
"Pah, Mah, kue Chika mana? kok belum datang? aku udah pengen lihat bentuknya kaya apa?" Chika cemberut melipatkan kedua tangannya di dada.
"Sabar ya sayang, bentar lagi pasti nyampe." Stella membujuk anaknya supaya tidak ngambek.
"Mama mah gitu, main rahasiaan segala. Chika beneran penasaran."
"Siapa yang main rahasiaan, Chika?" Alvin turun dari kamar atas baru bergabung di ruang tamu.
"Mereka nih, Om. Masa mereka tidak ngasih tahu bentuk kuenya seperti apa? dekorasinya seperti apa? Chika kan penasaran ingin lihat." Adu Chika pada Alvin dan langsung duduk di pangkuan Alvin.
"Kaka mah aneh, beli kue di rahasiakan segala. Yang punya kue juga di rahasiakan segala. Emangnya siapa sih dia sampai harus Kaka tutupin edintitasnya? kalian pesan di toko mana?" tanya Alvin penasaran.
"Pokoknya dia masa depan kamu. Kami akan menjodohkan kamu dengannya." Ucap Stella menggoda adiknya sebab ingin tahu menolak atau tidak.
"Maksudnya dia wanita yang akan kalian jodohkan denganku?" Alvin terkejut, dia tidak mau di jodohkan.
"Iya. Kamu mau kan nikah sama dia? dia cantik, baik, Solehah, pekerja keras, dan yang pasti sangat spesial." Ucap Stella yakin.
"Gak, gak, gak! Aku tidak mau di jodohin seperti itu. Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Lagian aku masih mencintai dia, Kaka kan tahu itu." Alvin tidak setuju lebih tepatnya menolak perjodohan ini.
"Kamu harus mau, Vin! Sampai kapan kamu akan menunggu Riana terus? Mama ingin segera menimang cucu dari kamu sebelum Mama tiada," Sahut Maya.
"Kenapa jago gini?" batin Alvin.
"Kenapa kalian ngotot ingin menjodohkanku? dan kenapa Mama jadi ikuat seperti Ka Stella? dari awal aku sudah bilang kalau aku mencintai Riana, Mah."
"Kamu tidak bisa nolak, Vin. Kami sudah membicarakan ini sama keluarganya. Satu Minggu lagi kamu harus menikah dengannya, kami sudah melamar kan dia untukmu," balas Maya.
"Mah, kok gitu sih? kenapa kaka dan Mama jadi main jodohin aku? aku tidak mau." Pekik Alvin langsung meninggalkan tempat itu.
"Alvin, kamu harus menerimanya kalau tidak kamu akan menyesal." Ucap Stella tak kalah serius.
"Aku tidak mau..!" tolaknya tegas.
****
Kediaman Yanto
"Teh, ada yang ingin Bapak bicarakan sama kamu."
__ADS_1
Riana yang sedang mencatat bahan belanjaanpun berhenti kemudian mendongak menatap wajah Bapaknya. "Ada apa, Pak? sok atuh bicara saja, Teteh pasti denger."
"Bapak sudah menjodohkan kamu dengan anak teman Bapak, Nak. Dan satu minggu lagi kalian akan menikah." Kata Yanto yakin.
Deg...!
"Menikah? satu Minggu lagi? kenapa sebelumnya Bapak tidak memberitahukan ku dulu? aku belum siap dan tidak tahu siapa yang akan di jodohkan denganku?" Riana sebenarnya merasa tidak menentu, hatinya masih menunggu orang yang ia cinta lewat sosmed.
"Bapak yakin ini yang terbaik untukmu. Mereka dari keluarga baik dan anaknya pun baik. Mereka juga sudah kenal kita dan tidak akan sulit untukmu menerima dia sebagai suamimu."
"Tapi, Pak. Aku belum ingin menikah." Riana berusaha nolak sehalus mungkin, matanya berkaca merasakan sakit di hati yang ia sendiri tidak tahu arti sakitnya.
"Mamah, sama Bapak mohon Teh, menikahlah dengan pria pilihan kami. Ini demi kebaikanmu juga karena banyak orang membenci dirimu karena takut kamu menggoda para suami mereka." Ani Yang dari tadi mendengarkan kini menimpali bahkan memohon.
"Mah," lirih Riana sampai meneteskan air mata kecewa.
"Bapak sama Mamah mohon terimalah, Nak!" kedua orang tua Riana sampai mengatupkan kedua tangannya.
Riana tidak bisa menolak keinginan orang tuanya. Perlahan Riana mengangguk meski hatinya menolak. Batinnya berkata, "Ya Allah, lagi-lagi seperti ini. Di saat hati ingin memastikan siapa pria itu kenapa ada rintangannya."
Riana sudah berada di dalam kamar memandang ke arah luar jendela melihat hamparan bunga. "Kenapa jadi seperti ini?"
Ada pesan masuk kedalam messenger nya. Riana segera membuka pesan itu karena penasaran. Namun, matanya terbelalak melihat siapa yang kirim pesan. "Ka Vino."
Tangan Riana langsung gemetar, pria yang sering bertukar pesan dengannya kembali mengirimkan pesan. "Kamu sudah kembali, ka."
Perlahan Riana membuka pesannya.
📨 Assalamualaikum kesayanganku, maaf kalau aku baru menghubungi kamu lagi. Aku merindukanmu dan aku ingin bertemu denganmu. Bisakah kita bertemu sekarang juga di bawah pohon mangga dekat sawah pak Mamat.
Riana mengerutkan keningnya, dia bingung dan bertanya, "Darimana ka Vino tahu pohon Mangga pak Mamat?" Tempat itu tidak jauh dari rumahnya. Hanya beberapa menit berjalan sudah sampai disitu.
Riana berpikir sejenak dan diapun memutuskan untuk menemuinya karena penasaran siapa orang yang selama ini sering bertukar pesan dan selama ini ia tunggu. Apakah orang itu sama dengan yang ada di mimpinya.
📩 Waalaikumsalam, aku akan datang menemuimu, Ka.
****
Riana sudah sampai di tempat mereka ketemuan, hatinya berdegup kencang, seluruh tubuhnya gugup, dan ia terus meremas jari-jari tangannya.
__ADS_1
Riana sudah duduk di bawah pohon mangga dekat sawah pak Mamat. Riana memandangi hamparan sawah hijau menikmati keindahannya dan menikmati semilir angin pagi.
"Assalamualaikum kesayanganku."
Ucap seseorang lembut tepat di telinga Riana. Sontak saja jantung Riana bertambah deg-degan.
"Wa waalaikumsalam," lirih Riana terbata. Dia memejamkan mata mengatur degupannya supaya tidak terlalu berdebar. Dia mengenali suara itu.
Alvin sudah duduk di samping Riana. "Buka dong matanya! Masa tidak ingin melihat aku." Alvin menatap wajah cantik yang ada di hadapannya. Pemuda tampan berahang kokoh itu tak bisa memalingkan penglihatannya.
Riana perlahan membuka mata, seketika bola matanya langsung bertubrukan dengan bola mata Alvin. "Ka Vino." Lirih Riana.
"Iya, ini aku. Ka Vino mu," balas Alvin menatap Riana penuh cinta.
"Tidak mungkin." Riana belum percaya tanpa ada buktinya.
Tiba-tiba Alvin mencubit gemas pipi Riana sampai gadis itu memekik kesakitan.
"Aawww, kenapa malah di cubit sih, Pak? sakit tahu." Riana memberengut kesal sambil tangannya mengusap pipi.
"Biar kamu percaya bahwa ini nyata bukan mimpi dan ini aku, orang yang selama ini sering bertukar pesan denganmu lewat sosmed dari masa kamu masih kelas 12." Ucap Alvin mengungkapkan siapa dirinya.
Riana mematung menatap serius Alvin. Matanya berkaca-kaca, ia terharu sekaligus marah kepada lelaki yang sudah berhasil mencuri hatinya sampai saat ini.
"Kenapa baru sekarang kamu muncul setelah apa yang terjadi?" tanya Riana meneteskan air mata.
Dia sudah yakin kalau orang itu Alvin, sebab Alvin dan almarhum suaminya sering hadir kedalam mimpi dia secara berbarengan. Dalam mimpi, Vino menunjuk wajah Alvin sebagai orang yang ia tunggu dan ia cintai selama ini.
"Hei, hei, jangan menangis. Maafkan aku yang terlambat mengetahui kecelakaan Bapak mu. Pada saat itu aku juga dalam masalah besar sampai aku harus turun tangan sendiri menyelesaikan masalahnya dan handphone ku tertinggal." Alvin menghapus air mata Riana dan menjelaskan alasannya sampai ia tidak lagi menghubungi Riana.
Riana tetap pokus menatap wajah yang ada di depan. "Apa kamu benar-benar pemilik akun yang bernama Vino saja?" tanya Riana memastikan.
"Iya, itu aku. Aku punya buktinya." Alvin segera mengambil handphone dan memperlihatkan akun FB milik dia dan memperlihatkan chat yang dulu masih ada.
Riana menunduk malu, dan wajahnya tersipu malu saat mengingat dimana dia mengungkapkan perasaannya.
Alvin tersenyum, lalu ia mengambil tangan Riana dan memegangnya. "Cukup dulu ku terlambat, sekarang tidak akan lagi. Aku akan memperjuangkan mu dan akan menepati janjiku untuk meminangmu. Riana, maukah kamu menikah denganku?"
Deg... Riana mematung...
__ADS_1