KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Di Kamar


__ADS_3

Hari ulang tahun Chika sudah tiba, Riana beserta timnya sudah menyusun cake pesanan Stella di bagian ruangan depan.


"Terima kasih ya sudah mau membuat kue ultah yang sangat indah. Cemilan kue lainnya pun sungguh enak luar biasa." Stella yang sedang berdiri di dekat meja aneka makanan pun berterima kasih kepada Riana.


"Sama-sama, Kak. Aku senang kalau kue buatan kami di terima sangat baik." Balas Riana tersenyum ramah. "Hhhhmmm Kak, boleh numpang ke kamar mandi? aku kebelet pipis." Izin Riana malu-malu.


Stella tersenyum, sudah ada ide di kepalanya. "Boleh, tapi kamar mandi yang ada di atas. Kalau di bawah lagi di benerin dulu." Ajak Stella sambil menggandeng tangan Riana menuju kamar mandi di lantai dua.


"Silahkan masuk!" Stella mempersilahkan Riana masuk kamar milik Alvin.


Riana enggan masuk karena merasa tidak enak masuk kamar orang. "Hhhmmm Kak, ini tidak apa-apa aku masuk kamar ini?" tanya Riana sungkan.


"Tidak apa, daripada nanti di tahan jadi penyakit, mending pipis di kamar mandi sini saja."


Karena memang sudah tidak tahan, akhirnya Riana menerima tawaran Stella dan numpang buang air kecil di kamar mandi yang ada di kamar Alvin.


Stella sendiri ke bawah duluan, dan ketika di ujung tangga atas, Stella berpas-pasan dengan Alvin. "Vin, kamu darimana saja? buruan ganti baju sebentar lagi acaranya akan di mulai!"


"Aku habis dari rumah Iqbal. Iya, Kak, kalau gitu aku ke kamar dulu," kata Alvin dan di angguki oleh Stella.


Alvin melangkah masuk dan membuka bajunya ketika berjalan, kemudian melemparkan pakaian dia ke atas kasur, lalu mengambil handuk.


Saat ingin membuka kamar mandi, Riana juga keluar, dia terlonjak kaget sampai menjerit melihat seorang pria bertelanjang dada. Riana belum melihat wajahnya karena dia menunduk dan kebetulan hanya melihat dadanya saja.


"Aaaaaaaaaa" jerit Riana membalikan badannya memunggungi Alvin kemudian menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya.


Sontak saja Alvin ikut gelagapan dan juga terlonjak kaget. Gelagapan takut orang dengar, dan terlonjak kaget ada perempuan di kamarnya. "Hei, kamu siapa berani sekali masuk kamarku?" tanya Alvin belum sempat melihat wajah Riana karena keburu berbalik badan.


Riana memberanikan diri membalikkan tubuhnya sehingga menghadap Alvin. Dia juga menundukan wajahnya karena malu. "Maaf, tadi aku numpang ke toilet."


Alvin kembali kaget melihat wanita dihadapannya ternyata Riana. "Riana..!"

__ADS_1


Riana sontak mendongak, dan deg..! Mata mereka bertatapan. "Kak Alvino," gumam Riana.


Namun seketika Riana kembali tersadar dan kembali menjerit sambil menutup mata.


"Aaaaaaaa," jerit Riana.


Alvin buru-buru membungkam mulut Riana pakai tangan dan menyandarkan tubuh Riana ke dinding dekat pintu toilet. Satu tangannya membekap mulut dan satu tangannya bertumpu di dinding dekat kepala Riana.


"Jangan menjerit! kalau orang-orang dengar bagaimana? bisa-bisa aku di sangka lagi ngapa-ngapain kamu lagi." Alvin berkata sambil menatap mata terpejam Riana.


Riana mengangguk mengerti. Perlahan Alvin mengurai bekapannya dan menaruh tangan tersebut ke dinding sehingga kini Riana berada di depan kungkungan dirinya.


"Ke kenapa kamu tidak pakai baju?" tanya Riana gugup dan masih merem tak mau membuka mata dan tak mau melihat Alvin yang bertelanjang dada.


Seketika semburat merah di wajah cantik Riana muncul dan Alvin menyukai wajah kemerah-merahan itu. Batinnya berkata, "Cantik dan menggemaskan."


"Mana aku tahu kalau kamu ada di kamarku." Balasnya masih menatap wajah cantik wanita yang bertahta di hatinya itu.


Alvin gemas sendiri, dia terus memandang Riana menelisik yang ada di wajahnya. Bulu mata lentik, hidung mancung, serta bibir ranum tipis berwarna merah alami dan wajah putih bersemu merah membuat Alvin seketika terpesona dan tergoda.


"Sayang, aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku tidak rela kamu menikah dengan pria lain." Gumam Alvin masih bisa di dengar Riana.


Riana perlahan membuka mata dan mata keduanya saling menatap. Seketika mata Riana berkaca-kaca mengingat jika besok ia akan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya.


"Kak, aku...aku minta maaf." Air mata yang sedari tadi tergenang menetes membasahi wajah cantik Riana.


Alvin menangkupkan kedua tangannya dan menghapus air mata itu. Hatinya sakit dikala cinta keduanya harus kembali di uji. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlambat menemuimu sampai ku harus kembali melepaskanmu."


"Bolehkan aku memelukmu sekali saja sebelum kamu menikah dengan pria pilihan orang tuamu?" Alvin memohon.


"Tidak boleh..!" sahut seseorang.

__ADS_1


Keduanya seketika terkejut, dan Alvin segera menjauhkan tubuhnya dari Riana. Keduanya gelagapan dan menoleh ke arah pintu masuk. "Kak Stella...!" pekik Keduanya kikuk.


"Ngapain kamu minta peluk sama wanita yang belum menjadi mahrom kamu? pasti kamu mau macem-macem sama Riana dengan dalih modus minta peluk." Tuding Stella curiga menatap tajam mata adik satu-satunya.


"Bu bukan begitu, Kak. Aduuhh, gimana aku jelasinnya?" Alvin kikuk sendiri, dia mengacak-acak rambut bagian belakang saking tidak tahu harus menjelaskan apa.


Riana sendiri sudah menunduk malu dan mencengkram bajunya. Dia tidak berani menatap wajah Stella karena malu bercampur bersalah.


Stella menatap keduanya silih berganti, dia ingin meledakan tawanya namun sebisanya ia tahan supaya sandiwaranya tidak ketahuan. "Riana, sekarang kamu keluar dari kandang singa ini! Bisa-bisa kamu di terkam habis sama dia." Sindir Stella pada Alvin dan menatap tajam adiknya.


"Ba baik, kak." Riana langsung saja berlari meninggalkan keduanya atas perintah Stella tanpa membantah, tanpa banyak tanya.


"Belum juga sah sudah berani seperti itu, untung Kakak kemari kalau tidak, Kakak tidak tahu apa yang akan kamu lakukan kepadanya? bisa saja kamu main sosor duluan."


"Tidak seperti itu juga, aku hanya ingin memeluk saja tidak lebih, kok.." Alvin berkata jujur karena dia hanya ingin memeluk wanita yang ia cintai untuk pertama dan terakhir kalinya.


Stella mencondongkan kepalanya menatap Alvin yang sedang menunduk malu. "Yakin tidak mau di jodohkan sama wanita pilihan kami?" Stella menaik turunkan alisnya.


Alvin seketika mendongak menatap balik sang Kakak. "Yakin, aku tidak mau di jodohkan!" tolak Alvin belum mengetahui siapa yang akan di jodohkan dengannya.


Stella menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangan di dada. "Masa kamu tidak mengerti maksud ucapan Kakak?"


"Tidak," jalan Alvin menggelengkan kepala.


Stella membalikan badannya dan berjalan pelan menuju keluar kamar. "Ya sudah, kalau gitu kami akan membatalkan pernikahanmu dengan Riana."


Alvin mengerutkan keningnya. "Riana..?!" seketika matanya terbelalak dan mengerti ucapan sang Kakak. "Maksud kalian Riana yang kalian jodohkan denganku?" tanya Alvin memastikan.


Stella menoleh dan mengangguk lalu pergi meninggalkan Alvin.


Alvin begitu kegirangan meloncat tinggi sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal dan berucap, "Yes...Yes..."

__ADS_1


__ADS_2