
Banyak orang-orang yang bersyukur dan bersukacita atas kesadaran dan kesembuhan Yanto. Dokter pun mengatakan jika suami dari Ani itu sudah bisa pulang.
Aneh memang, padahal Yanto mengalami pendarahan di kepala bahkan tangan kirinya mengalami patah dan kaki kanannya pun retak sehingga sulit untuk sadar dan sulit untuk berjalan normal.
Tapi sekarang, setelah Yanto sadar dari masa kritis selama satu minggu, semuanya seakan-akan baik-baik saja.
Tidak ada masalah di bagian kepalanya, tangan kiri yang tadinya patah kini hanya retak saja, sedangkan kaki yang tadinya retak dan akan sulit berjalan normal, ternyata sekarang sembuh.
Sungguh, kekuatan doa memang sangat dahsyat.
Doa adalah kekuatan ampuh bagi orang-orang yang beriman. Doa adalah kekuatan batin, pembuka pintu rezeki, jalan menuju keberkahan, dan kemenangan dunia akhirat.
Pada hakikatnya, doa adalah sebuah harapan. Segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin atas kehendak-Nya.
****
"Kamu aneh Teh, sejak Bapak pulang dari rumah sakit kamu jadi manja banget? kenapa? ada apa?" tanya Bapak ketika mereka sedang duduk di ruang tamu.
Riana sendiri duduk di sebelah kanannya Yanto dan menyenderkan kepalanya ke pundak sang Ayah.
Ani sedang berada di warung karena tadi ada yang ingin beli sembako. Lalu Latif, dia pergi kesekolah.
"Teteh hanya rindu Bapak, sudah lama Teteh tidak manja sama Bapak, dan mungkin sebentar lagi Teteh akan sulit bermanja ke Bapak." Jawab Riana, sedangkan wajahnya berubah murung saat mengingat jika mereka akan berpisah.
"Kenapa sulit? kita 'kan satu rumah, terus teteh juga belum menikah. Kalau sudah menikah baru Teteh akan sulit manja ke Bapak karena mengurus rumah tangga Teteh," balas Bapak.
"Pak, kalau Teteh menikah muda bagaimana?" tanya Riana, dia menegakkan duduknya lalu mengambil toples isi kue salju dan memakannya.
"Bapak mah terserah kamu saja, asalkan kamu mampu melaksanakan tugas sebagai istri, dan sudah siap lahir dan batin, Bapak akan melepaskanmu bersama orang yang tepat."
Riana memberhentikan kunyahan nya, dia berfikir apakah keputusannya tepat? dan apakah dia orang yang tepat untuk menjadi pendampingnya?.
Riana menaruh kembali toples nya secara perlahan, hatinya sakit, jiwanya seakan terguncang, dia rapuh, dan dia juga kecewa dengan keadaan yang membuatnya harus seperti ini.
"Pak, Teteh ke kamar dulu," izin Riana lalu berdiri melangkahkan kaki menuju kamar.
Matanya sudah memanas menahan desakan air yang ingin segera keluar.
"Teh," panggil Bapak, tapi Riana tidak menjawab malah terus melangkah. "Ada apa dengannya?" gumam Yanto.
Saat sudah di kamar, Riana menumpahkan air mata, dia tengkurap menutupi kepalanya pakai bantal dan menangis secara diam.
Dia kembali teringat kembali perbincangannya dengan Laras di kantin rumah sakit.
Flashback :
__ADS_1
"Bibi bisa bantu asalkan dengan satu syarat," ucap Laras menatap lekat-lekat wajah Riana.
Riana mendongak menatap ke arah Laras.
"Menikahlah dengan anakku Vino! maka biaya pengobatan Bapakmu akan saya tanggung sampai dia benar-benar sembuh," lanjut Laras.
Riana membulatkan matanya karena terkejut.
"Me menikah! kenapa harus menikah, Bi? apa tidak ada syarat lain?" tanya Riana masih menatap Laras.
"Tidak ada! itu syarat satu-satunya, saya akan kasih kamu waktu satu Minggu untuk mencari uangnya! tapi, jika kamu belum mendapatkan uangnya datanglah kerumah saya!" jawab Laras tegas dan yang pasti sangat serius.
Riana terdiam, dia bingung harus bagaimana.
"Fikirkanlah! ini demi Bapak mu!" desak Laras.
Kemudian Laras berdiri dari duduknya dan berkata, "Semangat untuk mencari uang!" ucap Laras menepuk-nepuk pundak Riana.
Laras pun meninggalkan Riana yang masih berkutat dengan Fikirannya. Dia melihat ke arah Laras dengan fikiran yang kacau.
Selama satu Minggu, Riana, Ani bahkan sepupu dan temannya Keisya juga saling membantu mencari pinjaman ke sana ke mari.
Hasilnya, mereka hanya dapat mengumpulkan uang sebesar 30 juta. Riana juga sering menelpon orang yang ia cintai berharap dapat membantu meringankan beban keluarganya. Namun lagi-lagi Kenyataan tak seindah harapan, Alvin sulit untuk di hubungi sampai sekarang.
Riana sudah menyerah, dia memutuskan untuk mengambil tawaran Laras demi Bapaknya.
Dia memandang bangunan mewah itu, baru kali ini dia menginjakan kaki di rumah termewah di desanya.
Riana mengatur nafasnya agar lebih relaks, kamudian melangkah masuk, dan kebetulan Laras ada di depan sedang menyirami tanaman.
"Assalamualaikum," ucap Riana.
Laras menoleh dia tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawabnya sambil menaruh benda yang ia pegang.
"Ayo, masuk!" ajak Laras mempersilahkan Riana masuk.
Dengan ragu dan gugup Riana melangkahkan kakinya mengikuti Laras.
Mereka berdua saling berhadapan, kini keduanya duduk.
"Saya tahu apa tujuanmu kesini," celetuk Laras.
Rupanya dia sudah tahu tujuan Riana, karena dia sendiri menunggu saat ini tiba.
__ADS_1
Riana memberanikan diri menatap mata Laras.
"Saya bersedia menikah dengan anak Bibi asalkan Bibi bisa menjamin seluruh pengobatan Bapak sampai sembuh total!" ucapnya dengan mantap.
Laras tersenyum.
"Kamu tenang saja, hari ini juga saya akan membayar semuanya asalkan kamu harus menikah setelah Bapakmu sadar!" jawab Laras, dia masih saja menekan Riana.
Tanpa fikir panjang Riana mengangguk.
Hatinya berkata, "Akan ku lakukan apapun demi Bapak, meski ku harus menikah dengan Vino sekalipun akan ku lakukan."
Flashback end
"Teh, bangun!" Ani berusaha membangunkan anaknya sambil mengelus-elus kepala sang putri.
Hatinya ikut sakit, matanya berkaca-kaca melihat pengorbanan Riana, dia sebagai ibu merasa tidak berguna membiarkan anak gadisnya mengalami hal seperti ini.
Ani sudah tahu apa yang telah Riana lakukan untuk membayar pengobatan sang suami.
Riana sendiri berkata jujur mengenai hal itu, hanya dia dan Mamanya yang tahu.
Tapi mau bagaimana lagi, keadaan lah yang membuatnya begini.
"Teh!"
"Hhmmmm," gumam Riana sambil mengucek mata.
"Bangun! ada keluarga nak Vino kemari," kata Ani.
"Ada apa?" tanya Riana berusaha untuk duduk.
"Katanya ingin melamar kamu untuk Vino."
"Apa!" Riana terkejut bukan main.
"Iya sayang, maafkan mama," lirih Ani terus mengusap kepala anaknya.
Riana membuang nafasnya secara kasar.
"Tidak perlu minta maaf kepadaku, Mah. Ini keputusanku, mungkin ini takdirku yang harus ku jalani."
Ani memeluk Riana, keduanya meneteskan air mata.
Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.
__ADS_1
Manusia hanya berandai, tapi Tuhanlah yang mentakdirkan.
Kita tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa, tapi yang pasti rencana Tuhan adalah yang terbaik.