
Kediaman Bambang
Vino memasuki pekarangan rumahnya dengan lesu, wajahnya terlihat murung, terlihat gurat kesedihan di bola matanya.
Vino langsung saja masuk tanpa mengucapkan salam tanpa melihat sang Mama yang sedang mengambil jemuran di taman depan.
Jika ada yang berfikir jika seorang pemilik yayasan tidak memiliki ART, maka fikiran kalian salah. Mereka memiliki ART tapi hanya bekerja di setiap Selasa, Rabu, Sabtu dan Minggu, itupun dari pagi hingga sore, dan ART nya tidak menginap di rumah.
Mata Laras terus mengikuti langkah gontai anaknya, dahinya mengkerut mempertemukan kedua alisnya.
"Tumben tidak mengucap salam," gumamnya.
****
Toko kue
"Ri, aku pulang duluan ya! besok aku ke sini lagi," ucap Keisya berpamitan lalu ia mengambil tas selempang nya dan menyorenkannya di pundak.
"Terima kasih sudah mau bantuin aku, dan terima kasih juga sudah bersedia menjadi partner kerja ku."
"Sama-sama," balas Keisya.
Riana menghambur kepelukan Keisya karena merasa terharu memiliki teman rasa saudara.
Keisya mengurai pelukannya.
"Udah ah, aku pulang dulu! bye assalamualaikum," kata Keisya mencubit gemas pipi sahabatnya itu.
Kini tinggal Riana sendirian, dia tidak ikut pulang sebab ada yang harus ia kerjakan dulu sembari menunggu jemputan.
Yusuf dan Deni sudah pulang duluan, mereka ingin olah raga futsal bersama teman-teman yang lainnya.
Pak Yanto sendiri tadi hanya membantu sebentar lalu berangkat untuk belanja keperluan toko dari supplier nya langsung. Kenapa tidak belanja di pasar, menurutnya pasar cukup mahal. Jika tahu tempat pemasok barang jualan yang murah kenapa tidak datang langsung, begitu fikirannya.
Yanto sudah berjanji akan menjemput Riana sepulang dari sana, maka dari itu Riana belum pulang.
Setelah selesai dengan urusannya, Riana pergi ke luar untuk membeli sesuatu di minimarket yang berada di sebrang jalan.
Merasa jalan mulai aman Riana menyebrang. namun secara tiba-tiba ada truk oleng dengan kecepatan tinggi.
"Rianaaaa awaaaas!!!!!!"
Siiiiitttt,........Brakkkkkkk....
****
Kediaman Bambang
Tok....tok....tok
Laras terlebih dulu mengetuk pintu kamar Vino karena takut mengganggu anaknya.
__ADS_1
"Vino, boleh Mama masuk?" Laras kembali mengetuk pintunya hingga terdengar suara kunci pintu di putar.
Ceklek...Pintu terbuka, dan nampaklah wajah Vino dari balik pintu dengan rambut yang acak-acakan, serta wajah yang pucat.
"Ada apa, Mah?" tanya Vino, dia masih berdiri di balik pintu hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Bolehkah Mama masuk?" tanya Laras kembali.
Lalu Vino membuka lebar-lebar pintunya, mempersilahkan sang Mama masuk.
Laras duduk di pinggiran kasur menatap kembali anaknya. Kemudian dia menepuk tempat kosong di sampingnya menyuruh Vino untuk duduk.
"Kemarilah! Mama mau bertanya sesuatu."
Vino melangkah menghampiri sang Mama lalu duduk di dekatnya.
"Bagaimana hasilnya, apakah di terima?" tanya Mama langsung kepada inti nya. Tadi Vino sempat minta izin dan doa kepada Laras.
"Belum, aku belum sempat mengatakan niatku," jawab Vino berbohong. Dia tidak mau Mamanya merasakan sedih jika Vino habis di tolak.
Laras menyerngit bingung, "Loh! bukannya tadi kamu izin mau ketemu Riana?"
"Niatnya begitu, tapi tiba-tiba ada pekerjaan di bengkel, jadi aku ke sana dulu. Dan ternyata pekerjaannya cukup melelahkan, jadi aku pulang saja." Jawab Vino berbohong kembali, dia meyakinkan sang Mama agar percaya padanya. "Maafkan aku ya Allah karena telah berbohong," batin Vino.
"Ooohhhh, kirain Mama sudah," Laras percaya akan ucapan Vino. Dia berfikir jika wajah murung sang anak karena kelelahan.
****
Ckiiiitttt.......
"Astaghfirullah!!!" Alvin terlonjak kaget ketika Bimo menginjak rem mobil secara tiba-tiba..
Ternyata ada kucing yang datang entah dari mana melintas ke hadapan mobilnya.
"Dari mana kucing itu datang?" tanya Alvin.
"Saya juga tidak tahu datangnya dari mana, kucing itu sudah ada di depan saja," Jelas Bimo asistennya Alvin.
Tanpa sengaja bayangan Riana melintas di benaknya Alvin, "Riana," lirih Alvin memegang dadanya. Dia merasakan perasaan tidak enak ketika mengingat nama Riana.
"Ya Allah, lindungilah dia di manapun di berada," batin Alvin.
Setelah hatinya merasa tenang, mereka kembali melanjutkan perjalannnya. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke tempat yang mereka tuju.
Alvin akan terjun langsung kelapangan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Diia merubah penampilannya seperti para pekerja proyek biasanya.
"Bagaimana penampilan saya, Bim? apa sudah seperti buruh kuli bangunan?" tanya Alvin pada Bimo.
Sebelumnya Alvin mencari penginapan terlebih dulu. Kemungkinan dia akan menginap sampai semua permasalahan selesai.
__ADS_1
Dan sekarang mereka berdua sudah sampai di tempat proyek pembuatan supermarket.
"Sudah seperti para buruh pekerja, bos," jawab Bimo memperhatikan penampilan Alvin dari atas ke bawah.
Dari atas Alvin menggunakan topi pelindung kepala warna kuning, pakaiannya ia sengaja memakai pakaian yang kumal di lapisi rompi oranye dari luar. Sedangkan celananya dia menggunakan jeans longgar yang sudah lusuh, serta alasnya memakai boots warna kuning.
"Hmmm, sekarang saya akan turun langsung ke lapangan, dan kamu cari informasi mulai dari bagian yang bertugas sebagai pengendali keuangan proyek!"
"Baik, Bos." Jawab Bimo tanpa penolakan.
Mereka berpencar lalu Alvin memulai rencananya. Terdengar perbincangan para pekerja, mereka mengeluhkan gaji yang di berikan perusahaan tidak sesuai dengan kinerja mereka.
Alvin menghampiri para pekerja yang sedang beristirahat menunggu adzan Isya karena mereka akan melakukan kerja lembur sampai pukul sembilan malam.
"Permisi, boleh saya duduk di sini?"
Para buruh kuli bangunanpun mempersilahkan, mereka mengira jika Alvin pekerja baru.
"Kau baru bekerja di sini ya?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, saya baru hari ini bekerja di sini," jawab Alvin.
"Sebaiknya kau pulang saja! di sini gajinya tidak sesuai dengan kerja kita."
"Memang berapa gaji para kuli bangunan di sini?" tanya Alvin pura-pura tidak tahu dan ia menampilkan wajah bingungnya.
"Biasanya satu hari 150 ribu, itu hanya gaji pokoknya saja, dan biasanya juga kita di kasih bonus buat beli kopi dan gorengan sebesar 30 ribu."
"Tapi sekarang gaji kita hanya 90 ribu saja, bahkan uang bonus tiap harinya tidak lagi di kasih."
"Apa? tapi saya dengar perusahaan masih menggaji para kuli bangunan sebesar 150 dan untuk uang tambahannya 50," jawab Alvin kaget.
"Kapan kau mendengar itu?" tanya pekerja lain.
"Tadi ada dua orang yang meninjau proyek ini katanya dia pemilik proyeknya, dan saya sempat dengar saat mereka berbicara," ucap Alvin bohong.
"Ini sudah tidak benar, berarti ada yang korupsi. Kita harus demo lagi kepada pemiliknya!" ucap pekerja.
"Iya..kau benar, mumpung dia datang ke mari," timpal yang lain dan di dukung oleh yang lainnya.
"Tunggu! kalian jangan main hakim sendiri, nanti saya yang akan bicara padanya!" ucap Alvin mencoba mencegah.
"Memangnya kau kenal mereka?"
"Salah satu dari mereka adalah teman saya, dia juga yang merekomendasikan saya bekerja di sini," jawab Alvin senatural mungkin.
"Baiklah, jika kau mengenal dari mereka, tolong sampaikan keluh kesah kami!" titahnya
"Bain, nanti saya sampaikan," balas Alvin meyakinkan.
Kini Alvin tahu masalahnya apa, dan sekarang dia menunggu Bimo mendapatkan informasi yang lain.
__ADS_1