
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, dan haripun berganti menjadi Minggu.
Empat Minggu sudah mereka melaksanakan ibadah puasanya, atau lebih tepat satu bulan lamanya. Malam ini mereka merayakan hari raya bersama-sama.
Riana sudah berada di luar rumah, tepatnya di pos kamling biasa orang berkumpul. Sudah banyak anak kecil, tua muda yang juga ikut merayakan malam takbir dengan menyalakan kembang api.
Riana merasa bahagia penuh syukur karena dia masih bisa di pertemukan dengan hari raya. Dia mengirimkan sebuah pesan kepada Alvin.
📩 Selamat hari raya ka, mohon maaf lahir dan batin.
Lalu dia ikut bergabung dengan yang lain menyalakan kembang api.
****
Jakarta
Di kediaman Mama Maya tidak kalah ramai dengan di kampung. Sanak saudara Alvin dari Mama sudah banyak yang berkumpul merayakan secara bersama-sama malam takbir.
"Om, ayo main kembang api!" ajak Chika merengek.
Alvin yang sedang mengobrol pun mengalah demi Chika, lalu mereka keluar menyalakannya. Chika begitu gembira dia memutar-mutar kembang apinya sementara Alvin duduk di bangku taman.
"Vin," panggil Stella.
"Iya, Ka."
Stella ikut duduk di samping Alvin.
"Kapan kamu bawa wanita pilihanmu ke sini?"
"Nanti saja jika waktunya sudah tepat."
"Ck, kau ini selalu jawab nanti. Tapi apa kau yakin menyukainya?" tanya Stella memastikan.
Alvin tersenyum, "Aku yakin, Ka. aku sudah meminta petunjuk dari Allah dan dia memang pilihannya."
"Hmmm, jika sudah bersangkutan dengan sang pencipta Kaka mau apa? mungkin ini yang terbaik."
"Rencananya setelah dia lulus aku mau segera melamar dia. Aku takut keduluan orang, Ka."
"Dasar bucin, ketika sudah kena virus cinta ingin cepat-cepat melamar. Tapi Kaka dukung setiap langkahmu," ucap Stella sambil menepuk-nepuk pundak Alvin.
Mereka mengabadikan momennya dengan berfoto. Alvin memposting foto dia bersama Stella dengan Chika di pangkuannya dan Stella di samping menyenderkan kepalanya kepundak Alvin dengan caption, keluarga kecil.
Sekilas mereka seperti keluarga kecil yang bahagia, mereka di foto dengan pemandangan langit penuh cahaya kembang api yang terus meletus di atas.
****
__ADS_1
Riana masih menunggu balasan dari Alvin, dia kembali duduk di bangku yang ada di depan warungnya. Dadanya terasa sesak, tubuhnya menjadi lemas saat melihat sebuah foto menampilkan kemesraan seorang pria dengan wanita di temani anak kecil. Mereka di foto dari belakang.
Ingin rasanya dia menangis, dan fikirannya sudah kemana-mana takut jika itu benar. Tapi dia masih berusaha untuk berfikiran positif.
📩 Ka Vino sedang apa?"
Lama tidak ada balasan, Riana kembali mengirimkan pesan.
📩 Maaf, jika aku mengganggu waktumu, selamat malam.
Dia merasa kecewa dan raut wajahnya menjadi murung, tidak terasa butiran air mata menetes tanpa sengaja. Riana segera menghapusnya secara kasar, meski dadanya terasa sesak tapi dia kembali berusaha tersenyum di hadapan semuanya.
Meski sedang berada di kerumunan orang, Riana tidak mampu menyembunyikan kecewanya. Waktu sudah semakin larut seseorang yang ia tunggu tidak kunjung juga membalas pesannya.
"Ri, kamu kenapa?" tanya Yusuf yang kebetulan melihat raut sedih Riana.
Riana menggelengkan kepalanya, seolah tidak terjadi sesuatu.
"Jika kau lelah, istirahatlah!"
Riana mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya, kemudia dia masuk ke dalam warung dan masuk ke kamar yang ada di warung.
Di dalam sana Riana kembali menumpahkan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan, sesak rasanya jika orang yang kita sukai cuek.
****
Di rumah Riana sudah banyak sodara yang mampir kerumahnya termasuk keluarga Vino.
Mereka sedang menikmati hidangan sayur ketupat yang sengaja Ani sediakan dengan porsi banyak.
"Dari dulu kau pandai membuat sayur ketupat, makanya jika lebaran kita suka mampir ke rumah mu," ucap istrinya Bambang.
"Kamu bisa saja, masakan mu juga enak," balas Ani merendah.
"Tapi ucapan Laras benar, masakanmu memang paling enak," celetuk Bambang tanpa sadar sudah ada macan betina yang siap ngamuk.
Bambang malah asyik melahap makanannya.
"Paling enak ya?" tanya Yanto mengompori.
"Enak banget," Bambang mengacungkan jempolnya.
"Enakan mana sama masakan istrimu?" tanya Yanto kembali sambil matanya saling lirik dengan sang istri karena melihat wajah Laras sudah memerah.
"Enakan masakan istrimu, Yan. Laras mah kalau masak kadang suka ke asinan, kadang kemanisan."
"Ooohhhh jadi selama ini masakan Mama tidak enak gitu? lalu kenapa di makan juga?" ucap Laras.
__ADS_1
"Aduh, tidak mah, aku salah ngomong!" Bambang sudah panik mendengar suara sang istri. Saking menikmati makanannya dia sampai tidak sadar jika ada Laras di sampingnya.
"Ini semua gara-gara kau, Yan."
"Jangan salahin orang lain, papah sendiri yang salah tidak mengomentari masakan Mama. Ayo pulang! aku kasih hukuman kau!" Laras sudah menarik telinga Bambang karena kesal masakannya tidak enak.
"Aduuhh Mah, jangan kaya gini malu!" Bambang berusaha melepaskan jeweran sang istri.
"Biarin!" kata Laras.
Tingkah orang tua itu di tertawakan oleh orang yang ada di rumah Yanto.
"Ternyata Papahmu suami takut istri." celetuk Keisya yang masih tertawa.
"Bukan takut lagi, tapi sudah takluk," timpal Vino yang juga ikut tertawa.
Riana tersenyum menggelengkan kepalanya, lalu ia menoleh ke arah Vino dan mata mereka sempat bertubrukan. Vino menjadi merasa malu saat sedang bertatapan dengan Riana.
"Ck, kalau suka bilang suka!" celetuk Yusuf.
Vino melihat ke arah Yusuf dan tersenyum kikuk. Kemudian mereka melanjutkan makan-makan nya dengan puas.
Riana cukup terhibur dengan adanya orang yang mampir ke rumahnya. Tapi hatinya masih kecewa menunggu yang semalam, dia masih berharap dapat balasan pesan masuk.
Perlahan Riana menarik nafasnya lalu ia keluarkan secara kasar.
****
Sementara di lain tempat begitu sibuk saling menyapa kerabat sehingga ia lupa dengan benda pipihnya. Semalam dia bergadang sampai pukul tiga dini hari bergabung bersama bapak-bapak yang berada di mesjid untuk takbir.
"Ngantuk sekali," gumam Alvin.
"Mah, Ka, aku ke atas dulu, mau lanjutin tidur," ucap Alvin kepada orang yang ada di ruang tamu, Maya dan Stella pun mengangguk mengiakan.
Karena di rasa sudah tidak akan ada lagi yang akan datang, Alvin memutuskan untuk tidur kambali.
Di dalam kamar dia melihat handphone nya, matanya langsung melotot kaget karena ada tiga pesan dari Riana yang ia sendiri tidak tahu karena Alvin mengsilent hp nya.
"Ooh no! pasti dia marah."
Dengan cukup panik Alvin membalasnya.
📨 Maafin Kaka yang baru balas pesan kamu, selamat hari raya kembali, mohon maaf lahir dan batin.
📨 Kamu jangan marah ya, Kaka benar-benar minta maaf, di rumah Kaka banyak sekali sodara hingga Kaka lupa pada handphone.
Sudah satu jam lamanya pesan belum juga ada balasan. Alvin gelisah sendiri, ia tidak bisa tidur jadinya karena Riana belum juga membalas pesannya.
__ADS_1
Hal yang paling menyebalkan menurutku adalah menunggu. Apalagi menunggu kabar seseorang, rasanya sangat sesak dan gelisah.