
"Apa ada perkembangan mengenai Alvin, Ma?" tanya Stella.
"Belum, padahal dokter bilang, jika Alvin baik-baik saja. Tapi, entah kenapa sampai sekarang dia belum juga sadar." Maya sendiri bingung, sampai sekarang anaknya belum bangun juga.
Stella menghelakan nafas, dia memikirkan atas apa yang akan terjadi di depan. "Bagaimana respon Alvin ketika dia tahu bahwa wanita yang ia cintai akan menikah?" gumam Stella.
Maya yang sedang duduk mengupas jeruk menoleh ke Stella.
"Maksud kamu?" Maya penasaran mengenai ucapan Stella, dia berhenti sejenak dari aktifitasnya.
"Besok Riana akan menikah dengan Vino anaknya om Bambang," jelas Stella menatap ke arah mamanya.
"Kenapa bisa?" Maya menaruh jeruknya memfokuskan tatapan ke Stella.
"Aku tidak tahu masalahnya seperti apa. Anak buah Mas Farhan bilang, jika di rumah om Yanto sedang di sibukan acara untuk pernikahan."
"Ya Tuhan! Lalu bagaimana dengan Alvin? Dan kenapa Bambang tidak memberitahukan masalah ini kepada kita?" Maya melihat wajah Alvin, dia menjadi kasihan mengenai kisah percintaan anaknya.
Kebetulan, yang di bicarakan menelpon Maya. Dengan segera Maya menggeser tombol berwarna hijau.
"Halo, May."
"Iya, Ras. Ada apa?"
Rupanya yang menelpon Laras, dia memakai handphone suaminya.
"Begini, besok anakku Vino akan menikah dengan anaknya Yanto. Aku mengundangmu dan anak-anakmu untuk hadir di acara pernikahan mereka. Kami hanya akan melaksanakan akadnya dulu, jika berkenan kau datang ya, kesini! hanya keluarga inti saja yang hadir."
Maya terdiam, matanya terus melihat Alvin.
"Insyaallah, kami akan usahakan untuk datang ke acara pernikahannya Riana."
Rupanya ucapan Maya mengenai Riana mampu membuat Alvin tersadar. Maya melihat Alvin menggerakkan jari-jarinya, dia merasa senang anaknya mulai sadar.
Stella yang berada di samping Maya ikut senang dia memperhatikan setiap gerakan Alvin, dan mengisyaratkan Maya untuk terus berucap tentang Riana.
"Pokoknya kau harus datang, May!"
__ADS_1
"Akan ku usahakan.Tapi, bagaimana bisa Riana akan menikah dengan Vino?"
Di sebrang telpon, Laras menjelaskan awal mula Riana mau menerima Vino. Laras berfikir Maya adalah sahabatnya, dan dia percaya bahwa Maya tidak akan bilang pada siapapun.
"Apa! Jadi, Riana menerima Vino demi uang? Kenapa kau setega itu padanya, Ras? Kenapa kau tidak meminjamkan saja uang nya?"
Maya terlonjak kaget, dia berdiri melangkahkan kakinya ke sofa membelakangi Alvin.
Maya terkejut alasan Riana menerima Vino, dan dia tidak menyangka jika Laras akan bertindak selicik itu. Ini bukan Laras yang Maya kenal.
Telinga Alvin mendengar setiap kata yang Mamanya ucap, perlahan dia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.
Stella tersenyum melihat Alvin sadar, dan Maya sendiri belum tahu mengenai Alvin karena posisinya membelakangi tubuh Alvin.
Alvin berusaha untuk bangun, lalu Stella membantu adiknya untuk duduk.
"Aku terpaksa, May. Aku melakukan ini demi Vino! Anakku begitu mencintainya, dan aku gunakan kesempatan ini untuk menjerat Riana agar mau menikah dengan Vino."
Maya menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya apa yang Laras lakukan.
"Kau egois, Laras. Apa kau tidak memikirkan keduanya? Apa Vino tidak akan sakit hati jika dia tahu bahwa Riana hanya terpaksa menerimanya? Dan apa Riana juga akan bahagia jika dia menerima Lamaran Vino? Menikah itu masalah hati, Laras! Meski kau memaksakan kehendakmu, jika keduanya tidak bahagia percuma!"
"Me menikah?" ucap Alvin.
Maya yang sedang berdiri menoleh ke belakang ketika mendengar suara Alvin. Dia terkejut, "𝘈𝘱𝘢 𝘈𝘭𝘷𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘓𝘢𝘳𝘢𝘴?" 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢.
"Alvin! ka kamu sudah sadar, sayang." Maya mendekati Alvin dan memeluknya penuh haru.
Telponnya masih terhubung dengan Laras.
"Siapa yang menikah, Mah?" tanya Alvin kembali.
Maya tersadar jika dia belum mengakhiri panggilan dari Laras.
"Ras, aku tutup dulu telponnya. Nanti aku usahakan untuk datang."
Setelahnya Maya menutup panggilan itu.
__ADS_1
"Vin, kamu jangan banyak bertanya dulu! Sekarang kamu istirahat agar badanmu jauh lebih segar. Apa kamu lapar? Mama akan suapi kamu ya?" Maya berusaha mengalihkan pertanyaan Alvin.
"Jangan mengelak, Mah. Siapa yang akan menikah?" desak Alvin, tadi dia mendengar nama Riana di sebutkan oleh Maya.
Maya diam tak menjawab.
"Ka, siapa?" Alvin melirik ke Kakanya, dan Stella pun tidak berani menjawab.
"Kenapa kalian diam? jawab pertanyaanku! Siapa yang akan menikah? apa Riana?" suara Alvin mulai meninggi.
"Iya," jawab Maya.
Akhirnya Maya menjawab juga. Alvin terdiam terpaku atas jawaban Maya.
"Itu tidak mungkin!" ucap Alvin tersenyum sinis.
"Besok dia akan menikah dengan Vino," timpal Stella.
"Kalian pasti bohong? Riana tidak mungkin menikah dengan orang lain! Dia sedang menungguku, mana mungkin dia membohongiku!" Alvin terus mengelak akan kenyataan yang ada. Dia tidak percaya ucapan Kaka dan Mamanya.
"Aku akan ke sana."
Alvin berusaha melepaskan infus yang ada di tangannya. Maya dan Stella panik, mereka mencoba mencegah tindakan Alvin.
"Apa yang kau lakukan, Alvin? kamu harus istirahat! Jangan banyak bergerak, Alvin!" Maya mencegah Alvin dengan memegang tangannya untuk tidak mencabut selang infus.
"Besok kita akan kesana!" pungkas Stella.
"Stella!" Maya melototkan matanya ke Stella.
"Sekarang kamu istirahat dulu! ini masih pukul sepuluh malam," lanjut Stella.
Alvinpun menuruti perintah sang Kaka.
Setelah keadaannya mulai tenang, Maya memanggil dokter untuk memeriksa ke adaan Alvin.
Dokter menjelaskan bahwa keadaan Alvin sudah membaik, luka jahitannya pun sudah mulai mengering. Tapi, Dokter menyarankan agar Alvin tidak terlalu banyak bergerak dulu, dan Dokter juga mengatakan untuk mengganti perbannya setiap dua kali sehari.
__ADS_1
Dalam tidurnya, Alvin terus gelisah memikirkan Riana. Dia takut jika yang di katakan Mamanya nyata. Dia belum siap jika harus kehilangan wanita yang ia cintai.