KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Berbagi Itu Indah


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, selama itu pula Riana selalu bertukar pesan dengan Alvin. Meski sampai sekarang, dia belum tahu jika akun yang namanya Vino saja adalah akun milik Alvin.


Selama itu pula Riana dan kawan-kawan menjual es campur setiap sore dibantu juga oleh Vino.


"Alhamdulillah, uang yang selama satu Minggu kita kumpulin sudah terkumpul," Ucap Riana.


Mereka sekarang berada di pos dekat tokonya.


"Terus rencananya kita akan apakan uang itu?" tanya Vino yang masih belum tahu betul rencana mereka.


"Rencananya kami akan menyumbangkan sebagian ke panti, dan sebagian lagi kami bagikan ke anak yatim-piatu serta tua renta yang ada di sekitar kita." Deni menjelaskan rencana yang setiap tahun mereka lakukan.


"Tapi kita harus konfirmasi dulu sama pak RW nya. Kemungkinan bertambah jumlahnya, dan kita juga tidak tahu berapa jumlah orang tua yang sudah renta masih ada," timpan Yusuf.


"Begini saja, aku sama Yusuf ke rumah pak RW untuk mencari tahu jumlah anak yatim-piatu dan tua renta di RW sini, dan kalian bertiga menghitung berapa jumlah uang yang terkumpul. Setelah kita mendapatkan semua datanya, barulah kita membagi kira-kira berapa untuk yatim-piatu, berapa untuk yang tua renta, lalu sisanya kita sumbangkan ke panti." Vino menjelaskan apa yang ada di dalam fikirannya.


"Kali ini aku sependapat sama Vino. Jika Ramadhan kemarin kita membagi dua hasilnya, sekarang kita cari tahu dulu jumlah di sini, dan barulah kita ke pantikan sisa uangnya!" saut Deni menimpali ucapan Vino yang menurutnya ide Vino cukup brilian.


"Baiklah, jika itu keputusan final nya, kita tunggu kalian di rumah!" ucap Riana melirik Yusuf dan juga Vino.


Dan mereka pun membubarkan diri dari pos. Riana, Keisya dan Deni pergi ke rumah Riana. Sedangkan Yusuf, dan Vino pergi ke rumah pak RW.


****


Jakarta


"Pagi, Mah," sapa Stella yang baru datang.


"Pagi juga sayang, kemana Chika?" balas Maya dia celingukan mencari keberadaan cucunya.


"Chika sedang bermain sepeda bersama mas Farhan, Mah." jawab Stella mendudukan bokongnya di kursi teras depan sambil melihat sang mama yang menyirami tanaman hiasnya.


"Tumben tidak mau ikut kemari? biasanya dia paling semangat jika akan kemari, apalagi ada Alvin, tambah senang dia.


"Aku juga sempat bertanya begitu, katanya dia marah sama Alvin karena Alvin tidak mau memperkenalkan Aunty cantiknya ke Chika."


"Aunty cantik? siapa emangnya?" tanya Mama penasaran, lalu ia ikut duduk di dekat Stella.


"Kata Chika, Alvin sempat menyebut wanita itu hantu cantik. Mereka pernah bertemu ketika kita berada di Bandung, dan saat itu Alvin membawa Chika ke warung pada malam hari."


"Eh tunggu dulu! kok aku baru ngeh ya, saat itu aku menyuruh Alvin untuk ke warung yang ada di pengkolan." Stella baru sadar, jika yang di maksud ucapan Chika itu ketika mereka baru sampai mengantarkan Alvin ke Bandung.


"Ah iya, mama juga ingat, dan kamu tau, pulang dari situ Alvin senyum-senyum terus seperti orang gila," timpal Mama dengan semangat.


"Dan sebelum pulang dari warung sempat mati lampu," timpal Stella.


"Berarti wanita yang Alvin sukai anaknya pak Yanto." Mama Maya sangat yakin jika itu anaknya Yanto, teman mereka saat di kampung dulu.


Maya sudah senyum-senyum, jika tebakannya benar, itu artinya dia akan mendapatkan mantu yang ia harapkan. Dulu Maya sangat berharap jika salah satu anaknya bisa berjodoh dengan salah satu anak dari sahabat suaminya.


"Mama kenapa? ketularan gila ya sama Alvin?" tanya Stella bingung.

__ADS_1


"Huusstt, enak saja ngatain Mama gila! Mama hanya merasa bahagia jika Alvin menyukai wanita yang akan Mama jodohkn dengannya."


"Apa? jadi wanita yang Mama bicarakan kepadaku itu anaknya pak Yanto?" tanya Stella kaget tapi juga bahagia.


"Yap."


"Alhamdulillah, kalau itu aku setuju sama Mama."


Mereka begitu semangat untuk menjodohkan Alvin dengan Riana, karena mereka tahu jika keluarga Riana merupakan keluarga baik-baik dan yang pasti keluarga mereka sangat rendah hati meski mereka termasuk orang yang cukup berada di kampungnya.


****


Bandung


Saat ini Vino dan Yusuf sudah berada di rumah pak RW. Mereka berbicara serius perihal rencana yang mereka sepakati.


"Saya setuju, tapi apakah ini juga sudah di setujui RT nya?" tanya pak RW.


"Belum."


"Sudah."


Jawab Vino dan Yusuf secara bersamaan.


"Suf, ko bilang sudah? kan kita belum berbicara sama pak RT?" tanya Vino bingung.


Pak RW dan Yusuf sudah saling mengulum senyum.


"Di tanya malah senyum-senyum gak jelas, dasar aneh," cebik Vino kesal.


"Kapan ketemunya?"


"Hampir setiap hari di rumah Riana."


"Rumah Riana? maksudmu pak Yanto bapak RT nya?" tanya Vino memastikan dan juga kaget.


"Iya." ucap kompak Yusuf dan Pak RW.


****


Rumah Riana


Kini mereka semua sudah berkumpul, kembali mendiskusikan yang mereka rencanakan.


"Alhamdulillah, semuanya selesai. Kalau gitu kita bagikan ini ke mereka yang membutuhkan! nanti habis Dzuhur kita ke panti asuhan!" ucap Riana.


"Emangnya kita tidak jualan lagi?" tanya Vino.


"Untuk sekarang kita libur dulu, Vin. Setiap satu Minggu sekali kita libur dan kita akan membagikan uang ini ke mereka, lalu kita akan bukber di panti," saut Deni.


Vino menganggukkan kepalanya mengerti, setelah semua siap mereka segera membagikan amplop putih berisi sejumlah uang. Di lanjutkan dengan berangkat ke panti yang sebelumnya mereka telah menyiapkan makanan untuk mereka semua beserta penghuni panti.

__ADS_1


****


Panti Asuhan


Riana dan kawan-kawan di sambut hangat oleh penghuni panti. Mereka begitu antusias saat ada Riana, bahkan anak kecil saling berebut ingin di peluk Riana.


"Sayang, tidak usah berebut gitu! Kaka pasti akan peluk kalian."


"Iya ka," ucap mereka kompak.


Riana berjongkok tapi kemudian dia di serbu dengan pelukan dari semuanya. Riana tertawa bahagia di tengah kerumunan anak-anak panti, dan itu tidak luput dari pandangan Vino yang semakin kagum dengan kepribadian Riana yang baik, rendah hati, dan penyayang.


Riana kembali berdiri setelah mereka puas memeluk Riana.


"Teh Riana, apa kabarnya?" tanya Bu Retno pemilik panti.


"Alhamdulillah, sehat Bu," jawab Riana.


"Padahal baru dua Minggu yang lalu kamu kesini." Bu Retno membekap mulutnya sendiri karena keceplosan.


sedangkan Riana juga ikut kaget saat pemilik panti itu membuka rahasianya.


"Dua Minggu yang lalu? jadi kamu sering ke sini tanpa sepengetahuan kita?" tanya Keisya yang juga ikut kaget.


"Kenapa kamu tidak ngajak kita?" timpal Deni.


"Tau nih, malah main petak umpet," saut Yusuf.


Riana hanya cengengesan, menampilkan gigi putihnya. Dan dia pun menjelaskan kenapa dia tidak mau memberitahukan kegiatannya kepada orang lain. Biarlah tangan kanan yang tahu, tangan kiri tidak usah tahu.


Riana memang sering mengunjungi panti setiap satu bulan sekali, dia juga sering memberikan uang dari hasil jualan kue dia yang ia taruh di warungnya tanpa ada yang tahu kecuali keluarga satu rumah. Sebenarnya saat Riana menjual kue brownies di jalan merupakan jualan pertama dia yang keluar dari zona nyaman nya.


Vino semakin kagum saja, tanpa dia sadari, dia semakin jatuh kedalam pesonanya Riana.


Kini mereka berjajar memperhatikan anak-anak panti yang begitu bahagia penuh canda tawa.


Riana berada di tengah-tengah Deni dan Yusuf, Keisya berada di samping kiri Deni dan Vino berada di samping kanan Yusuf. Sedangkan Bu Retno berada di samping kanan Vino.


"Ternyata berbagi itu indah, saat pertama kali ku memberikan bantuan kepada mereka hatiku terasa damai dan ikut bahagia jika mereka bahagia," ucap Riana.


"Dari situlah aku mulai berfikir, ternyata masih banyak orang yang kurang beruntung di dunia ini dari kita."


"Aku selalu berusaha membantu mereka semampuku, terkadang masih banyak orang yang suka acuh terhadap mereka yang kurang mampu. Padahal sedikit saja bantuan dari kita mampu membuat mereka bahagia." Lanjut Riana dengan mata yang berkaca-kaca, dia membayangkan seorang anak kecil yang merasa kelaparan, tidak punya tempat tinggal, bahkan tidak punya keluaraga.


Deni dan Yusuf merangkul Riana dari samping saling menguatkan.


Berbagilah selagi kamu mampu.


Berbagilah selagi kamu bisa.


Sedikit saja hartamu kamu bagikan akan menjadi amal zariah mu seumur hidupmu hingga ke surga kelak, aamiin.

__ADS_1


****


Mohon maaf jika kata-kata nya ada yang salah.


__ADS_2