KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Bingung


__ADS_3

"Untuk apa kamu menyuruh Kaka membawa uang ini?" tanya Stella.


Alvin meng share lokasi tempat dimana dia berada. Dan di sinilah mereka berada di restoran seafood.


"Aku ingin menjebak si tukang korupsi Ka. Kaka kasih uang itu ke bagian keuangan biar dia kasihkan kemandornya. Lalu kita lihat apa yang terjadi selanjutnya."


"Ohhh, iya, iya. Baiklah, semoga rencana kita berhasil.


Mereka pun menghabiskan makanannya sampai habis.


****


Rumah Sakit


Langkah ku terasa berat, aku melihat kembali kertas yang ada di genggamanku memastikan kembali setiap angka, berharap nol nya berkurang secara mendadak.


Namun rupanya angka nol itu tidak mau menghilang juga, berarti ini nyata. 50 juta bagi orang kampung seperti ku cukup banyak, uang segitu bagi kami bisa membuat rumah sebesar 6x7 meter.


Aku terus berfikir bagaimana caranya bisa mendapatkan uang sebanyak itu dan juga bisa mendapatkan uang untuk biaya penginapannya Bapak nanti.


Sudah harga minyak naik, BBM naik, harga sembako naik, ditambah biaya rumah sakit sangat tinggi, bisa-bisa kepalaku pecah memikirkannya.


Aku menghelakan nafas ku secara kasar, lalu akupun keluar untuk mencari makan. Berfikir juga butuh tenaga, kalau perut kita kosong yang ada kita mikirin perut lapar bukan cara mendapatkan uang.


Aku mendudukan diriku di kantin rumah sakit kemudian menundukan wajahku ke sela kedua tanganku yang ku lipatkan di meja. Ketika sedang melamun tiba-tiba pundakku di tepuk seseorang, aku pun mendongak.


Dia ikut duduk di hadapanku.


"Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Laras menatap lekat mata Riana.


Tanpa banyak bicara Riana menyodorkan kertas pembayaran.


"Aku bingung harus cari kemana," ucap Riana sendu.


Rupanya Riana sangat dekat dengan teman orang tuanya itu, buktinya dia langsung memperlihatkan jumlah uang yang harus ia bayar.


"Bibi bisa bantu kamu asalkan dengan satu syarat." kata Laras setelah melihat nominalnya dan dia menatap kembali wajah Riana dengan serius.


Semulanya Riana menunduk kini menatap wajah Laras.


****


Proyek


"Bang Jono," panggil Quantity Surveyor yang bertugas sebagai pengendali keuangan proyek.


"Iya, Pak." jawabnya menghampiri.


"Tolong kamu bagikan uang ini kepada para pekerja, itu bonus dari sang Bos. Masing-masing mendapatkan uang sebesar 300 Ribu." QS memberikan amplop coklat cukup tebal.


Sang Mandor sudah sumringah, ia menerima amplop itu karena dia juga pasti kebagian mendapat bonus.


"Baik, pak. Nanti saya bagikan saat mereka selesai bekerja," jawabnya.

__ADS_1


"Yang rata, dan jangan di korupsi!" QS menekan 'kan kata korupsi, ucapannya sedikit menyentil hati sang mandor.


Mandor itu tersenyum kecut, "Tidak akan, Pak."


****


Rumah sakit


Riana berjalan dengan bingung, dia kembali memikirkan tawaran Mamanya Vino.


Ketika sampai di depan ruang perawatan Yanto, Riana memperhatikan Bapaknya dari balik kaca, matanya kembali mengeluarkan air mata ketika melihat ke adaan sang Bapak.


Dengan setia Ani menemaninya hingga ia tertidur dengan posisi duduk sambil memegang tangan suaminya.


"Apa yang harus Teteh lakukan, Pak? aku bingung, kita pasti tidak memiliki uang sebanyak itu," gumam Riana terus memandang ke dalam ruangan.


"Bagaimana keadaan Bapakmu, Ri?"


Riana yang mendengar suara seseorang dari sampingnya pun menoleh, rupanya itu Vino.


Riana menggelengkan kepalanya.


Hati Vino sakit melihat Riana menangis seperti ini, dia memberanikan diri mengusap air mata Riana.


"Jangan menangis terus, kasihan matamu sudah bengkak, sebaiknya kita berdoa untuk kesembuhannya!" Vino menatap lekat-lekat wajah wanita yang ia cintai.


Terlihat gurat kelelahan, dan kesedihan di wajah Riana.


Riana menjauhkan wajahnya agar Vino melepaskan tangan dia dari pipi.


"Ri, apa kamu mendapatkan uang nya?" saut Keisya tergopoh-gopoh, wanita itu berlarian di sepanjang jalan masuk ke RS karena khawatir mendengar Riana menangis bingung.


Tadi Riana sempat menelpon Keisya untuk meminjam uang. Namun rupanya orang tua Keisya hanya memiliki dua juta.


Tidak lama Deni dan Yusuf juga datang.


"Ri," panggil mereka iba.


Riana menoleh menatap satu persatu dengan mata kembali meneteskan air mata.


"A, aku bingung harus bagaimana?" lirihnya.


Deni memeluk adik sepupunya, "Kita cari solusinya sama-sama, sekarang kita masuk dan bicarakan sama Mamamu!"


Riana mengangguk, mereka berdua masuk kedalam meninggalkan teman-teman nya.


"Mah," panggil Riana mengusap kepala Ani yang tertidur.


Ani terbangun, ia merasakan gerakan tangan Riana dan mendudukan tubuhnya dengan kokoh.


"Apa kamu sudah menanyakan soal biaya nya?" tanya Ani penasaran.


"Sudah," jawab Riana menyodorkan kertas.

__ADS_1


Ani mengambilnya dan membaca setiap tulisan di sana.


"Sebesar ini! kita bisa dapat uang nya dari mana?" Ani melotot melihat angka di kertas.


"Teteh akan melakukan apapun demi Bapak, Mah. Teteh akan mencari pinjaman untuk mendapatkan uang nya." Riana berjongkok meenekuk 'kan kedua lututnya lalu memegang tangan Ani.


"Mamah punya tabungan hanya sebesar 10 juta," kata Ani.


"10, aku sisa uang 3 juta, dari Kei 2 juta. Kita baru punya 15 juta," saut Riana.


"Dari Bapakku 3 juta, dan dari Bapak Yusuf juga 2 juta," timpal Deni.


"Kurangnya masih banyak, a," ujar Riana.


Riana menundukan wajahnya, dia kembali teringan ucapan Mama Vino. Tapi dia masih belum menyerah, tiba-tiba saja ia teringat Alvin, Seseorang yang selalu bertukar pesan dengannya. "Ka Vino," gumamnya.


Dari luar Vino memperhatikan orang-orang yang berada di dalam, ingin rasanya dia tahu yang sedang mereka bicarakan karena mereka terlihat sangat serius.


"Kasihan Riana, aku juga pasti akan kebingungan jika berada di posisi mereka," celetuk Yusuf.


"Iya, kita doakan saja agar cepat selesai, dan Bapak juga cepat sadar," balas Keisya.


"Aamiin," ucap mereka secara bersamaan.


Riana dan Deni keluar dengan terburu-buru.


"Kalian mau kemana?" tanya Yusuf.


"Aku mau pulang dulu ada sesuatu yang harus ku pastikan," jawab Riana.


"Aku antar ya?" sela Vino.


"Terima kasih, tapi aku pulang sama Deni saja," tolak Riana. "Ayo, a!" ajak Riana sambil melangkah kembali.


"Kalian di sini saja menemani Mamanya Riana!" titah Deni.


****


Setelah sampai rumah, Riana dan Deni meminjam kesana-kemari atas izin dari Mamanya.


Mereka meminjam kepada para tetangga memelas memohon belas kasih supaya ada yang mau menolong, tapi rupanya dari mereka tidak ada yang membantu.


Langkah Riana gontai, wajahnya sendu dan bingung. Lalu dia mengambil handphone menelpon seseorang berharap orang itu bisa menolongnya.


Riana terus memanggil, hanya terdengar suara perempuan yang menjawab.


Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan.


Dia mondar mandi di depan rumahnya, sambil terus berusaha memanggil, tapi lagi dan lagi hanya perempuan yang menjawab.


Riana mulai prustasi, dia menggigit kuku tangan kanan, dan tangan kiri masih memegang hp di telinga.


"Ayolah Ka, hanya kamu harapan ku satu-satunya," gumam Riana menahan tangis.

__ADS_1


Sudah 10 kali dia mencoba menelpon, tapi tetap tidak aktif. Riana terduduk di lantai karena prustasi, dia menangis sesegukan memikirkan semua yang terjadi.


__ADS_2