KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Ungkapan


__ADS_3

Siang berganti malam, semua keluarga Riana menikmati makan malam penuh khidmat. Tidak ada yang berani berbicara ketika sedang makan.


"Mah, Pak, teteh mau buka toko kue," ucap Riana setelah mereka selesai makan, sedangkan Latif sudah duluan ke ruang tv.


Riana membantu membereskan piring kotor, saat ini mereka masih berada di meja makan.


"Emang uangnya sudah terkumpul?" tanya Bapak yang masih belum beranjak dari duduknya.


"Alhamdulillah, sudah Pak. Tapi teteh bingung cari tempatnya dimana?" Riana duduk kembali setelah membereskan piring kotornya.


"Di dekat pasar ada tuh yang mau menyewakan kiosnya, lokasinya dekat dengan jalan, Mamah lihat waktu kita belanja tiga hari yang lalu," saut Ani sambil mencuci piring.


"Nanti Bapak kesana melihat dulu tempatnya, jika cocok baru kita sewa. Kira-kira uangnya cukup tidak?" Bapak bertanya perihal jumlah uangnya.


"Teteh juga tidak tahu, jumlahnya sekitar 30 juta lebih."


"Segitumah banyak atuh? emangnya teteh ngumpulin dari kapan sampai uangnya terkumpul segitu?" tanya Ani yang sudah selesai mencuci piring lalu ikut duduk di dekat Yanto.


"Dari kelas tiga SMP, uang jajan dari Bapak sebagian teteh sisihkan, lalu hasil dari jualan kue yang ada di warung teteh simpan," jawab Riana.


"Itu baru anak Bapak, pandai menabung." Yanto merasa bangga kepada anaknya.


"Anak Mamah juga, 'kan Mamah yang melahirkannya," Ani protes sebab Yanto hanya mengklaim Riana anaknya saja.


"Benihnya dari siapa? dari Bapak 'kan?" balas Yanto tidak mau kalah.


"Iissh, malah berselisih," Riana memutarkan bola matanya jengah, dia menopang dagunya di tangan. "Gimana atuh, Pak?"


"Iya, nanti Bapak bantu menawar pertahun sewa kiosnya. Sisanya kamu bisa buat modalnya."


"Ok, teteh tunggu! terima kasih orang tuanya Riana." Riana segera beranjak dari dapur lalu pergi ke kamarnya dengan riang.


"Anak mu Mah,"


"Anak mu juga, Pak." Lalu keduanya tertawa menertawakan tingkah mereka sendiri.


****


Kediaman Alvin.


Akhir-akhir ini Alvin di sibukan dengan pengecekan laporan ujian para siswa, dia sering bekerja lembur untuk mengecek satu persatu kertas ulangan.


Meski terasa lelah, namun ia masih semangat sebab ada tujuan yang akan ia tuju.


Riana, tujuannya. Alvin sudah memantapkan hati dan mempersiapkan segalanya untuk melamar Riana setelah acara perpisahan nanti.


Dia ingin segera mempersunting wanita impiannya, cinta pertamanya dan yang pasti calon ibu dari anak-anaknya kelak.


Alvin menggelengkan kepala sambil tersenyum jika memikirkan Riana akan menjadi istrinya.


"Benar-benar sudah gila, kenapa di otak gue cuman Riana, Riana dan Riana," umpat Alvin. Dia mengacak rambutnya prustasi, lalu dia segera membereskan lembar yang berserakan di meja kerja dan beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar.


Di dalam kamar Alvin mengambil benda pipihnya tanpa fikir panjang langsung menelpon Riana karena sudah rindu meski baru 2 hari tidak bertemu.

__ADS_1


Tuuuut tuuuutt


Panggilan pertama tidak di jawab, Alvin kembali menelponnya dan barulah di jawab.


"Hallo, assalamualaikum kesayanganku."


"Waalaikumsalam, Ka. Maaf tadi aku sedang di kamar mandi."


Alvin mengambil headset, memakainya kemudia merebahkan tubuhnya.


"Tidak apa, Kaka akan menunggu kamu sampai kapanpun itu?" jawab Alvin dengan bibir terus tersenyum.


"Masa? aku tidak percaya!"


"Jangan percaya sama Kaka nanti musyrik!"


"Riana," panggil Alvin.


"Iya?"


"Kaka mencintaimu?"


Tidak ada jawaban dari sebrang telpon.


"Kaka akan datang melamarmu setelah acara perpisahan sekolahmu nanti, kamu siap 'kan, jika menikah muda?"


"Insyaallah aku siap lahir dan batin jika memang kamu di takdirkan untukku."


"Ya harus dong! kamu harus menjadi takdirku!"


"Bukan maksa, tapi Kaka yakin kamu memang terlahir untuk melengkapi tulang rusukku."


"Seyakin itu?"


"Sangat, sangat yakin."


"Bagaimana jika nanti salah satu di antara kita ada yang lebih dulu menikah atau meninggal, apa Kaka juga akan terus menunggu?"


"Jika kamu menikah lebih dulu, jujur Kaka pasti tidak akan sanggup. Tapi akan ku tunggu jandamu! dan jika kamu meninggal, biarlah cintaku ikut bersama mu sampai ku mati."


"Ka, Vino," ucap lirih Riana.


"Iya."


Di sebrang sana, Riana sudah menahan air matanya, ia merasa terharu sekaligus bahagia. Dia perlahan memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang selama ini rasa.


"A aku, me mencintaimu, ku tunggu kamu datang memintaku kepada Bapak!"


Plong sudah rasanya ketika apa yang selama ini terpendam bisa di ungkapkan.


Deg!


Jantung Alvin terus berdegup, dia juga merasa bahagia mendengar jawaban Riana. Baru kali ini Riana menjawab kata cinta dan menyuruh Alvin datang melamar.

__ADS_1


Rasanya bercampur aduk, ingin rasanya Alvin jingkrak-jingkrak berteriak sekencang mungkin tapi ia masih waras karena ini malam hari.


Senyumnya terus berkembang seakan tak pernah lelah.


"Terima kasih, tunggu aku di rumahmu!"


Mereka memang tidak pacaran, hanya saling bertukar pesan dan telponan saja. Entah itu pacaran atau bukan mereka sendiri tidak tahu. Yang jelas mereka sama-sama merindu, sama-sama saling suka, sama-sama merasa cemburu ketika ada komentar masuk ke status mereka di sosmed.


Dan mereka saling berkomitmen untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya jika mereka berjodoh. Meski dalam hal ini Alvin lah yang dominan sering mengungkapkan kata-kata rindu, sayang bahkan cinta.


Cinta itu memang buta, tanpa melihat wajahnya saja cinta mampu hinggap di hati, ya...seperti Riana.


Cinta buta, banyak orang yang tertipu di sosmed oleh orang yang mengatas namakan cinta. Seakan-akan mereka buta akan fakta di depan mata, namanya juga cinta buta pasti tidak peduli di sekitarnya.


Tapi, berhati-hati lah dalam jatuh cinta. Sekarang banyak yang bilang janda atau duda padahal masih memiliki suami atau istri.


Banyak yang bilang jomblo, tapi ketika berpas-pasan saling berboncengan dengan pasangan lainnya.


Banyak yang bilang perawan tapi ketika sudah menikah ternyata sudah di bobol orang duluan.


Banyak yang bilang bujangan padahal sudah pernah merasakan.


Hadeehhh, cinta terkadang memang membingungkan. Namun tidak semua cinta salah, orang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus jika itu lelaki, dia akan datang menghadap kepada orang tuamu memintamu untuk menjadi pendampingnya kelak.


Jika itu perempuan, dia akan menerimamu apa adanya meski kamu miskin atau cacat sekalipun.


Inti dari kata cinta yang tulus adalah, saling melengkapi, saling menghargai, saling menerima kekurangan dan kelebihan setiap pasangannya, saling percaya dalam setiap hubungan, serta saling jujur dalam hal sedikit apapun.


Cemburu boleh, asal jangan berlebihan dan jangan terlalu curiga kerena jika berlebihan akan memicu sebuah pertengkaran, nanti berujung pada perpisahan.


****


Kediaman Bambang.


Vino terbangun dari tidur malamnya, dia mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah malam. Setiap kata yang Vino ucapkan terdengar begitu menyayat hati seseorang, tanpa Vino sadari Mamanya mendengarkan ungkapan Vino.


"Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah segala dosa-dosa ku, baik dosa keluargaku, maupun dosa umat muslim.


Ya Allah, hanya kepadamu aku meminta, hanya kepadamu aku memohon.


Aku tahu, aku hanyalah manusia hina berlumuran dosa yang tidak pantas meminta kepadamu. Sebelum engkau menjumputku, izinkan aku memiliki Riana walau hanya sementara, aku sungguh mencintainya, ya Allah.


Aku mohon kabulkanlah permintaanku, aku tidak pernah meminta apapun darimu. Tapi hari ini, aku hanya meminta satu permintaan kepadamu, jadikanlah Riana pendamping di saat-saat terakhirku. Ku mohon kabulkanlah ya Allah."


Vino berdoa sambil berderai air mata, dia terus memohon ampun atas dosa yang pernah ia perbuat, dia juga berdoa agar Riana menjadi pendampingnya sampai dia tiada.


****


Jodoh, umur, rezeki, hanya Tuhan yang tahu. Kita hanya mampu berusaha dan berdoa, selebihnya Tuhanlah yang menentukan.


Mohon maaf jika banyak kata yang tidak berkenan di hati kalian semuanya. 🙏


Jangan lupa follow IG ku @ai.sah562

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2