KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Kecelakaan


__ADS_3

Di depan ruangan IGD seorang perempuan terus mondar mandir penuh ketakutan, air matanya tidak berhenti mengalir membasahi pipi putih nan mulus itu.


Dia tidak peduli dengan pakaian kotor berlumur darah, yang dia fikir 'kan, khawatir 'kan, hanyalah orang yang ada di dalam sana.


Dia mendongakkan wajahnya keatas, memejamkan mata, dalam hati terus berdoa supaya Bapaknya selamat, "Ya Allah selamatkan Bapakku," pintanya dengan tangis tertahan.


Flashback :


Saat itu Riana ingin menyebrang jalan, tanpa di ketahuinya dari arah kanan ada mobil truk oleng melaju dengan berkecepatan tinggi.


Yanto yang baru saja tiba di toko melihat truk melaju ke arah Riana.


Dengan terburu-buru Yanto turun dari mobil lalu berlari ke arah anaknya, berteriak dan mendorong Riana dari belakang dengan sangat kencang.


"Rianaaaa awaaaas!!!!!!"


Siiiiitttt,........Brakkkkkkk....


Kecelakaan pun terjadi tepat di depan mata Riana.


Yanto berhasil mendorongnya hingga tubuh Riana terbentur ke pinggir tembok minimarket sampai terduduk. Tapi sayang, truknya malah menghantam Yanto hingga dia terpental cukup jauh, sedangkan truk menubruk bangunan hingga ruksak.


Riana terpaku melihat kenyataan di depan mata, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata. Tubuhnya gemetar melihat orang yang ia sayangi terbujur kaku penuh darah.


Air matanya menetes sangat deras, "Ba bapaaaakkkk!!!!" jeritnya dengan histeris.


Dia segera bangkit dari duduknya membelah kerumunan orang, lalu ia memeluk tubuh Bapaknya.


Tangisnya semakin pecah kala melihat Bapaknya tidak membuka mata.


"Pak, banguuun! tidaaaakkk....jangan pergi! siapapun tolong akuu..!" teriaknya histeris.


Bukannya menolong, mereka malah terbengong sambil mem vidio 'kan kecelakaan itu.


"Kalian dengar tidak! toloong Bapakku!.. kenapa kalian diam saja hah!" Riana membentak orang-orang yang ada di sana, air matanya terus saja mengalir.


Ketika mendengar bentakan Riana, mereka membantu Riana mengangkat Bapaknya untuk di taruh di pickup bagian belakang.


Riana ikut naik di belakang memangku kepala Bapaknya, ada orang yang membawa pickup.


Sementara supir truknya di bawa warga ke kantor polisi.


Flashback end.


Di sinilah Riana saat ini berada, di rumah sakit. Di dalam sana Bapaknya sedang berjuang antara hidup dan mati.


Gadis itu duduk menyender 'kan tubuhnya di tembok, kedua lututnya ia peluk, dan wajahnya ia tenggelamkan ke sela ke dua lututnya. Dia terus menangis sesegukan dengan tubuh gemetar ketakutan.


****


Warung Yanto.


"Punten, ce, ce Ani," teriaknya.


Ani keluar menghampirinya, "Mangga, ada apa kang, teriak-teriak gitu?" Ani bertanya dengan bingung, baru kali ini ada pembeli teriak-teriak, tetangganya pula.


"Itu ce, pak Yanto dan Riana," ucapnya khawatir.

__ADS_1


"Bapak, dan Riana kenapa?" Ani jadi panik saat melihat wajah tetangganya yang panik dan juga khawatir, ada noda darah di baju yang ia kenakan.


"Mereka kecelakaan, ce. Saat ini mereka ada di rumah sakit," jelasnya. Dia adalah orang yang menyupiri pickup Yanto ke rumah sakit.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun! ya Allah Gusti!" Ani syok mendengarnya, dia terhunyung kebelakang.


"Ce," ucapnya khawatir.


Dengan segera Ani membereskan barang dagangannya dan menutup warung, sedangkan bapak tadi sudah pamit pulang.


Ani berlari kerumah terburu-buru, "Latif, ayo kerumah sakit!" teriaknya, air matanya sudah tidak terbendung lagi.


Latif yang sedang makan sore terlonjak kaget mendengar teriak sang ibu.


"Ada apa, Mah?" tanya Latif tergopoh-gopoh menghampiri teriakan sang Mama.


"Bapak sama teteh kecelakaan, Tif. Ayo kesana!" ucap Ani, bibirnya bergetar tat kala berucap.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun! iya...ayo!" Latif pun dengan segera mengambil kunci motor, jaket, dan helm nya.


Ani juga sudah mengambil tasnya, lalu mereka berangkat terburu-buru.


Di jalan mereka sempat berpas-pasan dengan mobil Pak Bambang.


Di dalam mobil, Bambang melihat Ani yang sudah menangis dan Latif menjalankan motornya sedikit tergesa. Dia bingung lalu dia memutar balikan mobilnya mengikuti kemana mereka pergi.


Niatnya dia ingin berbicara mengenai lamaran Vino untuk Riana.


****


Rumah sakit.


Tanpa bertanya, mereka langsung saja pergi ke ruangan IGD karena mereka yakin saat ini Yanto dan Riana berada di sana.


Setelah sampai, Ani memelankan langkahnya, dia melihat sang anak sedang memeluk lututnya bersender di tembok sambil menangis sesegukan.


"Teh." panggil mereka secara bersamaan.


Riana mendongak, matanya sudah menyipit dan bengkak akibat menangis, hidungnya juga memerah.


"Mah, a," ucapnya lirih.


Suara Riana sudah serak, dengan segera Ani menghambur memeluk sang putri, begitupun dengan Latif yang ikut memeluk keduanya.


"Bapak, Mah. Bapaakk," tangis Riana kembali pecah ketika berada di pelukan keduanya.


"A aku tidak mau Bapak kenapa-kenapa. Ini salahku, gara-gara aku Bapak tertabrak, Mah." racau Riana menyalahkan dirinya sendiri.


"Tidak sayang, ini sudah takdir dari Allah. Kamu tidak salah, kita harus kuat!" ucap Ani memberikan kekuatan dan semangat kepada Riana.


Ani berusaha tegar meski hatinya sedang di landa ke khawatiran yang luar biasa.


Bambang yang baru sampai membolakan matanya, dia juga syok atas apa yang ia dengar. Ternyata sahabatnya saat ini berada di ruangan IGD.


Bambang segera merogoh saku celananya mengambil handphone lalu menelpon seseorang.


****

__ADS_1


Kediaman Bambang


Laras yang sedang berbincang dengan Vino merasa terganggu dengan suara dering telponnya.


Lalu dia mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum, Pah. Ada apa?"


"Waalaikumsalam, Papa hanya memberitahukan jika Papa ada di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" Laras yang sedang duduk langsung berdiri karena kaget.


Vino menyerngit memperhatikan Mamanya.


"Bambang dan Riana kecelakaan, Mah."


"Apa! kecelakaan!" dia membekap mulutnya, lalu terduduk kembali.


Vino yang mendengar kata kecelakaan menjadi panik, dia menatap sang Mama dengan lekat-lekat.


Laras melirik ke Vino, matanya sudah ikut berkaca-kaca mendengar apa yang Bambang dengar saat tadi menguping pembicaraan Riana.


"Baik, nanti Mama akan menyusul kesana bersama Vino."


Laras pun mematikan panggilannya.


"Siapa yang kecelakaan, Mah?" tanya Vino tidak sabar.


"Riana dan Bapaknya," ucapnya.


"Apa!" Vino langsung berdiri, "Kalau gitu kita kesana sekarang, Mah!" Vino mendadak panik, khawatir, cemas semuanya bercampur menjadi satu.


Fikirannya kini berkelana kemana-mana takut jika Riana kenapa-kenapa, padahal tadi mereka bertemu.


****


Jakarta.


Alvin yang sedang bekerja menjadi buruh kuli bangunan di proyeknya selalu merasakan tak enak hati.


Dadanya menjadi sesak, fikirannya selalu tertuju ke Riana.


Ketika urusan sekolah selesai, Alvin langsung pulang ke Jakarta untuk mengurus proyek yang sedang berlangsung.


Karena melamun, Alvin tidak menyadari ada bata yang akan jatuh tepat ke arahnya.


"Awaaass!" teriak pekerja lain.


Untung ada orang yang menariknya, sehingga batu bata tidak mengenai Alvin.


"Astaghfirullah! Alhamdulillah ya Allah, engkau masih melindungi hamba," ucap Alvin penuh syukur.


"Kau tidak apa-apa?"


Alvin menoleh, "Tidak apa-apa, terima kasih sudah menyelamatkan saya," ucap Alvin tulus.


"Lain kali jangan melamun! bahaya!" ucapnya memperingati.

__ADS_1


Alvin mengangguk, dalam hati di berucap, "Riana, apa kau baik-baik saja? aku merindukanmu."


__ADS_2