KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Panik


__ADS_3

Proyek


"Bim, kamu ikuti kemana mandor itu pergi!" titah Alvin ketika melihat pergerakan sang mandor yang ingin keluar dari area pembangunan.


"Baik," jawab Bimo tanpa penolakan.


Mandornya mengambil motor dan keluar dari sana.


Bimo menyusul mandor itu, terus mengikutinya tanpa membuat curiga sang mandor.


Bimo mengkerutkan dahinya, melihat Mandor itu masuk ke tempat hiburan malam.


"Tuh orang ngapain masuk kesitu?" gumamnya penuh tanya.


Dia pun ikut masuk secara diam-diam, meski waktu masih sore dan masih tutup rupanya di dalam sudah ramai.


Bimo melihat sekeliling, banyak orang yang saling bercumbu. Dia menjadi jijik melihat orang-orang di sana.


"Hai, mau aku temani sayang?" goda salah satu wanita meraba dada Bimo secara tiba-tiba.


Bimo mendorong wanita itu dengan kasar, "Jangan mendekatiku!" ucapnya tegas, dia menatap tajam wanita malam itu.


Sang wanita merasa ketakutan, lalu dia pergi meninggalkan Bimo. Bimo kembali mencari di mana mandor proyeknya, akhrinya matanya menemukan keberadaan dia di pojokan.


Bimo memperhatikan setiap gerak-gerik si mandor dan memotretnya. "Bener-bener gila, hanya karena haus belaian dia sampai menyewa wanita malam."


Terlihat wanita itu duduk di pangkuan si mandor dan meraba sesuatu di bawahnya, mandor itu terlihat menikmatinya.


Sepertinya dia tidak sabar lalu menarik di wanita membawanya ke ruangan yang dia pesan. Bimo masih memperhatikan, dia tahu apa yang akan terjadi di dalam sana.


Bimo masih menunggu di pojokan agar tidak terlalu kelihatan oleh yang lain. "Ck, lama banget, sekuat itukah dia? atau mereka melakukannya berkali-kali? lama sekali beresnya," gerutu Bimo sambil melihat tangannya. "Sudah hampir dua jam gue di sini, belom nongol juga. Kalau bukan karena si Alvin, gue tidak mau berada di tempat ini," ucapnya Kembali.


Tidak berselang lama, mandor itu keluar dengan pakaian berantakan. Dia memberikan sejumlah uang yang di ambil dari amplop coklat.


Bimo memotret kembali, setelahnya dia pergi dari tempat itu dengan terburu-buru.


"Akhirnya...bebas juga." Bimo merasa lega bisa keluar.


Setelah sampai dia memberikan buktinya kepada Alvin.


"Astaghfirullah! jadi selama ini uangnya dia gunakan untuk ini? ucap Alvin kaget.


Tapi bukti ini masih belum kuat, akhirnya Alvin mencari tahu lagi dan mengumpalkan semua informasi yang ia dapat dari orang-orang yang menurutnya bisa di percaya.


Malampun tiba, semua pekerja di kumpulkan oleh mandor.


"Ini, bonus dari bos buat kalian," ucap mandor membagikan uang sebesar 150 ribu kepada mereka.


Alvin juga kebagian, dia tidak sabar ingin bertanya.

__ADS_1


"Kenapa cuman 150, bukannya bos memberikan 300?" celetuk Alvin tidak sabar.


"Siapa kau, jangan sok tahu! hanya segitu yang bos berikan," jawab mandor sewot.


"Kau yang sok tahu, sudahlah mengaku saja! kau 'kan yang mengambil sebagiannya?" desak Alvin.


wajah mandornya sudah memucat, tapi dia berusaha mengelak.


"Jangan menuduh sembarangan! kau tidak tahu apapun, jadi jangan ikut campur!" bentaknya.


Para pekerja saling bisik, mereka membicarakan Alvin yang berani menuduh atasannya.


"Jika kau tidak mengaku, saya akan menyeret kau kepenjara atas tindakan korupsi!" gertak Alvin sambil menunjuk wajah mandornya.


"Saya tidak salah, kau hanya memfitnahku! kau ku pecat! pergi dari sini! lihat! jika ada yang benari menuduh saya, akan saya keluarkan kalian dari sini!" ancamnya tanpa merasa bersalah.


"Jika itu mau mu, bersiaplah!" ucap Alvin menatap tajam wajah dia. "Tangkap dia!" teriak Alvin penuh perintah.


Tiba-tiba datang beberapa polisi memborgol tangan mandornya, "Hei! apa-apaan ini? saya tidak salah! dia memfitnahku!" berontaknya berusaha kabur.


"Ayo ikut kami! kau bisa menjelaskannya di kantor!" ucap polisi dengan tegas sambil menarik paksa mandornya.


Setelah mendapatkan buktinya Alvin kembali mencari tahu bukti yang lebih akurat lagi, dan dia pun berhasil. Setelahnya Alvin langsung melaporkan dengan menunjukan bukti-bukti yang kuat kepada polisi.


"Mohon maaf, sudah membuat ke kacauan, saya akan mengganti uang kalian yang sudah di korupsi oleh mandor," kata Alvin.


"Kau ini siapa? kenapa seberani itu?" tanya pekerja.


Para pekerja itu mengangguk mengerti.


"Dan saya akan menaikan gaji kalian, saya sendiri yang akan langsung turun tangan memberikannya," ucap Alvin dengan serius.


Para kuli bangunan itu sudah sumringah, mereka berterima kasih kepada Alvin atas apa yang Alvin lakukan.


****


Bandung


Sudah satu minggu lamanya Yanto tidak sadarkan diri, Dokter yang memeriksa Yanto selalu menggelengkan kepala karena belum ada perubahan akan kondisi Yanto.


"Jika dalam kurun waktu satu Minggu belum juga ada perubahan, kami terpaksa harus melepaskan ventilator nya!" jelas Dokter.


"Maksud Dokter suamiku tidak akan bangun lagi?" tanya Ani kaget.


"Benar Bu, beliau bertahan hanya menggunakan alat bantu. Tapi semakin hari kondisinya semakin menurun, kemungkinan untuk bertahan mustahil."


"Tidak ada yang mustahil bagi Allah, Dokter!" saut Riana tiba-tiba.


Dia baru datang bersama Deni dan Latif.

__ADS_1


"Siapa kau yang berani menentukan umur manusia? kau bukan Allah!" gertak Riana.


Ani merangkul Riana, berusaha menenangkan sang anak.


"Maafkan kami, kami hanya berusaha semampu kami," ucap Dokter merasa bersalah.


"Makanya lakukan yang terbaik untuk Bapakku!" timpal Latif ikut geram dengan ucapan Dokter.


Deni juga merangkul Latif agar tetap tenang.


"Kami akan usaha kan itu!" jawab sang Dokter. " Saya permisi dulu," pamitnya.


"Mah, Bapak pasti sembuh 'kan? dia tidak akan meninggalkan kita 'kan?" tanya Riana lirih, dia kembali menangis di pelukan sang Mama.


Ani memejamkan matanya berusaha untuk kuat di hadapan kedua anaknya.


"Iya, sayang. Bapak pasti akan sembuh," jawab Ani meyakinkan.


Ani melepaskan pelukannya, "sekarang kita shalat Isya bersama-sama ya! kita berdoa agar Bapak segera sembuh."


Lalu mereka melaksanakan ibadah Isya, Latif dan Deni pergi ke masjid terdekat. Sedangkan Riana dan Mama nya shalat di dekat brangkar.


Setelah selesai Riana bangun berbisik di telinga Yanto, sedangkan Ani terus melantunkan ayat-ayat suci.


"Pak, Teteh mohon bangunlah! Teteh akan menikah dan Bapak harus memastikan Teteh benar-benar bahagia," bisik Riana di telinga Yanto.


Cairan bening terus menetes di wajah mulusnya, Riana terus membisikan sesuatu. Tiba-tiba saja Yanto kejang-kejang.


Riana panik, "Pak, Bapak kenapa?" pekit Riana panik.


Ani yang mendengar pekikan Riana menoleh, dia segera bangkit dan juga ikut panik.


"Ya Allah, pak! kamu panggil Dokter cepat!" teriak Ani panik dan sudah menangis.


Secepat kilat Riana berlari keluar.


"Dokter! tolong Bapak saya!" teriaknya berlari ke ruangan dokter masih dengan menggunakan mukenanya.


Deni dan Latif yang milihat Riana teriak-teriak sambil menangis langsung panik, mereka masuk keruangan Ani.


Mereka melihat Yanto kejang-kejang, nafasnya tersengal, matanya melotot seperti kesakitan.


Bersambung.....


****


Mohon maaf jika kata-kata nya banyak salah.🙏


Saya masih belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar.

__ADS_1


Jika berkenan mohon untuk mengkoreksi setiap kata yang saya tulis.


Terima kasih.


__ADS_2