
Riana sudah bersiap diri dandan yang cantik sesuai perintah Maya. Jantungnya tiba-tiba saja deg degan mengingat wajah Alvin yang sering mampir di mimpinya.
Dia terus mondar-mandir di dalam kamar sesekali menggigit bibir akibat kegugupan yang melanda seluruh jiwa.
"Apa ini jawaban dari setiap mimpi yang ku alami? dari mimpi itu a Vino berkata bahwa jantungku akan berdebar saat dekat dengan orang yang selama ku tunggu. Kini aku bisa merasakan debaran itu saat melihat pak Alvin." Gumam Riana dalam kegugupannya.
Riana menengadahkan telapak tangan, wajahnya menengadah ke atas dan berdoa. "Ya Allah, jika memang ini jawabannya tolong mudahkanlah segala urusan nya aamiin." Lalu ia mengusapkan telapak tangan itu pada wajah cantiknya.
****
"Assalamualaikum," ucap Alvin saat sudah tiba di depan rumah pak Yanto.
"Waalaikumsalam." Jawab seorang wanita dari dalam rumah. "Eh, Nak Alvin! Masyaallah! makin tampan saja kamu ini," ucap Ani.
Alvin menyalami Ani. "Tante bisa aja, apa Riananya ada?" Alvin langsung saja menanyakan keberadaan Riana.
"Ada, apa ada perlu dengannya? nanti Tante panggilkan."
"Hmmm sebenarnya aku di suruh Mama jemput Riana untuk makan malam bareng kami. Tadi kita sempat bertemu di toko CITARASA BAKERY." Pemuda berahang kokoh itu langsung saja berbicara pada tujuannya.
"Oohhh mau makan malam toh. Ya sudah, kamu masuk dulu tunggu di dalam! Tante mau panggil Riana nya dulu." Ani mempersilahkan Alvin masuk dan menyuruh menunggu Riana di ruang tamu.
Alvinpun mengikuti langkah Ani kedalam rumah dan duduk di kursi. Sama halnya dengan Riana, jantung Alvin pun merasakan debaran yang tak menuntu ketika ingin bertemu dengan sang pujaan hati yang telah lama di nanti.
****
Tok tok tok
"Teh, apa boleh Mama masuk?" Ani menongolkan kepalanya ke dalam kamar sang anak.
"Masuk aja, Mah." Ternyata Riana masih gugup, janda muda itu sedang duduk di pinggir ranjang.
Ani menghampirinya dan ikut duduk dekat Riana. "Di depan ada Alvin yang ingin menjemputmu, samperin gih! Tadi juga Maya sudah menelpon Mama dan Bapak meminta izin mengajak kamu makan malam di rumah mereka.
"Pak Alvin sudah di depan?" Riana tentu saja semakin gugup.
"Iya, ayo samperin! Kasian kalau harus menunggu lama."
Dan dengan mengucapkan Bismillah, Riana menghampiri Alvin bareng Ani.
****
__ADS_1
"Kamu cantik banget, Ri. Aku sampai pangling melihat perubahan kamu." Kata Alvin tulus sambil menyetir mobil.
Riana mendadak tersipu. "Terima kasih, Pak."
"Kok masih manggil Pak saja? Kita bukan lagi guru dan murid loh." Alvin mulai mendekati Riana dengan kata-kata. Kali ini ia akan semakin gencar mendekati sang pujaan.
"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Riana mengerutkan keningnya.
"Apa saja asal jangan Pak dan AA!"
"Nanti aku pikirkan."
****
"Assalamualaikum." ucap keduanya setelah sampai ke dalam rumah Maya yang dulu.
"Waalaikumsalam." Orang yang ada di dalam menjawab salam mereka.
Maya yang sedang menyiapkan hidangan pun tersenyum ramah melihat calon mantunya. "Akhirnya, calon mantu datang juga."
Maya menarik kursi dekat duduknya dan Alvin sudah ingin duduk namun di cegah. "Kamu mau ngapain?" tanya Maya.
"Mau duduk, Mah." Jawab Alvin setengah jongkok bersiap untuk duduk.
Stella dan Farhan sudah mengulum senyum melihat keterkejutan Alvin.
"Lah, inikan tempat yang biasa aku duduki!" Balas Alvin masih posisi setengah duduk.
"Pokonya kamu pindah duduknya. Buruan! Kasian calon mantu Mama berdiri dari tadi." Maya kekeh ingin Riana duduk dekat dengannya.
Alvin mendesis, iapun mengalah dan duduk di dekat Chika. Alhasil Alvin dan Riana saling berhadapan.
"Ayo, sayang. Silahkan duduk." Maya mempersilahkan.
"Terima kasih, Mah. Aku jadi merasa tidak enak hati."
"Tidak usah sungkan! Anggap saja rumah sendiri karena sebentar lagi kamu juga akan menjadi bagian dari keluarga ini," kata Maya.
Riana tak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar penuturan Maya.
Merekapun makan malam bersama, tak ada yang berani bersuara. Ketika mereka makan hanya dentingan sendok dan piring saja yang berbunyi.
__ADS_1
"Oh, iya. Kapan rencana kamu menikah lagi?" tanya Maya setelah selesai makan malam.
Semua orang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton salah satu acara di temannya ikan terbang.
Riana berpikir dulu sebentar. "Kalau ada jodohnya dan masih ada yang mau sama aku, secepatnya, Mah." wajah Riana berubah sendu dan Maya mengerti kesedihan Riana dalam hal apa.
"Pasti ada, kamu kan cantik, masih muda, dan sudah bekerja. Pasti ada yang mau sama kmu," sahut Stella melirik Alvin yang sedang menonton tv dan pura-pura tak mendengar.
"Mana ada yang mau sama janda kayak aku, Ka. Jika adapun pasti sangat sulit menemukannya. Sekarang yang mereka cari kesempurnaan dalam segala hal. Harus cantik, ****, kaya, dan bukan janda. Di sini janda di pandang sebelah mata. Bagi mereka janda tidak punya tidak sepadan dengan para bujang atau duda kaya."
"Itu asumsi mereka saja yang tidak tahu trend zaman sekarang," balas Stella.
"Emangnya baju sedang tren," sahut Maya.
"Mama jangan salah, sekarang itu janda emang ngetrend. Harta, tahta, janda. Di kota banyak yang mengincar janda muda dari pada perawan muda." timpal Farhan.
"Kenapa bisa seperti itu ya? kok Mama tidak tahu trend zaman sekarang ya? dan kenapa mereka memilih janda muda daripada perawan?" tanya Maya penasaran karena memang di kotanya sedang ramai dengan kata harta, tahta, janda.
"Perawan memang menawan, namun janda lebih menggoda karena berpengalaman." Celetuk Alvin cuek, tapi matanya masih pokus melihat tv sambil mengunyah rengginang sisa lebaran kemarin.
"Wooow, yang suka janda, pastinya membela." goda Farhan.
Riana sendiri diam, dalam hati kecilnya ada rasa tak suka mendengar Alvin menyukai seseorang. Dia menundukan wajahnya meremas gaun yang ia pakai.
"Vin, ini sudah malam. Kamu anterin Riana pulang gih!" perintah Maya ketika melihat jam sudah pukul 21.30
"Baik, Mah." Jawab Alvin tanpa penolakan.
Dan Rianapun berpamitan kepada Maya dan kakanya Alvin.
Dalam perjalanan, Riana masih diam tak bicara. Alvin bingung sendiri melihat tingkah gadis di sampingnya.
"Kamu kenapa diam saja? apa kamu sakit?" Alvin sontak memegang kening Riana memastikan demam atau tidak.
Riana terkejut, dia menjauhkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya ngantuk ingin segera tidur."
"Oh ngantuk, pantesan lesu."
Dan sampailah mereka di depan rumah pak Yanto. Sebelum Riana keluar, Alvin mengucapkan sesuatu. Dia menatap ke arah Riana.
"Ri, orang yang aku suka adalah kamu. Sampai saat ini kamu masih menjadi ratu di hatiku. Janda yang aku suka adalah kamu."
__ADS_1
Seketika wajah Riana bersemu merah, dan diapun segera keluar takut Alvin melihat wajahnya dan mendengar detakan jantungnya.
Alvin tersenyum sebab ia melihat wajah merah Riana.