
Pernikahan adalah keinginan bagi setiap pasangan untuk menghabiskan sisa hidup dan menua bersama kekasih idaman bisa dikatakan sebagai suatu impian bagi setiap orang, sehingga sudah banyak yang melakukan pernikahan.
Oleh karena itu, hampir setiap pasangan laki-laki dan perempuan ingin sekali untuk mewujudkan suatu pernikahan yang di mana pernikahan bisa membuat kedua pasangan hidup bersama. Terlebih lagi suatu pernikahan akan lebih bahagia ketika memiliki si buah hati.
Setiap wanita pasti akan merasa bahagia ketika dia akan menikah, tapi tidak dengan Riana. Setiap hari Riana selalu melamun dan menanti seseorang yang benar-benar dia inginkan untuk membatalkan pernikahan ini.
Riana selalu bertanya pada dirinya sendiri apakah keputusannya salah atau tepat, dan dia juga sering bertanya kemana orang yang selama ini selalu bertukar pesan dengannya.
Riana berdiam diri di kamar dekat kaca melamun dengan pandangan ke sedihan.
"𝘿𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣𝙢𝙪, 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙟𝙚𝙟𝙖𝙠. 𝙋𝙖𝙙𝙖𝙝𝙖𝙡 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙡𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙪𝙡𝙞𝙩𝙖𝙣. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖, 𝙠𝙖𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙡𝙞𝙩 𝙠𝙪 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙞. 𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙪 𝙆𝙖? 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞𝙠𝙪, 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪𝙠𝙪, 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙤𝙗𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙪𝙣𝙩𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙠𝙪, 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙪 𝙡𝙪𝙡𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣𝙠𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞." 𝙜𝙪𝙢𝙖𝙢 𝙍𝙞𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙝𝙖𝙩𝙞.
Satu tetes air mata menetes dari pelupuk matanya membasahi pipi putih nan mulus itu. Riana masih belum percaya akan takdir yang telah di gariskan untuknya.
Bayang-bayang pernikahan impian bersama orang yang ia cintai kini telah sirna. Dia harus mengorbankan perasaan demi sebuah janji yang harus ia tepati.
"Teh," panggil Ani sambil terus mengetuk pintu kamar anaknya.
karena tidak ada jawaban, Ani membuka pintunya dan masuk untuk melihat keadaan sang anak.
Hatinya teriris melihat putri sulungnya melamun tak memiliki gairah hidup. Perlahan dia melangkah mendekati sang putri, di elusnya kepala Riana, tapi Riana masih tidak bergeming.
"Kamu harus ikhlas, Nak! ini sudah takdir hidupmu, mungkin ini yang terbaik untuk mu," ucap Ani masih dengan mengelus-elus kepala Riana.
Tanpa banyak bertanya Riana langsung memeluk Ani yang sedang berdiri. Dia menangis mengeluarkan sesak dan kecewa yang ia rasa di pelukan ibunya.
Tangisnya begitu menyayat hati, Riana menangis sesegukan, dalam hati dia terus beristighfar agar jiwa dan raganya merasa tenang.
****
Kediaman Bambang
"Gue gak nyangka akan di langkahin oleh loe, Dek. Gue kira loe tidak akan suka cewek karena selama ini loe dingin dan cuek jika soal cewek," ucap Iqbal Kakanya Vino.
Iqbal baru saja pulang dari Jakarta, di sana Iqbal harus menyelesaikan kuliahnya dan memimpin perusahaan property milik Bambang.
"Gue sendiri juga tidak menyangka wanita seperti Rianalah yang mampu membuat gue jatuh cinta. Dia berbeda dari wanita yang sering gue temui, Bang."
__ADS_1
Vino terus mengembangkan senyumnya, dia sudah tidak sabar menanti hari pernikahan nya dengan Riana.
"Ck, kelihatannya loe bucin banget. Eh tapi, kapan kalian nikahnya?" tanya Iqbal.
"Minggu ini," jawab Laras dari luar.
Iqbal dan Vino menoleh ke asal suara, mereka terkejut melihat Mamanya membawa barang hantaran pernikahan.
"Bi, tolong taruh di sini saja! dan tolong juga bantu saya membungkus barang-barangnya, hias sedemikian rupa," titah Laras sambil menaruh paper bag di atas meja.
"Mama serius aku menikah Minggu ini?" tanya Vino memastikan.
"Seriuslah, kalian akan menikah di saat hari perpisahan. Jadi kalian tidak usah datang ke sekolah!" jawab Laras santai.
Laras mengeluarkan setiap isi yang ada di paper bag.
"Tapi Mah, ini terlalu cepat. Dan waktunya tinggal tiga hari lagi," balas Vino dengan wajah terkejut.
"Di sini yang ngebet nikah Vino apa Mama sih?" timpal Iqbal bingung dengan tingkah Ibunya.
"Mama sudah tidak sabar menjadikan Riana mantu Mama, Bal."
Vino terdiam memikirkan semuanya, ini terlalu cepat. Vino memang ingin segera menghalalkan Riana, tapi tidak secepat ini juga. Karena dia juga butuh persiapan untuk segalanya.
"Kalau loe tidak mau, biar gue saja yang gantiin loe nikah," celetuk Iqbal.
Vino menoleh menajamkan tatapannya.
"Enak saja, gue tidak akan biarkan loe menikah dengannya! dia milik gue, Bang!" jawab Vino masih dengan tatapan tajamnya memperingati sang Abang.
"Ck, tatapan loe menyeramkan juga," cebik Iqbal.
"Vino mah terserah kalian saja!" jawab Vino pasrah namun hatinya berbunga.
****
Jakarta
__ADS_1
Maya begitu terpukul mendengar kabar Alvin mengalami penusukan, dengan segera dia langsung ke rumah sakit untuk mengetahui ke adaan anak lelakinya itu.
Maya berlarian menuju ke ruangan dimana Alvin di rawat, Stella tidak langsung mengabari sang Mama. Dia mengabarinya setelah hari mulai pagi.
Maya terburu-buru mendorong pintu masuk karena sudah tidak sabar melihat keadaan Alvin.
Matanya terpaku pada sosok pria berwajah tampan, rahang yang tegas, alis tebal nan hitam, hidung mancung, namun bibir dan wajahnya terlihat pucat.
Stella yang sedang duduk di sofa menoleh ke arah pintu, dia melihat Mamanya terpaku disana.
Perlahan Maya masuk mendekati Alvin. Ia tak kuasa melihat anaknya terbaring lemah, matanya mengeluarkan air.
"Ma," panggil Stella memeluk Maya dari samping.
Maya memegang tangan Alvin, dan tangannya terasa dingin.
"Bagaimana keadaannya, Stella?"
"Oprasinya lancar, Mah. Dokter bilang, untung benda tajam itu tidak mengenai ginjal Alvin. Dan kita tinggal menunggu Alvin sadar saja, semuanya baik-baik saja."
"Kanapa ini bisa terjadi? bukankan selama ini Alvin tidak memiliki musuh?"
Stella menjelaskan semuanya kepada Maya, dia juga bilang jika Bimo sudah mengetahui motif di balik penusukan ini.
"Astaghfirullah! jadi ini kesalah fahaman saja. Tapi Mama tidak terima, karena dia Alvin jadi seperti ini, kita harus beri dia hukuman yang setimpal!" ucap Maya mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Serahkan semuanya kepada yang berwajib, Mah. Sekarang kita berdoa agar Alvin cepat sadar!" balas Stella berusaha menenangkan Maya.
"Kau benar, yang lebih utama sekarang adalah Alvin. Mama akan di sini menunggu Alvin sadar, kamu pulang saja! kasian Chika nanyain kamu."
"Tapi..."
Ucapan Stella di potong oleh Maya.
"Dengerin Mama, Chika juga membutuhkanmu. Biar Mama yang menunggu Alvin!" kata Maya menatap mata anaknya.
"Nanti Mama kabarin kamu kalau Alvin sudah sadar!" lanjutnya meyakinkan.
__ADS_1
Stella pun mengangguk, dia juga sadar masih ada anaknya yang membutuhkan dirinya, sehingga dia memutuskan untuk pulang.
Di sana menanti, di sini menunggu, begitulah kiranya saat ini yang mereka lakukan.