
Dalam kelas
Semua kelas Riana mendadak hening ketika guru baru MTK masuk. Bukan karena takut, tapi karena takjub akan ketampanan guru itu.
"Selamat pagi semuanya!" ucap Alvin.
"Pagi, pak," jawab mereka kompak.
Alvinpun mulai mengajar, menjelaskan, bahkan memberikan contoh soal agar para muridnya faham.
"Kalian mengerti?" kata Alvin
"Mengerti, pak."
"Bagus! jika mengerti maka saya akan memberikan soal lagi, tapi kali ini kalian yang ngisi di depan!"
Alvin menuliskan beberapa soal latihan di papan tulis.
"Silahkan! siapa yang ingin maju duluan?"
Dari mereka tidak ada yang berani menjawab.
"Baiklah, jika tidak ada yang maju, maka saya yang akan menunjuknya!" kata Alvin tegas. "Kamu, Riana!" tunjuk Alvin kepada Riana, dan Rianapun mendongak. "Isi semua soal yang ada di depan!" kata Alvin.
"Hah!" ucap kompak Riana dan Keisya, mereka cukup kaget atas permintaan gurunya itu.
"Sebanyak itu?" tanya Riana memastikan, karena sepuluh soal terpangpang di depan.
"Iya, maju!" ucap Alvin tegas tanpa ada penolakan.
"Tapi, Pak.."
"Maju!" Alvin kembali menegaskan perintahnya.
Riana membuang nafasnya secara kasar, dia berdiri dan mulai maju ke depan. Kemudian dia mengisi soal itu dengan berfikir penuh keseriusan karena dia harus mengingat setiap rumus, setiap penjelasan yang Alvin berikan, lalu ia tuangkan ke dalam tulisan di depan.
Tak lama kemudian Riana mampu menyelesaikan tugasnya. Dia ingin beranjak duduk tapi lagi-lagi Alvin mencegahnya.
"Mau kemana kamu?"
"Mau duduk, Pak," jawab Riana.
"Siapa yang menyuruhmu duduk? berdiri dulu di situ!" titah Alvin untuk berdiri di sampingnya.
"Kan tugasnya sudah selesai, jadi saya mau duduk," balas Riana.
"Diam di situ!"
Riana mencebik kesal, tapi dia menuruti perintah Alvin.
"Kalian tulis contoh soal itu! lalu kalian kerjakan soal di LKS halaman 30!"
"Baik, Pak."
Riana memanyunkan bibirnya, dia merasa kesal dengan guru yang satu ini. Dalam hati dia menggerutu, "Dasar aneh."
Kaki Riana sudah mulai pegal, dia sudah menyenderkan tubuhnya ke dinding, sudah menggerak-gerakkan kakinya agar tidak pegal.
Alvin sempat melirik ke Riana, dia menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. "Menggemaskan," ucap batinnya.
Semakin lama Riana semakin merasakan pegal, tubuhnya mulai tidak seimbang sehingga ia ingin jatuh tapi tiba-tiba ada tangan yang mencekal pinggangnya dan dengan replek Riana memegang pundak orang itu.
"Hati-hati!" kata Alvin mendongak.
__ADS_1
Riana menunduk, mata keduanya saling mengunci. Alvin tak kuasa menahan gejolak rasa yang berada di dada, jantungnya dag dig dug bagaikan genderang mau perang.
Alvin melepaskan rangkulannya, dan Rianapun melepaskan pegangannya setelah mendengar para murid saling berdehem.
Alvin berusaha menetralkan kegugupannya, dia kembali memasang wajah dinginnya.
Tet tet teeettt
Bel istirahatpun berbunyi.
"Saya rasa sudah cukup untuk pelajaran hari ini. Untuk tugasnya, kalian kerjakan di rumah, dan besok kalian kumpulkan!" ucap Alvin sambil membereskan buku-buku di mejanya.
"Baik, Pak."
"Kalau gitu saya permisi, dan Riana, tolong kamu hapus semuanya!" kata Alvin kembali menyuruh Riana menghapus coretan di papan tulis.
"Iya, Pak," jawab Riana.
Alvin segera berlalu dari kelas itu, tapi tangannya memegang dada yang masih dag dig dug ser dengan senyuman yang terus mengembang.
tingkahnya tidak luput dari pandangan Deni dan Yusuf yang lebih dulu keluar kelas ingin menghampiri kelas Riana.
"Suf, pak Alvin kenapa, kok aneh gitu?" tanya Deni berbisik.
"Gue juga tidak tahu, tapi dia memegang dadanya sambil tersenyum, aneh kan?"
"Aneh sekali, apa dia sedang jatuh cinta?" tanya Deni kembali.
"Mungkin," balas Yusuf yang masih memperhatikan tingkah Alvin.
"Dor!" suara seseorang mengagetkan mereka berdua.
"Eh dor dor dor," ucap Yusuf terlonjak kaget sambil tangannya memperagakan orang yang sedang menembak.
"Issh, kau ini mengagetkan saja!" kata Yusuf kesal, dia memiting kepala Riana dan menggelitikinya.
"Hahaha ampun! geli a, ampun!" ujar Riana tertawa.
"Terus Suf, sampai dia kapok!" saut Deni mengompori.
Riana menggeliat kegelian dan suaranya ngos-ngosan karena capek tertawa.
"Udah ah, capek!" kata Yusuf menyudahi.
"Sama," balas Riana.
kemudian mereka duduk di depan kelas.
"Ada yang mau ke kantin tidak!" tanya Deni.
"Aku," ucap Keisya mengankat tangannya.
"Asyik di temenin bebeb Keisya," kata Deni sumringah.
Keisya mencebik, Deni hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Aku titip ya, seperti biasa, dan sisanya kalian jajankan saja!" Riana menyodorkan uang dua puluh ribu kepada Keisya.
Yang di maksud seperti biasa adalah makanan kesukaan Riana, yaitu batagor kuah, minumnya pop ice rasa alpukat, sukro.
"Gue ikut!" kata Yusuf tiba-tiba.
"Ck, kalau ada bonus atau gratisan pasti lo langsung nyaut," cebik Deni.
__ADS_1
"Harus dong, rezeki tidak boleh di tolak." Yusuf mengambil uang yang berada di tangan Keisya lalu duluan pergi ke kantin.
"Mata duitan lo!" cibir Keisya.
"Bodo amat!" teriak Yusuf.
Keisya dan Deni menyusul Yusuf, dan Riana hanya tersenyum, lalu ia mengambil handphone, seperti biasa membuka sosmednya.
Tidak lama kemudian Keisya, dan Deni sudah kembali membawa pesanan Riana, sedangkan Yusuf pergi ke toilet dulu. Mereka bergurau, bercanda penuh tawa, sesekali Deni mencubit gemas pipi Riana atau mengelus kepala sepupunya itu.
Tanpa mereka sadari, kebersamaan mereka selalu di perhatikan oleh Vino. Dia merasa kesal saat Deni memperlakukan Riana seperti itu.
Tingkah Vino tak luput dari pandangan Candra, dia melirik ke arah Vino memandang, barulah dia tahu jika pandangan Vino tertuju ke Riana.
Vino segera berjalan ke arah Riana.
"Vin, mau kemana?" cegah Candra memegang pundak Vino.
Tanpa mendengar ucapan Candra, Vino segera berlari menghampiri Riana. Dengan tiba-tiba dia duduk di antara Deni dan Riana, mendorong Deni agar menggeser duduknya.
Tingkah Vino membuat mereka bingung, mereka bertiga saling lirik dan mengangkat bahunya seolah bertanya tidak tahu.
Candra pun terbengong melihat Vino yang seperti itu.
"Can, tuh anak kenapa? kok aneh?" tanya Yusuf tiba-tiba.
Saat kembali dari toilet Yusuf sempat memperhatikan tingkah Vino yang terus melihat ke arah Riana. lalu Yusuf perlahan menghampiri mereka berdua.
Candra menoleh ke asal suara, "Jatuh cinta kali," jawab Candra asal.
"Maksud lo?" Yusuf bertanya kembali memastikan pendengarannya dia bingung atas apa yang di bicarakan Candra.
"Jangan banyak mikir, mending kita susul dia!" ajak Candra merangkul pundak Yusuf.
Yusuf yang sedang berfikir mengikuti Candra, dia menoleh ke arah Candra lalu mendorongnya agar memberikan jarak.
"Jangan pegang-pegang juga kali!"
"Jangan gitu bang, sini dekat Eike!" Candra mengisengi Yusuf, dia mencolek dagu Yusuf, mengedipkan matanya dengan centil serta suara yang kemayu.
"Lo kenapa? cacingan? geli gue lihatnya!" Yusuf bergidik ngeri kemudian berlari menghindari.
"Bang jangan lari, tungguin Eike bang!" ucap Candra dengan berlari menyusul Yusuf.
"Ogah!" teriak yusuf.
Namun tiba-tiba....
Sreettt....
Blugg...
"Aawww," Yusuf meringis memegangi pinggangnya.
Semua orang tertawa melihat Yusuf yang jatuh tepat di hadapan kelompok Riana. Yusuf jatuh karena lantai terasa licin.
"Aduh, Abang! kan, Eike udah bilang jangan lari! tungguin eike!" Candra semakin menggoda Yusuf dengan suara kemayunya.
"Abang tungguin Adek! kalau siang jadi Candra, kalau malam jadi apa, Kei?" ledek Deni.
"Caca marica," ucap kompak Deni dan Keisya.
"Sialan lo," Candra mencebikkan bibirnya dengan kesal.
__ADS_1
Tawa mereka semakin pecah saat Deni dan Keisya ikut meledek Candra.