
"Kayanya seru nih?" kata seseorang dengan tiba-tiba.
Mereka menoleh.
"Eh, ini teh a Iqbal ya? anaknya pak Bambang?" tanya Deni.
"Rupanya kalian masih ingat denganku," ucap Iqbal lalu ikut duduk dengan mereka.
"Ya ingat atuh, dulu kita suka manjat pohon kersen bersama, main layangan, main kelereng, bahkan berenang di kolam panjang alias sungai." Kali ini Yusuf yang berucap.
"Dan kalian harus ingat, a Iqbal juga pernah di kejar oleh bapaknya Ucok karena ketahuan maling mangga." Timpal Rahmat ikut mengingat masa-masa kecil mereka.
Mereka semua tertawa mengingat semunya. Meski umur mereka berbeda, tapi dulu sewaktu kecil, mereka merupakan teman sepermainan.
"Hahaha iya, iya, rupanya kalian masih ingat, apa saat ini masih seperti itu?" tanya Iqbal yang ikut duduk di kursi.
"Jelas tidak atuh, A. Eh kadang kalau manjat pohon kersen masih suka," saut Ucok.
"Itu mah elu, Ucok. Kau kan masih doyan kersen," ucap Jaka.
"Kau juga suka memakannya, Jaka. Malah kau suka memakai kayu untuk mengambilnya."
"Sesama suka kersen jangan saling menyalahkan!" lerai Deni.
"Rupanya tidak ada yang berubah di kampung sini, hanya orang-orang nya saja yang banyak berubah." kata Iqbal
"Semakin tua." Ucap mereka dengan kompak lalu tertawa bersama.
Suara telpon Iqbal berdering dia mengangkatnya dan berbicara kemudian mematikan panggilan nya.
"Siapa, A?" tanya Yusuf.
"Teman SMA saya saat di Jakarta, dia menanyakan di mana tempat tongkrongannya."
Mereka hanya mengangguk ber oh ria. Tidak berselang lama, Alvin menghampiri Iqbal, dia memberhentikan motornya tepat di depan mereka.
Iqbal berdiri menghampirinya dan bersalaman ala pria.
"Lama tidak jumpa kau semakin ganteng saja, Vin."
Alvin tersenyum tipis, "Kau juga sama, bro." Alvin merangkul pundak sahabatnya itu dan menepuk-nepuk pundak Iqbal.
"Oh iya, perkenalkan, mereka anak muda kampung sini, teman sepermainan ku dulu dan sebagian dari mereka ada yang sudah menikah." Iqbal memperkenalkan para pemuda itu dan teman-teman yang seperjuangan dengannya.
Iqbal merupakan anak dari pemilik yayasan dimana Riana bersekolah, bisa di bilang anaknya pak Bambang, Kaka dari Vino dan merupakan shahabat Alvin saat SMA.
__ADS_1
Dulu Iqbal tinggal satu perkampungan dengan mereka, tapi setelah lulus SMP, Iqbal meneruskan sekolahnya di Jakarta di tempat ibunya berasal.
Dari dulu hingga sekarang pos merupakan tempat tongkrongan asyik bagi anak muda di tempat situ, bahkan anak kampung sebelah juga sering ikutan nongkrong di sana.
"Selamat malam Minggu di mari, pak Alvin." Deni berkata ketika Alvin menjabat tangan.
"Kau ini, malam Minggu menyeramkan bagi saya," saut Alvin dengan becanda.
"Bapak tenang saja, di sini semua pada jomblo, terkecuali bapak-bapak yang sudah menikah, bukankah begitu pak Riki?" tanya Yusuf kepada Riki salah satu teman Iqbal yang sudah menikah.
"Ya terserah kau saja," balas Riki lalu di tertawakan oleh yang lain.
Sedangkan Alvin kembali duduk di motornya dengan menghadap ke mereka dan tangan sebelah kiri bertumpu di stang. Sedangkan Iqbal menyender ke motor Alvin bagian belakang
"Eiittss, siapa bilang jomblo, saya tidak, ada teh Riana tercinta yang menemani saya." Rahmat berucap penuh percaya diri.
"Emang Riana mau sama lu?" tanya Deni.
Deg!
"Pasti maulah, kan saya yang terganteng di sini."
"Tunggu! maksud kalian Riana anaknya pak Yanto?" tanya Iqbal memastikan.
Alvin yang mendengar kata Riana merasa jika dia kenal akan nama itu, tapi dia masih belum tahu pasti apakah Riana ini sama dengan muridnya atau bukan. Dan nama pak Yanto sendiri Alvin juga belum tahu yang mana orangnya, padahal dia sering bertemu ketika sedang di mesjid, tahu rupa tapi tidak tahu nama.
"Jadi penasaran, dari dulu juga dia sudah terlihat cantik, apalagi sekarang sudah dewasa pasti tambah cantik."
"Jelas dong, A. Calon istriku." Rahmat terus saja merasa percaya diri.
"Sudah kau tembak Riana nya?" kali ini Alvin yang ikut menimpali ucapan mereka.
"Hehehe belum," kata Rahmat cengengesan.
"Coba sekarang kau tembak dia! kita semua yang akan jadi saksinya." tantang Iqbal mengompori Rahmat agar berani mengungkapkan perasaannya.
"Baik, siapa takut, kalian jadi saksi ya!"
"Iya," Ucap mereka semua.
"Riana, keluar dong! ada yang ingin a Rahmat sampaikan," teriak Rahmat.
Riana dan pak Yanto yang berada di dalam toko merasa terganggu dengan teriakan Rahmat.
"Ada apa dengan si Rahmat, pakai acara teriak-teriak gitu?" tanya Yanto yang sedang menghitung uang belanjaannya untuk di belanjakan kembali besok.
__ADS_1
"Gak tahu, Pak. Kesambet hantu kersen kali."
"Kamu samperin gih! dari tadi manggil nama kamu, kayanya mau nembak kamu tuh?"
"Diiihhh, si Bapak sok tahu." kata Riana kemudian keluar mencari tahu apa yang terjadi di depan.
"Berisik!" teriak Riana.
Rahmat terdiam, dan yang lain menoleh termasuk Alvin dan Iqbal yang membelakangi Riana.
Mata Alvin tertegun, "Ternyata dia orang yang sama," batin Alvin. Sedangkan Iqbal sendiri cukup terpesona melihat anak pak Yanto yang sekarang.
"Ehh sudah ada ya, ok, aku mau jujur di hadapan mereka sebagai saksi," Rahmat menarik nafasnya terlebih dulu lalu membuangnya secara kasar, dia cukup gerogi saat ingin berucap, tapi dia memberanikan dirinya di hadapan semunya. "Riana, angkutan umum jauh dekat lima ribu, kalau kamu jauh dekat di hatiku," ucap Rahmat.
"Ehh pe a, lu mau nembak apa ngengombal?" celetuk Ucok.
"Ngengombal sambil nembaklah," balas Rahmat dengan sewot.
"Rianaaa, i love youuuuuu," teriak Rahmat tanpa tahu malu.
"Rahmaaaaat!!!!!! tong ngagandengkeun, ieu teh peuting!" teriak Yanto dari dalam toko.
( "Rahmaaaaat!!!!! jangan berisik, ini sudah malam!" )
"Alamakk!!! bapaknya ada!!! saya kira tidak ada di situ!" Rahmat yang sedang duduk terlonjak terkaget, ia sudah kelimpungan karena takut kena semprot Bapak nya Riana, dengan tergesa Rahmat turun dari bangku mencari sendal lalu memakainya tanpa melihat mana yang kiri dan kanan lalu kocar kacil berlari.
Semua orang tertawa melihat Rahmat lari terbirit-birit.
"Rahmat sendalmu terbalik!" teriak Yusuf kemudian tertawa kembali melihat Rahmat kabur.
Rahmat yang sempat mendengar teriakan Yusuf berhenti sejenak untuk membenarkan sendal yang kebalik, dan kembali lari ketika mendengar suara pak Yanto.
"Haayoooo hayooo!" teriak Yanto menakuti.
Yanto yang berada di samping Riana ikut tertawa menyaksikan ke konyolan Rahmat.
"Isss iseng banget, Pak?"
"Habisnya berisik teriak-teriak gak jelas," balas Yanto sambil masuk kembali.
Alvin ikut tertawa tapi sesekali matanya melirik ke Riana.
Anak muda itu kembali melanjutkan obrolannya, ada yang menyalakan musik, kemudian melanjutkan dengan bermain gitar, bahkan ada yang bermain catur, menikmati malam Minggu dengan seru-seruan bersama yang lainnya
Mereka nongkrong di pos kamling sampai pukul 11 malam, lalu di lanjutkan dengan para bapak-bapak yang ngeronda.
__ADS_1