
Riana yang sedang tidur siang merasa terganggu dengan handphone yang terus berdering. Dia mengambil dan mengangkatnya.
"Hallo, assalamualaikum."
Terdengar suara seorang pria dari sebrang telpon, suaranya begitu halus dan enak di dengar.
"Hmmm, waalaikumsalam. Maaf ini dengan siapa ya?" Riana bertanya tapi matanya masih terpejam, dan dengan suara khas bangun tidur, serak-serak basah.
"Kamu baru bangun tidur? apa aku mengganggumu?"
"Siapa sih?" Riana kembali bertanya karena nomor hp nya tidak ada namanya.
"Selamat sore kesayanganku," kali ini dia memanggil Riana seperti panggilan yang ia berikan.
Riana membuka matanya, dia terlonjak kaget lalu bangun dan mendudukan tubuhnya. Hanya dia yang memanggil Riana dengan kesayanganku.
"Ka, Vino!" ucap Riana dengan lirih, namun seperti suara *******, tubuhnya terasa panas dingin saat pertama kali mendengar suara orang yang selalu mengganggu fikirannya.
Di sebrang telpon pun sama, dia juga sedang meradang akibat suara Riana yang mampu menggoda imannya. Alvin terus beristighfar sambil mengusap dada nya agar di jauhkan dari godaan dan fikiran syetan yang terkutuk.
"Iya, ini Kaka."
Mereka berdua mendadak diam menormalkan getar-getar cinta yang ada di dada.
"Kenapa kamu menghindari Kaka selama satu Minggu ini? kenapa tidak membalas pesan Kaka? apa kamu marah?" Alvin memberanikan diri bertanya secara langsung karena dia sudah gelisah tidak menentu.
Dia mendapatkan no hp Riana dari pak Yanto dengan alasan jika nanti ada tugas sekolah, Riana bisa membantu.
Alasan yang tidak logis memang, tapi Yanto tetap percaya kepada Alvin.
"Maaf, sebaiknya jangan buhungi aku lagi!"
Deg!
Jantung Alvin tak menentu.
" Ke kenapa?" ada rasa takut kehilangan saat Riana berbicara seperti itu.
"Aku bilang jangan hubungi ku lagi Ka!" ucap Riana dengan nada yang sedikit meninggi karena ia merasa kesal dan juga merasa kecewa.
"Tapi kenapa, tolong jelaskan! aku tidak bisa menebak apa yang kamu fikirkan tentang aku karena aku bukan cenayang, Ri." Tanya Alvin masih dengan suara lembutnya namun ada nada ke khawatiran di setiap kaatanya.
"Urus saja keluarga kecil ka Vino!" Bibir Riana sudah mulai bergetar menahan tangis dan sesak yang ia rasa.
Di sebrang telpon Alvin berfikir mengenai kata keluarga kecil, namun sejurus kemudian dia tersenyum ketika dia arah fikiran Riana.
"Apa yang di maksud kamu foto kaka sama seorang gadis dan anak kecil saat di malam hari raya?"
"Iya," jawab lirih Riana.
"apa kamu cemburu?"
__ADS_1
"Tidak," bibir berkata tidak tapi hati berkata iya.
"Cemburu?"
"Tidak!"
"Tidak?" tanya Alvin.
"Cemburu."
"Ciee yang sedang cemburu, Kaka senang kamu cemburu, itu tandanya kamu juga memiliki rasa yang sama." Goda Alvin dari sebrang telpon.
"Isshh, aku tidak cemburu hanya kesal saja, kalian begitu mesra," ucap lirih Riana menahan tangis. "Jika Kaka sudah berkeluarga, lalu ungkapan yang sering kau ucapkan artinya apa?"
"Hei, kamu nangis?" Alvin menjadi panik, dia yang sedang berada di rumah segera beranjak pergi untuk menghampiri Riana karena saat ini dia berada di Bandung.
"Percayalah, Kaka belum berkeluarga! mereka itu kaka dan keponakan ku."
"Bohong!" Riana masih belum percaya.
"Tidak, sayang. Kaka tidak bohong." Tanpa sadar Alvin mengucapkan kata sayang berusaha untuk menenangkan Riana.
Wajah Riana sudah memerah bak udang rebus, dia menarik selimut ke atas dan menggigitnya lalu menutupi seluruh tubuhnya karena malu dan juga salah faham.
"Kaka tutup dulu ya, assalamualaikum." Alvin menutup panggilannya setelah mendapatkan jawaban salam dari Riana.
Riana yang berada di kamar menoyor kepalanya sendiri, "Dasar bodoh! harusnya kau tanyakan dulu, Riana!" Riana merutuk dirinya sendiri yang terlalu gegabah.
****
"Skak!" ucap Vino yang kembali berhasil mengalahkan Yanto.
"Yah, kalah lagi. Saya nyerah dah, kau terlalu pandai main catur," Yanto mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Hahaha, masa gitu saja kalah, pak. Bukannya Bapak dulu suka ngalahin Papah?"
"Itu dulu, sekarang saya sudah tua," Yanto berusaha berkilah.
"Ck, bilang saja om tidak bisa," cebik Deni.
"Bukan tidak bisa, tapi dia terlalu jago," balas Yanto.
"Nak Alvin, mau beli sesuatu?" tanya Yanto ketika melihat Alvin yang baru ikut bergabung.
"Tidak, pak. Saya hanya ingin ikutan nongkrong saja, bosan di rumah terus. Sekolah kan baru mulai besok." jelas Alvin sesekali matanya melihat sekeliling mencari seseorang.
"Kau benar pak, aku sudah tidak sabar ingin segera kesekolah, kangen belajar," ucap Yusuf.
"Kangen belajar atau kangen Sintia?" celetuk Deni.
"kenapa bawa-bawa Sintia? tidak ada hubungannya dengan itu," kilah Yusuf.
__ADS_1
"Maca siih? bukannya kau suka bertukar pesan dengannya?" ledek Vino menaik turunkan kedua alisnya.
Ucapan Vino seolah menyentil hati Alvin karena dia juga sudah kangen bertemu dengan sang pujaan hati dan sering bertukar pesan.
"Ck, sok tau lo," Yusuf menoyor kepala Vino karena dia membongkar rahasia Yusuf yang memang sering bertukar pesan. Tapi menurut Yusuf hanya sebatas pertemanan.
"Pak, kata Mamah tolong masangin gas!" ucap Riana menghampiri kerumunan mereka.
Yanto pun pamit dan segera pulang ke rumahnya.
Ada dua pasang mata yang memperhatikan Riana penuh cinta. Terutama Alvin yang begitu merindu pada sosok wanita cantik nan mungil yang ada di depannya ini.
Keduanya selalu di perhatikan oleh Yusuf. Yusuf melihat binar cinta dari keduanya, meski dia belum pernah jatuh cinta tapi dia bisa melihat tatapan berbeda dari Vino dan Alvin.
"Ri, kamu tahu anaknya pak Jajang yang ada di kampung sebelah?" tanya Yusuf tiba-tiba.
"Oh itu, iya tahu, kenapa?" tanya Riana yang ikut duduk di samping Deni.
"Dia nanyain kamu sama aku, dia bilang titip salam, katanya dia suka sama kamu." Yusuf sengaja bilang begitu di hadapan Vino dan Alvin, dia ingin tahu apakah keduanya akan cemburu atau tidak.
Dugaan Yusuf benar, wajah keduanya berubah seperti yang tidak suka.
"Riana kamu cantik, tapi sayang," celetuk Vino mengalihkan pembicaraan Yusuf karena dia tidak suka jika ada orang lain yang mendekati Riana.
"Sayang kenapa?" tanya Riana bingung.
"Cieee yang manggil aku sayang," goda Vino mengedipkan mata sebelah.
Alvin mengepalkan tangannya, rahangnya sudah mulai mengeras, dia tidak suka Riana di goda seperti itu. Tapi Alvin berusaha agar rasa cemburunya tidak terlihat oleh yang lain.
"Aku serius, sayang kenapa?" ucap Riana kesal, namun wajahnya bersemu merah.
"Tuh kan, kamu panggil aku sayang lagi." Vino masih saja menggoda Riana.
"Vinooo!" ujar Riana menekankan kata Vino.
"Iya sayang.."
"Ck, nyebelin!" Riana melipat kedua tangannya di dada dengan wajah cemberutnya.
Sedangkan Vino sudah tertawa melihat kegemasan Riana.
Batin Alvin menggerutu, " Ternyata cemburu itu menyesakan dada, apa Riana juga seperti ini saat melihat aku bersama Ka Stella?" monolog Alvin dalam hati, dia tersenyum tipis mengingat Riana marah karena cemburu.
****
Terima kasih yang sudah bersedia mampir, semoga kalian suka, dan yang pasti semoga kalian di berikan kesehatan serta umur yang panjang aamiin.
Mohon maaf jika ngebosenin, jujur aku nge Blang memikirkan alurnya karena baru pertama kalinya aku bikin novel.
Mohon untuk kritik dan sarannya ya ka!" 😊
__ADS_1