KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Jalan-jalan Pagi


__ADS_3

"Sayang, bangun..!" Alvin membangunkan Riana perlahan sesekali mengusap pipi wanita yang ada di hadapannya.


Alvin tersenyum merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Kini wanita yang sedang ia tatap sudah menjadi miliknya secara utuh. "Bangun dulu, Yuk. Kita shalat malam berjamaah mumpung masih ada waktu." Alvin kembali berusaha membangunkan Riana.


Riana merasa tidurnya terganggu, perlahan ia membuka mata dan mengucek-ngucek matanya. Dia menatap pria yang sudah berada di hadapannya. Alvin begitu tampan memakai baju jasko putih bordir merah, dengan peci hitam terpasang di kepala.


Riana sampai senyum-senyum sendiri melihat lelaki tampan itu sudah menjadi suaminya. "Tampan sekali kamu, Kak." Riana gemas sendiri.


Alvin tersenyum, "Bangun, sayang! Kita shalat dulu setelah shalat kita lanjutkan lagi yang tadi." Alvin menaik nurunkan alisnya menggoda Riana.


Riana cemberut, "Aku aja masih capek dan lelah banget, tubuhku terasa remuk."


"Aku sudah menyiapkan air hangat supaya tubuhmu lebih relaks." Tanpa aba-aba, Alvin menggendong tubuh Riana.


"Kak..!" pekiknya terkejut.


"Biar cepat karena waktunya tinggal sedikit lagi." Alvin menurunkan tubuh Riana.


"Mau aku bukain juga bajunya, hmmm?"


"Tidak, tidak, aku bisa sendiri! Sekarang kamu tunggu aku di luar ya, Kak! Please!" Riana memohon karena dia masih malu berada dalam kamar mandi berduaan meski sudah menjadi suami istri juga.


"Oke, sayang. Jangan lama!" Alvin mengecup singkat bibir istrinya dan berlalu pergi meninggalkan Riana dalam kamar mandi.


Setelah Riana selesai, keduanya melakukan ibadah malam secara berjamaah, dan dilanjutkan membaca ayat suci Al-Qur'an sambil menunggu adzan subuh berkumandang.


Alvin pergi ke mesjid bareng Yanto dan juga Latif, sedangkan Riana dan Ani berjamaah subuh di rumah.


"Assalamualaikum," ucap para pria setelah pulang dari mesjid.


"Waalaikumsalam," balas kedua wanita yang sedang menunggu kepulangan para suami kemudian menyalami suami mereka masing-masing.


"Aku jadi iri pulang shalat ada yang nungguin." Celetuk Latif menatap iri para orang dewasa.


"Nanti juga kamu akan merasakan hal semacam ini setelah sudah dewasa kelak," kata Yanto.


"Iya, sih."


"Pak, kami duluan masuk ya," izin Alvin kepada para orang tuanya.


"Iya, silahkan! Bapak ngerti kok maksud kamu." Yanto mengerti keinginan penganten baru itu, sebab dulu dia juga pernah muda.


Alvinpun masuk sambil menggandeng tangan istrinya. Dia langsung saja memeluk Riana ketika sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Kak, aku malu tahu di depan Ibu sama Bapak. Sikap kamu seolah bapak tahu apa yang di inginkan kamu," gumam Riana di dalam pelukan Alvin.


"Abisnya aku tidak tahan ingin segera memelukmu. Baru saja di tinggal sebentar sudah sangat kangen kamu, apalagi kalau lama? pasti akan sangat, sangat, rindu."


"Akupun merindukanmu." Riana semakin erat memeluk suaminya. "Kakak ganti baju dulu, aku udah siapin pakaiannya." Riana mengurai pelukannya dan tangannya masih memegang pinggang Alvin.


"Terima kasih, sayang." Alvinpun memakai pakaian yang di bawa dari rumahnya.


****


"Akhirnya, bisa istirahat juga kita," ucap Stella merebahkan tubuhnya di kasur. "Kira-kira sekarang mereka sudah anu belum ya?"


"Kamu ini seperti tidak tahu pengantin baru saja. Kita saja dulu langsung tancap gas bikin anak, merekapun pasti sama," balas farhan.


"Iya sih, lebih tepatnya lelaki yang tidak bisa nahan." Stella cekikikan mengingat dulu suaminyalah yang paling semangat.


"Kamu gak tahu saja rasanya menahan sesuatu itu rasanya sakit. Makanya mumpung ada yang halal langsung main saja," balas Farhan.


"Aku jadi kangen masa pengantin baru," ucap tiba-tiba Stella membayangkan saat pertama kali dia dan suaminya menikah.


"Sekarang aja, yuk! Jangan kalah sama pengantin baru, pengantin lama juga harus..." Farhan menaik nurunkan alisnya menggoda Stella.


"Iiisss, apaan sih," namun wajah Stey sudah memerah


Merasa tidak ada penolakan, Farhanpun menerkam istrinya di pagi hari setelah subuh. Mereka juga tidak mau kalah sama pengantin baru.


****


"Kemana?" tanya Riana menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Jalan-jalan pagi mumpung udaranya masih segar. Gimana, mau?"


"Pergi saja, Teh! Nak Alvinkan sudah lama tidak jalan-jalan di sini, itung-itung olah raga pagi," sahut Yanto.


"Bener, Teh. Ajak dia keliling kampung biar tidak bosan di rumah," sahut Yanto.


"Ya, sudah. Kami berangkat dulu kalau gitu." Pamit Riana menemani suaminya jalan-jalan.


****


Riana dan Alvin menyusuri jalanan kampung, melewati setiap hamparan sawah yang terbelah oleh jalan.


"Udaranya segar sekali," ucap Alvin menghirup udara segar.

__ADS_1


"Pagi, Teh. Jalan-jalan ya?" tanya salah satu warga yang juga melintas jalanan tersebut.


"Pagi juga, kang. Iya, kita lagi jalan pagi mumpung udaranya segar. Mau kesawah ya?"


"Iya, teh. Kalau gitu saya permisi dulu!"


"Oh, iya. Silahkan pak!" balas Riana ramah.


Alvin menautkan jari tangannya ke jari tangan Riana. Dia terus menggandeng istrinya secara melangkah menikmati udara pagi yang masih terasa asri.


"Aku bahagia bisa bergandengan seperti ini. Ini yang aku mau dari dulu." Alvin mengecup pelan tangan Riana yang ia gandeng.


Keduanya sudah duduk di bawah pohon mangga milik pak Mamat dekat sawah.


"Masa sih? kok aku tidak percaya, ya?" Riana bertanya sok merasa tidak percaya padahal hatinya sedang berbunga-bunga.


"Kalau kamu ingin percaya belahlah dadaku," balas Alvin lebai. "Hanya ada namamu yang tersemayam di jantung dan relung hatiku."


"Emangnya kamu mau di belah dadanya? nanti kalau kamu tiada bagaimana? dan aku sama siapa? emangnya boleh menikah lagi?"


"Eh, jangan atuh. Susah-susah dapetinnya setelah dapat masa harus di pisahkan lagi. Gak jadi ah belah dadanya. Mending belah duren saja dimalam hari." Alvin menggerak-gerakkan alisnya.


"Iiihhh mesum," ucap Riana sinis dan juga malu.


"Siapa yang mesum? orang aku lagi bicara belah duren di malam hari. Kamu yang pikirannya mesum, sayang." Alvin menjawil dagu Riana dan mengupnya secara singkat.


"Kak..! Ini di luar, bagaimana kalau ada yang lihat?" Riana sudah bersemu merah, namun ia suka kecupan itu.


"Tak apa, mereka sudah tahu kalau kita sudah menikah," balas Alvin cuek orang di sekitar. Tangannya terus menggandeng tangan Riana.


Riana menaruh kepalanya di pundak Alvin, dan keduanya menatap kedepan hamparan sawah yang hijau. "Aku ingin seperti ini terus sama kamu, aku berharap kamulah yang terakhir dalam hidupku," ucap Riana.


"Aku juga berharap dan berdoa semoga kita selalu bersama sampai ke janah aamiin."


"Aamiin," Riana pun mengaminkan doa Alvin.


"Kamu ingin punya anak berapa, Sayang?" tanya Riana tiba-tiba.


"Pengennya empat, dua cewek dan dua cowok. Namun kembali lagi kepada sang pemilik segalanya yaitu Allah SWT," balas Alvin.


"Aamiin, mudah-mudahan apa yang kita inginkan tercapai."


"Amiin." Alvin menundukan wajahnya. "Ri," panggil Alvin.

__ADS_1


"Iya," jawab Riana lembut dan mendongak menatap wajah suaminya.


Alvin memegang dagu istrinya dan perlahan menundukan wajahnya dan menempelkan benda kenyal milik keduanya. Mereka melakukan kissing di saksikan oleh hamparan luas sawah hijau yang begitu asri dan indah di pandang mata.


__ADS_2