
POV RIANA
"Sebentar saja, sayang. Aku ingin seperti ini dulu," balas Alvin semakin mengeratkan pelukannya.
Aku tidak bisa menolak keinginan kak Alvin, kini dia adalah suamiku yang berhak melakukan apapun terhadapku dan termasuk memelukku.
Tubuhku kembali melayang di kala Kak Alvin kembali menggendongku. Dia menaruh tubuhku di ranjang secara perlahan penuh kehati-hatian.
Jantungku berdebar dan semakin berdebar kencang saat dimana dia mencium keningku penuh perasaan. Mengecup setiap kelopak mataku dengan lembut dan menyesap bibirku penuh kehati-hatian seakan takut menyakiti bibiku.
Aku bisa merasakan perasaannya lewat tindakan yang ia lakukan kepadaku. Tak ada laki-laki sesetia dirinya, tak ada laki-laki yang rela menungguku selama ini selain dia. Menurutku hanya dia lelaki pertama yang cintanya begitu besar dan juga tulus terhadapku meski ku tahu ada almarhum suamiku yang juga tulus mencintaiku.
Aku tak bisa menolak kelembutannya dalam setiap sentuhan dan dalam perlakuannya saat ini. Aku terbuai, aku terlena, aku tergoda di kala tangan dan bibirnya terus menyusuri setiap lekukan tubuhku. Tanpa sengaja akupun mengeluarkan suara lenguhan merdu yang begitu manja sehingga membuat ia semakin buas memangsa.
Aku mengalungkan kedua lenganku ke lehernya sesekali meremas rambut suamiku di kala dia semakin semangat mengulum salah satu buah simalakama secara bergantian.
Lenguhan itu semakin menjadi di saat sebuah rasa yang tidak bisa di ungkapkan lewat kata merasuk ke dalam tubuhku di kala suamiku semakin liar tak terkendali.
Perlahan tangannya mulai melepaskan sisa pakaian yang ada di tubuhku. Dia juga berusaha melepaskan pakaiannya sambil menatapku penuh cinta dan naf*u. Kabut gairah sudah merasuk kedalam tubuh kami berdua, dan hawa yang tadinya dingin kini menjadi semakin panas.
Kak Alvin kembali memberhentikan aktivitas nya saat berusaha melepaskan kain terakhir yang menutup bagian miliknya. Pipiku terasa panas, aku malu saat tak sengaja mataku melihat milik dia yang sudah berdiri menantang dan diapun mengambil selimut menyelimuti tubuh kami berdua lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
Aku pasrah dan ikhlas memberikan jiwa dan ragaku untuk suamiku. Aku tidak ingin terlalu lama menyerahkannya. Aku bisa merasakan kak Alvin begitu kesusahan, bahkan akupun merasakan sakit di kala sesuatu di paksakan masuk.
"Kak," akupun mencengkram apa saja yang bisa ku gapai.
"Iya, sayang." Jawab Alvin berusaha keras menyatukan milik keduanya. "Kenapa susah sekali, sih?" batin Alvin.
__ADS_1
Setelah sekian kali percobaan, Kak Alvin berhasil membobol pertahanan ku. Milikku terasa terkoyak, sakit, perih, namun nikmat terasa menjadi satu.
"Kak, sakiiit...!!" pekikku mencengkram kuat punggung suamiku.
Saking teramat sakit, aku sampai meneteskan air mata dan menggigit bibirku. Namun aku bahagia karena suamiku lah pemilik kehormatanku.
"Sayang, kamu...!!" Alvin membelalakkan mata ketika merasakan ada sesuatu yang robek saat berhasil membobol gawang lawan.
"Lanjutkan, Kak! Ku mohon!" pintaku di kala milik ka Alvin masuk sempurna.
Meski terkejut, namun Alvin melanjutkan kegiatannya sampai mereka berdua benar-benar berada di puncak gunung tertinggi.
"Terima kasih sudah menjaganya untukku. Aku merasa surprise mendapatkan hadiah istimewa dari kamu." Alvin mengecup mesra kening istrinya dan memeluk erat tubuh Riana.
"Sama-sama, aku bahagia bisa memberikannya untukmu." Jawab Riana membalas pelukan suaminya.
"Perawan," kata Riana mengerti.
"Iya."
"Saat A Vino menikahiku, dia belum sempat menyentuhku karena aku dalam keadaan halangan. Ketika aku siap menyerahkannya, dia malah..." Riana menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar.
"Tidak usah melanjutkan ucapannya kalau kamu tidak sanggup bicara." Alvin memeluk erat Riana dari belakang.
Ada rasa bahagia dan sedih yang Alvin rasakan. Bahagia karena dialah orang pertama yang mengambil kehormatan istrinya dan sedih atas meninggalnya Vino. Namun ia bersyukur karena Riana sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Akan ada hikmah dari setiap kejadian yang terjadi. Seberapa besarpun cobaan yang kita alami, percayalah akan ada kebaikan yang tersemat dalam musibah tersebut.
__ADS_1
"Kak, aku ingin bertanya sesuatu. Tapi, aku minta kamu jawab yang jujur." Tanya Riana mengusap tangan Alvin yang ada di perutnya.
Dia membalikan badannya sehingga menghadap ke arah Alvin alhasil keduanya saling berhadapan. Tangan lentiknya mengusap rahang kokoh milik suaminya dengan lembut lembut.
"Tanya apa? aku akan menjawabnya secara jujur." Balas Alvin juga mengusap pipi sang Istri.
"Kenapa kamu mencintaiku? kenapa kamu mau menungguku selama ini? dan kenapa kamu bersedia menikahiku di saat masih banyak gadis lain yang lebih cantik dariku, lebih baik dalam segalanya dariku?" tanya Riana serius menatap bola mata Alvin penasaran.
"Karena kamu, takdirku." Ucap Alvin serius.
"Seberapa keras pun aku berusaha melupakanmu, seberapa jauh pun kita berada, seberapa lamapun kita terpisah jarak dan waktu, dan sekeras apapun aku menolak jika kamu takdirku maka akan kembali padamu. Apa yang telah di gariskan dan takdirkan untukku akan tetap menjadi milikku seperti kamu yang juga kembali kepadaku meski banyak rintangan menghadang. Dan yang pasti aku mencintaimu karena Allah." Lanjut Alvin menatap sayang istrinya.
Riana tidak bisa berkata apapun, dia langsung saja memeluk sang suami dan menangis di pelukan suaminya saking terharu mendengar perkataan suami. "Terima kasih sudah mencintaiku begitu dalam. Maaf aku pernah mengecewakan mu."
"Ssstttt, tidak ada yang salah. Semuanya sudah menjadi takdir hidup kita." Alvin membalas pelukan istrinya sesekali mengecup pucuk kepada dan kening sang istri.
Sampai beberapa saat keduanya saling berpelukan menyalurkan rasa cinta dan sayang. "Sayang, kamu membangunkan sesuatu."
"Kak, aku lelah." Lirih Riana memukul manja dada bidang suaminya.
"Sekali lagi ya, sayang." Pinta Alvin memohon.
Riana tak tega melihat suaminya memohon, dan akhirnya dia mengangguk. Keduanya kembali melakukan hubungan suami istri sampai benar-benar kelelahan dan ketiduran dalam posisi berpelukan.
Takdir, kita berdua sudah di takdirkan oleh yang maha kuasa. Kita akan tetap bersama meski banyak rintangan dan waktu memisahkan. Meskipun cinta kita pernah di uji dengan adanya kehadiran a Vino, meskipun cinta kita pernah di uji dengan jangka waktu lama, namun cinta kita akan kembali bersatu seiring berjalannya waktu yang telah di tentukan oleh Allah.
Kini kita sudah bersatu baik jiwa maupun raga, dan kini kami tinggal menikmati indahnya bahtera rumah tangga dalam suka maupun duka. Kita di pertemukan karena takdir dan di persatuan pula karena takdir.
__ADS_1
Ya kamulah takdirku, Kak Alvino. Kamu takdir yang Allah berikan untukku, untuk menemaniku di sisa hidupku, untuk membagi suka duka dalam segalanya, untuk menjadikanmu pelindungku setelah Bapakku karena aku adalah tulang rusukmu.