KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Pernikahan Sederhana


__ADS_3

Hari pernikahan pun telah tiba, Alvin sudah siap lahir dan batin. Dia begitu antusias menyambut hari bahagianya walaupun mendadak dan Sederhana, Alvin tak mempermasalahkan itu yang penting dia bisa bersanding dengan orang yang di cintainya.


Senyum kebahagiaan terus terpancar dari wajah tampannya, sepanjang jalan menuju tempat berlangsungnya akad senyumnya tak pernah pudar. Dirinya sudah duduk berhadapan dengan penghulu dan Bapak Yanto selaku wali dari Riana. Dengan gagah dan lantang, Alvin mengucapkan ijab qobul penuh percaya diri.


"Saya terima nikah dan kawinnya Riana Wafa Humairah dengan maskawin tersebut tunai."


"Sah..." ucap semua orang.


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin," pak penghulu pun berdoa.


Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.


Di dalam kamar pengantin


"Selamat sayang, sekarang kamu sudah sah menjadi seorang istri." Dengan bahagia, Ani memeluk putrinya dan mengucapkan selamat.


"Aku jadi iri, kamu udah nikah dua kali sedangkan aku sekali saja belum," celetuk Keisya yang juga ada di sana menemani Riana.


"Kalau mau nikah tinggal terima Deni saja, Kei. Deni kan sering bilang mau jadikan kamu istri tinggal nunggu kamunya aja siap atau belum," kata Ani mengurai pelukannya dan beralih menatap Keisya.


Riana diam, dia tidak ikut menimpali pembicaraan keduanya. Dia masih belum percaya bahwa kini ia sudah menjadi seorang istri dari pria yang belum ia ketahui wajahnya seperti apa. Demi kedua orang tuanya, dia harus kembali mengorbankan perasaannya untuk yang kedua kalinya.


"Ingin rasanya ku menangis meraung atas apa yang terjadi, aku tidak bisa melawan orang tuaku, aku tidak ingin menyakiti hatinya, biarlah aku yang berkorban asalkan orang tuaku bahagia. Aku percaya bahwa Allah sudah menentukan garis takdirku seperti apa, dan aku percaya bahwa ini yang terbaik untukku." Batin Riana memejamkan mata berusaha untuk tidak menangis di hari pernikahannya.


"Riana," panggil Maya yang baru saja masuk ke kamar pengantin.


Riana membuka mata dan menatap wajah wanita paruh baya yang terlihat masih muda di usianya. "Tante Maya."


"Sekarang jangan panggil Tante, panggil Mama saja seperti Alvin dan Stella!" kata Maya menghampiri Riana mengusap wajah cantik menantunya.


Riana belum mengerti, dia hanya bengong menatap sedih orang-orang yang sedang berbahagia atas pernikahannya.

__ADS_1


"May, sekarang kita sudah menjadi besan," ucap Ani kemudian para ibu itu saling memeluk bahagia.


"Akhirnya, keinginan kita terpenuhi juga. Oh, iya. Waktunya kedepan, kita temui suamimu!" ajak Maya.


Riana sempat bertanya dalam hati kenapa Maya dan Ani berucap sudah menjadi besan? namun Riana tidak berani berucap.


Perlahan namun pasti mereka tiba dimana semua orang berada. Riana masih menunduk, sedangkan Alvin terus tersenyum melihat wanita yang ia inginkan kini sudah resmi menjadi istrinya.


Perlahan Riana mencium tangan sang suami atas perintah penghulu. Dan mempelai lelaki memegang ubun-uun istrinya sambil membaca:


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


Kemudian Alvin mengecup lembut kening sang istri penuh perasaan. "Assalamualaikum, kesayanganku." Bisik Alvin setelah sedikit menjauhkan wajahnya.


"Suara itu," ucapku terkejut kemudian mendongak. "Kak Alvino..!!"


Alvin menatap Riana penuh cinta, dia juga tersenyum bahagia. "Hai, kesayanganku."


Rangkaian acara demi acara telah mereka lewati, saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Ada yang sedang tiduran sambil nonton tv, ada yang lagi maen handphone, ada juga yang terus menempel tak ingin jauh dari pasangannya.


"Nempel teruuus kayak prangko. Dunia terasa milik berdua ini mah." Sindir Latif sambil memakan jeruk sisa prasmanan.


Alvin yang merasa tersindir berkata, "Mumpung sudah halal ya terus di pepet, Tif," balas Alvin menyenderkan kepalanya di pundak Riana dan terus memegang tangan Riana.


"Dia mah kelamaan jomblo sampai dimana ada yang nyantol akan terus di tempeli," timpal Stella.


"Aku jomblo karena nungguin Riana, dari awal aku sudah yakin bahwa Riana takdirku." Alvin mendongak dan menatap mesra wajah Riana.


"Ck, terlalu bucin. Saking bucinnya sampai rela menunggu lama," sindir Farhan suaminya Stella.

__ADS_1


"Alvin itu tipe yang setia, jika dia sudah menyukai satu maka ia akan tetap memilih yang itu," kata Maya.


"Tapi aku merasa bahagia sebab Riana bisa menikah dengan orang yang benar-benar mencintainya dan mau menunggu Riana," Sahut Yanto.


"Tapi aku heran, kenapa kalian sampai menyembunyikan hal ini dari kami?" kali ini Riana yang berkata dan ingin tahu penjelasan para orang tua.


"Sebenarnya kami sudah merencanakan ini dari beberapa bulan yang lalu, dan kami juga sudah meminta izin kepada Bambang untuk menikahkan Riana kembali. Setelah mendapat izin dari mertua suaminya dulu, baru kami membicarakan perihal perjodohan Alvin dan Riana. Kami pun sepakat untuk menikahkan kalian setelah ultah Chika," Maya menjelaskan awal mula mereka merencanakan pernikahan keduanya.


"Kalian ini sungguh keterlaluan, bagaimana kalau sampai aku atau Riana nekat kabur dan kawin lari? atau bagaimana jika kita sampai nekat bunuh diri karena prustasi karena kami tidak tahu siapa yang akan di jodohkan ya?" ucap Alvin menegakkan duduknya.


"Karena kami percaya bahwa kalian tak akan melakukan hal di luar kendali," jawab Ani.


"Tapi aku berterima kasih kepada kalian karena sudah merencanakan perjodohan kita, dan sekarang aku bisa memiliki wanita yang aku cintai." Alvin berkata sambil memegang tangan Riana dan menatap penuh cinta wanita pujaannya.


Riana tersipu malu, binar bahagia di matanya terlihat jelas. Riana juga merasa bahagia sebab orang yang telah berhasil mencuri hatinya kini menjadi suaminya.


"Kak, Teh, jangan bermesraan depan orang jomblo! di kamar saja sono biar kalian lebih puas." Celetuk Latif merasa geli melihat keduanya.


"Ucapanmu bener juga, Tif. Ayo sayang! mending kita ke kamar saja." Alvin bangkin dari duduknya dan tiba-tiba menggendong Riana ala bridal style.


"Kak..!!" ucap Riana melotot terkejut.


Tanpa menghiraukan para orang tua, Alvin membawa Riana ketempat kamar pengantin.


"Hahaha lihatlah, May. Anakmu rupanya sudah tidak sabar." Yanto tertawa melihat kelakuan Alvin.


"Tidak apa-apa, Yan. Biar kita cepat dapet cucu. Lagian kita juga pernah muda," sahut Maya terkekeh.


Lain pula dengan sang pengantin baru. Alvin terus memeluk Riana dari belakang sampai keduanya tidak ada jarak sedikitpun.


"Kak, lepasin aku..!" lirih Riana di saat Alvin terus menelusupkan wajahnya ke ceruk leher. Jantung Riana sudah berdebar kencang di kala Alvin semakin erat memeluknya.

__ADS_1


Posisi keduanya sedang berada di dekat pintu kamar. Alvin menurunkan Riana di dekat pintu dan langsung saja memeluk istrinya dari belakang.


"Sebentar saja, sayang. Aku ingin seperti ini dulu," balas Alvin semakin mengeratkan pelukannya.


__ADS_2