KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Apa? 50 juta!


__ADS_3

Di sebuah ruangan bernuansa serba putih, terdapat brangkar berisikan orang yang sedang berbaring dengan alat menempel di tubuhnya.


Bau obat-obatan begitu menyengat menusuk ke pancra indra penciuman.


Di bawah dekat brangkar ada tiga orang sedang melakukan ibadah dengan khusu. Mereka terus berzikir, berdoa di tengah malam yang sunyi sesepi kuburan.


Ani berusaha menahan isak tangis, tapi dia tidak mampu. Di depan-NYa mereka mengadu, meminta, memohon, demi keselamatan dan kesadaran lelaki tangguh di keluarganya.


"Ya Allah ya Tuhanku, engkau tidak akan pernah menguji kesabaran umatnya di luar kemampuan kami. Kami ikhlas jika ini memang ujian darimu untuk menaikkan derajat kami.


Ya Allah, kami hanya ingin engkau memberikan mukjizat kepada kami agar orang yang kami sayangi bisa segera bangun. Engkaulah pemilik segala-galanya, engkaulah yang mengatur semuanya. Izinkan dia tetap bersama kami ya Allah.."


Ani berdoa di sela tangisnya, Riana dan Latif yang mendengarkan sang ibu berdoa meng aamiin 'kan setiap ucapannya.


Setelah selesai Riana dan latif memeluk ibunya.


"Bapak pasti bangun, Mah. Beliau sudah janji akan menemani Teteh sampai Teteh punya anak kelak."


"Dokter bilang jika harapan Bapak hidup sangat kecil," ucap lirih Ani mengusap punggung Riana dan Latif, mereka saling menguatkan satu sama lain.


"Tidak, Mah. Perkiraan dokter salah! Bapak pasti akan sembuh! Bapak pasti akan bangun!" Riana tidak terima tentang ucapan dokter memperkirakan umur Bapaknya tidak akan lama lagi.


"Teh," sela Latif. "Kita akan terus bordoa, Teh. Latif juga yakin Bapak akan sembuh dan cepat bangun!" Latif juga begitu yakin.


Latif mengurai pelukannya, "Ayo! kita terus meminta dan berdoa untuk Bapak!" ajaknya kepada sang Kaka.


Riana mengangguk, mereka berdua terus membacakan surat-surat Al-Qur'an, berzikir, berdoa dengan sangat khusu di tengah malam.


Flashback :


Keluarga Riana sudah berkumpul termasuk Deni, Yusuf dan Keisya.


Mereka memeluk Riana untuk menguatkan. Setelah menunggu hampir sepuluh jam, dokter yang menangani Yanto keluar.


Riana berdiri, menghampirinya dan tidak sabar segera mencerca sang dokter dengan berbagai macam pertanyaan.


"Bagaimana keadaan Bapak saya, Dok? apa Bapak saya selamat? Beliau tidak apa-apa 'kan, Dok?" cerca Riana bertubi-tubi.


Dokter yang menangani Yanto terdiam sejenak mengatur nafasnya. Mau tidak mau dia harus memberi tahukan hasilnya.


"Dokter jawab!" kata Ani tidak sabar.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan beliau, saat ini beliau sedang kritis. Akibat benturan keras yang menghantam tubuhnya membuat beliau tidak sadarkan diri. Kami tidak bisa menjamin Beliau akan sadar kembali, harapan untuk sadar hanya 5%. Hanya ke ajaiban dari Tuhanlah yang mampu merubah segalanya." Dokter menjelaskan secara detail tentang kondisi Yanto saat ini.


Tubuh Ani terhunyung ingin jatuh namun Latif segera merangkul sang Ibu.

__ADS_1


Riana mematung akan ucapan Dokter, Keisya langsung memeluk Riana.


"Bapak, Kei. Bapak!" ucap Riana begitu lirih.


Pandangan Riana kosong.


"Riana, istighfar Nak!" adik Yanto menyadarkan Riana agar fikirannya tidak kosong.


"Tidaaakk!!... Bapaakk...!" teriak Riana histeris.


Ani segera memeluk anaknya menenangkan Riana agar tidak histeris.


Mereka yang ada di sana ikutan meneteskan air mata. Anak mana yang tidak syok dan histeris ketika salah satu orang tuanya dinyatakan kritis.


Bayang-bayang di tinggal pergi sang Bapak terus berkelana di fikiran Riana.


Flashback end.


****


Kediaman Bambang


Vino terus saja gelisah, tubuhnya terus guling kesana guling kesini. Fikiran dan hatinya tidak tenang memikirkan Riana.


Tadi mereka sempat ke rumah sakit, namun langkahnya di cegah oleh Bambang saat vino ingin menghampiri keluarga Riana.


"Tapi, Pah. Ngapain kita kesini jika kita tidak menemuinya?" tanya Laras bingung.


"Papa, hanya ingin kalian melihat bagaimana mereka sekarang! Papa harap kalian jangan membahas dulu soal lamaran Vino di saat keadaan seperti ini!"


Vino memandang langit-langit kamar nya. Dia terus berzikir agar bisa tidur, dan ternyata zikir mampu membuat Vino terlelap.


****


Ke esokan harinya di tempat yang berbeda.


"Bagaimana hasilnya, Bim? apa kamu sudah mengetahui siapa yang telah melakukan korupsi?" tanya Alvin sambil mengunyah gorengan pisang.


Keduanya sekarang berada di warung makan dekat proyek.


"Menurut informasi yang di dapat, pengelola uang menyerahkan gaji para pekerja kepada mandor. Saya melihat ada kesungguhan ketika dia berbicara, saya juga tahu mana yang berkata jujur dan mana yang berbohong," terang Bimo.


"Berarti kemungkinan besar tersangka kita mandornya?" tanya Alvin memastikan.


"Hanya tinggal dia saja yang belum kita cari tahu, tapi kita tidak boleh gegabah! takutnya kita salah orang," timpal Bimo.

__ADS_1


"Kau benar, kita harus menyusun strategi agar kita bisa menangkap si pelaku utama dan menjeblooskannya ke penjara. Ini sudah menjadi tindak kriminal," saut Alvin lalu meminum teh manis yang ada di hadapannya dengan tergesa.


"Aduhh panas, panas!" kaget Alvin, ternyata minumannya masih sangat panas. Dia meniup-niup bibirnya sendiri karena terasa panas.


"Makanya, Bos. Kalau minum jangan sambil melamun!" ledek Bimo.


"Bukan melamun, Bim. Gue lagi berfikir bagaimana caranya menjebak si koruptor itu," jelas Alvin.


"Tinggal kasih uang aja kok repot. Kita pancing dia menggunakan uang kembali, dengan alasan sebagai bonus untuk para pekerja. Kita lihat apakah dia memotong uangnya, atau tidak? kemungkinan dia juga akan memberimu gaji karena dia tidak tahu kau bosnya."


"Ah..Iya.. ternyata kau pintar juga, saya akan menelpon ka Stella untuk membawakan uangnya."


Alvin merogoh saku celananya, dia meraba-raba di setiap saku. Ternyata dia lupa membawa handphone pribadinya.


"Kenapa?" tanya Bimo ketika melihat Alvin kebingungan.


"Handphone pribadiku ketinggalan di rumah," jelas Alvin.


Alvin memiliki dua handphone, yang satu ia gunakan untuk pribadi, hanya orang terdekat yang memiliki nomor nya termasuk Riana.


Dan yang satunya lagi untuk keperluan pekerjaannya.


"Punya ku saja!" Bimo menyodorkan handphone nya dan Alvin menerima lalu ia menelpon Stella.


****


Rumah sakit.


"Mah, Teteh ke bagian administrasi dulu ya!" izin Riana.


"Mamah saja! kamu tunggu di sini!" cegah Ani lalu ia berdiri.


"Teteh saja! Mamah tungguin Bapak! sekalian mau membeli sarapan di depan," ucap Riana mencegah Mamanya keluar.


Hanya ada mereka berdua, sedangkan Latif harus sekolah karena ada ulangan.


"Baiklah," jawab Ani menyerah.


Riana segera ke bagian administrasi, dia menanyakan perihal biaya Bapaknya di rawat.


"Sus, saya mau tanya, berapa jumlah perawatan atas nama Bapak Yanto Haryanto?" tanya Riana ketika sudah sampai di bagian administrasi.


"Tunggu sebentar ya!" jawabnya, tangan dia mengetikan sesuatu di keyboard, matanya menatap fokus ke layar.


"Total semuanya 50 juta rupiah, itu belum termasuk biaya penginapan," ucapnya sambil menyerahkan struk pembayaran.

__ADS_1


"Apa? 50 juta!" Riana terlonjak kaget dengan harga yang fantastis.


Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu? sisa tabungannya hanya tinggal tiga juta lebih, itupun untuk modal usaha kuenya. Dan orang tuanya pasti tidak memiliki uang sebanyak itu.


__ADS_2