
Riana yang baru kembali membawa Dokter kembali panik melihat Bapaknya seperti orang yang ingin di cabut nyawanya.
Dia segera menghampiri Yanto lalu memegang tangan kanannya, tangis Riana semakin pecah tat kala tangan itu terasa dingin.
Ani sendiri terus membisikan sesuatu ke telinga suaminya, sesekali mengusap kepala sang suami.
"Ya Allah, Pak! jangan tinggalkan kami! Dokter bagaimana ini? tolong selamatkan Bapak saya!" Riana menangkupkan kedua tangannya memohon agar sang Dokter mampu menyelamatkan nyawa Yanto.
"Cepat, Dok! jangan diam saja!" bentak Deni ikut geram karena sang Dokter malah bengong memperhatikan.
Dokter pun memeriksa keadaan Yanto. Tapi Dokter malah menggelengkan kepalanya merasa tidak yakin akan selamat.
Yanto semakin tegang, bagian tubuhnya sudah mulai terasa dingin, matanya melotot ke atas, dan nafasnya sudah terengah-engah.
Tubuhnya mulai terkulai lemah, matanya masih melotot namun perlahan menutup.
"Tidaaakk!...Bangun, Pak!" teriak Riana histeris, dia mengguncangkan tubuh Yanto sangat keras berharap bapaknya bangun.
"Pak, Bangun! jangan bikin kami khawatir!" timpal Latif ikut menggoncangkan kaki Yanto.
Ani menunduk berusaha untuk tegar meski hati tidak setegar itu.
Dokter memeriksa denyut nadi, memeriksa mata, dan pernafasan melalui hidung. Dia menghembuskan nafasnya secara kasar, lalu melepaskan alat-alat yang menempel di tubuh Yanto.
Seketika Riana kembali panik dan marah.
"Jangan cabut alatnya Dokter! Bapak ku masih hidup! dia belum meninggal, Dokter!" Riana merebut alatnya memasangkan lagi kepada Yanto.
"Mohon maaf, tapi saya harus menyampaikan ini. Beliau sudah meninggal dunia, jadi kami terpaksa melepaskan alatnya," sesal Dokter merasa iba.
"Tidak! aku bilang Bapakku belum mati! kenapa kau tidak mau mengerti hah!" bentak Riana menatap tajam mata sang Dokter, dia masih yakin bapaknya masih hidup.
Ani memeluk Riana, "Ikhlas 'kan, Nak! biarkan Bapak tenang di sana!"
"Tidak, Mah. Bapak masih hidup!" jawab Riana lirih dengan tangis menyayat hati.
Mereka yang ada di sana sudah ikut menangis melihat keadaan Riana. Wanita itu begitu terpukul akan kematian sang ayah, dia masih kekeh tidak percaya.
"Bapak, jangan tidur terus, ayo bangun, Pak! Teteh akan menikah, Teteh harus nepatin janji kepadanya, Pak. Kalau Bapak mati, sia-sia aku mengorbankan perasaan ku, Pak. Teteh mohon bangun!" racau Riana di sela tangisnya sambil memeluk tubuh Yanto.
Ani, Deni dan Latif kaget mendengar perkataan Riana.
__ADS_1
"Bapaaaaakk!" ucap Riana kembali.
Riana menghapus air matanya secara kasar, laku dia berdiri tegak di samping Bapaknya. "Jadi Bapak tidak mau bangun juga? padahal aku sudah mengorbankan kebahagiaanku, cintaku, demi Bapak."
Ani memeluk Riana sangat kencang berharap Riana tenang.
"Bapak, jahat! percuma aku berkorban jika pada akhirnya Bapak pergi. Aku benci Bapak!" pekiknya prustasi.
Jari telunjuk Yanto bergerak.
"Telunjuknya bergerak!" ucap Deni yang melihat pergerakan jari Yanto.
"Ini sungguh luar biasa!" liri Dokter Farhan.
Dokter yang masih berada di sana segera memeriksanya. Riana dan yang lain menyingkir sebentar.
Dokter Farhan menempelkan alat pacu jantung ke dada Yanto sesekali melihat monitor berharap akan suatu keajaiban. Satu kali, dua kali, dan yang ketiga kalinya alat itu mampu berfungsi dengan baik.
"Alhamdulillah, rupanya Allah SWT telah menunjukan kekuasaannya. Dan Alhamdulillah bapak Yanto bisa terselamatkan, jantung beliau sudah kembali normal," jelas Dokter tersenyum mengenai hasilnya.
"Alhamdulillah." Mereka juga ikut bersyukur.
"Sama-sama Bu. Saya akan periksa dulu."
Dokter kembali memeriksa mulai dari mata, denyut nadi, alat infus, dan lain sebagainya.
"Masya Allah, ini sungguh mukjizat dari Allah. Alhamdulillah keadaannya baik-baik saja, kita tinggal menunggu beliau untuk sadar."
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Rania penuh syukur lalu memeluk Ani dan Latif.
Deni juga merasakan kelegaan ketika semuanya dinyatakan baik-baik saja.
"Kalau gitu saya keluar dulu, saya harus visit 2 pasien lagi. Nanti saya akan kesini lagi," ujar sang Dokter.
"Sekali lagi terima kasih, Dok."
Dokter itu tersenyum lalu mengangguk kemudian pamit undur diri.
"Mah," ucap Riana dan Latif.
Mereka kembali saling memeluk, terlihat wajah bahagia dari ketiganya.
__ADS_1
"Tante, Deni pamit pulang dulu. Deni mau mengabari yang lainnya," pamit Deni kepada Ani dan yang lainnya.
Ani melepaskan pelukannya "Iya, Den. Kamu hati-hati di jalan," ucap Ani.
Deni mengangguk, dia mencium tangan Ani lalu pergi.
Sambil menunggu Yanto sadar, Ani kembali membaca Al-Qur'an, Latif dan Riana juga sama.
Terdengar suara indah di telinga Yanto, dia mengenali suara-suara itu. Perlahan dia mulai membuka mata, meneliti apa saja yang ia lihat.
Ada istrinya dengan setia berada di samping, dan ada kedua anaknya yang sedang duduk sambil mengaji.
"Te teteh," ucapnya sangat lirih.
Ketika melihat sang putri, Yanto mengingat jika putrinya akan di tabrak truk.
Ani memberhentikan bacaannya ketika mendengar suara suaminya, dia mendongak dan matanya berbinar terharu.
"Bapak," kata Ani.
"Teh, Latif, Bapak sadar."
Riana dan Latif langsung mendekati Yanto dan Riana memeluknya.
"Bapak," ucap Riana sesegukan.
"Kamu tidak apa-apa 'kan? apa ada yang terluka?" tanya Yanto mengkhawatirkan keadaan sang putri.
Padahal dirinya baru saja sadar, tapi yang ada di benaknya hanya keadaan Riana.
"Teteh, baik-baik saja, Pak."
"Pak," ujar Latif.
Yanto merentangkan sebelah tangannya, Latifpun langsung ikut memeluknya.
Ani tersenyum melihat pemandangan itu, dia berharap suaminya akan menemani mereka sampai tua renta nanti dan sampai keduanya menutup mata.
KUN FAYAKUN
Saat Allah berkehendak terhadap terjadinya sesuatu, maka hal yang mustahil sekalipun akan terjadi. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu berusaha dan berdoa kepada Allah SWT terhadap segala sesuatunya, karena jika Allah SWT telah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin.
__ADS_1