
"What!!" mereka semua cukup kaget dengan apa yang Vino katakan.
"Enggak, jangan mau, Riana! itu sama saja dia menghina kamu." Deni sangat marah saat Riana akan di permalukan.
"Heii, diam lo kunyuk! ini itu urusan Vino, terserah dialah mau ngapain ni cewek juga, bukan urusan lo!" saut Candra.
"Kalian diam dan jangan ikut campur!" Vino membentak mereka dan menunjuk Deni dan Yusuf untuk tidak ikut campur tentang urusannya.
"Kau yang diam!" Yusuf maju melangkah mensejajarkan tubuhnya dengan Deni.
Riana menghelakan nafasnya secara kasar, tanpa mendengarkan perdebatan mereka, Riana melangkahkan kakinya menghampiri Vino sampai jarak mereka sangat dekat. Tanpa di duga Riana mengelap baju kotor Vino dengan kerudungnya.
Vino sendiri cukup kaget, tapi kemudian dia tersenyum tipis, dia membolakan matanya saat Riana membuka kancing bajunya.
"Hei, lo mau ngapain?" Vino membentak Riana, tangannya mencekal pergelangan tangannya sampai dia menatap tajam mata Riana.
Riana mendongak membalas tatapan Vino dengan rasa bersalah, "Aku mau tanggung jawab, akan aku cuci bajumu di kali," kata Riana dengan sopan dan wajah polosnya.
Vino terhipnotis dengan mata teduh itu, dia melepaskan cekalannya membiarkan Riana melakukan apa yang dia inginkan.
"Jangan pegang dia! lepasin tangan lo!" Marisa berusaha menjauhkan tangan Riana dari baju Vino.
Riana tetap kekeh ingin mencuci baju itu dan Marisa tetap kekeh berusaha mencegah pergerakan Riana. Vino sendiri hanya memperhatikan gadis yang ada di depannya tanpa berniat mencegah dia. Hingga suara sobekan dan kancing terlepas membuat dia tersadar dari fikirannya.
Rweekk (anggap saja suara kancing terlepas karena di paksa.)
Mereka semua melolot kaget, Marisa segera melepaskan genggamannya, dan Riana menatap Vino dengan senyum penyesalan.
"Lo!!!" tunjuk Vino dengan wajah yang sudah memerah karena marah.
"Hehehe vis, gak sengaja!" Riana berkata sambil jari telunjuk dan jari tengahnya ia angkat menyerupai huruf V.
Vino semakin marah, tapi bel tanda masuk keburu berbunyi, perlahan Riana memundurkan kakinya, mencekal tangan Deni dan Yusuf.
"Nanti aku tanggung jawab ya, kabuuurrr. " Riana berlari sambil berteriak dengan tangan menyeret sepupunya.
Sudut bibir Vino menyunggingkan senyum tipis. Sedangkan Marisa mendengus kesal karena bel terlalu cepat berbunyi sehingga dia tidak dapat membalaskan ke kesalannya kepada Riana.
"Dia siapa?" Vino bertanya kepada Candra.
"Dia Riana, anak jurusan IPA, ternyata kalau dari dekat cantik sekali, bolehlah jadi pacar gue." Sebenarnya Candra cukup mengagumi Riana karena Riana terkenal dengan kepintaran, kebaikan, serta kecantikannya, membuat setiap pria penasaran akan sosok Riana.
Vino menoleh saat Candra bilang ingin menjadikan Riana pacarnya, dia geram saat mendengarnya, entah kenapa dia merasa tidak suka ada orang lain yang terang-terangan menyukai wanita itu.
"Oy oy santai dong brother! ya, gue tahu maksud tatapan kau itu." Ternyata Candra cukup peka akan apa yang Vino fikirkan saat itu.
__ADS_1
Vino mendengus kesal, diapun meninggalkan Candra, Marisa dan Sintia.
"Vin, tunggu aku!" Marisa berusaha mengejar langkah Vino yang cukup cepat.
Candra dan Sintia saling lirik, lalu melangkah menuju kelasnya, "Sepertinya dia menyukai Riana pada pandangan pertama, kau lihat! tatapannya tidak bisa bohong," ucap Sintia.
"Darimana kamu tahu?"
"Dari cara dia memandang ada rasa ketertarikan saat pertama berjumpa." Sintia menjelaskan apa yang ia lihat dan dia meyakini hal itu.
Candrapun mengangguk mengerti.
****
Jam pulang sekolahpun telah tiba, para siswa sudah membubarkan diri untuk pulang, tapi tidak dengan Riana dan beberapa teman lainnya yang masih harus berada di sekolah karena hari ini dia kebagian piket kelas sehingga harus terakhir pulang.
"Ri, mau bareng gak pulang nya?" Deni menghampiri kelas Riana dan bertanya kepada sepupunya.
"Kalian duluan saja! nanti aku bisa naik ojek kalau pulang." Riana berkata sambil tangannya terus menyapu lantai.
Sekolah Riana memang dekat dengan pangkalan ojek karena tukang ojek suka menarik penumpang anak sekolah.
"Yakin kami tinggal?" Yusuf meyakinkan Riana kembali.
"Ya udah atuh, kami duluan ya."
Setelah mendapat anggukan mereka berdua pamit pulang, Riana dan yang lainnya mulai membereskan lagi kelas mereka, beberapa saat kemudian piketpun selesai.
Saat sedang berjalan di koridor sekolah seseorang memanggilnya diapun menoleh.
"Riana."
"Iya, pak Alvin," balas Riana.
"Bisa tolong bantu saya membawakan buku tugas LKS ini?" pinta Alvin yang membawa setumpuk buku tugas di tangannya.
"Kemana ketua kelasnya, Pak? biasanya ketua kelasnya yang selalu bantu untuk membawakan." Kali ini teman Riana satu piket yang berkata karena dia merasa aneh dengan guru baru itu.
"Dia sudah pulang duluan, makanya saya minta bantuan Riana, dia kan ketua kelas juga, tolong ya!" Alvin kembali meminta tolong dengan wajah penuh permohonan.
"Baiklah, sini!" Riana mendekat meminta tugasnya untuk di pindah tangankan.
Alvin berusaha mengontrol kegugupannya ketika Riana tepat berada di depannya, diapun menyerahkan buku tugasnya ke tangan Riana. Alvin sempat tertegun saat tangannya tak sengaja memegang tangan Riana yang begitu halus, ada desiran aneh saat kulit itu bersentuhan.
"Terima kasih," ucap Alvin dan Riana mengangguk.
__ADS_1
****
Ruangan guru.
"Tolong kamu taruh di meja saya, dan sekali lagi saya minta tolong kamu bantu saya!" perintah Alvin dengan tegas tanpa mau di bantah.
Riana menyerngit heran, dia melihat jam tangannya dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul dua siang.
Alvin mendongak ketika dia tidak melihat pergerakan dari hadapannya.
"Ayo duduk!" perintahnya.
Riana membuang nafasnya secara kasar, akhirnya dia menuruti ucapan gurunya itu. Dengan khusu mereka berdua mengecek soal latihan para siswa, sesekali Alvin melirik kearah depan dan meneliti setiap pahatan wajah Riana.
"Cantik." Dengan spontan Alvin berucap mebuyarkan konsentrasi Riana.
Riana mendongak, "Kenapa, Pak?"
Alvin tersadar, "Hah! tidak apa-apa, lanjutkan saja pemeriksaannya!"
Satu jam lamanya mereka berdua memeriksa tugas. Rianapun pamit undur diri untuk pulang dan Alvin mempersilahkan.
Ketika sampai pangkalan ojek biasa, Riana tidak menemukan satupun tukang ojek. Dia sempat kebingungan, karena jam sudah menunjukan waktu Shalat ashar di tambah adiknya tidak bisa menjemput karena masih ada ekskul.
Awan semakin mendung menandakan akan adanya hujan, perlahan rintik hujan mulai turun. Riana yang masih berada di sana sejenak berteduh.
Alvin yang kebetulan melintas melihat Riana berada di pangkalan ojek, dia memberhentikan motornya.
"Riana, ayo naik!" ajak Alvin.
Riana mendongak, "Maaf, Pak. Saya tidak bisa." Tolak Riana dengan halus.
"Ayo! ini udah mau hujan, lagian arah kita sama." Alvin terus membujuk agar Riana mau ikut.
Setelah berfikir akhirnya Riana mau, namun saat sedang di perjalanan hujan semakin deras. Mau tidak mau Alvin menepikan motornya di warung untuk berteduh karena dia lupa membawa jas hujan.
Riana merasa kedinginan sebab hujan sangat deras, dia menggosokkan kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Alvin sejenak menoleh dan dengan inisiatif nya dia memberikan jaket yang ia pakai agar Riana lebih merasa hangat.
Alvin memasangkan jaketnya ke pundak Riana.
"Ehh!" Riana kaget saat seseorang memakaikan jaket ke tubuhnya, dia menoleh, sejenak keduanya beradu pandang.
Deg deg deg
Pandangan Riana membuat jantung Alvin berdegup tak menentu.
__ADS_1