KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Obrolan


__ADS_3

"Pak Yanto!" panggil seseorang tiba-tiba.


Yanto yang sedang mendorong folding gate menoleh belakang.


"Masya Allah, Bambang! apa kabar?"


Yanto menyapa Bambang dengan saling bersalaman lalu berpelukan.


"Alhamdulillah kabar ku baik. kamu sendiri bagaimana?" tanya Bambang balik.


"Alhamdulillah lahir dan batin sehat, tapi isi dompet yang sakit." Yanto membalas pertanyaan Bambang dengan sedikit menyelipkan guyonan.


"Aduh, kenapa bisa sakit? pasti gara-gara tidak di kasih jatah ini mah." Bambang membalas guyonan Yanto.


"Kau kan tahu, kalau uangnya saya kasih ke istri pertama, jadi jatah buat dompet pribadi mah habis."


"Hahaha kau bisa saja, oh iya, dimana anak-anak mu?"


"Teteh mah lagi ngurek, kalau adiknya ada di rumah, astaghfirullah! saya lupa mempersilahkan duduk, duduk dulu atuh!" Yanto terlonjak kaget ketika tamunya belum ia persilahkan duduk.


"Terima kasih, Yan." Bambang membalas ucapan Yanto dan duduk di kursi yang ada di depan tokonya. "Anak pertamamu ngurek belut?" tanya Bambang.


"Paling juga dia cuman ngekorin kakak-kakak sepupunya. Kau tahu sendirilah, Riana paling suka ikut ke sawah."


"Hahaha, iya, iya, saya tahu itu. Saya kira dia sudah tidak lagi bermain ke sawah karena sudah dewasa." Bambang tertawa mengingat dulu Riana suka mengekori bapaknya setiap kesawah.


Dulu, jika Riana ke sawah selalu bermain air atau bermain tanah. Apalagi saat menanam padi, Riana paling senang jika di ajak.


"Tidak terasa anak kita sudah mulai dewasa," celetuk Bambang. Dia tersenyum mengingat anak-anaknya yang sudah mulai dewasa.


Yanto, Bambang, dan Putra, mereka merupakan teman satu kampung saat di kota B. Teman masa kecil, teman sekolah sampai SMA. Setelah dewasa, Putra yang pertama kali menikah, lalau Bambang dan yang terakhir Yanto.


"Kau benar, perasaan baru kemarin aku menimang-nimang anak pertamaku, tapi sekarang bulan Ramadhan ini dia sudah 18 tahun lagi. Bahkan adiknya juga sudah memasuki usia 14 tahun saja." Yanto ikut mengingat anak-anaknya yang juga sudah mulai beranjak dewasa.


"Iya, ngomong-ngomong apa kamu akan menikahkan putrimu di usia muda?" tanya Bambang.


Yanto menoleh, "Kalau di tanya soal menikah, itu adalah hak putriku. Asalkan dia sudah siap lahir dan batin aku sebagai Bapaknya hanya mendukung apa yang dia pilih. Mau menikah di usia muda silahkan, mau nanti juga ya monggo." Yanto tidak mempermasalahkan soal pernikahan putrinya, asalkan Riana sudah siap dalam segala hal, Yanto menyerahkan semuanya kepada sang putri.


Bambang tersenyum, "Rupanya kau bukan Bapak yang posesif, aku suka itu." Bambang menepuk-nepuk pundak Yanto merasa bangga karena tidak memaksakan kehendaknya.


Ketika sedang asyik mengobrol, Riana dan kawan-kawan pulang dalam keadaan basah kuyup, kecuali Yusuf.


"Assalamualaikum," ucap mereka.


Yanto dan Bambang menoleh.


"Waalaikumsalam," balas Yanto dan Bambang.

__ADS_1


"Astaghfirullah! kalian habis ngapain sampai basah kuyup gitu?" tanya Yanto.


"Kita habis berenang di aliran sawah, Pak," jawab Riana.


"Ini semua berawal dari Riana yang kecebur got, jadi kita kena getahnya karena keisengan Riana," saut Keisya.


"Kok bisa?" kali ini Bambang bertanya.


Deni menjelaskan awal muasal mereka berenang. Kedua generasi itu tertawa terbahak saat Deni menceritakannya.


"Makanya, jadi orang jangan sembrono! main handphone kok di sawah, ya auto ke ceburlah!" Yanto ikutan meledek Riana.


"Issh, Bapak. Bukannya belain anaknya malah ikutan ngeledek," cebik Riana kesal, dia memanyunkan bibirnya cemberut.


"Kapan selesai ngobrolnya? saya sudah kedinginan ini!" celetuk Rahmat yang sedang menggigil.


"Astaga, Rahmat! kalau dingin cepat pulang ke rumah! bukan malah ikut berhenti di mari!" Yanto tidak habis fikir dengan anak pak RW, bukannya pulang malah ikut berhenti di warung.


"Eehh!! pak Yanto benar, ngapain saya di mari ya? udah ah, saya pamit pulang dulu. Dadah Teh Riana yang cantik, sampai ketemu lagi nanti." Rahmat ikut bingung akan tingkahnya sendiri, diapun pergi meninggalkan mereka karena sudah merasa kedinginan.


"Ck, ada-ada saja dia," cebik Bambang menggelengkan kepalanya.


"Kalian juga, ngapain masih di sini? cepat pulang dan ganti baju!" kata Yanto mengibaskan tangannya menyuruh mereka pulang.


"Iya," ucap mereka secars bersamaan.


"Kau lihat, putriku kelakuannya masih saja seperti anak kecil! padahal usianya sudah remaja," ucap Yanto.


"Tapi dia sangat menggemaskan, jika aku memiliki anak perempuan pasti rumahku sangat ramai dengan kecerewetan nya."


"Ya begitulah."


****


Kediaman Bambang


"Mah, Papah kemana? tumben keluarnya begitu lama?" tanya Vino, lalu duduk di bangku taman menghampiri sang Mama yang sedang memandikan si meong.


"Ke rumahnya pak Yanto. Papahmu suka lama jika sudah bertemu teman-teman nya, mereka suka ngobrol ngaler ngidul jika sudah ketemu."


"Ohh, aku kesana ya, Mah. Bosan juga di rumah terus."


"Iya." Mamanya Vina menjawab tapi mata dan tangan masih fokus ke kucing kesayangannya.


Tidak berselang lama Vino tiba di warung pak Yanto, dan ternyata Papahnya memang berada di situ bercengkrama dengan sangat akrab.


"Vin, ada apa menyusul Papah?" tanya Bambang ketika melihat motor Vino berhenti tepat di depan warung Yanto.

__ADS_1


"Hanya ingin saja, bosan di rumah," balas Vino kemudian turun dari motornya dan duduk di dekat Bambang.


"Jika bosan, kenapa tidak ikutan saja dengan Riana dan yang lainnya?" usul Yanto.


"Ikutan apa emangnya?" tanya Vino penasaran.


"Setiap bulan Ramadhan, Riana dan yang lainnya suka bikin es campur, kemudian mereka jual, keuntungannya mereka simpan buat di bagikan kepada anak yatim-piatu."


"Masya Allah! benarkah itu? mulia sekali mereka." Bambang kagum akan keluarga Yanto yang memang dari dulu selalu berbagi.


"Alhamdulillah," balas Yanto yang juga merasa bangga kepada anak dan keponakannya.


"Kamu ikut juga, Vin! dari sini kamu bisa belajar berbagi."


Vino terdiam sejenak, dia juga berfikir selama ini dia hanya bisa membuat ulah dan menghamburkan uang Papahnya. Mungkin ini saatnya dia memulai untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"Vino mau, tapi kapan itu akan di mulainya?"


"Biasanya habis Dzuhur mereka sudah mulai bikin, lalu mereka jual di perempatan dekat kecamatan."


"Itu Riana, sepertinya mau mengambil bahan-bahan kesini." Tunjuk Yanto ketika melihat anaknya menuju warung.


Yanto memang suka menyediakan bahan es campur saat di bulan Ramadhan seperti ini.


"Pak, mau ngambil bahan es campur," ucap Riana ketika sudah sampai di warung.


Yanto pun mengambil bingkisan yang anaknya pesan.


"Ini uangnya," Riana menyodorkan uang hasil patungan antara dia kawan-kawannya dan juga Latif.


Bambang dan Vino cukup bingung saat Riana memberikan sejumlah uang kepada Yanto.


Riana hanya tersenyum melihat kebingungan kedua orang itu.


"Kamu ajak nak Vino untuk bergabung dengan kalian ya!" titah Yanto.


"Baik, pak. Ayo!" ajak Riana kepada Vino.


Sedangkan Bambang pamit untuk pulang karena sudah terlalu lama mengobrol dengan Yanto.


****


Mohon maaf jika tulisan saya masih acak-acakan, ini baru pertama kalinya saya menulis novel.


Dan jangan lupa juga follow ig aku ya!


@ai.sah562

__ADS_1


__ADS_2