KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Pak Alvin!


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, acara tahlilan Almarhum Vino pun sudah selesai. Riana sendiri masih tinggal di rumah Bambang karena tidak di izinkan pulang oleh Laras.


Sementara Maya dan Alvin, mereka juga ikut tahlilan dan mereka tinggal di rumahnya yang dulu. Semua orang sedang berkumpul di rumah Bambang, sebagian orang sedang membereskan rumah dan sebagian lagi ada yang mengobrol.


"Setelah ini apa rencana kamu, Ri?" tanya Keisya sambil mengunyah kue yang di ambil dari piring di hadapan mereka.


Riana sedang selonjoran pun menjawab, "Untuk saat ini aku akan fokus pada pekerjaanku dan fokus mengurus bengkel a Vino."


"Kapan kamu menikah lagi?" celetuk Yusuf.


Pletak...


"Aduhh..! Sakit pea!" pekik Yusuf mengusap kepalanya karena mendapat sentilan keras dari Deni.


"Eh, kau tidak punya pikiran ya? Riana baru saja kehilangan malah di tanya kapan menikah lagi! Benar-benar tidak punya hati loe." Sergah Deni kesal akan perkataan sepupunya itu.


"Tau nih," sahut Keisya ikut geram.


"Gue kan cuman nanya doang! Apa salahnya?" cebik Yusuf kesal.


"Waktunya kurang tepat oncom!" timpal Iqbal ikut bergabung dengan mereka di susul oleh Alvin yang juga ikut duduk.


"Lagian kita baru saja menyelesaikan tahlilan tujuh harinya kepergian Vino, malah membahas nikah lagi. Enggak sopan banget," ucap Keisya.


"Eh, tapi yang dikatakan Yusuf ada benarnya juga loh. Kapan kamu nikah lagi? Aku siap kok jadi pengganti suami kamu." Celetuk Iqbal tiba-tiba.


"Ukhuu..ukhuu.." Alvin yang sedang minumpun sampai tersedak mendengar Iqbal berucap.


Mereka memandang ke arah Alvin penuh khawatir. "Kau tidak apa-apa, Vin?" tanya Iqbal.


Alvin menggeleng sambil minum kembali. Yusuf sendiri malah tersenyum tipis melihatnya, dia mengira jika Alvin terkejut karena dia tahu perasaan Alvin pada Riana.


"Makanya kalau minum jangan terburu-buru, jadi tersedak 'kan!" kata Keisya memperingati.


"𝘎𝘶𝘦 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘪𝘣𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘪 𝘐𝘲𝘣𝘢𝘭. 𝘌𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘪𝘯 𝘢𝘭𝘮𝘢𝘳𝘩𝘶𝘮 𝘝𝘪𝘯𝘰 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢, 𝘨𝘶𝘦 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶." 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘭𝘷𝘪𝘯.


"Saya hanya kaget saja jika Iqbal akan menikahi Riana dan menjadi suami pengganti dari adiknya." kata Alvin sambil mengunyah pisang.


"Ucapan gue serius. Gue emang akan menjadikan Riana istri gue."

__ADS_1


"Ukhu...ukhuu.." Alvin kembali tersedak secepatnya dia minum lalu menatap serius ke arah Iqbal. " Loe serius?" tanya Alvin serius.


"Seriuslah. Meski janda, gue akan terima dengan lapang dada," jawab Iqbal serius di hadapan Riana sendiri.


"Tidak! Gue yang akan menjadi suami penggantinya!" ucap Alvin tegas.


"Cukup! Kalian mikir tidak sih? Kita baru saja berdukacita atas meninggalnya a Vino, dan sekarang kalian malah memikirkan kapan aku menikah lagi? Kuburunnya saja masih basah. Tapi kalian? Benar-benar tidak punya prasaan." Pekik Riana meneteskan air mata lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka.


Semuanya terdiam melihat Riana kembali menangis.


"Apa kata saya, jangan bahas masalah nikah dulu. Harusnya di saat seperti ini kalian memberikan dukungan kepadanya agar dia tidak bersedih. Bukannya malah begini," sergah Deni geram dengan tingkah mereka.


"Yang di katakan Deni benar, tidak mudah bagi kita seorang perempuan melupakan seseorang dalam hidupnya apalagi ini di tinggal pergi untuk selamanya. Kita sebagai orang terdekat seharusnya mensupport Riana, memberikan semangat, menghiburnya agar tidak sedih, bukan membuat dia kembali bersedih." Sahut Keisya membenarkan perkataan Deni.


Mereka terdiam, dan mereka menyesali tindakannya masing-masing.


****


Dalam kamar Riana meringkuk di atas kasur, dirinya memeluk guling sambil menangis tersedu. "Kenapa mereka jahat sama kamu a? Padahal kamu baru satu Minggu tiada, dan aku juga belum siap menerima kenyataan ini. Secara mendadak aku harus kehilangan kamu, bahkan banyak rencana yang kita siapkan kedepannya. Tapi, semuanya sirna oleh takdir dari Tuhan."


****


"Gue jadi merasa bersalah, seharusnya gue sebagai Kaka bisa mengerti keadaan istrinya." Wajah Iqbal murung, dia menyesali perbuatannya.


Posisi mereka sekarang berada di ruang keluarga, sedangkan para orang tua sedang berada di ruang tamu mengobrol dengan para keluarga lainnya. Jadi kejadian ini para orang tua tidak mengetahuinya.


"Makanya, kalau bicara di pikir dulu jangan asal mangap saja!" sergah Deni.


"Sekarang menyesal kan? Penyesalan memang datang belakangan," timpal Keisya.


"Terus kita harus bagaimana?" tanya Iqbal, Alvin, dan Yusuf secara bersamaan.


"Tidak tahu." jawab Deni dan Keisya secara bersamaan pula.


Ketiganya membuang nafas secara kasar, lalu duduk tegak dan melipatkan kedua tangannya di dada secara kompak pula.


Deni memperhatikan ketiganya, dalam hati dia terkekeh melihat kekompakan ketiganya. "Jika mau di maafin, kalian harus usaha sendiri membujuk dan membuatnya kembali tertawa!" usul Deni.


"Caranya?" tanya ketiganya.

__ADS_1


"Pikirkan oleh kalian! Kan, kalian yang buat Riana seperti itu."


"Dan untuk saat ini jangan bahas dulu soal nikah! Ingat! Jangan bahas soal nikah!" timpal Keisya menekankan setiap katanya.


"Iya!" jawab ketiganya.


"Bagus! Kalian memang anak pintar!" Deni memuji ketiganya sambil mengacungkan dua jempol tangan. Keisya sudah terkekeh sedangkan ketiganya mencebikkan bibir kesal.


****


Riana menatap kesekeliling tempat, dirinya begitu takjub akan keindahan tempat itu. Banyak sekali bunga-bunga berwarna warni yang bermekaran, semerbak harumnya sungguh mengenakan indra penciumannya.


Dia berlari mengejar kupu-kupu yang terbang menghampiri bunganya. "Masya Allah! Sungguh indah sekali! Hhmmm, harumnya!" Riana memetik salah satu bunga itu lalu mengendus wanginya.


"Indah dan harum sepertimu, sayang." Bisik seseorang tepat di telinganya.


Riana yang terpejam mengirup aroma bunga membuka matanya secara tiba-tiba. Dia membalikan tubuhnya dan seketika dia menubruk dada bidang itu. Tubuhnya di cekal oleh pria dihadapannya, dan pria itu mencium kening Riana.


"A Vino." lirih Riana.


"Iya, ini aku." Vino menjauhkan wajahnya tapi kedua tangannya tetap memegang pinggang Riana. Riana sudah meneteskan air mata. "Jangan menangis! Kamu harus bahagia meski tanpa aku di sampingmu! Aku akan selalu berada di dekatmu memastikan kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Disini aku sudah bahagia, aku tidak lagi merasakan sakit, bahkan di sini juga banyak wanita cantik yang menemaniku." Vino terkekeh di sela ucapanya, Riana memukul pelan dada Vino karena kesal.


Vino menghapus air mata Riana menggunakan tangannya. "Terima kasih sudah menerimaku di hidupmu, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan di sisa hidupku. Kamu yang terbaik bagiku, selamanya akan menjadi yang terbaik."


"A," Riana memeluk tubuh Vino. Dia kembali menangis di pelukannya.


"Aku tahu hatimu masih menjadi miliknya, dan aku juga tahu jika kamu berusaha menerimaku. Sekarang waktunya kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Lihatlah ke belakangmu!" Riana menggelengkan kepalanya.


"Lihatlah! Dia adalah orang yang kamu tunggu selama ini!" Vino mengurai pelukannya, membalikan tubuh Riana. "Dia orangnya, sayang."


Riana yang semula menunduk mendongakkan wajahnya, wajahnya tertegun melihat seorang pria berdiri tidak jauh di hadapannya menampilkan senyum manis penuh ketulusan.


"Pak Alvin!" pekik Riana terbangun dari mimpinya. "Kenapa pak Alvin berada di mimpiku?" Riana mengusap keringat dingin yang bercucuran di wajahnya.


****


Assalamualaikum teman-teman.


Puji syukur saya panjatkan kepada Allah yang telah memberikan kelancaran dalam segalanya.

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia membaca cerita recehku.


Mohon maaf apa bila ada salah-salah kata yang di sengaja maupun tidak di sengaja. Sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah dan manusia tempatnya salah.


__ADS_2