
Setelah melalui proses yang serba dadakan akhirnya hari ini tiba. Hari dimana aku akan melangsungkan pernikahan bersama orang yang tidak pernah aku inginkan.
Awalnya pernikahanku akan di laksanakan di gedung, namun aku menolaknya dengan alasan terlalu makan biaya dan aku tidak mau terlalu mewah.
Akhirnya keputusanku pun di setujui oleh pihak mereka mengingat ini hanya akadnya saja. Saat ini aku sudah mengenakan gaun pengantin khas Jawa.
"Masya Allah, Ri! Kamu cantik banget! Aku tidak menyangka Riana kita akan menikah di hari perpisahan kita. Aku pikir kau tidak tertarik dengan Vino." Keisya begitu takjub akan perubahan Riana yang terlihat cantik dan anggun. Dia juga tidak menyanga Riana akan berjodoh dengan Vino anak pemilik sekolah mereka.
Riana yang sedang duduk di dekat meja riaspun tersenyum kecut.
"Sudah takdir ku." Tak banyak kata yang keluar dari bibir mungilnya.
"Iya, kau benar. Ini memang sudah menjadi garis takdirmu. Jika aku yang menjadi kamu, pasti aku akan bahagia dan berlapang dada untuk menerimanya. Siapa sih yang tidak tertarik dengan seorang Vino Pratama? Semua wanita pasti akan suka padanya. Tapi, tetap saja dia kalah ganteng jika di bandingkan dengan seorang Alvino Azka Putra." Keisya terus saja nyerocos panjang lebar membayangkan jika dia yang menjadi Riana.
"𝘒𝘢 𝘝𝘪𝘯𝘰, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘷𝘪𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘷𝘪𝘯," 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮 𝘙𝘪𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.
Riana melamun menatap dirinya di cermin, sekelebat bayangan Alvin melintas di pikirannya. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬 𝘈𝘭𝘷𝘪𝘯?"
Riana menggelengkan kepalanya, sesekali mengetuk-ngetuk dahinya.
"Kau kenapa, Ri? Apa kepalamu sakit?" tanya Keisya panik melihat Riana terus mengetuk dahinya.
"Hah! Tidak, Kei. Dahiku gatal, jadi aku ketuk saja. Kalau di garuk sudah biasa, Kei." Riana mencoba mengelak, dia sendiri juga bingung kenapa sampai bisa begitu.
Sedangkan keadaan di luar kamar, terlihat sibuk menyambut keluarga pengantin pria datang. Yanto mempersilahkannya masuk, hanya keluarga inti, tetangga dekat serta teman dekat saja yang hadir.
"Akhirnya, kita jadi besanan juga, Yan." Bambang memeluk Yanto.
"Bukankah ini yang kita inginkan dari dulu, kita akan menjodohkan anak kita dan sekarang kesampaian."
Yanto mengurai pelukannya mempersilahkan mereka masuk sambil tangannya masih merangkul Bambang.
"Hahaha kau benar. Aku, Putra dan kau sudah saling janji akan menjodohkan anak kita. Eh, ternyata malah Vino yang menikah dengan anakmu."
"Jodoh tidak ada yang tahu," sahut Laras.
Ani berusaha tersenyum menyambut semuanya, padahal hatinya menjerit menangis mengingat nasib Riana. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya terluka. Akan tetapi, dia sendiri tidak bisa mencegah sebab ini sudah menjadi keputusan anaknya. Ani hanya berdoa agar Riana mendapatkan kebahagiaan setelah menikah nanti.
****
Jakarta
__ADS_1
Seorang pria terus gelisah mengingat hari ini hari pernikahan wanita yang ia inginkan. Dia sedang menunggu Maya sedang di bagian administrasi. Jiwanya tidak tenang, hatinya was was, pikirannya ingin cepat-cepat sampai sana. Dia terus melihat jam, dan ternyata jam sudah menunjukan pukul delapan pagi.
Karena lama menunggu dia segera keluar dari ruangan inapnya di karenakan takut acaranya telah selesai. Alvin melihat sekeliling mencari keberadaan Maya, rupanya keberuntungan ada di pihaknya dan dia segera keluar dengan mengendap-endap.
Setelah tiba di luar dia segera menyetop taksi pergi dari sana supaya tidak di ketahui oleh Maya. Alvin segera menelpon Bimo untuk datang menjemputnya.
"Halo, Bim. Jemput gue sekarang juga!" Alvin menyebutkan tempat di mana dia sekarang berada dan menyuruh sopir taksi berhenti.
"Baik bos. Saya ke sana sekarang." Bimo pun segera meluncur ke alamat yang Alvin sebutkan.
Di rumah sakit, Maya sudah menyelesaikan administrasinya lalu dia masuk ke ruangan Alvin.
"Vin, ayo kita be...." Maya terdiam ketika sudah berada di dalam. "Ko, kosong? Kemana Alvin?"
Maya celingak celinguk mencari Alvin, di kamar mandi tidak ada. "Alvin," panggilnya.
Maya segera keluar mencari Alvin sambil berteriak memanggil suster.
"Suster... Suster...." Maya berteriak memanggil suster sesekali matanya celingukan di koridor rumah sakit.
"Iya, Bu." tanya Suster yang kebetulan merapat Alvin.
"Apa kau melihat anak saya? dia tidak ada di dalam suster," tanya Maya panik.
"Jadi anak saya sudah keluar duluan?"
"Iya, Bu."
"Terima kasih, sus."
Dengan segera Maya menyusul Alvin, namun ketika di luar Alvin sudah tidak ada.
"Tidak ada, apa mungkin dia ke Bandung duluan?" tanya Maya pada dirinya sendiri.
****
"Bisa cepat tidak! Kalau menjalankannya seperti ini bisa lama sampainya, Bimo!" Alvin terus menggerutu kesal sebab Bimo terlalu lelet.
"Ini sudah cepat, Bos."
"Saya bilang tambah cepat, Bimo!" bentaknya.
__ADS_1
Alvin tidak bisa menunggu waktu lama lagi, dia juga tidak peduli dengan sakit yang ia rasa di perutnya. Dia hanya ingin segera sampai di tempat Riana.
Dan Bimopun menuruti perintah Alvin.
****
Bandung
"Teh," panggil Ani.
Ani menghampiri Riana di kamarnya.
"Mereka sudah datang, sebentar lagi ijab qobul akan di laksanakan, ayo!" ajak Ani pada Riana.
Riana mendongak ke atas menatap wajah Mamanya.
"Mah," lirihnya. Mata Riana berkaca-kaca, tubuhnya terasa berat untuk melangkah. Dia masih belum siap menikah dengan Vino.
Ani menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Riana.
"Teteh harus ikhlas! Ini sudah menjadi keputusan Teteh 'kan? Serahkan semuanya kepada Gusti Allah, berdoa semoga ini yang terbaik untuk Teteh."
Riana menghelakan nafasnya secara kasar, dia mengangguk lalu berdiri dan memeluk Ani.
"Maafkan Teteh jika Teteh punya salah sama Mamah."
"Mamah akan selalu memaafkan putra putrinya sampai kapanpun itu. Sekarang kita keluar temui mereka."
Dengan mengucapkan bismillah Riana melangkahkan kakinya di ampit oleh Ani di sebelah kanan dan Keisya di sebelah kiri.
Vino sudah gugup, keringat dingin sudah bercucuran, dia terus beristighfar agar tenang. Matanya tertegun ketika melihat Riana berjalan menghampirinya. Jantung Vino semakin berdetak saat memandangi wajah Riana yang terlihat sangat cantik.
"Vin, gue aja ya, yang gantiin loe nikah." Bisik Iqbal di telinga Vino yang juga terpesona akan kecantikan Riana.
Vino menoleh mendelik tajam, "Jangan coba-coba kau rebut dia dari ku, Bang!" ancam Vino.
Iqbal nyengir tak berdosa, "Gue usahakan."
Vino mencebik kesal, matanya kembali menatap ke Riana yang sudah duduk di sampingnya.
Setelah semuanya siap, pak penghulu mulai menjabat tangan Vino.
__ADS_1
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau..."
"Tunggu.....!"