KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Dasar Aneh!


__ADS_3

Setelah di katakan sah, kedua mempelai itu melakukan sungkeman meminta doa restu kepada orang tua mereka. Riana tidak bisa berhenti menangis ketika memeluk ibunya.


Tangis yang terasa pilu, tangis kesedihan, tangis kekecewaan semuanya menjadi satu dan ia curahkan lewat tangisannya.


Tidak ada yang tahu tentang perasaan Riana kecuali sang ibu. Ani terus menerus mengusap punggung anaknya berusaha memberi kekuatan sang putri.


"Sekarang Teteh sudah menjadi istri. Mamah pesan, jadilah istri Salehah, nurut apa kata suami selagi dalam jalan kebenaran. Maafkan Mamah, jika Mamah memiliki salah sama Teteh."


Ani mengecup kening Riana penuh perasaan. Dia mengusap air mata yang terus mengalir di pipi anaknya. "Berbahagialah! Jangan menangis lagi!"


Riana mengangguk, tak banyak kata terucap dari bibir mungil Riana. Riana menggeser tumpuannya, berpindah ke hadapan Yanto.


"Pak," lirih Riana ketika berada di hadapan Bapaknya.


Yanto langsung memeluk Riana, matanya berkaca-kaca, atas apa yang telah anaknya korbankan. Tadi dia sempat mendengar pembicaraan Ani dan putrinya mengenai pernikahan ini. Yanto sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin membatalkan, sudah terlanjur terlaksana dan tinggal satu langkah lagi yaitu ijab qobul. Dia hanya berdoa agar anaknya bahagia, ikhlas menerima takdir yang Tuhan berikan untuknya.


"Maafkan Bapak, Teh." Hanya itu saja ucapan dari Yanto sebab ia tak mampu berbicara apapun selain meratapi nasib putrinya yang rela berkorban demi dia.


"Teteh minta doanya agar Teteh kuat dan bisa menjalani takdir ini dengan ikhlas, Pak." Bisik Riana ketika dia berada di pelukan sang Bapak.


"Bapak akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya."


Yanto melepaskan pelukannya kemudian mencium pucuk kepala anaknya.


****


Saat Alvin mengaktifkan data internet, matanya melotot kaget ketika melihat sederet pesan dan panggilan ke WA nya.


Yusuf mengernyit, dia bingung melihat Alvin syok dan tertunduk lesu.


"Apa yang terjadi?" tanya Yusuf penasaran.


Alvin tak bisa menjawab, dia terkejut dengan apa yang telah terjadi. Dia menyodorkan benda pipihnya ke Yusuf agar lelaki itu membaca sendiri apa yang tertera di dalam pesan.


Yusuf mengambilnya dan membaca setiap kata yang ada.

__ADS_1


📩 Ka, aku butuh bantuanmu. Bapak kecelakaan dan membutuhkan biaya banyak. Kalau boleh, aku ingin meminjam uang kepada Kaka.


📩 Kenapa tidak di balas ka? Apa kau marah padaku? tolong aku! waktuku tidak banyak, aku harus segera membayarnya.


📩 Sudah lima hari kenapa no mu masih tidak aktif juga? hanya kamu satu satunya yang ku harapkan untukku minta bantuan. Tapi, kenapa sulit ku hubungi.


📩 Maafkan aku ka Vino, aku harus mengakhiri kisah kita. Aku akan menikah Minggu ini, aku terpaksa melakukannya, Ka. Terima kasih atas waktu, perhatian, cinta dan kasih sayang yang Kaka berikan untukku. Maaf, aku mengecewakanmu, dan maaf, aku tidak bisa menikah denganmu karena aku sudah menerima pinangan orang lain.


Yusuf sejenak terdiam setelah membacanya.


"Apa mungkin Riana menerima Vino hanya demi uang untuk biaya pengobatan bapaknya?" gumam Yusuf penuh tanya.


"Saya terlambat, Suf. Saya baru membukanya setelah kembali dari Depok. Sekarang dia sudah menikah dan saya harus mundur karena tidak mungkin lagi bisa memilikinya." Alvin tertunduk lesu, semangatnya mendadak pudar, hidupnya terasa hampa setelah di tinggal nikah.


"Kita tidak pernah tahu takdir Tuhan, saya juga baru tahu jika kalian sering komunikasi seperti ini. Riana pernah bilang jika dia menyukai seseorang tapi tidak tahu wajahnya. Jadi, pria itu gurunya sendiri," kata Yusuf terkekeh.


Alvin tersenyum miris, deringan telpon mengalihkan perhatian mereka. Ternyata Maya yang menelpon. Dia tidak menggubris panggilan Mamanya.


Alvin hanya ingin menenangkan dirinya. Yusuf sempat melihat wajah Alvin, dia merasa iba akan kisah cinta kedua orang ini. Yusuf hanya bisa berdoa keduanya di berikan kebahagiaan.


****


Riana yang sedang duduk dekat Vino hanya menampilkan senyuman tipis saja.


"Gue titip dia, jangan kau sakiti dirinya!" kata Keisya menatap Vino penuh peringatan dan ancaman.


"Siap, gue akan selalu ingat pesan kalian. Dan gue akan berusaha membahagiakan istriku ini," jawab Vino menatap sayang Riana dan merangkul pinggang nya dari samping.


Riana tertunduk malu ketika di tatap seperti itu oleh seorang pria.


"Cieee, sepupu gue malu-malu." Ledek Deni yang juga ikut bergabung bersama pengantin.


Mereka berempat sedang menyantap makanan dan sekarang mereka berada di taman belakang rumah sesuai keinginan Riana yang tidak mau keramaian.


"Eh, si Yusuf kemana?" tanya Vino yang baru ngeh jika tidak ada Yusuf.

__ADS_1


"Astaga! Gue baru ngeh. Pantesan dari tadi merasa ada yang kurang, rupanya Yusuf." Timpal Deni yang juga baru sadar tidak ada salah satu sepupunya.


"Tidak biasanya tuh anak ngilang gitu saja?" sahut Keisya sambil mengunyah nasi.


"Mungkin sedang ada urusan di luar," jawab Riana berusaha berbicara senormal mungkin.


"Kalau makan ice cream jangan belopotan, sayang." Vino membersihkan sisa ice cream di bibir Riana menggunakan ibu jarinya.


Riana yang di perlakukan seperti itu jadi salah tingkah, dia menunduk malu, wajahnya sudah memerah.


"Te terima kasih," jawabnya terbata.


"Ehemmm, kita jadi nyamuk, Den." Sindir Keisya merasa panas melihat perhatian Vino pada Riana.


"Aku juga mau di perhatikan seperti itu," celutuk Keisya menatap so sweet ke arah keduanya.


"Kamu mau? Sini aa yang suapin kamu makan!" Sahut Deni menyodorkan satu sendok ice cream ke mulut Keisya. Karena terlalu fokus memperhatikan orang yang ada di depannya, Keisya menerima suapan itu.


"Keisya! Itu bekas Deni!" pekik Riana terkejut.


Keisya tersadar dari kekagumannya. "Maksudnya gimana?" tanya Keisya bingung.


"Kalian makan ice cream satu sendok bersama, secara tidak langsung kalian melakukan kissing!" jelas Riana menatap Keisya dan Deni secara bergantian.


"Hah!" Keisya terlonjak kaget, dia menatap ke arah Deni. Deni hanya tersenyum menaik turunkan alisnya menggoda Keisya.


"Deniiii! Kenapa loe gak bilang jika itu bekas loe?" pekik Keisya kesal.


"Loe gak nolak, jadi gue terusin saja. Nih, ice cream nya habis oleh kita." Deni mengangkat wadahnya yang sudah kosong.


"Denii! Loe jahat!" Pekik Keisya lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


Deni melongo melihat tingkah Keisya.


"Dasar aneh!" cebik Deni bingung.

__ADS_1


Vino dan Riana sudah tertawa melihat kekesalan Keisya. Menurut mereka Keisya lucu seperti anak kecil yang sedang marah.


__ADS_2