KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Ajakan Makan Malam


__ADS_3

Perjalanan menuju Bandung terasa lancar tidak terjadi kemacetan walau keadaan masih dalam suasana lebaran. Hati Alvin menjadi tidak karuan, ia mendadak gugup dan yang pasti jantungnya berdebar semakin kencang di kala sebentar lagi akan tiba di rumahnya yang dulu.


Ada rasa rindu menyeruak di relung hati mengingat orang yang di cintai. Ada rasa ingin cepat bertemu namun merasa malu karena sudah lama tak bertemu. Satu tahun lamanya ia tak pernah melihat sang pujaan, setahun lamanya ia tak pernah berkomunikasi ataupun bertegur sapa meski sedang berlibur ke kota kelahirannya. Keduanya tak pernah sekalipun bertemu meski Alvin sedang main ke rumah Iqbal.


Mama Maya bisa melihat kegugupan anaknya, dia menepuk-nepukan pundak Alvin. "Kamu pasti gugup ketemu Riana? pasti saat ini hatimu sedang gundah gulana antara rindu dan malu bertemu. Kamu tidak boleh nervous, kamu harus berani tunjukan lagi keseriusan kamu terhadapnya! Mama akan mendukung pilihan kamu karena Mama juga menyukai kepribadian Riana."


"Iya, Mah. Terima kasih sudah mau mengerti akan perasaan ku. Doakan supaya aku tidak sampai pingsan ketika melihatnya." Alvin menyematkan sedikit kata bercanda berharap bisa mengurangi ke gugupannya.


"Gak bakal, yang ada kamu makin terpesona dan cintamu klepek-klepek sama dia, sayangmu klepek-klepek sama dia." Maya menimpali candaan sang anak dengan menyanyikan sebuah lagu.


"Dari dulu juga cintaku sudah klepek-klepek sama dia, sampai saat inipun masih klepek-klepek. Jatuh sejatuh jatuhnya kedalam pesona seorang Riana Wafa Humairah." Alvin tersenyum tipis membawahkan wajah cantik nan imut wanita pujaannya.


"Vin, mampir dulu ke toko kue itu." Maya kembali menepuk-nepuk pundak Alvin untuk memberhentikan mobilnya.


"Kenapa, Mah. Apa Mama mau beli sesuatu?" Alvin menepikan mobilnya dekat toko kue CITARASA BAKERY.


"Kita beli cemilan buat di rumah, Mama ingin kue red Velvet dan katanya toko ini sangat terkenal di kecamatan sini dan sudah terkenal ke se area kota." Maya membuka seat belt nya.


"Kamu juga ikut turun! Nanti bawain belanjaan Mama ke mobil!"


Alvin mengernyit. "Aku turun juga?"


"Iya, ayo!" Ajak Maya sudah membuka pintu mobil dan Alvin mengikuti kemauan sang Mama.


Alvin belum tahu kalau toko itu milik Riana di karenakan Alvin tidak mencari tahu kegiatan Riana. Keduanya sudah masuk dan Maya langsung melihat jejeran kue yang ada di dalam etalase kaca. Alvin sendiri menunggu di dekat Maya namun matanya menatap keluar.


"Permisi, saya mau beli kue red Velvet sama Bika Ambon masing-masing satu." Kata Maya kepada penjaganya.


"Tunggu sebentar ya, Bu!" Karyawan itu mengambilkan kue yang di inginkan Maya.


"Dimas, tolong kamu antarkan pesanan ini kepada Bu Retno! Katanya acaranya di undur sore hari jadi Bu Retno ingin segera mengambil pesanan nya sekarang." Sang Bos kue membawa dua plastik besar berisikan kue pesanan seseorang.


"Siap, tapi ini ada pembeli."

__ADS_1


"Biar aku saja. Kamu cepat anterin ini saja!" Riana menyodorkan kedua plastik itu pada karyawan dia.


Jantung Alvin terus berdegup, dia tahu siapa pemilik suara itu. Ingin rasanya Alvin menoleh dan melihat wajah sang pujaan. Ingin rasanya Alvin memeluk wanita yang sering hadir dalam mimpinya.


"Riana, apa kabar kamu, Nak?" sapa Maya menyapa duluan sebab Riana belum ngeh ada dia.


Riana menoleh seketika senyumnya mengembang. "Tante, Maya. Masyaallah, apa kabar Tante?" Riana segera menyalami Maya dan melakukan cipika cipiki.


"Kabar Tante baik, Sayang. Kabar kamu juga bagaimana, apa kamu sehat?" Maya mengurai pelukannya lalu mengusap kedua pundak Riana melihat penampilan calon mantu yang terlihat semakin modis dan tentunya semakin cantik saja.


"Alhamdulillah sehat. Oh iya, Tante ke sini sama siapa?"


Maya menoleh kepada lelaki yang membelakangi Riana. "Sama anak Tante, Alvin."


Deg...!


Jantung Riana tiba-tiba saja berdebar saat Maya menyebutkan nama Alvin, lelaki yang juga sering datang ke mimpinya.


Dengan perlahan, Alvin membalikan tubuhnya dan kini ia bisa melihat wajah wanita pujaan hati. Alvin tentunya semakin terpesona, setahun tidak bertemu membuat Riana kian berubah baik dari segi bentuk tubuh yang mulai berisi maupun wajah yang tambah semakin cantik dan tentunya wangi.


Keduanya sempat tertegun terpaku pada pesona masing-masing. Riana tidak menyangka Alvin yang ada di hadapan terlihat semakin tampan dan itu mampu membuat jantung Riana semakin berdegup kencang.


Maya bisa melihat kalau keduanya sama-sama terpesona. "Hmmmm, sampai kapan kalian lihat-lihatannya?" Maya berdehem mengagetkan keduanya.


Tentunya Riana dan Alvin salah tingkah dan merasa kikuk. Wajah Riana sudah bersemu merah ketahuan mengagumi ketampanan Alvin.


"Vin, kamu tidak mau menyapa Riana? dia salah satu murid spesial loh." Maya kembali menggoda anaknya.


Alvin melirik sebentar Gadis di hadapannya lalu menundukan pandangan dia. "Apa kabar, Ri?"


"Aku baik, Pak." Jawab Riana gugup.


Keduanya kembali diam. Maya menjadi gemas sendiri melihat sang anak yang hanya diam tidak beraksi. "Oh, iya, Ri. Nanti kamu mau kan makan malam bareng kita?" Maya sudah merencanakan sesuatu buat keduanya.

__ADS_1


Alvin mengerutkan dahi, hatinya bertanya. "Makan malam? tumben Mama mengadakan makan malam?"


"Hhmmm gimana ya, Tan." aku merasa ragu sebab malu.


"Ayolah, sekali ini saja! Tante ingin mengadakan makan malam sebelum hari ulang tahun Chika lusa nanti." Maya menatap penuh permohonan.


Riana menjadi merasa tidak tega dan iyapun mengangguk. "Baik, Tan. Nanti aku izin sama Bapak dulu."


Maya tersenyum, "Anak Solehah, nanti Alvin jemput kamu di rumah!"


"Eh, tidak usah!" ucap keduanya kompak.


"Kompak bener kalian ini. Jangan-jangan jodoh." Maya tersenyum usil menatap keduanya secara bergantian.


"Aamiin." ucap keduanya dalam hati tanpa sengaja mengaminkan.


"Hmmm tidak usah di jemput, Tan. Aku di anterin Latif saja. Lagian rumah kita dekat." Riana mencoba menolak secara halus supaya tidak menyinggung Maya.


"Pokoknya Alvin akan menjemput kamu ke rumah, tidak ada penolakan titik!" Maya kekeh dengan keinginannya.


Aku pasrah, dan aku mengiakan permintaan Tante Maya tanpa membantah.


Alvin tahu ini rencana Mamanya mendekatkan dia dan Riana. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekati wanita pujaannya.


"Kalau gitu Tante pamit dulu. Jangan lupa nanti malam ya! Dandan yang cantik siapa tahu ada yang tertarik." Maya melirik Alvin.


Mata Alvin molot terkejut, hatinya menggerutu. "Enak saja orang lain tertarik pada wanitaku. Tidak akan ku biarkan mereka mendekatinya! Akan ku jaga dia dan ku lindungi dia dari para lelaki buaya bermata keranjang. Riana milikmu, Riana takdirku."


Setelah berpamitan, Maya duluan masuk mobil sedangkan Alvin masih betah memandang wajah cantik Riana. "Tunggu aku malam nanti, Ri! Jangan lupa dandan cantik seperti apa kata Mama. Tapi, meski kamu tidak dandanpun kamu tetap cantik di mataku." Alvin langsung saja pergi kerena sudah malu berkata seperti itu.


Wajah Riana kembali bersemu merah dan kata-kata sederhana itu sukses membuat jantungnya berdegup kembali.


"Oh, hati." Riana memegang dadanya setelah mobil Maya pergi.

__ADS_1


__ADS_2