KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Sejak Kapan?


__ADS_3

Waktu terus berjalan tanpa henti, sudah satu Minggu aku menjadi seorang istri. Ketika ku bangun dari tidurku aku tidak menemukan keberadaan suamiku. Aku menguap dan menggeliat, ku lihat jam ternyata masih pukul 3 dini hari dan waktunya untuk ibadah tengah malam.


Aku berpikir jika Vino berada di musola kecil yang ada di dalam rumah karena biasanya Vino suka ada di sana. Langkahku menuntunku untuk menemuinya di musola itu. Tapi ketika sudah sampai, aku tidak menemukan siapapun disana. Mataku celingukan mencari di setiap tempat berharap Vino ada, namun aku tidak menemukannya.


"Kemana Vino? Tidak biasanya dia ngilang gitu saja, padahal aku ingin shalat bareng dia." Gumam Riana sambil melangkahkan kakinya kembali ke kamar.


Riana melangkah menuju kamar mandi berniat mensucikan diri karena masa haidnya sudah selesai. Ketika membuka pintu, seketika tubuhnya mematung di tempat, lidahnya mendadak kelu tak mampu berucap.


"Vi..no.." bibir Riana bergetar mengucap nama suaminya. "Vinooo! Apa yang terjadi padamu, Vin?" seketika Riana menjerit melihat Vino tergeletak di lantai kamar mandi dengan hidung bersimbah darah.


Riana menghampiri Vino, mengangkat kepalanya dan di taruh di pangkuan dia.


"Papah! Mamah! Tolong, a Vino!" Riana berteriak kencang. "Toloooong! Mamah, Papah, toloooong!" Riana panik dia mengusap darah yang berada di hidung Vino menggunakan kerudung yang ia kenakan.


"Vino, hiks hiks bangun! Kamu kenapa, Vin?" Tangis Riana sudah pecah melihat keadaan Vino. "Toloooong...!"


Brakk.. suara pintu terdengar di buka secara kasar oleh seseorang.


"Riana apa yang ter...Vino!" ucapan Laras menggantung ketika melihat Vino tergeletak, lalu ia menghampirinya. "Vino, kamu kenapa, Nak? Kenapa dengan dia, Riana?" Laras sudah panik dan menangis melihat keadaan anaknya.


"A aku juga tidak tahu, Mah. Saat aku mau ke kamar mandi dia sudah begini hiks hiks." Tubuh Riana bergetar ketika memegang wajah Vino, rasa takut tiba-tiba menghampiri dalam pikirannya.


"Papaaah!" Laras berteriak memanggil suaminya. Tadi Laras sedang mengaji di dalam kamar, dia mendengar teriakan minta tolong dari kamar Vino, langsung saja Laras berlari menghampiri.


Bambang yang sedang tidurpun terlonjak kaget mendengar teriakan cempreng dari suara istrinya. "Berisik banget, ganggu tidur saja." Bambang menggerutu kesal, namun dia tetap menghampiri. Semakin dekat, Bambang mendengar tangisan istri dan menantunya, dengan terburu Bambang masuk.


Alangkah terkejutnya dia ketika melihat keadaan yang di luar dugaan. "Innalillahi...! Vino kenapa?"


"Tolong bawa Vino, Pah. Cepetan!" Laras sudah tidak bisa mengontrol tangis dan ia sudah panik.


Dengan segera Bambang mengangkat Vino. Laras dan Riana mengikuti mereka dari belakang setelah berganti pakaian dan merekapun langsung meluncur ke rumah sakit.


"Suster, Dokter, tolong anakku!" Bambang terus berteriak memanggil Dokter maupun Suster sambil menggendong Vino.


Tak lama kemudian seorang suster tergesa-gesa mendorong brangkar menghampiri Bambang "Baringkan di sini, Pak!"


Bambang pun membaringkan tubuh anaknya di atas brangkar, kemudian mereka cepat-cepat mendorong brangkarnya.

__ADS_1


"Mohon maaf, kalian tidak di perbolehkan masuk!" Suster melarang Bambang dan yang lainnya ikut masuk.


Dan merekapun mengerti.


"Pah, anak kita!" ucap Laras langsung memeluk Bambang.


"Kita doakan saja semoga semuanya baik-baik saja."


"Pah, Mah, maafkan aku tidak bisa menjaga a Vino." Sahut Riana, air matanya terus mengalir tiada henti.


Laras menoleh dan langsung saja memeluk menantunya. "Kamu tidak salah sayang, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Vino." Laras berusaha menguatkan menantunya meski dirinya sendiri di landa ke khawatiran yang luar biasa.


Dua perempuan berbeda usia itu menangis saling memeluk. Bambang tertunduk lesu di bangku ruang tunggu.


Tak lama kemudian seorang dokter datang dan ingin masuk keruangan ICU.


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk suamiku!" cegah Riana saat melihat Dokter.


"Insyaallah, saya akan berusaha yang terbaik." Kemudian sang Dokter pun masuk ke dalam.


"Keluarga pasien?"


Riana dan orang tuanya menoleh kemudian menghampiri. "Kami keluarganya, Dok." Jawab mereka secara bersamaan.


"Ada yang harus saya bicarakan dengan kalian." Dokter bernama Feri menatap serius keluarga Vino. "Mari ikut saya!"


"Baik, Dok."


Bambang dan Laras sudah duduk di hadapan Dokter Feri. Sedangkan Riana berdiri di samping Laras karena Laras tidak ingin Riana jauh darinya. Laras terus memegang tangan menantunya menandakan jika wanita paruh baya ini membutuhkan kekuatan dari banyak orang.


"Anak saya sakit apa, Dokter?" tanya Bambang penasaran sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.


"Maaf, sebelumnya saya ingin bertanya, apakah anak anda sering mengeluh sakit kepala?"


Bambang mengernyit. "Tidak, Dok. Setahu saya, Anak saya tidak pernah mengeluh sakit di kepala," kata Bambang.


Laras dan Riana mengingat-ingat kembali apakah Vino pernah mengeluh.

__ADS_1


"Pernah, Dok." sahut Riana.


Mereka bertiga menoleh dan menatap meminta penjelasan dari Riana.


"Setiap malam suami saya suka mengeluh sakit kepala, beliau sering minta di pijit oleh saya bahkan dia suka minum obat. Tapi, saya tidak tahu itu obat apa, dia hanya bilang jika itu obat sakit kepala." Riana mengingat setiap permintaan suaminya yang selalu ingin di pijat dan berakhir tidur di pangkuan Riana.


Dokter Feri membuang nafasnya secara kasar. "Itu salah satu gejala yang di timbulkan dari penyakit ini. Saya harus mengatakan jika anak kalian terkena kanker otak stadium akhir."


Duarrr....


Bambang, Laras, dan Riana terasa di hantam batu besar. Tubuh mereka mendadak lemas mendengar penuturan Dokter.


"A apa?! A anak saya terkena kangker?!" ucap Laras terbata karena syok.


"Benar, penyakitnya sudah serius. Kemungkinan untuk sembuh sangat sulit."


Mereka semakin syok, pikiran negatif berseliweran di kepala mereka. "Anak saya pasti sempuh, dia tidak akan meninggal!" pekik Laras syok.


Bambang merangkul istrinya agar kuat. Riana sendiri mematung, namun air matanya terus mengalir. "𝘠𝘢 𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘤𝘰𝘣𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘯𝘪?"


****


Langkah ketiganya terasa gontai setelah dari ruangan dokter. Mereka menuju tempat dimana Vino berada, mereka melihat Vino sudah duduk, rupanya pemuda itu telah sadar dari pingsannya.


Riana segera menghampiri dengan sedikit berlari, tiba-tiba saja Riana memeluk Vino. "Kenapa kamu menyembunyikan ini dariku, a?" Tanya Riana di sela tangisnya.


Vino membalas pelukan Riana, dia juga menatap orang tuanya. "𝘗𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶."


"Sejak kapan?" tanya Bambang.


Vino mengerti arah pertanyaan Papahnya. Dia mengurai pelukan Riana, mengecup keningnya lalu mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya. "Jangan menangis! Aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana, Vino! Kamu pingsan di kamar mandi dan hidungmu mengeluarkan darah," sahut Laras.


"Mah." Bambang mengusap punggung istrinya.


"Sejak kapan kamu menyembunyikan penyakitmu?" tanya Laras meminta jawaban dari anaknya.

__ADS_1


__ADS_2