KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Ada apa?


__ADS_3

Lelah, rasanya cukup lelah bagi Riana karena pagi berangkat sekolah dan pulangnya pukul dua siang, habis pulang terkadang suka ngerjain tugas sekolah.


Jika ada waktu senggang di sore hari, Riana suka belajar bikin kue yang niatnya ingin membuka usaha kecil-kecilan dengan uang dari tabungannya selama 4 tahun belakangan ini.


Terkadang Riana juga suka membantu Bapak nya tunggu toko sampai pukul delapan malam, bahkan juga sampai pukul sembilan malam.


Apalagi saat ini dia sudah memasuki kelas 12 yang sebentar lagi akan melakukan ujian sekolah, semakin banyak pula pelajaran dan tugas sekolah sebagai ajang latihan untuk menghadapi ujian nanti.


"Huuuhhf, lelah nya," gumam Riana merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dia kembali membuka pesan yang belum sempat dia baca.


📩 Insyaallah lain kali aku cerita.


Mungkin karena terlalu sering mendapat kiriman pesan, lambat laun Riana mulai berani membalas pesan tersebut. Tanpa dia sadari itu adalah awal dimana Riana akan terus ketergantungan membalas pesan dari yang namanya Vino saja.


Tring, 30 menit kemudian balasan pesan masuk.


📨 Maaf, tadi aku ketiduran. Kamu lagi ngapain?"


📩 Lagi rebahan nunggu adzan Maghrib. Kalau boleh tahu Kaka ini siapa ya? dan kenapa Kaka bisa tahu nama aku?"


📨 Ternyata kita belum kenalan, perkenalkan nama aku Vino, dan aku tahu nama kamu dari akun kamu lah.


📩 Ohh gitu, maaf baru sadar.😅


📨 Ri, boleh tidak jika aku mengenalmu lebih jauh lagi?


Riana tidak lagi membalasnya karena sudah terdengar adzan berkumandang. Diapun melaksanakan ibadahnya, lalu berzikir dan terakhir membaca Al-Qur'an penuh khidmat.


****


Kediaman Alvin


Alvin yang baru bangun tidur karena kelelahan segera mengambil handphone nya, dia terlonjak kaget saat ada pesan masuk sampai dia mendudukkan dirinya dengan cepat lalu membalas pesan itu.


"Riana," gumam Alvin.


Mata yang tadi masih merasakan ngantuk menjadi kembali segar ketika bertukar pesan dengan wanita yang ia kagumi.

__ADS_1


Alvin terus menyunggingkan senyumnya sambil jari terus mengetik. Tapi ia kembali kecewa ketika pesan terakhir yang ia kirim belum juga di balas.


"Tidak apa, pasti dia sedang ibadah."


Alvin pun bangun, secepat kilat mandi dan langsung melaksanakan ibadahnya di rumah.


Tidak lupa juga ia membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an meski hanya sebentar, lalu ia bangkit membereskan sejadahnya dan langsung pergi ke ruangan kerja dia untuk menyelesaikan masalah laporan dari kakanya Stella tentang supermarket yang ia kelola.


Malam semakin larut, Alvin ketiduran di ruangan kerjanya, dia melihat ke arah jam dinding dan rupanya jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari.


Alvin pun melaksanakan ibadah di sepertiga malamnya seperti yang biasa dia lakukan.


"Ya Allah ya Tuhanku, engkaulah pemilik segala-galanya termasuk pemilik hati seseorang. Ya Allah, saat ini hati hamba sedang terpaut kepada salah satu ciptaanmu, jika dia memang takdirku maka dekatkanlah kami. Tapi jika dia bukan takdirku, maka jauhkanlah kami. Hanya engkau yang bisa membolak balikan hati manusia, maka balikanlah hatinya agar terpaut cinta kepadaku.


Kok aku aneh ya Allah, kesannya aku memaksa untuk meminta dia padamu. Tapi tidak apa, aku hanya menyampaikan apa yang ku rasa di hadapanmu saja. Jadikanlah dia takdirku, pelengkap agamaku, dan jadiakanlah dia tercipta hanya untukku aamiin aamiin aamiin yarobbal'alamiin."


Alvin menyudahi ibadahnya dan di lanjutkan dengan membaca Al-Qur'an sambil menunggu adzan subuh.


****


Kediaman Bambang Pratama


"Jelaskan ini Vino!" bentak Bambang yang baru datang dari luar kota, dia menaruh handphone di hadapan anak istrinya. Nampak sebuah video dimana Vino mempermalukan Riana.


"Diam! jangan kau coba-coba untuk membelanya lagi! sudah berapa kali dia melakukan hal bodoh seperti itu?" bentak Bambang, kali ini dia sudah benar-benar marah atas prilaku anak bungsunya yang selalu membuat onar.


"Jelaskan, Vino! kau mau mempermalukan lagi papahmu hah? terus, terus saja kau lakukan agar kau puas mencoreng keluarga kita!" Bambang mengatur nafasnya karena dadanya terasa sesak.


Vino dan Laras bangkit untuk menghampiri Bambang, tapi Bambang mengangkat tangannya menyetop langkah mereka.


"Pah!" ucap mereka berdua khawatir jika sakit jantung Bambang kembali kambuh.


"Stop! jangan hiraukan Papah! biarkan Papah mati perlahan karena ulahmu. Selama ini Papah selalu membiarkan kamu melakukan hal apapun, tapi kali ini tidak lagi! rupanya aku salah, aku salah karena terlalu memanjakan mu, bahkan Mamamu mendukung apa yang kamu lakukan tanpa melihat mana yang benar dan salah."


"Tapi sekarang, kau keterlauan, Vino! dia itu wanita baik-baik, dan sudah berapa kali Papah bilang, pilih teman yang benar-benar tulus dan baik, bukan hanya sekedar modus mendekatimu karena kamu anak papah!" bentak Bambang


Bambang mendudukan dirinya di kursi meja makan sebari tangannya memegang dada, dia mengatur nafas yang kembali terasa sesak. Laras memegang pundak sang suami mengusapnya perlahan agar Bambang sedikit lebih tenang.


"Vino minta maaf, Pah. Vino mengaku salah," ucap Vino penuh penyesalan, dia berjongkok di hadapan Papahnya untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Vino akan melakukan apapun yang Papah perintahkan sebagai permintaan maaf Vino untuk kesalahan yang Vino lakukan."


Laras tidak bisa berbuat apa-apa, dia sadar selama ini dia juga salah karena terlalu memanjakan Vino.


"Vino janji akan berubah!" ucap Vino dengan sungguh-sungguh sambil menunduk menahan tangis menangkupkan kedua tangannya di hadapan sang Papah memohon ampun atas kesalahan dia.


Bambang yang melihat anaknya seperti itu menjadi terenyuh, dia tidak menyangka Vino akan memohon seperti ini.


Vino yang arogan, Vino yang pembangkang, seketika menjadi jinak. Meski Vino melakukan itu, Bambang masih belum percaya. Dia ingin melihat apakah ucapan Vino bersungguh-sungguh atau hanya pura-pura.


Bambang memegang pundak Vino membangkitkan Vino dari tumpuannya.


"Bangunlah! jika kau serius maka lakukan apa yang Papah perintahkan!"


Kemudian Bambang menjelaskan apa yang harus Vino lakukan.


"Baik, Vino akan melakukannya sebagai permintaan maaf Vino kepada Riana."


Bambang mengangguk, dalah hati berkata , "Semoga dia mampu merubah mu, Nak!"


****


Kali ini Riana dan Keisya berangkat sekolah berjalan kaki, itung-itung olah raga pagi. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai sekolah, dan merekapun sampai sekitar jam 06 : 35.


Ketika sampai di dalam sekolah sudah banyak orang yang berkumpul di lapangan.


"Ada apa ya, kok rame banget?" tanya Riana bingung dan yang pasti penasaran.


"Aku juga tidak tau, Ri. Mungkin ada pertunjukan yang membuat semua orang tertarik untuk melihat." Balas Keisya yang juga sama bingungnya dengan Riana.


"Kita kesana yuk! aku penasaran ada apa di sana?" ajak Riana sambil menggandeng tangan Keisya.


Setibanya di dekat lapangan, Riana kembali bertanya kepada siswa yang lain.


"Ada apa?" tanya Riana pada salah satu dari mereka.


"Itu, Vino!" jawabnya.


"Vino?" kata Riana dan Keisya, mereka saling lirik sama-sama bingung.

__ADS_1


Kemudian Riana menerobos siswa untuk melihat apa yang terjadi. Dia tiba-tiba terdiam, matanya terpaku kepada orang yang berada di tengah lapangan, kini dia tahu apa yang terjadi..


****


__ADS_2