KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Marisa


__ADS_3

Seperti biasanya, setiap Riana bangun, pasti selalu ada yang mengirimi dia pesan di messenger.


📩Assalamualaikum, Riana.


Sebelum ke meja makan, Riana membalas pesan orang itu dulu.


📨 Waalaikumsalam. Iya, ada perlu apa chat saya terus?


📩 Bantuin saya! saya udah lama ngejomblo.


📨 Maaf mas, saya bukan biro jodoh! anda salah orang.


Setelah membalas pesannya dia segera bergabung dengan yang lainnya untuk sarapan, setelahnya segera berangkat bersama Latif.


****


SMA PELITA BANGSA


Riana dengan segera turun dari motor dan kemudian melangkah untuk masuk. Tapi langkahnya terhenti karena ada seseorang yang menarik kerudung Riana dari belakang.


"Mau kemana kau cupu?" Marisalah yang menarik kerudung Riana, dia ingin memberikan sedikit pelajaran karena sudah berani menumpahkan minuman, dan membuat baju Vino rusak.


Riana menepis tangannya dan menoleh kebelakang.


"Ohh rupanya kamu, Marisa. Ada apa?" tanya Riana dengan santai.


"Lo harus jauhi Vino! dan lo harus minta maaf sama dia, lo ngerti kan?" tunjuk Marisa tepat di depan wajah Riana.


"Apa hubungannya sama kamu? kenapa kamu yang malah nyuruh-nyuruh saya." Riana hendak berbalik tapi Marisa kembali menarik Riana. Kali ini pundaknya yang Marisa tarik hingga Riana terdorong ke dinding.


"Heii, maksud lo apa ngedorong Riana?" bentak Keisya yang langsung mendorong pundak Marisa hingga mundur beberapa langkah.


Saat tiba di sekolah mata Keisya di suguhkan dengan Marisa yang mendorong Riana, Keisyapun segera berlari untuk menghampirinya.


"Jangan ikut campur lo! ini urusan gue sama si cupu ini!" kata Marisa masih dengan telunjuk menunjuk wajah Riana.


"Jelas gue ikut campur karena lo main kasar tanpa sebab! lo fikir lo siapa sok berkuasa di sini?" amarah Keisya meluap karena dia tidak suka seseorang berlaku kasar dan sok berkuasa.


pertengkaran mereka menjadi pusat perhatian para siswa dan siswi. Meski belum banyak yang datang, tapi pertengkaran mereka cukup membuat yang lain penasaran.


"Gue ini calon pacarnya Vino, pemilik yayasan ini!" ucap Marisa dengan tegas, lantang, dan penuh percaya diri.


Banyak yang berbisik jika Riana berusaha menjadi pelakor.


"Hahaha apa lo bilang? calon pacar anak yayasan sini? siapa? Vino Pratama maksudmu? hahaha mimpi!" cibir Keisya dengan tertawa sambil menekankan kata terakhirnya.


"Gue tidak mimpi! sebentar lagi Vino menjadi pacar gue!" balas Marisa dengan kesal, dia merasa tidak terima dengan perkataan Keisya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan berantem! tidak baik jadi pusat perhatian orang!" lerai Riana, kemudian dia menarik tangan Keisya untuk masuk karena sebentar lagi upacara akan di mulai.


Tapi sebelumnya Riana berkata kepada Marisa, "Jangan ketinggian, jika tidak kesampaian akan jauh terasa sakit, nanti kamu bisa stres!" ucap Riana sambil berlari menggandeng Keisya dan tertawa bersama.


"Dasar cupu sialan! akan ku balas kau!" teriaknya dengan kesal.


****


Dalam kelas.


"Kamu punya masalah apa sama nenek sihir itu?" tanya Keisya yang sudah duduk di mejanya.


"Hanya masalah sepele, waktu itu kamu izin sekolah, dan aku tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju Vino, eh dia malah marah-marah," jelas Riana sambil memakan sukro.


"Dari dulu dia emang kaya gitu, setiap ada yang dia sukai pasti di klaim calon pacar, terus jika ada yang dekat dan cowoknya dia sukai, dia suka ngelabrak gak jelas," kata Keisya lalu tangannya mengambil sukro yang ada di Riana.


"Minta, ya." ucap Keisya.


Riana mengangguk.


"Masa sih? kok aku baru tahu ya!"


"Kamu mah kup..."


Brak!


"maksud lo apa ngelabrak Marisa untuk tidak berteman dengan gue?" bentak Vino.


Riana mendongak mengernyit bingung, dan ternyata sudah ada Vino, Marisa, dan Candra di hadapannya.


"Siapa yang ngelabrak? aku tidak ngelabrak dia! yang ada dia yang ngelabrak aku nyuruh jauhin kamu." Riana menjawabnya dengan biasa saja, toh dia tidak merasa melakukan itu.


"Halaahh dia bohong, Vino. Kamu lihat! wajah aku sampai di cakar karena dia bilang jika aku merebut calon pacarnya," kata Marisa memasang tampang sedihnya.


Brak!


Kali ini Keisya yang menggebrak meja.


"Eh nenek sihir jaga bicara lo! lo jangan main fitnah kalau ngomong!"


"Aku tidak bohong, ini buktinya wajah aku di cakar oleh dia." Marisa masih berusaha menuduh Riana, padahal dia sendiri yang mencakar wajahnya untuk bisa mengambil perhatian Vino.


"Kamu itu kenapa? apa kamu merasa tersaingi jika Vino dekat denganku? padahal Vino sendiri tidak suka denganku!" saut Riana menatap Marisa dengan tajam.


"Jangan banyak ngelak lo! gue tidak akan dan tidak mungkin suka sama lo, itu tidak akan pernah terjadi, lo bukan tipe gue! sekarang lo ikut gue! lo harus minta maaf di hadapan semuanya!" Vino berusaha menarik tangan Riana, sedangkan Marisa tersenyum tipis merasa jika dia menang, dan dia semakin yakin jika Vino menyukainya.


"Aku tidak salah, Vino! dia itu berbohong!" ucap Riana berusaha melepaskan cekalan Vino.

__ADS_1


"Jangan mentang-mentang lo anak pemilik yayasan, seenaknya lo main kasar!" cegah Keisya dan ikut berusaha untuk melepaskan cekalannya.


"Diam lo! jangan ikut campur! gue tidak suka jika ada orang yang mencelakai teman gue! lo harus minta maaf di hadapan semuanya!" bentak Vino masih berusaha menarik Riana untuk keluar kelas dan membawanya kelapangan.


"Awww sakit, Vino!" ringis Riana, dia merasa pergelangannya sakit karena Vino mencekalnya terlalu kencang.


Saat Vino terus menarik Riana ke lapangan, Deni dan Yusuf menghampiri karena mereka baru datang.


"Lepasin tangan lo, Vino!" bentak Deni.


"Lo jangan kasar sama cewek!" timpal Yusuf geram.


"Minggir kalian! jangan ikut campur!" bentak Vino mendorong Deni dan Yusuf dengan tangan masih mencekal Riana.


"kasih dia pelajaran, Vino!" teriak Marisa penuh kemenangan.


"Dasar gila lo, gak punya otak!" bentak Keisya mendorong Marisa.


Marisa hanya tersenyum sinis sambil mengangkat jempol lalu membalikkannya ke bawah.


Vino menyeret Riana ke tengah lapangan dan mepaskan genggamannya secara kasar hingga terjatuh.


"Riana!!" Keisya, Deni dan Yusuf menghampiri Riana berusaha membangunkannya.


"Ck, rupanya kau cukup di gemari juga, bahkan dua cecunguk ini takluk di hadapanmu! apa yang udah kau berikan pada mereka?"


"Brengsek kau!" Deni sudah ingin maju untuk menghajar Riana tapi Riana mencegahnya dengan menggelengkan kepalanya.


Deni, Yusuf dan Keisya melihat jika mata Riana sudah berkaca-kaca. Riana merasakan sakit di pergelangannya dan juga merasa sakit hati atas tuduhan Vino.


Banyak siswa yang memperhatikan, sedangkan sebagian guru yang sudah tiba tidak berani melerai karena takut kepada Vino yang notabenya anak pemilik yayasan.


"Apa mau mu?" tanya Riana tapi tidak berani menoleh ke arah Vino.


"Perhatian semuanya! kalian lihat wanita ini! dia akan meminta maaf kepada saya dan Marisa, di hadapan kalian semua dengan mencium kaki saya!"


"Jangan mau, Ri! itu sama saja lo mengakui yang tidak pernah lo lakuin!" cegah Keisya.


"Iya, Ri. Jangan mau!" timpal Yusuf dan Deni secara bersamaan.


Riana hanya membalasnya dengan senyuman.


"Baiklah jika itu bisa membuat kalian puas, maka aku akan melakukannya di hadapan semua orang!" kata Riana tegas.


Riana menunduk dan perlahan menurunkan tubuhnya ke bawah bertumpu menggunakan kedua lututnya.


"Ri!!" ucap kompak Keisya, Deni dan Yusuf terkaget.

__ADS_1


__ADS_2