
"Ri!!" ucap kompak Keisya Deni, dan Yusuf.
Mereka melototkan matanya tidak percaya jika Riana akan melakukan itu.
Riana sudah bertumpu dengan kedua lututnya sambil menunduk.
"Saya Riana, ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Vino dan Marisa di hadapan kalian semua sebagai saksi."
"Vino, maaf jika kemarin saya menumpahkan minuman dan merusak bajumu, dan Marisa, maafkan saya karena kehadiran saya membuat kamu bisa melakukan hal serendah itu."
"Sebelum kalian meminta maaf, maka di sini saya akan memaafkan kalian terlebih dulu." Lanjut Riana kemudian bangkit berdiri masih dengan menundukan wajahnya.
"Ngapain kamu berdiri? cium kaki saya!" bentak Vino.
"Saya tidak akan bersujud di kakimu karena kamu bukan Allah yang harus saya sembah!" kata Riana tegas kemudian dia mendongak menatap mata Vino dengan air mata yang sudah meluncur membasahi pipi mulus Riana.
Deg!
Vino tertegun ketika melihat mata bening itu mengeluarkan air mata, ada rasa gundah yang menyeruak kedalam relung hatinya.
"Terima kasih, atas pelajaran yang kalian berikan kepada saya! saya bisa memahami bahwa orang tidak akan semuanya bisa menerima kehadiran saya!"
"Seberapa keras pun saya berusaha menjelaskan, jika kalian membenci maka kalian tetap tidak akan percaya."
"Halaahh, pembohong, pelakor!" umpat Marisa kesal karena Vino malah terdiam menatap mata Riana.
"Puas kalian! ini kan yang kalian inginkan, mempermalukan Riana di hadapan semua orang!" bentak Keisya marah, di mendorong Vino hingga Vino mundur tapi tatapannya masih menatap Riana.
Keisya menarik tangan Riana untuk meninggalkan lapangan itu.
Deni, dan Yusuf mengepalkan tangannya, dari tadi mereka sudah menahan amarah. Kali ini Deni tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Bug!
Satu pukulan keras Deni layangkan kewajah Vino sampai Vino tersungkur.
"Vino!" ucap Marisa kaget, dia berusaha membantu Vino berdiri tapi di tepis oleh Vino.
"Kalian sampah! kalian memang cocok, sama-sama sampah!" umpat Deni lalu pergi menyusul Riana.
"Kau pemilik anak yayasan bukan? seharusnya kau mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi! tanpa kalian sadari banyak cctv tersembunyi yang terpasang di penjuru sekolah," ucap Yusuf yang pernah melihat cctv terpasang baik di koridor sekolah atau di dalam kelas.
"Jika kau sudah menemukan siapa yang salah dan siapa yang benar, saya harap sekolah memberikan sangsi yang berat bagi si pemberi fitnah itu!" kata Yusuf tegas, penuh penekanan, dan menatap tajam Marisa.
Marisa yang tidak tahu jika ada cctv menjadi gemetar, kemungkinan besar setiap prilakunya terekam dengan jelas.
Yusuf berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Vino semakin tertegun dengan perkataan Yusuf barusan, sekarang dia semakin tidak karuan jika apa yang ia lakukan terbukti salah.
Vino bangkit, dia menatap sekeliling lapangan yang sudah banyak orang untuk melakukan upacara, lalu dia pergi ke ruangan komputer yang terhubung dengan cctv meninggalkan Marisa yang masih terbengong penuh ketakutan.
__ADS_1
****
Dalam kelas
Riana duduk melipatkan kedua tangannya di meja lalu ia menelusupkan wajahnya di sela kedua tangannya.
Keisya hanya setia menemani tanpa berniat mengganggu, tak berselang lama Deni masuk.
"Bagaimana?" tanya Deni berbisik.
Keisya hanya menjawab dengan gelengan saja. Deni menghelakan nafasnya secara kasar, dia ikut duduk di bangku yang ada di depan Riana. Tak lama kemudian Yusuf ikut bergabung dengan mereka.
Dalam diamnya ternyata Riana sedang menangis, hati mana yang tidak merasakan sakit saat di tuduh yang tidak-tidak. Mereka hanya melihat dari pandangan mereka saja tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Riana hanya manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa merasakan kecewa, sakit hati, bahkan marah. Riana juga malu karena seumur hidupnya baru kali ini dia di permalukan orang di hadapan banyak orang pula.
Dalam tunduknya Riana menghapus air mata secara kasar, dalam hati dia terus beristighfar agar hatinya merasa lebih tenang.
"Ri, are you okay?" tanya Deni memastikan, dia mengusap kepala Riana dengan sayang.
"Yes, i'm fine, you don't worry too much," balas Riana sambil mengangkat wajahnya dan menegakkan duduknya.
Terlihat mata Riana sedikit membengkak serta hidung memerah karena menangis.
"Ck, make bahasa Inggris sagala, urang teu ngarti, nyaho teu?" cibir Keisya kesal karena dia paling sulit jika soal bahasa Inggris.
( Ck, pakai bahasa Inggris lagi, aku tidak mengerti, tahu tidak? )
"Di ajarin sampai bisa?" tanya Keisya.
"Di ajarin ngegombal," balas Yusuf terkekeh.
Keisya cemberut, dengan kesal dia keluar untuk mengikuti upacara. Sedangkan Riana merasa terhibur dengan adanya mereka sekarang.
"Apa kamu mau ikut upacara?" tanya Yusuf.
"Sebenarnya males, tapi ya sudah ayo!" ucap Riana.
Merekapun keluar secara bersamaan, Deni dan Yusuf merangkul pundak Riana untuk memberikan kekuatan dan untuk memberikan perlindungan jika mereka berdua berada bersama Riana.
Riana tersenyum ke mereka secara bergantian, "Terima kasih, sudah mau menjadi sepupuku!"
"Hei, ngomong apa kau ini! kita memang sepupu asli, kamu itu adik bungsu sepupu, dan kau yang tercantik di antara kami semua." Kata Yusuf sambil tangannya menjawil dagu Riana dengan gemas.
"Ucapanmu ngelantur, Ri." saut Deni.
Mereka terus berjalan ke arah lapangan, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang memperhatikan ketiganya. Salah satu darinya merasa bersalah dan salah satu lagi bertanya-tanya kenapa mata Riana bisa sembab.
****
__ADS_1
Jam istirahat
Riana mengambil handphone nya dari dalam tas, dia membuka sosmed lalu memposting sesuatu.
📲 Terkadang Allah selalu menguji umatnya dengan hal yang tidak pernah terduga (sabar).
Begitulah postingannya.
"Riana, ke kantin yuk!" ajak Keisya yang sedang membereskan buku pelajarannya.
"Males ah, kamu aja! tapi aku titip batagor kuah sama minumannya pop ice!" jawab Riana tapi matanya fokus ke handphone men scroll status orang.
"Gue nitip Kei!" celetuk Deni tiba-tiba, dengan biasa kedua sepupu Riana menghampiri kelas Riana.
"Beli saja sendiri! ogah gue," ucap Keisya dengan sewot.
"Ayolah Kei! demi Riana!" ucap Deni memohon dan matanya melirik ke arah Riana, Keisya pun mengerti dan akhirnya dia pergi ke kantin bersama Yusuf.
Tring, suara notifikasi pesan kembali berbunyi.
📩 Hai, Riana. Bagaimana harimu? apakah menyenangkan?
Riana yang sedang gabut pun membalasnya.
📨 Hari ini cukup buruk. 😔
📩 Why? are you okay?
📨 I'm fine.
📩 Jika kamu butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahmu aku siap menjadi teman curhatmu.
📨 Terima kasih, lain waktu saja.
📩 Aku tunggu waktu itu tiba.
Tingkah Riana tidak luput dari pandangan Deni, dia merasa aneh karena tidak biasanya Riana terlalu lama memegang handphone nya.
"Siapa?" tanya Deni penasaran.
"Apanya?" jawab Riana datar, mata dan tangannya masih fokus ke aplikasi FB nya.
"Orang yang sedang chattingan sama kamu?"
"Vino saja."
"Hah! maksudmu si Vino brengsek itu?" tanya Deni kaget.
Riana mendongak, "Bukan! aku juga tidak tahu, tapi aku yakin bukan dia orangnya."
__ADS_1
Deni mangguk-mangguk mendengar ucapan Riana. Riana sendiri masih melihat sosmed nya. Terkadang sosmed menjadi salah satu tempat curahan di saat kita sedang gabut.