
"Sejak kapan kamu menyembunyikan penyakitmu?" tanya Laras meminta jawaban dari anaknya.
Mau tidak mau akhirnya Vino harus jujur dengan kondisinya. "Sejak aku di pindahkan kesini," jawab Vino.
Deg!...
"Selama itu! Lalu kenapa kamu tidak mau memberitahukannya kepada kami? Kami orang tuamu, seharusnya kau jujur pada kami!" Laras sudah emosi mendengan ke jujuran Vino.
"Aku tidak mau di kasihani, Mah. Aku tidak mau kalian repot gara-gara aku yang penyakitan ini. Itu sebabnya aku lebih memilih menyembunyikan penyakitku daripada memberitahukan kepada kalian."
"Setidaknya dengan kamu memberitahukan kami, kami bisa mencarikan dokter untuk kesembuhan mu," sahut Bambang.
"Percuma mencarikan ku dokter, penyakitku sudah parah dan akan sulit sembuh." Vino memegang tangan Riana meremasnya dengan kuat. Dirinya kembali merasakan sakit di kepala, namun kali ini sakitnya begitu luar biasa.
Riana yang duduk di samping Vino terkejut, "Kamu kenapa? A apa kepalamu sakit lagi?" Riana seolah tahu jika Vino merasakan sakit, Vino masih berusaha mengelak menggelengkan kepalanya.
"Vino, kamu tidak apa-apa kan?" Laras ini bagaimana sih? sudah tahu Vino merasakan sakit masih saja bertanya tidak apa-apa.
Karena tidak kuat lagi, Vino meremas rambutnya menahan sakit. "Aaaaa sakit, Mah. kepala Vino sakit sekali." Vino merintih kesakitan, dia juga memegang kepalanya kuat.
"A, jangan di jambak rambutnya!" Riana panik. Gadis itu berusaha melepaskan tangan Vino dari kepalanya.
"Pah, panggil dokter!" sergah Laras.
Ketika Bambang ingin keluar, langkahnya di cegah oleh Vino. "Jangan panggil Dokter, Pah! Aku sudah tidak merasakan sakit lagi." Vino berusaha kuat di hadapan mereka.
"Tidak, papah akan panggilkan Dokter untuk memeriksamu kembali!" kata Bambang.
__ADS_1
"Jangan! Aku hanya ingin tidur." cegah Vino kembali. "Aku ingin tidur di pelukanmu, istriku." Vino menatap Riana penuh permohonan sambil menahan sakit yang terus mendera.
Riana pun mengangguk ketika melihat tatapan Vino. Dia ikut merasakan sakit yang suaminya rasakan, bagaimana pun dia seorang istri pasti dia akan menuruti keinginan suaminya.
"Pah, Mah," Vino menatap. kedua orang tuanya agar mereka berdua keluar meninggalkan Vino dan istrinya.
Seolah tahu apa yang di inginkan sang anak, Laras dan Bambang melangkah keluar. Riana naik ke atas brangkar atas permintaan Vino. Vino membaringkan tubuhnya di pangkuan Riana sambil menatap wajah istrinya dari bawah. Seperti biasanya, Riana akan mengelus lembut rambut Vino.
"Kamu cantik, kamu masih muda, perjalananmu masuk panjang. Jika nanti aku tiada, aku ingin kamu menikah lagi dengan seseorang yang kamu cintai!"
"A, kamu ini ngomong apa? Kita akan bersama menjalani rumah tangga ini. Kamu sendiri yang bilang bahwa kita akan bersama sampai maut memisahkan."
Vino tersenyum, dia memang pernah berbicara seperti itu. Namun ia merasa ajalnya telah tiba, dan dia ingin istrinya bersama seseorang yang Riana cintai.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku, meski kita berjodoh hanya sebentar, aku sangat bahagia. Kamu tetap menjalankan tugasmu sebagai istriku walau ku tahu kamu masih belum mencintaiku." Vino memegang salah satu tangan Riana lalu mendekap tangan itu di dadanya.
"Hei, kenapa menangis? Aku tidak menjahatimu!" Vino mengusap pipi Riana. "Lihat aku, Riana!" Riana perlahan menunduk dan menatap mata Vino. "Kamu tidak salah, tidak ada yang salah dengan kita, ini permainan takdir. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya." Vino berusaha memberikan pengertian pada istrinya agar tidak terus menerus merasa bersalah. Kepalanya kembali sakit, sangat-sangat sakit.
"Ri, bolehkah aku tidur memelukmu?" tanya Vino. Riana mengangguk. "Istri penurut," ucap Vino terkekeh.
Lalu keduanya membaringkan tubuh di ranjang rumah sakit yang sempit hanya untuk pasien saja. Vino melingkarkan tangannya ke pinggang sang Istri, dan dia meminta Riana untuk terus mengusap kepalanya.
Riana menuruti permintaan Vino sambil melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an seperti yang biasa Vino inginkan ketika tidur di pangkuan Riana.
"Aku mencintaimu, Riana. Akan ku bawa cintaku sampai mati." ucap lirih Vino dalam dekapan Riana. Pemuda itu terus memeluk erat pinggang Riana, menelusupkan wajahnya di dada sang istri. Dia berusaha untuk kuat di saat sakit di kepala semakin terasa kuat.
"Riana, menikahlah dengan orang yang kamu cintai! Hanya dia yang akan membahagiakan dan menjagamu setelah aku tiada, aku mohon!" Vino terus mencengkram pinggang Riana menahan sakitnya.
__ADS_1
Air mata Riana sudah merembes tiada henti. "A, aku ikhlaskan kamu pergi meninggalkanku. Jangan khawatir kan aku! Aku pasti akan bersama seseorang yang aku cintai." lirih Riana di sela pelukan Vino semakin kuat.
Setelah mendengar ucapan Riana, pelukan Vino mengendur tidak sekuat tadi. "A," Riana berusaha membangunkan Vino. "Apa kamu tidur?" Gadis itu terdiam beberapa menit membiarkan Vino. Riana menjauhkan wajahnya untuk melihat wajah Vino. Terlihat Vino memejamkan mata, wajahnya terlihat cerah dengan senyum terukir di bibir tipis yang tidak pernah meroko.
Riana tak kuasa melihat Vino terpejam, dia kembali memeluk tubuh suaminya. Air matanya terus keluar membasahi bantal yang ia tiduri.
Laras, Bambang dan orang tua Riana melihat keduanya dari kaca. Orang tua Riana baru saja tiba setelah Bambang mengabarkan jika mereka berada di rumah sakit. Yanto dan Ani begitu syok mendengar apa yang terjadi pada menantunya.
"Semoga nak Vino bisa di sembuhkan," ucap Yanto mendoakan yang terbaik untuknya.
Lalu mereka mengaminkan ucapan Yanto.
"Pak, kenapa bahu Teteh terguncang? Dia seperti menangis dalam diam, Pak?" Ani memperhatikan pergerakan putrinya. Meski Riana membelakangi kaca, Ani bisa melihat dan merasakan jika putrinya tidak baik-baik saja.
"Mungkin dia hanya tertawa, Ani." Sergah Bambang.
"Ini tidak beres, aku tahu putriku." Ani mempunyai firasat kuat jika di dalam terjadi sesuatu. Dia memutuskan untuk masuk tanpa memperdulikan yang lain.
"Ani, jangan ganggu mereka! Vino sendiri yang menginginkan Riana memeluknya." Laras mencegah Ani agar tidak mengganggu aktivitas Vino.
Ani menerobos, bahkan yang lain pun ikut masuk. "Teh," panggil Ani ketika sudah berada di dalam dan langsung saja memeluk Riana.
Riana yang sedang memeluk Vinopun menoleh ketika Mamanya memeluk, matanya sudah sembab akibat menangis. "Mah, A Vino!" bibirnya bergetar tak kuasa menahan tangis.
Para orang tua itu melihat ke wajah Vino, Yanto mendekati menantunya lalu memeriksa denyut nadi dan nafas Vino melalui hidung. "Innalillahi wainnailaihi rojiun."
"Tidak, itu tidak mungkin!" jerit Laras, kemudian menghampiri Vino. Ibu anak dua itu juga memeriksanya dan rupanya Vino sudah tiada.
__ADS_1
Bambang, tertunduk lesu melihat anak bungsunya sudah tiada. Laras menangis sesegukan sambil memeluk Vino dari arah kanan. Sedangkan Riana memeluk tubuh suaminya dari arah kiri.