
Jakarta
Semenjak di tinggal nikah, Alvin berubah menjadi pendiam. Alvin yang biasanya banyak bicara, Alvin yang biasanya ceria, kini berubah menjadi dingin tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Lelaki maco berwajah tampan itu hanya akan mengeluarkan kata seperlunya dan sepentingnya saja.
Alvin yang sekarang, selalu sibuk dengan pekerjaannya. Berangkat pagi, pulang malam, terkadang ia suka menginap di kantornya. Keluarga sudah melakukan cara apapun agar Alvin kembali ceria, termasuk mencarikan wanita untuknya.
"Aku sudah bilang jangan main menjodohkan aku, Mah! Saat ini aku ingin fokus pada pekerjaanku!" tolak tegas Alvin ketika Maya mau memperkenalkan Alvin kepada salah satu anak temannya.
"Sampai kapan kamu seperti ini terus, Vin? Mama tidak mau kamu terus menerus terpuruk karena di tinggal nikah! Move on, Vin! Wanita masih banyak! Lupakan dia! Riana sudah menikah." Balas Maya menatap anaknya penuh permohonan.
Keduanya sedang berada di meja makan. Maya berniat menjodohkan Alvin, namun niatnya malah di tolak tegas oleh sang anak.
"Aku tahu dia sudah menikah, aku juga tahu wanita masih banyak. Tapi, ini masalah hati, Mah. Hati aku yang belum siap untuk menerima wanita lain. Mama juga tahu 'kan, bagaimana rasanya kehilangan orang yang Mama cintai? aku pun butuh waktu untuk melupakannya, sama seperti Mama yang butuh waktu untuk menerima kepergian Papa."
Maya terdiam, apa yang di katakan Alvin ada benarnya juga. Ketika kita mencintai seseorang dan orang itu pergi meninggalkan kita, butuh waktu untuk mengikhlaskan dan melupakannya. Semuanya tidak semudah membalikan telapak tangan, semua butuh proses, dan proses itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Apalagi untuk melupakan, sungguh terasa sulit. Sampai kapanpun seseorang akan susah melupakan orang yang pernah ada di hatinya walau sudah menjadi mantan.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk mu, Vin." ujar Maya menatap lembut anak bungsunya.
"Terkadang apa yang terbaik menurut manusia merupakan terburuk bagi Allah. Begitupun sebaliknya, apa yang menurut kita bukan terbaik namun bagi Allah itu yang terbaik. Kita harus yakin jika Allah telah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku. Maka dari itu Alvin mohon kepada Mama untuk tidak menjodohkan Alvin!" ucap Alvin memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.
Maya menghelakan nafasnya secara kasar, jika sudah begini dia hanya bisa pasrah akan pilihan anaknya. Maya bukan tipekal ibu yang suka memaksakan kehendak. Dia akan mendukung setiap keputusan anak-anaknya selama itu di jalan yang benar.
Terdengar sebuah notifikasi masuk ke benda persegi yang menurut semua orang penting. Maya melihat siapa orang yang sudah mengirimkan pesan karena itu di kirim ke group. Seketika matanya melotot kaget saat melihat pengumuman terpangpang jelas di layar ponselnya.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun!" ucap Maya.
__ADS_1
"Ada apa, Mah?" Alvin penasaran yang di lihat Mamanya sampai terlihat syok seperti itu.
Maya mendongak, menatap wajah Alvin. "Vino anaknya om Bambang meninggal dunia tadi subuh pukul 04.30" jawab Maya dengan raut wajah terkejut.
Deg..! Seketika Alvin tertegun, dia ikut terkejut mendengar penuturan dari Maya. Langsung saja pikirannya tertuju kepada sosok wanita yang ia cintai. "Riana, Mah!" pekik Alvin khawatir. Alvin segera bangkit dari duduknya ingin beranjak pergi.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau kesana! Aku mau memastikan Riana baik-baik saja, Mah!" jawab Alvin.
"Mama ikut! Kita kesananya barengan dengan Kakamu juga!" balas Maya ikut berdiri kemudian keduanya beranjak ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian.
****
Di kediaman Bambang sudah terlihat banyak orang melayat. Mereka turut berbelasungkawa atas meninggalnya Vino.
Ani terus merangkul putrinya dari samping, dia tidak kuasa melihat kesediahan anaknya. "𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘕𝘢𝘬. 𝘋𝘪 𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢." 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘴𝘪𝘯.
Riana memeluk tubuh suaminya yang terbaring kaku. Gadis itu merasa kehilangan, dia menolak kenyataan di hadapannya. Dirinya belum siap di tinggalkan suami. "Kenapa kamu pergi secepat ini? Kenapa di saat aku mulai membuka hati kamu malah ninggalin aku?" lirih Riana pelan di telinga Vino.
"Sayang, kamu harus kuat!" Laras tidak tega melihat menantunya terus menangis. Dirinya membangunkan Riana lalu memeluk tubuh lemah itu
"Kenapa a Vino ninggalin aku, Mah? Padahal kita sudah merencanakan masa depan kita. A Vino sudah janji akan membahagiakan aku lalu kenapa sekarang dia pergi?" gumam Riana ketika berada di pelukan mertuanya.
Laras terus mengusap punggung Riana yang terguncang akibat menangis. Ani juga ikut menangis melihat kondisi anaknya.
"Mah, kita harus segera menyalatkan Vino." ucap Bambang pada Laras.
__ADS_1
Laraspun mengangguk. Jasad Vino di bawa ke mesjid untuk di solatkan kemudian segera di kebumikan.
****
Sebagian orang telah meninggalkan area pemakaman. Tinggallah keluarga Vino dan Riana. Mereka berjongkok berdoa dengan khusu untuk ketenangan Vino. Setelah selesai, Mereka ingin membubarkan diri
"Kami turut berdukacita atas meninggalnya suami kamu, Ri," kata Keisya yang berada di belakang Riana. Riana menoleh dan mengangguk.
"Maaf, kami datang terlambat." Kata seseorang yang baru saja sampai ke pemakaman.
"Tidak apa-apa, May. Jarak Jakarta Bandung cukup jauh. Jadi kami memakluminya," jawab Bambang.
"Kami turut berbelasungkawa. Semoga amal ibadah Vino di terima dan semoga Vino di tempatkan di tempat yang terbaik menurut-NYA Aamiin," ucap Maya.
"Aamiin, terima kasih kalian sudah bersedia datang." Balas Laras memeluk Maya.
Alvin menepuk-nepuk pundak Iqbal. "Semoga keluarga kalian di berikan ketabahan." Kata Alvin ketika bertemu Iqbal.
"Thanks, bro." Balas Iqbal ikut menepuk pundak Alvin.
Lalu Alvin yang berada di samping Maya menatap pokus ke wanita di hadapannya. Hati Alvin teriris melihat keadaan Riana, wajah putihnya terlihat pucat, matanya sudah sembab akibat kebanyakan menangis, keadaannya terlihat kacau. Perlahan dia ikut berjongkok di hadapan Riana, pria itu ikut memanjatkan doa.
Setelah semuanya selesai, sebagian dari keluarga Bambang meninggalkan tempat itu. Riana sendiri masih ingin berada di sana.
"Kita pulang ya sayang!" ajak Yanto pada Riana.
Riana pun berdiri, dan Yanto merangkul pundak anaknya menopang tubuh lemah sang anak. Kemudian mereka semua meninggalkan area pemakam.
__ADS_1