KARENA KAMU, TAKDIRKU.

KARENA KAMU, TAKDIRKU.
Jualan


__ADS_3

Riana masuk ke dalam rumah dengan Vino yang masih mengikutinya dari belakang.


"Kenapa ada dia?" tanya Yusuf bingung.


"Kau tahukan, Ri. Dia itu sudah berbuat jahat sama kamu!" timpal Keisya.


Deni hanya berdiam, namun tatapannya tidak bersahabat ketika melihat Vino.


"Dia ingin bergabung bersama kita, dan aku juga tahu dia pernah jahat sama aku, tapi itukan masa lalu. Aku sudah memaafkannya." Riana menaruh bahan belanjaannya di depan mereka.


Saat ini mereka sedang berada di lantai beralaskan tikar untuk membuat es campur.


Vino semakin merasa bersalah, ketika Riana begitu baik mau menerima dia dan memaafkan kesalahannya.


"Kamu terlalu baik, dan terlalu polos, Ri. Jika kamu seperti ini, banyak orang yang bisa memanfaatkan kebaikanmu," ucap Deni.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku menyerahkan semuanya kepada Allah. Aku selalu berdoa agar Allah melindungi kita dari orang-orang yang berniat jahat sama kita. Kalian percaya kan, jika Allah itu maha segalanya?" balas Riana.


"Iya, kami percaya." jawab mereka kompak.


"Dan aku juga percaya jika Vino sudah berubah," Riana menoleh ke arah Vino memberikan senyuman tulusnya.


Vinopun membalas senyuman itu dengan hati yang berdebar saat matanya kembali bertubrukan dengan mata Riana.


"Nunggu apa lagi? kita kerjakan ini!" lanjut Riana karena mereka masih terdiam.


Merekapun mulai membuat es campur nya. Deni kebagian mengserut es menaruhnya ke termos es, Yusuf menyiap kan gelas es dengan menjajarkan tiap gelas. Riana dan Keisya mengisi setiap gelas dengan berbagai macam bahan es campur, sedangkan Vino kebagian menuangkan susu dan air gulanya.


Sekian lama mengolah akhirnya mereka mampu menyelesaikan 100 bungkus es campur untuk mereka jual di perempatan jalan kecamatan dekat pasar.


Setiap bungkus es campur mereka hargai delapan ribu rupiah. Meski keuntungannya tidak banyak, tapi jika di kumpulkan akan menjadi banyak. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, begitulah istilahnya.


"Alhamdulillah," ucap mereka secara bersamaan.


Riana mengambil handphone, lalu memotretnya dan kemudian ia posting di sosmednya dengan caption, Bismillahirrahmanirrahim, semoga jualannya lancar dan menjadi berkah, aamiin🤲


"Sebentar lagi adzan Ashar, kalian pulang dulu gih!" ujar Riana.


"Kau mengusir kami?" celetuk Yusuf dengan iseng.


"Maksudku bukan begitu, kalian mandi dulu, lalu shalat dan habis itu kemari lagi, kita akan ke sananya jam empat sore!" Riana menjelaskan maksud dia menyuruh pulang.

__ADS_1


"Iya sayang, kami tahu." Yusuf mencubit pipi Riana dengan gemas di susul Deni.


"Sakit ih! kenapa kalian suka banget mencubit pipiku sih?" ujar Riana kesal, dia mengusap-usap pipinya yang terasa panas akibat cubitan.


Tanpa aba-aba Vino mengusap pipi Riana dengan lembut, "Sakit ya?"


"Hah!" semuanya melongo melihat aksi Vino.


Riana menjauhkan pipinya dari telapak tangan Vino yang terasa hangat dan lembut. Vino pun tersadar atas apa yang ia lakukan.


"Eh! maaf, aku tidak sengaja," ucap Vino merasa bersalah karena sudah memegang pipi Riana tanpa izin.


"Ada apa denganmu, Vin? kau sakit?" tanya Yusuf bingung, dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Vino.


"Tidak panas? tapi kau aneh!" lanjut Yusuf penuh pertanyaan.


Vino menunduk, dia sendiri tidak tahu jika dia bisa melakukan hal tak terduga jika dekat Riana.


"Sudahlah, ayo kita pulang dari sekarang agar kita ada waktu untuk tadarusan dulu!" ajak Deni.


"Kau benar, jam masih menunjukan pukul tiga sore. Tapi bagaimana dengan ini?" tanya Keisya bingung saat melihat minuman es campur nya.


"Cerdas!" ucap Yusuf semangat.


Merekapun menaruh es campur itu ke dalam showcase yang ada di warung. Pendingin minuman itu sengaja Yanto kosongkan, dia tahu jika anaknya saat ini membutuhkan pendingin minuman itu.


Beberapa saat kemudian mereka kembali kerumah Riana.


"Kita bawanya gimana?" tanya Riana bingung karena tidak ada mobil.


"Mobil pick up Bapakmu dimana emangnya?" tanya Keisya, dan yang lain memangguk.


"Di pake Bapak, dia harus mengantarkan pesanan sembako ke desa sebelah."


"Pakai mobilku saja," celetuk Vino menyuarakan idenya.


Mereka menoleh, "emang situ punya mobil?" tanya Deni dengan sinis, Riana melototkan matanya ke arah Deni.


"Bukan punyaku sih, lebih tepatnya punya Papahku," jawab Vino kikuk.


"Ya sudah, cepat bawa!" titah Yusuf.

__ADS_1


Vinopun dengan segera pulang dan kembali lagi dengan membawa mobilnya. Lalu mereka segera meluncur ke tempat tujuan.


Vino segera turun, dia menghampiri Riana yang membawa banyak minuman.


"Aku saja keliling, kamu jualan di sini saja!"


Yang lain saling lirik, Keisya dan Yusuf mengangkat bahunya seolah tidak ingin ikut campur. Tapi tidak dengan Deni yang merasa risih saat Vino berusaha mendekati Riana.


"Vin, lo yang tunggu di sini! lo kan anak kota, mana mungkin mau jualan kayak kita," Cibir Deni.


"A, gak boleh gitu atuh!" tegur Riana merasa tidak suka jika Deni seperti itu.


"Emang benar, ko." balas Deni tidak mau kalah.


"A, ingat! ini teh bulan Ramadhan, bulan puasa, kita harus menjaga hawa nafsu kita! tidak boleh seperti itu ah, gak baik!" Riana kembali mengingatkan Deni.


Deni menyadarinya, dia terus mengucapkan istighfar dan mengelus dadanya, "Sorry," ucap Deni tiba-tiba.


"Tidak apa, aku emang tidak pernah jualan seperti ini, tapi kali ini aku akan berusaha untuk orang-orang yang lebih membutuhkan."


Riana tersenyum, Deni menepuk pundak Vino.


"Aku dukung kau di jalan kebaikan," ujar Deni memberi semangat.


"Terima kasih," balas Vino dengan sunyuman kebahagiaan.


Lalu mereka menawarkan es campur nya ke setiap orang, sedangkan Riana duduk di bagian belakang mobil yang terbuka sembari menawarkan juga kue brownies buatannya.


"Alhamdulillah, kue ku mau habis. Semoga ini menjadi awal aku untuk membuka usaha kue aamiin." Riana mendekap uang hasil jualan kuenya dengan senyum bahagia yang menampilkan lesung pipinya.


Jualan Riana tinggal dua bungkus brownies, dan tiga bungkus es campur. Dia melihat tiga anak kecil jalanan yang sedang meminta-minta, hatinya terketuk untuk memberikan sisanya kepada mereka.


Riana memanggil ketiga anak itu, dan memberikan minuman serta kuenya lalu ia juga memberikan sedikit uang untuk membelikan ibunya obat karena Riana mendengar jika mereka masih memiliki ibu yang saat ini sedang sakit.


Vino memperhatikan setiap gerak gerik Riana dari jauh karena bahan jualannya sudah habis. Dia semakin kagum akan kebaikan Riana, meski baru kenal namun hatinya terasa damai, nyaman saat berteman dengannya.


Vino meraba jantungnya, "Damn it. jantung, ku mohon jangan seperti ini!" gumam Vino.


Tingkah Vino tidak lepas juga dari pandangan Yusuf. Meski Yusuf cuek dan jarang bicara, tapi diam-diam dia memantau setiap orang yang dekat dengan Riana.


"Rupanya kau sudah tertarik dengan sepupuku, tapi kau belum menyadari itu," gumam Yusuf pelan dengan gelengan kepala serta senyuman tipis dii sudut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2