KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Masalah part 1


__ADS_3

Sambil menunggu hari perpisahan, Riana memulai usahanya dengan membuka toko kue. Lokasinya terletak di perempatan jalan raya dekat pasar.


Riana mempersiapkan keperluan yang ada di toko. Mulai dari etalase, alat-alat bikin kue, kursi, hingga sebuah hiasan ia beli untuk mempercantik tokonya.


Keisya dan kedua sepupunya juga ikut membantu dalam menata, mengias serta melakukan promosi ke setiap orang dan sosmed mereka masing-masing.


"Akhirnya beres juga," ucap Riana menepuk-nepukan kedua telapak tangannya sambil meneliti memastikan kembali posisi barang-barangnya.


Riana menyenderkan tubuhnya ke meja kasir.


"Huuuhhf...lumayan capek juga," ujar Keisya yang berada di samping Riana, lalu ia meneguk air mineral kemasan karena haus.


"Haus banget beb?" tanya Deni yang sedang duduk di kursi dekat meja kasir.


"Sangat, dari tadi kita nyapu, ngepel, bahkan bantuin ngangkat etalase ya pasti capeklah." jawab Keisya, dia berjalan ke arah tempat yang ada tikarnya kemudian dia duduk sambil selonjoran karena kakinya merasa pegal.


"Segitu aja udah ngeluh," cibir Yusuf. "Kita masih mending daripada orang yang sedang bekerja di Arab. Coba kau bayangkan, mereka harus bekerja tanpa lelah di negri orang dengan harapan mendapat cuan. Padahal pekerjaannya jauh lebih capek dari pada kita?" Yusuf membandingkan kerja mereka dengan pekerjaan seorang TKW.


"Ck, sok tahu lo, emangnya lo pernah menjadi TKW sampai tahu pekerjaan mereka lebih melelahkan dari pada kita?" balas Keisya.


"Kata orang yang pernah menjadi TKW. Tanya saja sama mereka!"


"Males ah," saut Keisya.


"Riana," panggil seseorang dari belakang Riana.


Riana menoleh ke belakang, ada setangkai bunga mawar putih tepat di hadapannya. Dia melihat bunga itu kemudian melihat ke wajah sang pemiliknya.


"Ini apa?" tanya Riana dengan dahi yang mengkerut.


"Bunga mawar putih," jawabnya masih dengan memegang setangkai bunga.


"Ini emang bunga, tapi maksudnya apa?" tanya Riana kembali. Dia tahu itu bunga, dan dia juga tahu setiap bunga pasti ada maknanya. Dia hanya ingin tahu kenapa orang yang ada di hadapannya ini memberikan dia bunga mawar putih.


Mawar putih yang beraroma harum nan lembut ini melambangkan kesucian atau ketulusan. Umumnya, mawar putih ini dikaitkan dengan acara pernikahan maupun acaca spiritualitas.


"Kamu tahu 'kan, jika mawar putih melambangkan kesucian dan ketulusan?"


"Iya, lalu?"


Vino perlahan menundukan badannya dengan lutut yang di tekuk dan dia memegang bunga dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Riana, bunga ini adalah salah satu ungkapan jika aku benar-benar tulus mencintaimu. Maka dari itu, izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini untuk membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka yang sangat besar. Aku tidak ingin memilikimu, aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu."


"Riana, maukah kau menikah denganku?" pungkasnya dengan mata yang terus menatap wajah gadis cantik yang ada di hadapannya.


Deg!


Riana tertegun, dia tidak menyangka Vino akan melakukan hal ini, sebelumnya dia sudah menduga jika Vino memiliki perasaan kepadanya. Tapi Riana hanya menganggapnya sebagai teman.


Deni, Yusuf dan juga Keisya ikut terbengong, jantung mereka menjadi ikutan dag dig dug menyaksikannya.


Riana membuang nafasnya secara kasar.


"sebelumnya terima kasih karena sudah mencintaiku setulus itu. Jujur, aku merasa bahagia bila bersamamu, tapi aku tidak menduga kamu menyimpan rasa sayang yang lebih kepadaku."


"Aku takut akan menyakiti hatimu karena tidak mampu membuat kamu bahagia. Dan aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, maafkan aku karena tidak bisa menerima cintamu. Aku ingin kita tetap bersahabat untuk selamanya." Jawab Riana dengan sangat hati-hati, dia tidak mungkin menerima Vino sedangkan hatinya sudah terpaut cinta kepada pria yang menurutnya misterius di sosmed.


Vino menundukan wajahnya dengan lesu, tapi dia mengangkat wajahnya kembali mendongak menatap Riana dengan senyuman yang tulus.


"Tidak apa, mungkin sekarang kamu menolakku tapi di lain kali kamu pasti mau menerimaku," katanya yang berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Vinopun berdiri kembali.


"Maaf," ucap Riana sambil menatap mata Vino dengan sangat dalam.


"Anggap saja ini sebagai pertemanan kita! nih, ambilah!" lanjutnya terus menyodorkan bunga yang ada di tangannya.


Riana menatap mata Vino terlihat kekecewaan di sana, dia melihat bunganya dan melihat kembali ke Vino lalu Riana menerima bunga itu dengan tangan yang gemetar.


"Aku terima," ucap Riana.


Vino tersenyum, dia mengelus pucuk kepala Riana dengan penuh perasaan.


"Aku pamit ya, aku harus giat bekerja demi masa depan kita." Dalam suasana seperti ini Vino masih saja berfikir optimis untuk tetap bekerja demi bisa menghidupi Riana.


"Vino," suara Riana sudah tercekat menahan air mata, dia bisa melihat kesungguhan dan ketulusan dari sorot matanya. Tapi dia tidak bisa berbohong akan perasaannya. "Maaf!" ucap Riana kembali.


Vino mengangguk, lalu ia pamit kepada semuanya.


"Gue pamit dulu, kalian semangat kerjanya!" pamitnya kepada orang yang ada di dalam.


Deni, Yusuf dan Keisya mengangguk.

__ADS_1


Keisya berdiri, lalu menghampiri Riana kemudian memeluknya.


"Apa aku salah karena sudah menolaknya? selama ini dia terlalu baik padaku." Rianapun meneteskan air mata karena rasa bersalahnya kepada Vino.


"Tidak, kau tidak salah karena perasaan tidak bisa di paksakan."


Sedangkan Yusuf dan Deni memperhatikan kedua wanita yang sedang berpelukan. Jika menyangkut perasaan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ini masalah hati.


****


Jakarta


"Alvin," pekik Stella, dia menghampiri ruangan Alvin dengan tergopoh-gopoh.


Alvin yang sedang memeriksa laporan mendongak.


"Kenapa Kaka lari-larian gitu? di kejar orang gila?" tanya Alvin bingung.


"Bukan, ini soal proyek pembangunan supermarket di kota Depok." Ucap Stella masih dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Apa terjadi sesuatu?" Alvin bertanya sambil melihat sang Kaka yang sedang mengatur nafasnya.


Stella duduk di hadapan Alvin.


"Terjadi masalah di proyek kita, Vin. sebagian orang demo, katanya kita hanya membayar mereka setengahnya." Stella menjelaskan masalah yang sedang menimpa mereka.


"Kenapa seperti itu? bukannya kita selalu memberikan mereka gaji full?" Alvin menghentikan sejenak kegiatannya, dia dengan serius menanggapi masalah yang sedang di hadapinya.


"Kemungkinan besar salah satu dari pekerja kita ada yang melakukan korupsi, siapa orangnya Kaka juga tidak tahu." Stella mengambil minuman yang ada di meja Alvin lalu meminumnya hingga habis karena haus habis berlari ingin cepat sampai.


Brakk...


"Brengsek!!" umpat Alvin.


"Astaghfirullah!!! pake main gebrak meja segala! Kaka kaget Alvino!" gertak Stella karena kaget.


"Maaf, Ka. Kalau gitu kita kesana sekarang! kita harus menyelesaikan masalahnya secepat mungkin, aku tidak mau mereka sampai mengamuk dan membahayakan perkerja lainnya!" ucap Alvin, dia membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja lalu menutup laptopnya.


"Tapi ini sudah mulai sore, Vin!" cegah Stella ketika melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Kaka pulang saja! aku dan Bimo yang akan mengurusnya. Jika ingin kesana besok pagi saja, kasihan Chika bila di tinggal sekarang.

__ADS_1


"Baiklah, semoga masalah ini cepat selesai, dan semoga kita bisa menangkap orangnya."


"Aamiin, doa 'kan saja." Mereka terus berjalan keluar secara beriringan.


__ADS_2