
Dua bulan telah berlalu kehidupan rumah tangga Alvin dan Riana terbilang sangat harmonis jauh dari gosip. Keduanya selalu tampil mesra dan tak pernah ada pertengkaran hebat. Kalau hanya berselisih faham pasti ada karena setiap rumah tangga pasti selalu ada berbenda pendapat.
Alvin memutuskan untuk tinggal di Bandung menempati rumahnya yang dulu bersama istrinya. Kalau soal pekerjaan, kadang Alvin mengerjakannya di rumah dan terkadang suka bolak-balik Jakarta-Bandung kalau ada pekerjaan yang penting.
Setelah menikah, Alvin tidak mau jauh dari istrinya, ia akan selalu membawa Riana kemanapun dirinya pergi dan Riana sendiri selalu menuruti keinginan suaminya.
"Mas, lepasin ih! Aku mau masak dulu." Riana berusaha melepaskan pelukan suaminya. Sedari selesai shalat subuh berjamaah, Alvin terus saja menempel ke istrinya.
"Aku mau tetap seperti ini, Sayang. Harum tubuhmu bikin aku betah berlama-lama." Alvin semakin mengeratkan pelukannya membawa Riana kedalam dekapan hangat tubuhnya sesekali mencium wajah sang istri.
"Nanti kita lanjutin lagi pelukannya, sekarang aku harus masak dulu buat makan kita. Aku janji deh akan memberikan servis terbaik," bujuk Riana supaya suaminya mau melepaskan dia.
Alvin memundurkan wajahnya dan menatap mata sang Istri. "Kamu serius? kamu tahukan sekali aku menyentuhmu, aku selalu ingin dan ingin?"
"Iya, aku tahu dan aku akan memberikannya sampai kamu benar-benar puas." Balas Riana serius dengan perkataannya.
"Baiklah, aku lepasin kamu." Alvin tersenyum senang seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah.
"Terima kasih, Sayang." Riana mengecup singkat bibir suaminya dan beranjak ke dapur menyiapkan sarapan mereka berdua.
Setelah beberapa saat telah berlalu, nasi goreng seafood kesukaan suaminya telah siap. Riana pun segera memanggil suaminya namun, ketika Alvin sudah berada di dapur perutnya malah terasa mual mencium bau nasi gorengnya.
"Sayang, kamu masak apa kok baunya bikin aku mual ya?" Alvin memegang hidung bangirnya.
"Nasi goreng seafood, Mas. Kan biasanya kamu suka." Riana heran melihat tingkah Alvin.
Alvin mendekat dan sudah siap menyantap akan tetapi, rasa ingin muntah semakin bergejolak dan Alvin segera berlari ke wastafel mengeluarkan cairan berwarna kekuningan.
Riana panik dan ia segera memijat tengkuk suaminya. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Riana khawatir.
Alvin menggeleng, "Bau nasi gorengnya tidak enak."
"Lho, itukan makanan kesukaan kamu?" Riana bingung sendiri, lalu ia mengambilkan air hangat. "Di minum dulu!"
Alvin pun meminumnya.
"Aku panggilkan dokter ya? aku takut Mas kenapa-kenapa."
"Alvin kenapa, Teh?" tanya Maya baru tiba di rumah Alvin karena ingin melihat anak mantunya.
"Mamah, baru sampai? kenapa tidak memberitahukan kami kalau Mamah kemari?" cerca Riana sambil menyalami mertuanya.
"Mamah ingin buat kejutan, dan Mamah ingin menginap di sini bareng kalian. Oh iya, Alvin kenapa sampai mau di panggilkan dokter segala?" Maya mendekati Alvin yang masih berdiri di wastafel menghindari meja makan lebih tepatnya nasi goreng.
"Mas Alvin muntah-muntah akibat mencium bau nasi goreng."
__ADS_1
Dahi Maya mengkerut, dia ingat ketika dulu mengandung Alvin suaminya lah yang muntah-muntah. "Hmmm apa kamu sudah datang bulan, Teh?"
"Datang bulan?" Riana berpikir dan seketika matanya terbelalak lalu membekap mulutnya karena ia sudah telat satu bulan dan Riana menggeleng.
Maya tersenyum dan Alvin bingung.
"Kamu pasti tahukan maksud Mamah?" tanya Maya pada Riana.
"Iya, Mah."
"Kalian ngomongin apa sih? aku tidak mengerti." Alvin belum ngeh.
"Aku telat datang bulan, Mas. Kemungkinan aku hamil," kata Riana berkaca-kaca.
"Sayang, kamu?" harapan Alvin begitu besar.
"Kita periksa saja guna memperjelas segalanya!" ajak Maya dan keduanya mengangguk.
****
Bidan
Riana melakukan serangkaian pemeriksaan dan terakhir melakukan USG. Alvin dan Maya juga ikut kedalam untuk mendengar dan melihat secara langsung.
"Titik hitam ini merupakan calon bayi kalian dan usianya saat ini baru enam Minggu, janinnya sangat sehat ya Bu." kata Bidan.
"Eh tunggu-tunggu!" Bidannya menatap pokus alatnya. "Ini kantungnya ada dua. Masya Allah! selamat ya, Bu. Kemungkinan bayinya kembar."
"Bu Bidan serius?" tanya mereka bertiga memastikan.
Bidannya menunjukan dan mereka bertiga terus mengucap syukur.
"Sayang," lirih Alvin mengecup kening istrinya penuh cinta dan perasaan. "Terima kasih." Satu tetes air mata bahagia jatuh di pelupuk mata lelaki tampan itu.
POV ALVIN
Aku begitu bahagia atas hadiah yang Allah berikan kepadaku. Sekian lama ku menunggu, sekian lama ku menantikan wanita yang ku cintai kini dia telah menjadi milikku.
Aku sempat putus asa ketika wanitaku bukan jodohku tapi ternyata, Allah berkehendak lain. Saat ku tahu wanitaku sudah tak bersuami, aku semakin yakin kalau dia adalah takdirku, takdir yang telah Allah siapkan untukku sebagai penyempurna agamaku dan sebagai tulang rusukku.
Aku benar-benar mencintainya sangat, tak ada wanita yang ku inginkan selain Riana, dia wanita pertama yang berhasil menggoyahkan hatiku sampai sedalam-dalamnya.
Aku bersyukur bisa memiliki dia seutuhnya dan aku semakin bersyukur bahwa kini istriku, wanitaku sedang mengandung anakku bahkan mengandung dua janin sekaligus.
Tiada lagi yang membuatku bahagia selain kehadiran mereka. Tak akan pernah ku lepas dan tak akan pernah ku sakiti bidadari surgaku, ibu dari anak-anakku. Riana aku mencintaimu sekarang, esok, dan selamanya. Semoga kita selalu bersama sampai ke jannah-NYA Aamiin.
__ADS_1
POV ALVIN END
****
Allah SWT mentakdirkan setiap manusia berpasangan.
Mengapa? Karena dengan hidup berpasangan, yang dihalalkan dalam pernikahan, adalah bagian dari skenario Allah SWT untuk melestarikan kehidupan.
Namun, setelah pernikahan, akan terjadi banyak gelombang persoalan baru yang kita hadapi.
Oleh karena itu, siapa pun yang mau membangun komitmen kehidupan bersama pasangan perlu mengokohkan fondasi. Agar kelak jika bertemu jodoh, kita punya kesiapan mental untuk menghadapi berbagai gelombang kehidupan.
Kita juga harus senantiasa berdoa mudah-mudahan ditemukan dengan jodoh dan diberikan kekuatan untuk menghadapi kehidupan di masa yang mendatang.
Jodoh itu rahasia Allah, seberapa besarpun kita mencari dan menggenggam, jika tidak di takdirkan maka tidak akan pernah ketemu dan bersatu.
Jodoh akan datang di saat waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat pula. Maka dari itu, percayalah bahwa Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untuk kita.
Sama seperti halnya dengan kisah Alvin dan Riana. Berawal saling kenal lewat sosmed, saling berkomunikasi hingga menimbulkan benih-benih cinta, berkomitmen untuk saling menunggu dan melanjutkan ke jenjang serius meski banyak cobaannya.
Namun, keduanya di pisahkan oleh takdir dan kembali di persatuan oleh takdir di saat waktu yang tepat. Skenario yang Allah siapkan lebih indah di bandingkan dengan rencana manusia.
"Manusia hanya bisa berencana, namun Allah-lah yang menentukan"
Setiap manusia pastilah berharap yang terbaik dalam kehidupannya. Baik itu rezeki, jodoh dan sebagainya, namun sekali lagi manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Semua tetap Allah yang menentukan.
TAMAT....
****
Alhamdulillah novelnya selesai juga. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kelancaran dan kesehatan untuk saya bisa menyelesaikan tugas ini.
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah bersedia mampir membaca karya recehku ini. Semoga waktu dan kuota yang kalian buang untuk membaca tergantikan dengan rezeki yang makiiiiin berlimpah.
Tanpa kalian aku tak akan menjadi apa-apa. Beribu-ribu terima kasih saya ucapkan untuk kalian semuanya. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk kalian semua.
Beli beras di campur ketan,
Naik taksi duduk di depan,
Bekerja keras demi masa depan,
Semoga yang baca di beri kesuksesan.
Aamiin aamiin aamiin yarobbal'alamiin 🤲🤲
__ADS_1
Bye..bye..✋ sampai berjumpa lagi di novel ku yang lain.
Wassalamu'alaikum wr.wb. 🙏🙏