kali, spesial," cibir Candra. "Lo bisa duduk gak sih, Vin? dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan, pusing gue lihatnya!" ujar Candra kesal melihat tingkah Vino.


"Gak bisa! gue lagi mikir bagaimana caranya agar permintaan maaf gue sangat berkesan baginya."


"Ck, gaya lo sok romantis bikin terkesan. Lo tulis apa kek di poster, atau ngelepasin balon dengan tulisan kata maaf juga bisa." Celetuk Candra tanpa berfikir yang penting dapat ide.


Vino menjentikkan jari telunjuk dan jembol hingga berbunyi.


"Iya, kau benar! ternyata kau pintar juga rupanya, thanks you, Can. Idemu sungguh brilian." Alvin berucap penuh senyuman, dia memeluk Candra sangat erat sambil menepuk-nepuk punggung nya.


"Eh, lapasin napa! kita bukan muhrim," celetuk Candra.


Vino melepaskan pelukannya.


"Ck, lo fikir kita beda jenis? dasar pea lo!" cebik Vino kesal.


"Kalau gue cewek, gue juga mau ko sama lo, Vin." Candra tersenyum ngeledek sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Iihhh, gak waras lo!" ucap Vino lalu kabur sedangkan Candra sudah tertawa terbahak-bahak, ia berhasil mengerjai Vino.


Vino berlari ke koperasi untuk mencari kain warna putih, dia mengobrak-abrik setiap tempat yang ada di sana berharap bisa menemukan kainnya.


Setelah mencari netra matanya menemukan kain yang di gunakan untuk bikin seragam sekolah. Tanpa fikir panjang dia menggunting kain itu dan menuliskan sesuatu di sana.

__ADS_1


Lalu ia kembali berlari ke depan sekolah berharap ada yang jualan balon di warung depan. Rupanya keberuntungan berpihak kepadanya, ada banyak balon yang di jual di warung depan sebagai jajanan anak kecil, dan tanpa fikir panjang dia memborong semuanya.


Vino pun kembali lagi ke koperasi untuk melakukan apa yang harus ia lakukan. Beberapa saat kemudian, Vino selesai mengerjakan semunya sendiri. Dia kembali lagi berlari ke tengah lapangan berdiri di sana memegang balon dan kain poster yang ia buat dengan sedemikian rupa.


Sudah banyak para murid yang berkumpul menyaksikan tingkah Vino, termasuk Marisa yang kesal dan Marah.


Vino terus meneliti setiap orang berharap ada Riana dari sekumpulan orang tersebut. Dan matanya terkunci kepada satu wanita yang sempat ia zolimi tanpa sengaja.


"Riana, ini untukmu!" teriak Vino penuh penekanan.


Vino menerbangkan balon itu ke atas hingga kainnya terbentang kebawah dengan tulisan.


I'm sorry, Riana.


Lalu dia membuka lagi poster bikinan dia, terpampang jelas sebuah kata.


I'm sorry, do you want to forgive me?


Riana yang tepat berada di hadapan Vino mematung, meski jarak antara mereka cukup jauh, tapi Riana bisa melihat itu dengan jelas.


"Riana, aku minta maaf. Aku tahu kemarin aku salah, aku sudah mempermalukan mu di hadapan semuanya. Maka aku juga meminta maaf di hadapan mereka semua sebagai saksinya" Kata Vino penuh permohonan.


"Kamu tidak salah, Marisa dan akulah yang salah, Marisa telah memfitnahmu dengan sedemikian rupa agar aku termakan ucapannya. Maafkan aku?" ucap Vino dengan lirih dan penuh penyesalan.


Riana masih mematung, dia masih mencerna apa yang terjadi di hadapannya, Keisya menyikut lengan Riana hingga dia tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana?" tanya Keisya berbisik.


Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, dan matahari semakin naik ke atas. Riana perlahan maju di susul oleh Keisya, tapi langkahnya terhenti karena ada Deni dan Yusuf yang menghalangi.


"Jangan terlalu percaya, siapa tahu dia hanya pura-pura," ucap Deni mencegah.


"Kamu harus ingat bagaimana kemarin dia melakukan kamu," timpal Yusuf ikut mencegah agar Riana tidak terlalu percaya.


Riana tersenyum dan mengangguk, lalu dia melangkahkan kakinya dan berhenti tepat di hadapan Vino.


"Bangunlah! aku sudah memaafkanmu dan Marisa dari kemarin. Lagian Allah saja maha pemaaf, masa aku sebagai umatnya tidak memaafkan kamu. Jadikanlah yang terjadi kemarin sebagai pelajaran buatmu agar kamu tidak bertindak dengan gegabah. Cari tahu semua kebenarannya, baru kamu putuskan langkah apa yang harus kamu ambil. Bangun! aku memaafkan semua kesalahanmu!" ucap Riana dengan suara lembut namun tegas.

__ADS_1


Vino mendongak, nampak Riana tersenyum manis sangat tulus menampakan lesung pipinya. Dan itu mampu membuat Vino tertegun akan wajah wanita itu yang terlihat sangat cantik bak bidadari.


Tiba-tiba jantung Vino berdetak lebih kencang saat mata keduanya saling bertubrukan. Vinopun berdiri tapi mata masih terus menatap.


"Sudah? ayo kita pergi!" ajak Keisya menggandeng tangan Riana menariknya untuk masuk kelas.


Aksi tersebut rupanya di perhatikan oleh salah satu guru disana, dia mengepalkan tangannya merasa marah atas apa yang terjadi kemarin. Dia mengetahui itu karena dia mengecek cctv atas izin pemiliknya.


****


Dalam kelas.


"Marisa, lo di panggil oleh kepala sekolah untuk menghadap! bahkan orang tua lo juga sudah ada di sana," Kata teman sekelas Marisa.


Marisa sudah gugup dan ketakutan, dia sudah yakin jika dia akan mendapatkan hukuman. Yang membuat dia takut adalah kemarahan orang tuanya.


Marisa mengatur nafasnya terlebih dulu, lalu dia melangkah untuk ke ruang guru.


****


Ruang guru


"Pak!" ucap Marisa lirih.


"Duduklah!" kata pak Kepsek.


Papahnya Marisa sudah menatap anaknya penuh amarah, dia marah atas apa yang telah di lakukan anaknya itu. Ingin rasanya dia memarahi Marisa, tapi dia urungkan karena ini masih berada di sekolah.


"Sebelumnya saya mohon maaf, saya harus memberikan surat skorsing untuk Marisa selama satu Minggu atas apa yang telah dia lakukan. Ini sebagai hukuman agar dia bisa berhati-hati dalam bertindak." Kata pak Kepsek sambil menyerahkan amplop putih.


"Tapi pak, apa tidak terlalu lama? dia sudah memasuki kelas 12 dan sebentar lagi ujian, nanti dia ketinggalan pelajaran?" tanya Papahnya Marisa.


Marisa sendiri menunduk takut akan kemarahan Papahnya.


"Ini hukuman yang paling ringan, Pak. seharusnya kami mengeluarkan Marisa, tapi karena para korban sudah memaafkan dan tidak memperbolehkan kami mengeluarkan dia, maka kami memberikan Marisa skorsing selama satu Minggu."


Papah Marisa menatap anaknya tajam, dia menghelakan nafasnya secara kasar. Dia sendiri sadar jika Marisa memang sudah keterlaluan. Biarlah ini menjadi hukuman untuk anaknya agar tidak melakukan hal yang memalukan lagi.

__ADS_1


****


Mohon maaf ya, jika bahasa Inggrisnya blepotan. Soalnya saya tidak bisa bahasa Inggris. 😅


__ADS_2